
Pukul 08:00 pagi. Semua orang sedang memasak seadanya dengan bahan-bahan yang benar-benar terbatas. Mereka hanya memasak sayur dari bahan wortel dan buncis yang berada dipenyimpanan bahan makanan yang ada di bunker bawah tanah. Hanya itu.
Rafael telah berganti pakaiannya. Pakaiannya sendiri disimpan di lemari yang berada di bunker oleh para dokter. Beruntung Rafael mendapatkannya sehingga dia tidak harus kesana kemari menggunakan pakaian pasien yang telah bersimbah darah.
Saat ini mereka semua berada di rooftop menikmati masakan ala kadarnya.
"Hmmm… kita akan pergi kemana setelah ini?" tanya Eva disela-sela kesibukan mengunyah makanan.
Semua orang melihatnya dengan pasrah. Mereka sama sekali tidak tau arah. Tujuan mereka saat ini hanya untuk menyelamatkan diri entah itu kemana.
Clara bergeser pelan kearah Eva. "Tunggu kabar saja, supir!" ejek Clara dengan menaikkan sudut bibir keatas.
"Ah… bagaimana dengan pak Setyo? Bisa gantikan saya?" tanya Eva menoleh kepada pak Setyo yang sedang bersandar dipinggiran pagar besi membelakangi semua orang.
Pak Setyo berbalik kemudian duduk dipinggiran besi. "Terserah. Lagipula saya sebagai orang tua disini harus menjaga kalian juga," ucap pak Setyo tersenyum hangat.
Keheningan sesaat dipecahkan oleh suara gemuruh kendaraan. Pak Setyo berbalik dan melihat beberapa mobil bak terbuka beriringan menuju parkiran rumah sakit. Pak Setyo langsung turun dari pinggiran besi dan menunduk.
"Semuanya! Ada pengganggu baru," kata pak Setyo seraya mengokang senjata api miliknya, M4.
Semua orang yang sedang makan pun terpaksa harus bergegas mengambil senjata api masing-masing untuk mempertahankan diri.
"Aku pergi!" Clara berlari menuju samping kanan rumah sakit. Disana dia melompat bersama sniper miliknya dengan tinggi menuju bangunan sebelah.
"Baiklah, dia akan berjaga dari jauh! Untuk Bryan, Revi dan Rafael ikut bapak!" seru pak Setyo dengan mata tajam bagai elang. "Anindira, Eva dan Laura kalian mengintai disini dan jika ada apa-apa tembak 2 kali ke langit!" lanjutnya.
Semua orang bergerak sesuai perintah dari pak Setyo. Clara berada di bangunan sebelah rumah sakit dan langsung turun memakai tangga dengan cepat. Dia perlahan berlari menyeberang jalanan untuk menuju ke bangunan yang berada di depan rumah sakit seberang jalan.
"Haa… haa… haa… pengganggu sialan!" umpat Clara terengah-engah.
Dia akhirnya sampai pada rooftop bangunan yang berada di depan rumah sakit. Dia langsung mengarahkan sniper miliknya ke pintu masuk rumah sakit. Di sana membidik memakai scope, ada 5 orang sedang berjaga di pintu masuk. Orang-orang itu memakai rompi anti peluru, penutup wajah full face, serta memegang senapan laras panjang.
"Siapa mereka?" gumam Clara.
...
Di sisi lain, pak Setyo, Rafael, Bryan dan Revi sedang perlahan turun ke lantai 2. Lantai 3 masih kosong, tentu saja karena mereka baru saja datang. Rumah sakit luas, terdapat 3 bangunan yang menjorok ke belakang membentuk huruf U, ditengahnya terdapat taman yang luas. Saat ini orang-orang asing itu baru saja sampai di ruang UGD, bangunan utama. Sedangkan kelompok pak Setyo berada di bangunan kedua sebelah kanan. Mereka berjalan dengan waspada.
