
"TIDAK! AKU TIDAK BOLEH BERAKHIR DISINI !!"
Dengan cepat Rafael mengambil ban pinggang miliknya dan melilitkannya ke leher.
"Ja-jangan bilang percobaan seminggu yang lalu kau lakukan, Rafa!!" seru Bryan.
Rafael semakin kuat melilitkan lehernya agar virus Zombie tidak menyebar ke otaknya. Yaa, percobaan mereka seminggu yang lalu adalah percobaan pada seekor tikus.
Mereka memasukkan virus Zombie pada tikus itu dari darah para Zombie kemudian melilitkan tali di leher tikus itu. Beberapa saat kemudian, tikus itu bereaksi pada virus Zombie itu setelah itu virus Zombie tak jadi menuju ke otak tikus tersebut. Akhirnya tikus itu hanya berjalan-jalan mencari makanan, namun hal yang tak terduga adalah tikus itu mati karena virus Zombie menguasai tubuhnya saat itu juga.
"Ughh! Aargh!" rintih Rafael ketika lilitan ban pinggangnya semakin kuat.
"Kita harus bantu Rafael!" teriak Revi.
Revi dan Bryan pun menahan tubuh Rafael yang meronta-ronta kesakitan sedangkan tangan Rafael tetap memperkuat lilitan ban pinggangnya.
"Tanda virusnya berjalan dari tangannya ke kepalanya menghilang tepat di leher!" teriak Clara memperhatikan kondisi.
Rafael terjatuh tak sadarkan diri dengan lilitan ban pinggang yang masih berada di lehernya.
"Emm .. dia mengalami henti jantung," uhar Bryan ketika menyentuh nadi arteri karotis yang terdapat di leher dan meraba denyut jantung serta nadi yang berada dipergelangan tangan.
"Lakukan Resusitasi Jantung Paru!" seru Eva panik.
***
Beberapa saat melakukan Resusitasi Jantung Paru atau RJP atau yang lebih dikenal CPR, Rafael menandakan kembali denyut jantungnya.
"Lemah, denyut jantungnya lemah!" ujar Eva sedikit lega.
Selain handal dalam mengendarai kendaraan, Eva seorang anggota Usaha Kesehatan Sekolah, sehingga dia sedikit lebih tau daripada orang awam.
"Tak apa. Ayo, kita ikat sementara dia dikursi dan lihat perkembangan percobaannya. Dia pasti berpikir tentang percobaan minggu lalu, sehingga mencobanya sendiri," ujar Bryan.
"Ji-jika berhasil ... Rafael bukanlah manusia lagi yaa, hiks .. hiks .." Laura langsung terisak tangis.
"Bisa tidak kau tak perlu menangis! Lama-lama muak aku mendengar tangisanmu!" bentak Revi kesal.
"Tunggu dulu! Serangan dibawah!!" teriak Bryan.
Akhirnya semua orang mempersiapkan peralatan masing-masing. Revi masih menggunakan AK-47 miliknya, Bryan masih dengan silencer kesayangannya, Clara masih dengan sniper riffle miliknya, Eva dengan ketapel peledak, Laura dengan Desert Eagle nya.
"Jarak menengah ke jauh diatas balkon! Jarak dekat ikuti aku!" seru Revi. "Ehh ... jarak dekat sudah tidak ada yaa. Tersisa jarak menengah" Lanjut Revi lirih.
"Tak apa, silencerku tidak bisa terlalu jauh. Jadi, terbilang jarak dekat silencerku!" sahut Bryan.
"Yaudah! Clara, Eva dan Laura di balkon atap. Aku dan Bryan jaga di lantai 1!" Revi mengusulkan pernyataan itu diikuti anggukan kepala semua orang.
***
Disisi lain, Revi dan Bryan sedang berusaha menghabisi Zombie di lantai 1.
Suara tembakan sangat keras. Magazine demi magazine diganti. Selongsong peluru berjatuhan di lantai.
