
"Kenapa harus diakhiri dengan kekacauan?" Gumam Rafael sedikit pasrah dengan keadaan.
"Kita tanyai mereka, ha.. hahaha!" Lanjut Clara diakhiri tawa jahat sambil melirik sinis kearah keempat saudara tersebut.
Tidak begitu jahat menurut semua yang berada di sana.
...----------------...
Hari sudah menandakan kegelapan, bunyi-bunyian hewan malam mulai terdengar. Di daerah Cendrawasih, penerangannya lumayan memadai. Setiap sudut mampu diterangi.
Saat ini, kelompok hotel yang terdiri dari murid SMA Misu, pak Setyo, Wahyu dan beberapa rekan pak Setyo sedang berunding di aula yang terdapat di bangunan utama sebelah Barat. Disana bangunan utamanya sangat besar, mampu menampung 300 orang sekali isi.
"Bagaimana? Kita jadi menginap disini atau pulang saja?" Tanya Rafael sedikit bingung.
Pak Setyo hanya mendongak ke atas melihat langit-langit atap. Pandangannya kosong, tak tahu apa yang harus dilakukan. Dia nampak frustasi dengan keadaan yang harus saling membunuh, tapi mau bagaimana pun ada istilah membunuh atau dibunuh.
"6 jam kita hanya berdiam seperti ini." Ujar Wahyu dengan nada mengejek.
"Mana mereka tidak mau berkata, kalau disiksa juga kasihan, anaknya orang." Clara akhirnya berbicara sejak siang tadi belum ada berbicara.
"Oh iya, aku melupakan sesuatu." Ujar Rafael melirik Wahyu dengan tajam.
Wahyu menjadi salah tingkah. Dia tahu apa yang harus dikatakan pada teman-temannya semua beserta pak Setyo dan rekannya.
"Ma.. Maaf sebelumnya. Awalnya mereka tidak ada di kantor sana. Mereka melakukan itu untuk menangkapmu, kak Rafael." Jelas Wahyu langsung keintinya tanpa ditambah atau dikurangi.
"Terus kau darimana saja, hah?!" Rafael menunjuk-nunjuk wajah Wahyu.
Wahyu berkata dengan terbata, "A.. Aku ada di..." Seketika Rafael mendehem. Mendengar akan hal itu, Wahyu kembali berkata dengan cepat, "Aku ada di rumahku!"
Semua orang yang berada di sana hanya terdiam dengan pikiran yang penuh pertanyaan. Apa maksudnya? Bahkan sang Author saja tidak mengetahuinya.
"Ah.. Sudahlah!" Rafael sudah tidak memperdulikan apa yang Wahyu katakan.
Tap !! Tap !!
Terdengar bunyi langkah sepatu vantofel. Di sana menampakkan seorang pria bersetelan jas berwarna hitam lengkap dengan kacamata hitam. Rambut hitamnya tersisir tapi ke arah belakang. Penerangan di ruangan itu terang, sehingga mudah melihat.
Whuush !! Whuush !!
Kemudian terdengar sebuah angin kencang dari arah luar ruangan. Terjadi sedikit keributan di luar ruangan. Semua yang berada di ruangan itu terdiam memandang waspada ke arah pria asing itu.
"Kami datang dengan damai. Kami hanya ingin mengevakuasi warga yang selamat dari CytraZ-24. Helikopter kargo kami siap menampung berapa banyak pun dari kalian."
Tanpa basa-basi, pria bersetelan jas itu langsung berucap pada intinya dan tidak menunggu pertanyaan yang terlintas keluar dari orang-orang yang berada di ruangan itu.
"001." Pria berjas hitam itu berucap kode yang hanya diketahui oleh pemilik kode itu.
Siapa lagi kalau bukan, Rafael. Rafael yang sedang memperhatikan pria berjas itu tertegun sesaat ketika mendengar kata '001'. Dipikirannya langsung saja terlintas akan hal yang negatif.
"Si.. Siapa kau?!" Pekik Rafael sambil berdiri waspada.
