
Pagi harinya, burung-burung saling bersahutan. Matahari mulai menampakkan dirinya dari balik pegunungan.
Di rumahnya Hendro. Keadaan menjadi sedikit panik ketika Clara menemukan kertas pesan terakhir dari Rafael. Mereka mulai berpencar dan mencari di seluruh daerah disana, bahkan menyisir hingga 5 kilometer jauhnya.
"Rafael ... kau tidak membahayakan kami, kok!" ucap Clara nampak kesal.
Yang jelas sekarang, mereka sama sekali tidak mengetahui keberadaan Rafael. Seketika putus sudah hubungan komunikasi diantara mereka. Jika ingin menghalau Rafael, itu bisa, hanya saja itu sudah mustahil. Tak ada yang bisa memundurkan waktu.
Baiklah, mari kita tutup untuk keadaan kawan-kawan Rafael sampai ke depannya. Tak ada yang tau sampai kapan. Cerita ini, ah tidak. Perjalanan ini akan segera dimulai dengan babak baru. Babak yang lebih menyenangkan dan seru. Tentunya akan ada kesedihan dan misteri yang terus berdatangan. Namun, semuanya pasti akan ada akhir. Jadi, hanya menunggu waktunya untuk terungkap saja.
...
Rafael sekarang berada di suatu bangunan di pinggiran pantai. Dia melihat dengan jelas ada sebuah speed boat yang berlabuh di dermaga. Kapal itu terikat dengan rantai di tiang dermaga.
"Speed boat? Hmm ... melewati selat Makassar itu cukup riskan, bukan?"
Rafael keluar dari bangunan tempat dia beristirahat dan menuju ke dermaga. Sesampainya dia disana, cukup sunyi. Hanya ada suara ombak yang saling bersahutan.
Rafael mencoba menaiki speed boat itu. Sesaat dia naik, Rafael dikagetkan ketika moncong sebuah senjata api diarahkan kepadanya. Rafael menoleh dan melihat seorang pemuda berpakaian biasa saja, tetapi ditambah dengan rompi anti peluru di tubuhnya.
"Siapa kau?!" seru pemuda tersebut.
Di belakangnya nampak seorang gadis kecil yang seperti bersembunyi dibalik tubuh pemuda itu. Gadis itu nampak ketakutan.
"Ah ... itu. Aku hanya seorang yang selamat dari kiamat zombie ini," ucap Rafael sambil membalikkan badannya.
"Hmm ... itu bukannya senjata SS1, kan?" tanya pemuda itu sambil melirik senjata api yang dipegang oleh Rafael.
"Iya, aku mendapatkannya dari rumah di sana," jawab Rafael sambil menunjuk bangunan tempatnya beristirahat.
Pemuda itu menurunkan senjata apinya dan mengulurkan tangan kanannya ke depan.
"Perkenalkan aku Devin, Christopher Devin. Gadis yang berada di belakangku adalah adikku. Dia bernama Ara, Araya Clarissa," ucap Devin dengan ramah.
Devin seorang yang tinggi tegap dan tingginya sama dengan Rafael, badan yang cukup berotot, memiliki rambut pirang coklat dan juga matanya yang berwarna biru safir, kulitnya sawo matang. Sementara itu, gadis kecil bernama Ara memiliki rambut berwarna sama dengan Devin yang dikuncir 2, matanya juga sangat identik dengan Devin, tinggi gadis kecil ini juga dikatakan tidak terlalu tinggi. Bahkan Rafael yang tingginya 175 centimeter, gadis ini hanya seukuran perutnya atau sekitar 100 centimeter.
"Ah ... kawaii!" ucap Rafael secara spontan.
"Oi! Kau–"
"Tidak!" sela Rafael dengan cepat. "Adikmu lumayan beda jauh yaa?" lanjut Rafael.
"Aku berumur 18 tahun, dia 6 tahun. Yaa, lumayanlah," ucap Devin.
Devin pun mengajak Rafael untuk memasuki speed boat yang sedang berlabuh tersebut, mereka duduk di dek belakang, ada kursi memanjang berbentuk L di sana yang mengelilingi dek belakang. Speed boat itu adalah milik Devin, ah tidak. Milik ayahnya, akan tetapi keluarganya sendiri telah dibantai oleh para zombie. Akhirnya tersisa adiknya yang sangat dia sayangi itu.