"Arah jam 10 dijendela!!" teriak Bryan sambil tetap menembak.
"Tunggu dulu! Kau atasi itu, aku masih atasi arah jam 12 nih di pintu masuk!" seru Revi.
"Ah sial! Tidak ada melee kekuatan kita berkurang 40% !!" keluh Revi sambil me-reload Ak-47 miliknya.
...
Disisi lainnya, Eva dan Clara sedang berusaha mengurangi para Zombie pembangkit dan Zombie cerdas.
Ciri-ciri Zombie pembangkit yaitu dia sedikit lebih besar dari Zombie biasa, sedangkan Zombie cerdas dia berjalan agak santai dan tidak agresif.
"Arah jam 2 ada Zombie cerdas berjejer kebelakang!" teriak Eva.
"Woahah! Matamu jeli juga yaa! Aku pakai scope sniper ini saja kesulitan mencari mereka," ujar Clara sambil langsung membidik arah yang diberitahu Eva kemudian menembak.
"Duh! Tolakan pistol ini berat deh!" keluh Laura.
"Bodo amat!" serentak Eva dan Clara.
...
Sementara itu, Rafael di kelas. Dia telah sadar, namun dia tidak bisa melihat dengan jelas.
"Grrr ..." Rafael menggeram tanpa sadar.
"Sial! Kenapa susah dikendalikan!!" batin Rafael.
Kesadaran Rafael masih terkurung oleh kesadaran Zombie miliknya.
"Tidak! Aku tidak boleh kalah disini. Aku harus membantu teman-temanku!!" batin Rafael dengan tekad kuat.
Tak terduga dengan niat yang kuat, Rafael dapat memutuskan ikatan tali dikursinya. Rafael berjalan, namun dia menabrak tembok.
"Ah gelap!"
"Brengsek!! Gelap sekali!"
Rafael benar-benar kesal.
Tiba-tiba terdengar raungan Zombie pembangkit dari halaman sekolah. Seketika Rafael dapat melihat dengan jelas dan bahkan dia seperti menggunakan mata infrared.
"Darah manusia! Grrrr!" seru Rafael tanpa sadar.
"Sial! Jangan! Jangan!" Rafael meronta-ronta didalam sebuah ruangan yang gelap.
Jiwa Rafael terkurung oleh kesadaran Zombie.
Langkah kaki berat dimiliki Rafael. Menaiki tangga ke balkon atap. Dia seperti tak terkendali.
"Arrghh! Kenapa aku jadi seperti ini!! Hiks ... teman-teman, larilah!" batin Rafael terisak. Air mata menetes mengalir keluar dari mata miliknya.
"Grrr!" Rafael menggeram kuat.
...
Clara dan Eva yang sedang sibuk menembak pun dikagetkan dengan geraman dari arah belakangnya. Laura hanya terduduk ketakutan melihat sosok didepannya.
"I-itu Rafael!!" serentak Eva dan Clara.
"Rafa! Kau disana, kan? Kau sedang berusaha keluar kan Rafa!!" teriak Clara.
"Ingatlah perjuanganmu selama ini untuk mencari keluargamu Rafa!!" aeru Eva.
"Ra-Rafael!!" teriak Laura.
.
.
.
"Arghh! Tubuh ini sulit dikendalikan!" Rafael terus-menerus berusaha mengendalikan tubuh miliknya.
"Jangan melangkah!! Diamlah!!" teriak Rafael tiba-tiba.
"Eh!" Ketiga teman wanitanya terkejut.
"Rafael! Kami tau, kami tau kau sedang berusaha! Kami akan mendukungmu! Lakukanlah Rafael! Ambil alih kembali tubuhmu dari kesadaran Zombie itu!!" teriak Clara maju selangkah.
Rafael tersentak kebelakang dan terduduk. Rafael hanya tertunduk lemas dengan derai air mata yang mengucur deras.
"Luapkan seluruh emosimu Rafa! Luapkan kekesalanmu!" teriak Eva.