"Kita perlahan saja, bangunan kedua ini terhubung dengan bangunan utama melalui satu jalur. Jadi mereka hanya bisa lewat sana!" ucap pak Setyo seraya memberhentikan semuanya.
Mereka telah sampai di tangga menuju lantai 1. Setelah beberapa saat menunggu kondisi, akhirnya mereka perlahan menuruni tangga. Langkah kaki mereka sama sekali tidak terdengar.
"Oke, Bryan ke kanan, Revi ke kiri!" perintah pak Setyo mengisyaratkan tangannya. "3… 2… 1… go!"
Bryan dan Revi langsung bergerak menodongkan senjatanya ke arah yang diperintahkan. Setelah menyadari bahwa aman, mereka berdua saling memberi kode dan melihat pak Setyo serta Rafael yang masih berada di anak tangga terakhir.
Mereka langsung menuju koridor utama. Di sana dipastikan mereka akan melihat siapa yang datang karena koridor utama terhubung menuju bangunan utama. Bryan bertugas berjaga di kaca-kaca jendela yang mengarah ke taman, Revi bertugas berjaga di kaca-kaca jendela yang mengarah ke sisi luar rumah sakit, Rafael dan pak Setyo tentu ke arah depan.
Sesaat setelah sampai diujung koridor, mereka mendapati 3 orang yang sedang berbincang sambil memegang senjata api, bahkan jari mereka berada dipelatuknya.
"Disini Setyo, konfirmasi depan UGD!" ucap pak Setyo pelan di handsfree.
Ya, mereka mengambilnya waktu mengelilingi bunker dengan santai. Mereka mendapatkan banyak perangkat handsfree. Akhirnya mereka mengambil masing-masing satu kemudian dihubungkan pada komunikasi jaringan tertentu. Itu sangat mempermudah jika sedang berjauhan.
Dari balik handsfree pak Setyo, Clara menjawabnya. "Depan UGD ada 5 orang."
Rafael, Bryan dan Revi jelas mendengarnya karena terhubung pada jaringan komunikasi yang sama. Anindira, Eva dan Laura pun demikian.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, pak Setyo meminta saran kepada tiga orang yang berada di belakangnya. "Bagaimana?"
"Menunduk!" seru pelan Bryan.
Semua orang langsung menunduk. Bryan menyadari keberadaan seseorang dari bangunan ketiga di seberang. Beruntung jarak antara kaca jendela dan lantai masih dibatasi dengan dinding jadi tidak sepenuhnya kaca.
"Fyuuh… hampir saja!" ucap Bryan lega.
"Mereka dimana-mana, kita kalah jumlah!" sahut Rafael yang berada disamping pak Setyo.
"Astaga! Pengganggu terus berdatangan!" keluh Revi kesal.
Mereka mengalami dilema. Apa yang harus dilakukan. Apakah harus dengan pertumpahan dari lagi atau kedamaian, itu yang membuat mereka merasakan dilema.
"Tenang. Kita lumpuhkan," bisik Rafael.
Beberapa detik setelah Rafael mengatakan sesuatu. 3 orang terlihat sedang berjalan berdampingan. Mereka bertiga tertegun sesaat. Melihat itu, Rafael, Bryan dan Revi langsung berdiri dan menghantam leher ketiga orang itu secara bersamaan hingga pingsan. Orang-orang asing itu hampir jatuh dan berbunyi keras, dengan cepat Rafael, Bryan dan Revi memegang mereka masing-masing dan meletakkannya dengan perlahan.
Hanya dalam beberapa detik, 3 orang telah dilumpuhkan. Awalnya mereka merasakan dilema, tetapi sekarang mereka mampu menghapus itu dan memilih bertindak sesuai yang dibutuhkan.
"Haa… jantungan saya!" keluh pak Setyo memegang dada sebelah kirinya.
