Human-Z

Human-Z
Chapter 7 : Koki bermasalah



Orang-orang berlarian kesana-kemari melakukan aktivitas, ada yang bersiap duduk meja makan panjang nan besar yang berada di ruang makan hotel.


Beberapa orang bersiap jamuan makan siang, ada orang yang mempersiapkan makan siang.


Rafael mendatangi dapur dimana para chef memasak untuk makan siang bersama.


"Hai! Bapak-bapak sekalian!" Sapa Rafael ramah.


Syuuung!


Tiba-tiba sebuah pisau dapur melesat disamping mata Rafael, dia yang sedang terkejut hanya memandang kaku pisau yang telah tertancap di pintu ruang dapur.


"A-apa ... kenapa?" Tanya Rafael lirih.


"Kamu ... dasar monster!! Beraninya kamu menginjakkan kaki di hotel ini. Beruntung kamu dibawa oleh ketua, kalau tidak, kami sudah membunuhmu sejak lama!" Seru seorang koki bersiap kembali melempar pisau.


"Apa maksud kalian?!" Rafael yang tidak tau apa-apa hanya mampu berkata seperti itu.


"Ya! Kamu seorang Zombie kan?! Apa yang kamu lakukan disini hah?! Pasti ingin memakan kami diam-diam!" Teriak seorang koki dibarisan terdepan.


"Kalian berpikir aku itu yaa ... tapi, ketua kalian sama saja dengan aku!" Balas Rafael tak mau kalah.


"Tidak!! Ketua kami itu manusia seutuhnya! Tidak mungkin dia disamakan dengan Zombie keji seperti kamu!" Seorang koki yang maju ke barisan terdepan berucap dengan lantang.


"Cih! Aku menyesal juga datang kesini, kalau tau ada orang yang tidak menerima kami dengan benar, maka aku tidak ingin menempati hotel ini!" Seru Rafael juga lantangnya.


"Oh! Kau berani menantang kami yaa!"


Syuung! Syuung!


Pisau dapur beterbangan melesat menuju Rafael. Dengan keahliannya, Rafael menghindari satu persatu pisau yang melesat cepat. Namun, Rafael sempat lengah dan pisau dapur tepat menancap di dada bagian kanan Rafael.


"Arghh!" Rintih Rafael sambil memegang pisau tersebut.


Cratss!


Rafael mencabutnya secara kasar, sehingga darah memuncrat deras keluar.


"Ka-kalian keterlaluan!!" Teriak Rafael dengan nada suara yang sedikit berat.


"Ma-matanya! Matanya berubah warna menjadi merah, padahal tadi kuning loh!!" Teriak seorang koki.


"Serang dia terus! Jika dia mati, langsung buang dia ke tempat sampah. Jangan sampai ketua tau!" Teriak seorang kepala koki.


Pisau terus menerus melesat menyerang Rafael. Namun, Rafaek tentunya terus menghindarinya. Dengan tenaga yang terkuras terus menerus akibat darah yang sangat banyak keluar dari luka sobek di dadanya, Rafael terhuyung-huyung.


"Ugh! Pusing! Pandangan kabur!" Gumam Rafael.


"Ke-kenapa aku tidak ingin keluar dari dapur ini? Jika keluar maka dengan cepat aku bisa mencari bantuan. Tapi ... rasanya aku ingin memenuhi hasrat 'makan' ini." ~Batin Rafael sambil tersenyum smirk.


"Hei! Matilah kau!" Tiba-tiba seorang koki menyerang maju.


Brug!


Rafael dengan cepat meraih tangan koki itu dan membantingnya ke belakang sehingga badan koki tersebut terbentur ke pintu ruang dapur.


"Ugh!" Rintih koki tersebut terkapar di lantai.


"D-dia pembunuh!" Teriak koki kepala.


"Loh! Itu masih hidup pak. Jika tak ingin seperti dia, maka ayolah bicara baik-baik." Sahut Rafael.


"Dasar tak tau diri!"


"Huft! Kenapa sih para koki ini. Apa yang ada dipikiran mereka kah?!" ~Batin Rafael.


Cratss!


Tiba-tiba Rafael ditikam dari arah belakangnya. Rafael yang tidak menyadarinya hanya pasrah tertikam tepat di punggung.


"Hahaha! Kau melewatkanku kawan!" Seru koki dibelakangnya.


Bruk!


Rafael terjatuh dilantai tertunduk lemas.


....


Disisi lain, pak Setyo yang mencari Rafael dimana-mana tak menemukannya.


"Cih! Dimana lagi anak itu!" Gumam kesal pak Setyo.


Pak Setyo mengelilingi seluruh ruangan yang persentase Rafael ada diruangan tersebut. Pertama, dia ke ruangan kamar tidur 6 murid SMK Misu.


"Ada yang lihat Rafael kah?" Tanya pak Setyo pada kelima teman Rafael.


"Gak tuh pak. Kami aja dari tadi disini, malas keluar." Jawab Revi santai sambil asyik mengotak-atik Ak-47 miliknya.


"Oke, jika kalian bertemu dia beritau cepat bapak!" Balas pak Setyo.


