Human-Z

Human-Z
Arc 1 - The Beginning - Chapter 1 : Permulaan



Drap! Drap! Drap!


Seorang pemuda bertubuh kurus tinggi, memegang linggis dan sambil berlarian menghindari kejaran dari para Zombie. Disebuah sekolah SMA, para murid-muridnya membersihkan sekolah mereka dari kepungan para Zombie.


Entah darimana para Zombie ini bermunculan. Entah bagaimana bisa mereka tercipta ke dunia sekarang. Itu tidak ada yang tau. Populasi manusia telah dikuasai oleh para Zombie. Hanya yang kuatlah yang dapat bertahan hidup.


Di sebuah SMA Misu. Terdapat 6 orang siswa yang sedang bertahan hidup dari para gempuran Zombie.


"KYAAAA!!" teriak seorang wanita karena bajunya sedang ditarik-tarik oleh para Zombie.


Tiba-tiba seorang pemuda dengan gagah dan berani menghadang Undead itu. Dia mengayunkan linggisnya dan tepat mengenai kepala Zombie tersebut.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya pemuda itu dengan pandangan mata dingin.


"I-iya." jawab wanita itu tergagap.


"Pergilah. Berkumpullah dengan para teman lainnya di lantai 3. Aku akan disini mengulur waktu!" titah pemuda itu.


"Ta-tapi…"


Pemuda itu menggertak wanita itu agar segera pergi ke lantai 3. Tempat para Survivor yang berkumpul. Saat ini mereka hanya tersisa 6 orang.


Terdengar geraman dari para Zombie yang membuat siapa saja merinding ketakutan.


"Hah! Kalian para Zombie brengsek! Enyahlah kalian dari dunia ini!" teriak pemuda itu kesal.


Dengan ayunan linggis milik pemuda itu, meratakan puluhan Zombie yang terus mendekat ke tangga lantai 3 bangunan. Sekarang, bangunan di lantai 1 telah dikuasai para Zombie, sedangkan lantai 2 hampir saja dikuasai. Menunggu akses jalan hanya dimalam hari. Ya, para Zombie tidak bisa melihat, mendengar serta mengendus aroma dimalam hari.


Itu sebuah keuntungan. Namun saat pagi sampai sore hari, mereka benar-benar agresif. Mengendus aroma tubuh manusia sekitar 1 Km jauhnya.


....


Butuh sekitar sejam untuk meratakan Zombie yang terus mendesak masuk ke tangga lantai 3. Akhirnya pemuda itu memblokir penuh untuk akses jalan di tangga itu untuk sementara menggunakan meja-meja serta kursi-kursi kelas.


"Hosh... hosh... hosh.. brengsek kalian para Zombie." umpat pemuda itu sedikit Terengah-engah.


Pemuda itu menaiki tangga menuju ke lantai 3. Saat sampai di lantai 3, para siswa dan siswi telah berkumpul di koridor.


"Hei! Aku bilang masuk didalam kelas!" bentak pemuda itu dengan murka.


"Ahh! Rafael, bisa tidak tempramenmu itu direndahkan sedikit," bentak balik seorang pemuda yang sedang memegang pistol Desert Eagle.


Ya, nama pemuda yang gagah dan berani itu adalah Rafael. Rafael Smash, dia seorang siswa kelas 12 di SMA Misu. Saat kiamat zombie tiba, mereka semua hanya bisa terkurung didalam sekolah itu menunggu bantuan pemerintah. Namun tidak kunjung datang.


"Ah! Maaf Bryan. Tempramen tinggiku bereaksi saat sedang melenyapkan para zombie sialan itu." Rafael mulai ramah dalam berbicara.


Dalam pembicaraan itu, tiba-tiba terdengar bunyi klakson sebuah kendaraan. Semua murid pun melihat kebawah melalui jendela. Di persimpangan jalan terdapat sebuah mobil jeep sedang melaju kencang dengan dikejar oleh segerombolan Zombie.


"Sial! Jangan sampai dia menabrak pagar sekolah, dia pasti bisa menabrak puluhan mobil dan motor yang ditinggal pemiliknya menjadi Zombie, namun tidak dengan pagar utama. Jika sampai menabraknya, sekolah akan benar-benar menjadi lautan Zombie. Sekarang saja lantai 1 sudah dikuasai mereka. Ini mau sekolah lagi!" seru Rafael dengan serius.