Secara tak terduga, tempat yang dia pukul, retak.
"Hiiiiy ... tenaga yang kuat!" batin Clara sedikit merinding.
"Menakutkan! Tapi hebat!" batin Eva dengan mata berbinar.
"Benar-benar Rafael yang aku kenal!" batin Laura.
Rafael mulai bangkit dari duduknya. Dia melihat kearah teman-temannya kemudian tersenyum.
"Aku akan membantu kalian menghabisi Zombie-zombie itu!" seru Rafael.
"Yaaa!! Ini dia! Rafael yang kita kenal!!" teriak teman-temannya.
Rafael berlari menuju tangga menuruni satu demi satu anak tangga. Meskipun langkahnya sedikit berat karena belum terbiasa. Dia tetap berusaha sekuat mungkin untuk mengendalikan tubuh barunya itu. Tubuh yang setengahnya menjadi Zombie.
***
Saat dia sampai di lantai paling bawah, dia melihat kedua teman laki-lakinya sedang kelelahan dalam mengurus gelombang demi gelombang Zombie.
"Hei! Minggir! Berikan linggisku!" teriak Rafael.
Teriakkannya mengagetkan Bryan dan Revi.
"Oh sialan! Jangan buat kami kaget Rafael!" seru Revi sambil menodongkan Ak-47 nya kepada Rafael.
"Tapi... kau tidak apa-apa dengan kondisimu sekarang?" tanya Bryan khawatir.
"Aman, aku mampu kendalikan tubuhku untuk sekarang." ujar Rafael santai kemudian mengambil linggisnya yang terjatuh saat dia digigit.
"Okey, kami mau lihat bagaimana performamu dalam kondisi setengah Zombie gini!" Revi nampak antusias.
"Hiyaaat!!" Rafael melompat dan memutar di udara, dia masih terus memakai gerakannya itu.
Linggis dia buat memutar dan mengenai satu persatu kepala dari Zombie hingga hancur. Sesaat mau terjatuh, Rafael dengan cekatan langsung meraih lampu yang terpasang di plafon.
"Woy! Awas tersetrum!" teriak Bryan.
Rafael menendang-nendang para Zombie yang terus mendesak masuk. Tendangannya membuahkan kehancuran kepala Zombie. Entah tendangannya yang memang kuat atau efek dari perubahan didalam dirinya.
"One kick man!" teriak Revi bersemangat.
"Tembak arah jam 12 sekitar 50 meter dari sini, kemiringan 20 derajat!" teriak Rafael yang masih bergelantungan di lampu.
"Okey!" Revi langsung menembak arah yang dikatakan Rafael.
Secara tak terduga, Revi menembak 3 kepala Zombie pembangkit yang berjejer ke belakang.
"What?! Aku saja tidak melihat itu!" seru Revi terbelalak.
"Entahlah! Aku merasakan hawa yang berbeda dari Zombie itu. Sepertinya 3 Zombie yang kau tembak itu adalah Zombie pembangkit," ujar Rafael masih sibuk menendang-nendang kepala Zombie.
"3 Zombie katamu?!!" Revi benar-benar terkejut.
"Sudahlah, tidak ada waktu terkejut. Cepat serbu mereka. Tembaki mereka! Aku melee disini!" teriak Rafael kemudian melepaskan pegangannya.
Rafael mendarat tepat diatas tubuh Zombie yang sedang berjalan. Lebih tepatnya diatas kepala Zombie, akhirnya Zombie itu terjatuh dan kepalanya hancur diinjak Rafael.
"Gila dia! Se-over power gini dia saat setengah tubuhnya diambil alih Zombie!" batin Bryan merinding.
"Woy bodoh! di jendela kiri Zombie cerdas sedang berlari kearah kalian!" teriak Rafael masih sibuk mengayunkan linggisnya.
Bryan langsung menembak Zombie cerdas yang hampir saja menerjang jendela.
"Jangan katakan kami bodoh!! Kau lebih bodoh! Lihat tanganmu tuh, digigitin!" ujar Revi sibuk menembak sambil melirik sebentar Rafael.