Devin telah bertahan hidup selama ini dengan mengandalkan speed boat itu sebagai rumah terapung. Devin sendiri dapat mengendarai speed boat tersebut dengan mudah karena dia sejak berusia 10 tahun telah diajari ayahnya dalam mengendarai speed boat.
Devin sendiri 4 bersaudara, dan dia anak pertama sedangkan Ara adalah adik kecilnya, anak terakhir. Begitulah penjelasan singkat dari Devin tentang dirinya dalam berjuang di tengah kiamat zombie ini.
"Vin, kamu tidak ada niatan ke Jakarta?"
"Oh! Markas militer darurat, kan? Terlalu jauh, Rafael."
"Memang benar perkataanmu, tapi aku masih betah dikampung halamanku ini, walaupun porak-poranda akibat kiamat zombie ini, aku tetap setia."
Ara hanya menyimak percakapan diantara pemuda itu. Dia terus menoleh secara bergantian kepada. Rafael dan Devin. Sungguh anak yang polos.
"Kakak, dimana ayah?"
Rafael dan Devin tersentak kaget ketika mendengar perkataan dari Ara.
"Ayah sudah tidak ada," jawab Devin datar sambil memalingkan wajahnya.
"Oh ..."
Ara pun langsung masuk ke dalam ruangan kamar tidur bagian dek depan. Di sana ada double bed. Oh, iya. Speed boat ini memiliki 2 ruangan kamar yang hanya ada tempat tidur yang cukup 2 orang, ini berada di lambung kapal. Ada WC kecil, ruang bersantai dibagian belakang dek, serta ruang kontrol atau ruang kemudi.
"Anak yang polos," gumam Rafael.
"Begitulah," timpal Devin. "Oh, iya. Kenapa rambut dengan matamu itu?" lanjut Devin sambil menatap curiga kearah Rafael.
"Aku–"
"Human-Z!" sela Devin dengan cepat dan tepat.
Itu membuat Rafael terkejut. "Bagaimana bisa?"
"Ya, tidak kaget juga sih. Selama kiamat zombie ini aku bertemu banyak orang, dan beruntungnya mereka baik. Mereka mengajakku pergi dari sini, tetapi aku tidak mau. Mereka juga tidak memaksa. Setelah itu ada seorang lelaki yang cukup aneh.
Rambutnya putih sepertimu, matanya berwarna merah. Cukup mengerikan sih, tapi aku paham ketika dia menjelaskan dengan runtun apa yang terjadi dengannya," jelas Devin.
"Oke, jadi kamu tidak kaget lagi, kan? Itu bagus, jadi aku tidak perlu terlalu menjelaskannya, hehe!"
"Ah! Aku lupa! Aku harus menyetok persediaan makanan!" pekik Devin yang membuat Rafael terkejut.
"Jadi?"
"Aku akan pergi, bisakah kamu menjaga adikku? Ini aku menaruh kepercayaan diriku padamu, loh!" ucap Devin.
"Terserah kamu sih, aku juga masih cukup santai. Jadi, serahkan adikmu padaku untuk menjaganya, aku juga kan seorang Human-Z," ucap Rafael sambil tersenyum ramah.
Devin pun mempersiapkan alat pengangkut stok makanannya. Sebuah tas ransel yang cukup besar. Dia juga membawa senjata api laras panjang yang sebelumnya dia todongkan pada Rafael.
"Aku pergi," ucap Devin sambil berjalan santai menjauhi speed boat yang berlabuh di dermaga.
"Speed boatnya cukup mewah," gumam Rafael sambil berdiri.
Dia melihat bahwa Ara tertidur pulas diatas kasur. Rafael hanya tersenyum mengingat semua perjalanannya selama ini.
"Haa ... sebenarnya aku mau menyendiri, tapi aku bertemu orang jadi tak mungkin aku dengan tidak sopan meninggalkannya."
Rafael menuju ke ruangan kamar satunya. Dia disana duduk di pinggiran kasur dan merenungkan kembali keputusannya yang dia anggap cukup baik.
"Lebih baik seperti ini," gumamnya.
***