"Kita kan seharusnya bisa pindah ke bangunan kelas 11. Itu lebih aman pastinya," timpal Bryan.


"Akses jalannya gimana, Bryan?!" ujar Rafael menatap Bryan tajam.


"Kita habisi saja para bajingan itu. Kita kan punya peralatan. Apalagi sekarang kita punya senapan mesin. Pasti mudah." jawab enteng Bryan.


"Tidak semudah itu. Aku saja hampir mati akibat Laura."


"A-anuu… maaf jika jadi beban." Laura berucap sedikit gugup.


"Itu kan rencanamu, Rafa. Kau menyuruh kita kembali mengambil alih lantai 1 dan 2, tapi nyatanya melawan puluhan bahkan ratusan Zombie itu sudah kesulitan. Padahal di lantai 1 ada gudang penyimpanan makanan untuk sebulan," sahut Revi kesal juga.


"Sudah-sudah. Malah berdebat, sekarang kita lihat mobil jee--"


Seorang wanita ingin melerai perdebatan itu namun malah tercengang ketika melihat mobil Jeep itu telah menabrak pagar sekolah yang mengakibatkan akses jalan terbuka lebar bagi Zombie. Tabrakan tak terelakkan, mobil Jeep itu langsung meledak.


"Ahh, ka-kawan-kawan… lihat dibawah deh!" Wanita itu menyuruh teman-temannya untuk melihat kebawah.


"Sial! Keluarkan senapan mesin. Lakukan pencegahan," seru Rafael.


"Clara, penembak jitu siaga di balkon atas!" Seru Bryan seraya mengganti pistol desert Eagle menjadi 2 buah pistol silencer yang dipegang dimasing-masing tangan.


Rafael dan Bryan seorang pemimpin bagi 4 temannya. Dalam sebulan sejak kiamat Zombie, mereka sudah sangat mahir menembak dan bertarung. Yaa, meskipun terdapat Laura yang menjadi beban.


"Cepat siapkan Ak-47 hasil jarahan dari kantor polisi!"


"Sini kalian brengsek!" teriak Rafael sambil berlari ke tangga.


"Rafael! Bahaya! Jangan turun. Lantai 1 banyak Zombie berkumpul, sedangkan datang gerombolan Zombie lagi!" pekik Laura.


"Bedebah! Aku bisa pakai linggis milikku. Itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan kepala para Zombie itu!"


Rafael tetap berpegang teguh pada pendiriannya dan tetap turun untuk menghadapi ratusan Zombie dengan memakai linggisnya.


....


Rafael dengan sekuat tenaganya mengayunkan linggisnya menghantam kepala dari para Zombie. Dia sekarang sedang di lantai satu, lantai 2 sudah dia bersihkan.


"Oke, come on. Kemarilah para Zombie!" teriak Rafael seakan kerasukan.


Zombie-zombie menerjang jendela lantai dasar, berlarian menyergah Rafael. Namun tidak semudah itu bagi Rafael untuk kalah. Dia terus mengayunkan linggisnya ke kanan, kiri, atas dan bawah dengan niat menghancurkan kepala Zombie.


Ya, itu kelemahan dari Zombie, menghancurkan otaknya sama dengan kematian bagi mereka.


"Hosh...Hosh.. Whuft.. diatas masih ribut dengan tembakan. Satu persatu Zombie dilapangan ditembaki mereka. Sejak 2 minggu lalu kami jarah senjata itu di kantor polisi, kami dengan mahir menggunakannya." gumam Rafael terengah-engah.


Dari arah belakang Rafael muncul Zombie yang menyergah dari jendela kaca. Rafael nampak tidak siap menghadapi serangan tiba-tiba itu.


Rafael menghindari sergapan Zombie itu dengan memiringkan badan ke kanan sehingga Zombie itu tepat melewati samping Rafael.


"Hu! Hampir saja. Enyahlah kau!" seru Rafael mengayunkan secara diagonal kepada zombie tersebut. Kepalanya terputus.


Tiba-tiba suara tembakan dari lantai 3 terhenti. Jelas membuat Rafael sedikit bingung.


"Hah! Kehabisan peluru kah? Masih banyak nih Zombie berlarian di lapangan!" gumam Rafael keheranan.