Tubuh ketiga orang itu diseret ke arah ruangan yang ada disana untuk disimpan, mereka sebelumnya mengikat kedua tangan dan kakinya dengan tali yang ada disana. Setelah itu, ruangan tersebut ditutup rapat dan dikunci. Kebetulan kuncinya masih berada disana.
"Kabar depan UGD?" ucap Rafael di handsfree.
Clara menjawabnya dengan santai. "Masih belum ada tanda-tanda pergerakan!"
"Berapa orang sebenarnya mereka ini kah?" tanya Rafael pada dirinya sendiri dengan kesal.
"Banyak," ketus Bryan.
"Oi!"
Clara tiba-tiba kembali berucap. "Mereka masuk!!"
Kelompok pak Setyo langsung waspada dan bergerak maju. Mereka bersandar disekat pembatas menunggu saat yang tepat jika ada yang menuju kearah mereka. Tak berapa lama, 3 orang masuk ke koridor yang mereka tempati. Tak butuh waktu lama, tentu ketiga orang itu dilumpuhkan oleh kelompok pak Setyo. Ketiga tubuh orang asing itu itu disatukan ke ruangan sebelumnya dan diikat kedua tangan dan kakinya.
"Depan UGD aman! Aku bisa melumpuhkan pergerakan mereka dengan menembak masing-masing ban mobil mereka." Terdengar suara Clara di Handsfree.
"Lakukan!" balas pak Setyo.
...
Sniper Clara sendiri telah dipasangkan alat peredam suara seperti pistol milik Bryan. Clara menarik pelatuknya perlahan setelah membidik tepat pada ban depan mobil bak terbuka pertama. Peluru melesat dengan senyap. Ban mobil pertama telah tertembak sehingga ban tersebut bocor.
"Oke, mobil kedua!"
Clara mengokang snipernya dan menarik pelatuknya setelah membidik ban mobil kedua. Kali ini dia menembakkan ban belakang. Peluru melesat dengan senyap dan membocorkan ban belakang mobil kedua.
"Mobil terakhir!"
Clara mengokang kembali snipernya dan membidik tepat di ban depan mobil ketiga atau yang terakhir. Tentu kali ini tepat sasaran dan senyap.
"Selesai!" ucap Clara di handsfree.
...
Setelah mendapatkan informasi tersebut. Kelompok pak Setyo langsung maju ke ruangan utama rumah sakit. Di sana mereka tidak mendapati seorang pun. Akhirnya mereka bergerak menuju bangunan ketiga bagian kiri.
"Untuk apa yaa mereka kesini? Mereka ini kelompok bandara atau bukan yaa?" gumam Rafael bertanya-tanya.
Pak Setyo memberi perintah untuk diam. Dia maju ke depan beberapa meter melalui koridor rumah sakit. Setelah beberapa meter, pak Setyo mendapati 5 orang sedang berbincang serius disalah satu ruangan. Pak Setyo melihat ke belakang untuk memberi isyarat maju kepada tiga murid SMA Misu.
Rafael, Bryan dan Revi maju secara perlahan sembari setengah menunduk. Setelah sampai pada pak Setyo, mereka berdiam diri kembali.
"Katanya rumah sakit ini memiliki dokter yang telah bereksperimen!"
"Iya, tapi kita datang kesini sangat sunyi dan hanya zombie-zombie brengsek itu!"
"Percuma kita kesini."
"Tidak, tidak, tidak. Saya mendapatkan informasi itu telah tervalidasi. Benar adanya!"
"Kita ke ruangan arsip, pasti disana tersimpan informasi tentang virus itu."
Terdengar rundingan yang cukup serius. Kelompok pak Setyo mendengarkan dengan seksama.
"Aku pindah ke bangunan yang dekat dengan bangunan rumah sakit sebelah kiri. Terlihat dari jendela ada 5 orang memegang senjata api jenis riffle." Suara Clara dari handsfree memecah keheningan kelompok pak Setyo.
"Lumpuhkan semampumu, kita juga sudah dapat 6 orang," perintah pak Setyo dengan pelan.
~