Kelima sahabat Rafael beserta Wahyu yang notabene memiliki masing-masing kode pun juga terkejut. Mereka memasang wajah kewaspadaan terhadap hal asing.
"Baiklah. Kami dari tim penyelamat Indonesia, Indonesian Rescue!" Jawab pria berjas tersebut dengan lantang.
"Kami, kami, kami. Tch! Memangnya kalian ada berapa hah?!" Tak kalah kesal, pak Setyo membentak pria berjas hitam tersebut.
"Haa~ Ternyata kalian sulit percaya orang. Baiklah, dengarkanlah ini!" Pria berjas itu melemparkan sebuah kaset recorder pada Rafael. "Ada radio kan?" Lanjutnya.
|
Pria berjas hitam itu hanya menunggu dengan santai. Keenam murid SMA Misu, Wahyu, pak Setyo dan beberapa rekannya malah tegang. Mula-mula, pak Setyo mengambil radio yang berada di aula itu kemudian segera memasangkan kaset recorder tersebut.
Bzzt !!
Hanya ada suara yang amat sangat mengganggu. Seketika di ruangan aula itu dipenuhi aura kekesalan yang dirasakan oleh pria berjas hitam tersebut.
"Ck! Mereka ini!" Gumam pria berjas hitam. Dia nampak kesal, namun rasanya hanya perasaan dejavu setiap melakukan hal ini.
[Hmm... Apa sudah ada suaranya? Ah.. baiklah. Para pendengar sekalian, perkenalkan saya Presiden Republik Indonesia, Bagas Sentosa. Telah terjadi wabah virus penyakit yang bernama CytraZ-24. Mari saya jelaskan sedikit. Virus ini tercipta dari kesalahan laboratorium di...]
Kemudian terdengar suara serak-serak basah ala bapak-bapak. Semua orang yang berada di sana menyimak baik-baik. Cukup tahu, karena suara itu sangat mereka kenal. Presiden yang masa pemerintahannya sangat ramah. Menurut rakyat Indonesia, presiden yang baru menjabat sekitar 1 tahun itu orangnya sangat ramah.
Dia sering berbaur dengan rakyat Indonesia tanpa embel-embel perjanjian sesuatu. Jika ada, maka diberikan. Buktinya, presiden yang baru 1 tahun menjabat menjadi sangat cepat disukai oleh kalangan masyarakat Indonesia.
[Maaf, saya sebenarnya tidak ingin membeberkan nama negara ini. Hanya saja, seluruh negara di dunia sudah mewaspadai keberadaan negara ini. China. Ya, semoga saya tidak ditargetkan. Tapi sebenarnya rekaman ini hanya didengarkan pada orang-orang yang akan kami selamatkan... Ah.. emm.. maaf ngelantur. Oke, saya langsung ke intinya...]
[...CytraZ-24 adalah suatu virus yang dapat merusak jaringan otak sehingga sang korban akan menjadi tidak terkendali layaknya mayat hidup. Virus ini berinkubasi di dalam tubuh kita hanya dalam waktu 1 menit setelah terinfeksi. Cara terinfeksinya cukup ekstrim, yaitu dengan tergigit oleh orang yang telah terinfeksi juga...]
[...Bagaimana pun, virus ini bisa bermutasi lagi menjadi Human-Z. Orang ini setengah manusia dan setengahnya virus tersebut. Kita ucap saja setengah zombie. Orang yang terinfeksi ini memiliki kekuatan diatas rata-rata dari manusia biasa, namun waktu hidup mereka hanya 365 hari atau 1 tahun setelah terinfeksi. Kami telah mengumpulkan tim peneliti dan telah menemukan sebuah anti virus awal...]
[Dan saya rasa sepertinya sudah tersebar ke seluruh Indonesia kabarnya. Bahkan ada orang yang mencoba memperbanyak, namun sayangnya membutuhkan darah dari Human-Z karena mereka spesial. Anti virus awal kami hanya memperlambat proses inkubasinya menjadi 1 hari. Setelah itu, virus itu malah menjadi agresif dan membuat korbannya akan mati 5 menit kemudian dari selesainya masa inkubasi.]