Dia langsung berlari menaiki tangga satu demi satu. Saat sampai di lantai 3, Rafael melihat teman-temannya telah menghilang. Rafael pun langsung menaiki tangga untuk ke balkon atas.


"Fwuuhh .. ternyata kelelahan yaa!" Rafael bernapas lega karena teman-temannya terduduk lelah.


"Rafa, Ak-47 ini memiliki recoil tinggi. Susah dikendalikan, Laura kesulitan membidik. Senapan mesinnya lumayan lah," jelas Revi dengan keringat mengucur membasahi dahinya.


"Kalau begitu pakai Desert Eagle. Itu pistol ringan yang mudah digunakan Laura," timpal Rafael santai. "Clara, bagaimana situasi?" lanjutnya seraya berjalan ke pinggiran rooftop.


"Buruk. Aku menggunakan scope sniper ini untuk melihat situasi. Benar-benar buruk, banyak gerombolan Zombie datang ke sekolah. Dengan sekolah bangunan terbesar dalam jarak 1 Km, sisanya hanya rumah penduduk…"


"Zombie berkeliaran dimana-mana bahkan menuju ke sekolah. Mungkin saja karena mobil Jeep tadi membuat rusuh."


Clara menjelaskan dengan tetap fokus mengintai dari scope sniper miliknya.


"Di kantor polisi sudah tidak ada peralatan lagi kah? Kita sepertinya kekurangan peluru," ujar Revi menimpali pembicaraan mereka.


"Rafael yang menyetok lalu. Gak tau juga kalau masih ada apa gak, soalnya aku cuma dikursi supir," sahut Eva.


Bryan masih fokus dengan teropongnya. Menelisik sekeliling, meski Clara yang sedang mengintai memakai scope sniper, namun Bryan tetap melihat memakai teropong.


"Matahari sudah menyingsing. Tak lama lagi terbenam. Itu kesempatan kita membantai para Zombie disekolah," ujar Bryan sungguh-sungguh.


....


Revi, seorang yang ahli dalam bidang persenjataan. Dia mempelajarinya dari ayahnya yang seorang tentara.


Eva, seorang yang ahli dalam mengendarai kendaraan apa saja. Tak termasuk tank, pesawat, kapal, dan helikopter karena itu terlalu sulit.


Bryan, seorang yang perfeksionis. Dia mampu melihat apa saja benda kecil melalui teropong hasil jarahannya. Cukup senyap dalam beraksi.


Clara, seorang yang ahli dalam menggunakan sniper riffle. Ketepatan menembaknya melebihi atlet profesional menembak. Dia mempelajarinya dari ibunya dulu yang seorang legenda atlet menembak sniper.


Laura, terbilang tidak pandai menggunakan senjata, namun dia masih dapat membantu teman-temannya jika terjadi hal yang buruk. Dia sering dijadikan umpan para Zombie oleh Kuartet Elang. Kuartet Elang ialah Rafael, Revi, Bryan dan Clara.


Rafael, pemimpin yang memberi komando dengan cermat. Mampu memperkirakan situasi yang akan terjadi. Ahli dalam pertarungan jarak dekat.


....


Hari sudah mulai gelap, Rafael dan kawan-kawan masih berada di balkon atas bangunan untuk beristirahat sambil menunggu malam.


"Sekarang sudah jam 6, ayo siap-siap melakukan pembantaian!" seru Rafael antusias.


"Laura, kau disini saja dengan Eva. Aku, Bryan, Revi, dan Clara turun untuk membersihkan lantai 2 dan 1 dan jika sempat kita bersihkan halaman sekolah juga," lanjut Rafael sambil mengayun-ayunkan linggisnya.


"Ta-tapi aku mau ikut bertarung…." Laura memelas ingin ikut bertarung.


"Tidak boleh. Kau hanya menjadi beban," serentak Rafael dan Bryan.


"Eh… hiks... hiks... kalian kejam!" Laura mulai terisak tangis.


"Dikatain begitu saja nangis. Dah sana, percuma rambut merah muda!" bentak Rafael.


"Hah! Apa hubungannya rambut merah muda dengan beban?" tanya Revi.


"Ahh Itu... kau tak perlu tau." Rafael langsung pergi menuju tangga untuk turun.


