Human-Z

Human-Z
Chapter 27 : Saling menguntungkan



"Setyo Hermawan ?" Sebuah nada pertanyaan keluar dari mulut Bryan.


Seketika lelaki bernama Alex terkejut hingga hampir terjungkal ke belakang bersama kursinya, beruntung pria garang dengan sigap menahan kursinya.


"Dia yang kami cari !!" Seru dokter Lee.


...----------------...


Rafael memandang bingung kearah pria bernama Alexander dan dokter Lee. Sebuah raut wajah pertanyaan pun keluar dari Rafael, mengapa mereka seketika bersemangat? Hanya itu yang ada dipikiran Rafael.


"Mengapa kalian mencarinya ?" Tanya Clara memandang tajam kearah dokter Lee.


"Dia keturunan bangsawan Inggris." Singkat dokter Lee.


"Aduh... kenapa memang dengan bangsawan Inggris sih? Dari namanya saja si pak Setyo itu jelas orang Indonesia dan apa hubungannya kah?" Keluh Bryan dengan kesal.


"Menurut penelitian saya beberapa bulan lalu, darah bangsawan Inggris itu sangat istimewa. Beberapa virus yang umum di dunia mampu dipatahkan oleh darah dari bangsawan Inggris. Ketika saya mencoba darah dari Anindira yang seorang keturunan jauh dari bangsawan Inggris kepada zombie..."


"...Seketika zombie itu bereaksi sehingga sel-sel yang ada didalam tubuhnya mati total dan tidak beregenerasi."


Dokter Lee menjelaskan dengan tampang yang lumayan bahagia dan perkataan yang sedikit belepotan karena kurang pandai berbahasa Indonesia, tapi termasuk cepat juga dokter Lee dapat memahami bahasa Indonesia dan berbicara bahasa Indonesia, kemungkinan dia bahagia karena keenam murid SMK Misu mengetahui tentang Setyo Hermawan dan pastinya mengetahui tempat berlindungnya.


"Si Setyo Hermawan itu adalah seseorang yang masih memiliki darah bangsawan Inggris walaupun hanya beberapa persen. Karena dia terlahir dari Ayah yang keturunan bangsawan Inggris dan Ibu yang hanya rakyat biasa dari Indonesia, namanya pun diberikan oleh Ibunya dengan persetujuan keluarga dari ayahnya."


Pria bernama Alexander mulai membuka perkataan setelah dia merasa tenang. Semua informasi yang ada diserap dalam-dalam oleh Rafael, namun dia tetap menaruh kecurigaan kepada kelompok dari Anindira. Dia merasa aneh, mengapa mereka tahu banyak hal? Kecurigaan harus ada pada seseorang yang baru kita kenal, sehingga membawa kita kepada kemajuan nantinya dan keberhasilan.


Rafael menghela nafas panjang kemudian berkata. "Terus kalian disini berkumpul dan membuat kelompok untuk apa ?"


Akhirnya pertanyaan yang Rafael simpan sejak tadi keluar juga, dia perlu mengetahui tujuan yang diinginkan kelompok tersebut. Entah itu tujuan yang baik, atau tujuan yang jahat.


"Life Corporation. Kami membutuhkan itu, mereka berdiam diri di pulau Sulawesi ini. Kami tidak tau dimana keberadaannya. Kami butuh untuk saling bertukar pikiran atas kehancuran umat manusia ini." Jelas Alexander.


Rafael membelakangi seluruh orang di dalam tenda oranye besar itu. Seakan tau maksud dari Rafael, dengan cepat Alexander memerintahkan kelima pria sangar itu untuk keluar. Sekarang tertinggal hanya Alexander, dokter Lee dan Anindira beserta kelima sahabat Rafael.


"Oke, saya mencurigai mereka. Saya rasa kalian mengerti, mereka berlima seperti tidak ingin keberadaanku disini."


"Maaf, mereka itu memang seperti itu pada pendatang atau survivor. Mereka sangat ketat." Jelas Alexander.


"Setyo Hermawan ada di hotel Matahari bersama rekan-rekan polisinya beserta pengunjung hotel lainnya yang terjebak disana, disana kami diserang oleh ratusan ribu zombie akibat dari Noel dan wanita tentakel itu serta pengendali mereka. Entah mengapa, saya merasa nyaman bersama Setyo Hermawan. Padahal sebelumnya saya mencurigainya..."


"...Dia juga menyinggung soal Life Corporation. Namun kami sepakat untuk pergi dari hotel Matahari sebelum mendapatkan informasi lebih soal itu agar tidak membahayakan hotel kedepannya. Saat diperjalanan kami bertemu sekelompok orang yang menyebut mereka 'Hunter'—"


Baru saja mau melanjutkan perkataan, tiba-tiba dipotong oleh Anindira. "Itu yang aku beritau padamu tadi di jaringan komunikasi, dokter Lee."


"Hunter yaa... mereka juga berkeliaran di seluruh dunia setelah wabah virus zombie mulai. Mereka membasmi semua zombie dan bahkan Human-Z padahal mereka didalam anggotanya terdapat Human-Z juga, bahkan menjabat sebagai ketua kelompok." Jelas Alexander.


"Terbaiklah, kita bertukar informasi dengan baik." Sahut Clara nampak senang.


Terpancar raut wajah bahagia dari seluruh orang yang berada di dalam tenda. Dilubuk hati mereka terjawab sudah apa yang ingin mereka tanyakan, sebuah barter yang menguntungkan. Menanyai informasi dan memberikan informasi masing-masing dari kedua belah pihak —Namun mungkin saja bagi entitas lain diluar sana, mereka merasa belum cukup mendapatkan informasi—.


Perbincangan hari itu selesai, dan keenam murid SMK Misu dipersilahkan untuk istirahat terlebih dahulu sebelum kembali berkeliling atau pergi lagi. Pihak kelompok Pantoloan tahu akan tujuan dari Rafael dan kelima sahabatnya untuk mencari keluarga mereka. Bahkan rencananya kelompok Rafael akan mendapatkan bantuan perlengkapan persenjataannya dari kelompok Pantoloan.


Di tenda istirahat keenam murid SMA Misu. Teman-teman Rafael berkegiatan masing-masing, seperti Revi membersihkan senapan miliknya, Clara mengotak-atik sniper miliknya dan lain sebagainya.


Tiba-tiba dokter Lee datang dari pintu tenda. "Rafael, kamu bisa ikut saya ?"


Rafael memandang teman-temannya dengan ragu, namun teman-temannya sama sekali tidak ragu dengan ajakan dokter Lee. Dengan pilihan yang matang, Rafael memutuskan untuk mengikuti dokter Lee menuju suatu tempat. Tempat yang bagi orang awam itu sangat gila!


~