Penjelasan yang sangat panjang dari presiden Indonesia. Setelah itu, rekamannya berhenti. Pak Setyo merasa belum puas dengan fakta-fakta yang ada. Dia langsung berlari menuju ke arah pria berjas kemudian menarik kerah kemejanya.
"Hanya ini ?!!"
Pria itu hanya menatap kosong ke arah pak Setyo. Dia tidak ingin menjawab, dia merasa tidak mampu menjawabnya.
Tiba-tiba datang seorang lagi pria berjas hitam sambil berkata dengan suara yang lirih. Dia sedikit lusuh dengan rambut yang acak-acakan. Namun ketampanannya tidak bisa dipungkiri.
"Kalian mau memanfaatkan anak itu hah?!" Entah apa yang membuat pak Setyo menjadi sangat kesal.
"Sebenarnya cara infeksi awalnya itu adalah dari asap biologi yang bocor dari laboratorium. Beberapa orang mengira China telah membuat senjata biologis untuk memusnahkan manusia, namun perkiraannya berbanding terbalik. Bahkan China yang sedang didesak oleh seluruh negara, sedang berjuang mencoba menjaga warna negaranya sendiri agar tidak punah terlebih dahulu."
Sebuah yang berada di ruangan itu terbelalak. Perasaannya seperti tertindih oleh batu besar. Mereka seperti itu karena tidak menyangka akan hal tersebut.
"Tapi banyak organisasi kriminal yang mengatasnamakan China, bagaimana?" Tanya Clara mencoba menengahi.
"Tidak. Mereka itu hanya orang yang tidak tahu-menahu. Noel dan si wanita tentakel itu salah satunya. Kami mencoba menangkap mereka agar tidak lebih menyesatkan orang-orang, sayangnya kabur." Ucap pria berjas yang sedang diangkat kerah kemejanya oleh pak Setyo.
"Upss!" Pak Setyo langsung melepaskan cengkramannya.
"Aaarrghh!! Kenapa banyak bermunculan hal aneh kah? Apa aku bermimpi? Tapi ini sebenarnya memang kenyataan. Tch! Sialan! Sialan! Sialan! Sialan semua! Aku benci hidupku yang sekarang!!" Teriak Rafael nampak frustasi.
"Tetap tegar nak, 001." Ucap pria berjas yang pertama.
"Wait what?! Apa bapak bilang? 001?!"
"Hah? Apa pula itu 001!" Balas pak Setyo.
"Bicara tentang asap biologis. Sepertinya kita semua telah terinfeksi yaa. Tapi apakah China mengaku tidak sengaja atau apa. Jika tidak sengaja, seharusnya sedunia tidak seperti ini. Paling tidak hanya negara mereka sendiri yang terinfeksi." Ujar Clara mencoba mencari pembicaraan lain.
"Entahlah. Tapi pengakuan petinggi negara mereka sendiri pun sudah ada. Hanya saja kebenarannya tidak bisa 100% dipercaya. Mari kita melihat 4 tahun lalu. Mereka sedikit mengelakkan? Oke balik ke topik. Menurut kami, mereka antara salah dan tidak. Masalah terinfeksi tidaknya itu ada pemicu untuk virus tersebut menjadi aktif. Kembali pada perspektif masing-masing." Jelas pria berjas yang pertama.
"Kembali pada perspektif masing-masing yaa. Baiklah, kami mencoba mempercayai kalian. Semoga kalian memang dari pemerintahan." Ujar pak Setyo sambil melirik ke semua orang yang berada di sana.
Rafael hanya mengangguk sambil tersenyum tanda setuju dengan keputusan rasional yang dimiliki oleh pak Setyo.
"Baiklah, ayo ikut kami."
|
Di luar banyak tentara bersenjata lengkap dan beberapa berjas hitam sedang memantau evakuasi. Orang-orang yang dievakuasi cukup merasa senang. Akhirnya 1 bulan penderitaan mereka telah terbayar.
"Jangan lupa kita ke hotel." Ujar pak Setyo merangkul pria berjas yang dia cengkram kerah kemejanya tadi.