"Eh! Aku tidak rasa tuh, aku kira ulat bulu nempel," Rafael langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi kemudian membanting Zombie itu ke lantai.
***
Beberapa jam mereka menangani rangkaian gelombang Zombie, akhirnya mereka dapat menghabisi mereka semua.
"Hosh... hosh... hosh.. A-aku capek!" keluh Bryan sambil bersandar di dinding.
"Iya nih!" timpal Revi.
"Jiahh! Hanya segitu stamina kalian. Lihat nih aku, gak ada capeknya!" sahut Rafael menyombongkan dirinya.
"Hei! Kau itu bukan manusia normal sekarang!!" bentak kedua temannya.
"Eh heheh!" Rafael menggaruk-garuk kepalanya padahal tidak gatal.
"Jadi gimana pengalaman menjadi separuh Zombie?" tanya Revi.
"Emm .. linggis ini lebih enteng, terus lompatanku enteng. Pokoknya semuanya serasa ringan!" jawab Rafael antusias.
"Apa yang kau cium dari hidungmu?" tanya Bryan.
Rafael mengendus sebentar. Penciumannya fokus mengendus beberapa aroma yang terasa asing
"Oh, bau manusia dan zombie," jawab santai Rafael.
"Eh! Jangan bergerak dulu!" bentak Revi sambil menodongkan senjatanya pada Rafael.
"Hehe ... santai, aku dapat kendalikan kok. Yaa meskipun kayaknya aku bakalan butuh darah segar manusia deh!" ujar Rafael santai.
"Aman, nanti kami siapkan bekal buat kau," ujar Bryan sambil memegang pundak Rafael dengan ramah.
***
Mereka semua bercanda ria di koridor lantai 1. Hingga sampai pada fajar menyingsing. Matahari terbit, serasa sangat cepat.
"Ahh .. gimana yaa keadaan para wanita!" ujar Bryan yang memiliki rasa penasaran tinggi.
"Yok kita lihat!"
"Hei! Rafa. Itu ban pinggangmu membuatmu nyaman kah? Padahal saat itu kami sudah lepas, eh taunya kau pakai lagi," ujar Revi.
"Ah ini, kayaknya berfungsi menghambat virus Zombie yang sangat banyak menuju ke otak. Saat aku mau kesini dari para wanita, aku merasakan aliran deras di leherku. Nah disitu aku langsung merasakan hasrat ingin minum darah dan makan daging manusia. Beruntung ada ban pinggang di kelas, kalian belum simpan ..."
"Aku langsung ambil gunting terus dibuat menjadi pendek. Setelah itu langsung aku pakaikan ke leherku. Disitu aku langsung tenang, hasrat minum darah dan memakan daging manusia langsung hilang," jelas Rafael.
"Ah... menyiksa juga yaa!" sahut Bryan.
"Yaa mau bagaimana lagi."
Tak terasa, mereka sudah sampai di balkon atap. Saat sampai, mereka melihat para wanita sedang tertidur pulas sambil memeluk senjata api mereka. Clara memeluk sniper rifflenya, Eva memegang ketapel peledak miliknya, sedangkan Laura memegang granat.
"Wah mereka menakutkan juga yaa!" ujar Revi merasakan merinding.
"Wanita mah gitu. Pemberani, granat saja dipegang saat tidur," ujar Rafael sambil perlahan mengambil granat dari tangan Laura.
Rafael langsung menarik tuas cincin granat —penarik berbentuk bulat, besar, yang terbuat dari logam yang terdapat pada bagian sisi granat—. Setelah itu dia langsung melemparnya ke udara dengan sangat kuat.
Granat tersebut meledak di udara dengan sangat keras hingga mengagetkan semua teman-temannya.
"Gila kau Rafa!" teriak Revi mendorong Rafael.
"Hehe, Ayam berkokok tuh!" jawab enteng Rafael.
~
(Revisi)