Pak Setyo langsung pergi dari ruangan kamar mereka. Dia langsung turun ke lantai 3 tempat untuk makan siang bersama. Sesaat pak Setyo berada di ruang makan, dia merasa ada yang aneh.


"Loh bapak-bapak ibu-ibu ... belum ada makanannya nih?" Tanya pak Setyo.


"Iya nih pak ketua. Tidak ada yang berani ke dapur, karena takut dengan sifat dinginnya para koki." Jawab seorang pria paruh baya sambil mengangkat tangan.


"Baik! Saya yang akan periksa!" Seru pak Setyo.


Pak Setyo pun langsung ke lantai 2 tempat para staf istirahat dan dapur untuk para koki. Saat sampai di lantai 2, beberapa orang staf hotel menyapa pak Setyo.


"Ya, saya penasaran kenapa para koki belum memberi makanan. Padahal sudah waktunya makan siang!" Jawab cepat pak Setyo sambil menuju ke pintu ruangan dapur.


Pak Setyo langsung membuka pintu ruang dapur. Menampakkan darah dimana-mana, mulai dari belakang pintu dan lantai yang tergenang darah.


"A-apa-apaan ini!" Seru pak Setyo.


Krauk! Krauk!


Terdengar suara aneh dari arah kamar mandi ruang dapur.


"Ra-Rafael ... tak mungkin dia yang melakukan semua ini!" Gumam pak Setyo.


Dengan cepat dia berlari ke arah kamar mandi di pojok ruang dapur. Pintunya tertutup dari dalam.


Dar! Dar!


"Siapa saja didalam! Buka!" Teriak pak Setyo sambil menggedor-gedor pintu.


Krauk! Krauk!


Terus terdengar suara yang membuat ngilu.


"Cih! Apa itu?" ~Batin pak Setyo penasaran.


Tak mau ambil resiko, pak Setyo pun menjauh dari pintu itu dan berniat memanggil bantuan. Saat pak Setyo berada di ruangan istirahat staf hotel, disana tidak ada satupun orang-orang yang berkumpul tadi.


"Argh! Mereka pasti sudah ke ruang makan!" Gumam pak Setyo.


"Ah! Teman-teman Rafael. Aku harus panggil mereka!"


Dengan cepat pak Setyo lari menuju lift kemudian menekan tombol lantai 6 dengan sangat cepat.


"Ayo, ayo, ayo! Cepat!"


 ––––


Akhirnya pak Setyo sampai di lantai 6, dengan cepat pak Setyo langsung berlari ke kamar nomor 234, yaa kamar 6 orang murid SMK Misu.


Brak!


Pak Setyo langsung membuka pintu dengan kasar sehingga gagang pintu disisi lain terbentur ke dinding dengan sangat keras.


"Ehh! Makan pisang goreng dengan sambal terasi!" Karena terkejut, Eva yang mungkin sedang lapar keceplosan berucap apa yang dia pikirkan.


"Woy, Eva! Masih saja kau lata yaa!" Seru Revi.


"Eh! Ada apa yaa pak ... main dobrak saja!" Keluh Bryan kesal.


"Bantu saya untuk melihat ruang dapur di lantai 2. Ruang dapur banyak memuncrat darah dimana-mana!" Seru pak Setyo dengan cepat.


Brak! Clek! Celtek!


Dengan cepat Revi, Bryan dan Clara mempersiapkan senjata milik mereka.


"Ayo cepat!" Bryan langsung berlari sambil membawa 2 buah silencer miliknya.


"Loh eh..." Pak Setyo nampak kikuk.


....


Mereka berempat telah sampai di lantai 2, tepatnya di ruang dapur.


"Wah! Darahnya masih segar nih!" Seru Revi.


"Kenapa sih bukan bapak yang mengatasinya. Kan bapak mantan Kapolsek tuh, pasti berpengalaman." Sahut Clara kesal.


"Yaaa, walaupun saya mantan Kapolsek, tapi saya tidak bisa juga pergi sendiri mengatasinya hehe!" Pak Setyo salah tingkah.


"Sudah, sudah! Kita lihat kamar mandi yang dikatakan bapak!" Ujar Bryan.


Mereka pun mendekati secara perlahan kamar mandi ruang dapur.


Krauk! Krauk!


"Iyyuuu! ... Ngilu suaranya!" Keluh Clara paling belakang merasa sedikit jijik.


Yaa, Clara bersiap dengan sniper miliknya di titik belakang.


"Pak Setyo. Dobrak!" Singkat Bryan sambil membidikkan silencernya kearah pintu kamar mandi.


"Loh! Kok malah kalian yang perintah." Sahut pak Setyo.


"Hehe!" Bryan nampak salah tingkah.


Brak!


Tanpa komando, pak Setyo langsung mendobrak pintu kamar mandi. Dengan cepat Bryan dan Revi masuk sambil menodongkan senjata milik mereka.


"Ehh!!" Pak Setyo, Revi dan Bryan terbelalak.


"A-ada apa woy!" Teriak Clara dari belakang.


Saat Clara masuk ke kamar mandi, dia pun juga terbelalak tak percaya.


~


Instagram : alif_ardra