"Nama saya Leo. Dan anda sepertinya Human-Z juga." Ujar pria berjas itu.
"Aha.. baiklah dik Leo. Sepertinya kamu sedikit lebih muda dari saya. Beda berapa tahun yaa kira-kira, 2 atau 3 tahun kan? Ya, saya sama seperti nak Rafael."
"Bagus nggak om?" Tanya Clara tiba-tiba datang sambil membawa sniper miliknya.
"Anak ini didikan dari penembak jitu legendaris Indonesia. Me.. Mengerikan!Sulawesi Tengah menyumbangkan agen Garuda-45 terbanyak di Indonesia. Mereka anak-anak Kaili yang berbakat!" ~ Batin Leo dengan perasaan haru.
2 jam setelah mengosongkan wilayah Cendrawasih, akhirnya 4 helikopter kargo terbang menuju hotel Matahari. Karena tidak adanya landasan yang luas, diputuskan hanya 1 yang akan mendarat di hotel dan lainnya akan mencoba mencari tempat yang bagus untuk mendarat meskipun jauh dari hotel nantinya.
Di helikopter yang mendarat di hotel, terdapat Rafael dan kelima sahabatnya beserta pak Setyo. Mereka menjemput penghuni hotel untuk ikut bersama. Untuk keempat bersaudara keluarga Rai, mereka ada di helikopter yang dominan berisi para tentara. Memberontak? Kepala berlubanglah jawabannya. Karena mereka juga telah diketahui identitas aslinya. Buronan pembunuh bayaran tingkat Internasional.
...----------------...
"A.. Apa yang terjadi?!" Pekik Clara ketika melihat keadaan di ruangan kamar mereka.
"Anu.. ada sedikit masalah tadi." Sahut Wahyu gemetaran.
Terlihat 5 orang pria yang terkapar tak sadarkan diri di atas lantai. Ruangan kamar itu berantakan. Pak Setyo hanya menggeleng kepala dengan pasrah.
"Hadeh! Para pencari masalah berulah lagi." Ucapnya dengan nada kesal.
"Bagus Wahyu!!" Seru Rafael tersenyum bahagia sambil memukul pelan pundak Wahyu. "Lain kali jangan seperti ini, kau itu tidak masuk akal. 1 lawan 5!" Bisik Rafael pelan di telinga Wahyu dengan nada mengancam. Rafael tidak mau mereka semakin dicurigai oleh pak Setyo.
Tidak ada yang mendengar disana kecuali Wahyu sendiri. Dia merasa tertekan, kenapa kemampuan bela dirinya mampu membuat orang pingsan? Kenapa kemampuan bela dirinya sangat tidak masuk akal? 1 v.s 5 itu adalah hal yang sulit dicerna oleh otak.
"Hoii! Bangun!" Teriak pak Setyo dengan keras sambil membanting wajan ke lantai.
Klotang !!
"Uwaa!! Ayam makan ayam!" Salah seorang diantara mereka terbangun dengan diiringi perkataan latahnya.
|
Karena sudah larut malam, diputuskan kembali bahwa orang-orang hotel akan bermalam untuk terakhir kalinya disana kemudian besoknya langsung berangkat pergi. 3 helikopter yang mendarat di tempat lain pun istirahat di tempat yang mereka darati.
"Kesunyian ini sudah jarang. Biasanya hanya geraman para zombie terdengar." Ujar Rafael melihat pemandangan bintang dari balik jendela ruang kamar SMA Misu.
"Iya. Begitulah." Sahut Wahyu.
"Ngomong-ngomong, gimana Anindira?' Tanya Clara sedikit peduli.
"Dia tadi aman-aman aja. Malah asyik bermain dengan anak-anak pengunjung hotel." Jawab Bryan dengan suara yang kecil.
"Sudahlah, kayaknya sudah lelah semua. Dah, tidur kemudian besok kita lakukan trip perjalanan lagi." Ujar Revi sambil meraih selimut miliknya.
"Yaaah... nggak ada mobil. Aku mana bisa pilotin helikopter!" Hanya perasaan kecewa yang bisa diutarakan Eva.
~ Bersambung...