***


Sesampainya Rafael, Bryan, Revi dan Clara di tangga menuju lantai 2. Mereka mempersiapkan peralatan mereka. Bryan, mempersiapkan 2 pistol silencer di kedua tangannya. Revi, mempersiapkan Ak-47. Clara, mempersiapkan sniper riffle nya. Sedangkan Rafael siap dengan linggisnya.


"Yosh! Kita akan bermain. Aku didepan sebagai melee, Bryan cover di belakangku. Revi, jarak menengah sedangkan Clara ambil jarak jauh," kata Rafael antusias.


"Siap!" serentak semua.


"Tim Elang! Maju!" teriak Rafael memberi komando.


Langkah kaki berlarian menerjang apa saja yang ada dihadapannya. Kerja sama tim yang baik.


Rafael mengayunkan linggisnya dan tepat mengenai pelipis kepala Zombie. Kemudian Bryan langsung menembak satu persatu Zombie yang berada di dekatnya. Revi membabi buta Zombie jarak menengah. Clara menghancurkan barisan paling belakang gerombolan Zombie. Saat ini mereka sedang di lantai 2.


Sebenarnya lantai 2 sudah bersih, namun akhirnya kembali jatuh di tangan Zombie lagi. Namun tim Elang mengambil alih kembali lantai 2.


"Hajar terus! Habis-habisan! Selagi seluruh indra mereka memudar," teriak Rafael bagai seorang psikopat.


"Hahaha hahaha! Ini menyenangkan! Tembak! Mati!" Revi menggila.


"Hei! Bisa kah diam saja seperti pistol milikku!" bentak Bryan masih sambil menembakkan pistol silencernya secara senyap.


"Awas kepala!!" teriak Clara paling belakang.


Peluru sniper melesat membelah angin melewati atas kepala dari Bryan dan tepat menembaki 3 Zombie yang sedang berjejer ke belakang.


"Triple kill!" teriak Clara kesenangan.


Rafael melompat keatas dan mengayunkan linggisnya secara diagonal sehingga tepat mengenai 4 kepala Zombie dan langsung meninggalkan badannya.


"Hehe! Maniac!" Rafael tersenyum ke arah Clara.


"Hah! Tunggu kau!"


"Brrrr ... Pertarungan antara mereka berdua tidak ada habis-habisnya sejak seminggu lalu!" batin Bryan menggigil.


"Mereka berdua kembali menggila!" batin Revi.


Tembakan sniper dari Clara tepat mengenai 5 kepala Zombie yang sedang berjejer. Peluru snipernya menembus secara cepat kelima kepala zombie tersebut hingga membuat kelima kepala zombie itu pecah.


"Hihi! Savage!" Clara kesenangan.


Rafael melompat kedepan dan langsung berputar diudara kemudian mengayunkan linggisnya juga. Linggisnya tepat mengenai 5 kepala Zombie.


"Savage too!!" ujar Rafael sambil mendaratkan kaki di lantai.


"Woy! Zombienya dah habis. Kalian gak sisain kita!" bentak Revi.


"Nasib lah!" Ujar Bryan lirih.


"Kan di lantai 1 masih ada," ujar Rafael dengan santainya.


"Iya! Kalian berdua yang habisin nanti!" kata Bryan sambil memajukan bibirnya mencibir Rafael dan Clara.


Linggis dari Rafael dan peluru dari sniper Clara melesat di samping kepala Bryan dengan cepat. Linggis Rafael menghantam dinding dengan keras hingga sedikit retak, begitupun peluru sniper Clara yang menembus dinding.


"Hiiiiy! Matilah aku!" batin Revi ketika melihat kejadian itu sambil gemetaran.


Bryan hanya terduduk sambil berkeringat dingin.


"Hahaha begitu saja sudah keringat dingin!" timpal Rafael sambil mengambil linggisnya kembali di lantai.


"Sudah! Ayo kita ke lantai 1!" seru Clara yang berlarian dari ujung koridor.


Mereka semua pun menuju ke lantai 1. Saat sampai di lantai 1, mereka semua tercengang ketika melihat gerombolan Zombie yang memenuhi koridor sedang terdiam kaku.


Geraman Zombie terdengar terus menerus sehingga itu sangat mengganggu ketentraman gendang telinga. Annoying bruh!


"Sikat ?" tanya Rafael memandang ketiga temannya.


"Sikatlah, kenapa tidak!" teriak Revi sambil mengangkat Ak-47 miliknya ke udara.


(Revisi)