Human-Z

Human-Z
Chapter 61 : Agus Sang Tirani!



Malam mencekam sedikit dilewati oleh seluruh anggota rumahnya Hendro. 11 orang yang masih hidup diletakkan di tengah-tengah ruangan keluarga dalam keadaan berlutut semuanya. Disaat mereka semua sadar, mereka telah melihat moncong senjata api mengarah kepada kepala.


"Katakan kenapa kalian menyerang kami?" tanya Hendro dengan datar. "Sejak kedatangan mereka ini, kalian menjadi sangat berani yaa," lanjutnya.


"Cih! Agus kurang ajar itu mengirim kami kepada Letnan Kolonel serta kalau tidak salah kau adalah Setyo Hermawan, seorang Ajun Komisaris Polisi, kau seorang Kapolsek!" ucap seorang diantara mereka sambil meringis kesakitan serta menatap tajam kearah Setyo.


"Jangan lupakan agen Garuda-45 disini!" pekik Rafael secara terang-terangan.


11 orang itu tersentak kaget. Mereka awalnya mengetahui tentang rumor agen dibawah didikan Badan Intelijen Negara Republik Indonesia. Namun, tidak menyangka didikan dari organisasi BIN itu ada dihadapan mereka.


"Ka-kalian..."


"Ya, salam kenal, saya 001. Ketua dari agen Garuda-45 yang diletakkan di Palu tepatnya sekolah SMA Misu," jelas Rafael memperkenalkan dirinya.


Saat ini mereka tidak berniat menyimpan rahasia itu. Mereka akan terus mengatakan pada siapapun bahwa mereka benar-benar telah keluar dari persembunyian mereka selama ini dibalik layar pertahanan negara Republik Indonesia.


"Oke, saya mendengar kalian menghina Komjen. Pol Agus itu. Entah bagaimana juga, seorang Komjen. Pol atau bisa dibilang Wakil Kepala Polisi Republik Indonesia bisa ada di Makassar," ucap Hendro sambil menarik kursi mendekati 11 orang itu dan duduk disana.


"Kami sangat ingin mengkhianatinya. Dia sang tirani! 2 minggu lalu dia datang kesini dengan alasan mengevakuasi semua orang, tetapi malah menetap di bandara dan menjadi tirani sesungguhnya, orang-orang berjas hitam itu bahkan mengikutinya!"


Rafael tersentak kaget. "Ohh! Orang-orang berjas hitam itu, siapa sebenarnya mereka? Bahkan mereka mengetahuiku?" tanya Rafael.


"Nama saya Andi. Baiklah, saya akan menjelaskan sedikit yang saya tau," ucap Andi. "Orang-orang berjas hitam itu adalah anggota Badan Intelijen Negara yang berkhianat. Mereka diiming-imingi kepempimpinan oleh Agus itu," lanjutnya lirih.


"Aarrghh!! Dunia semakin rumit! Kenapa banyak pengkhianat kah?!" seru Rafael sambil mengacak-acak rambut putihnya.


"Ehem... baiklah, apa yang akan kita lakukan terhadap mereka?" tanya Bryan sambil diawali berdehem yang penuh intimidasi.


"Kami mau mengikuti kalian!" ucap cepat Andi diikuti anggukan kepala yang lemah dari 10 orang lainnya.


Kelompok Rafael hanya saling melirik. Tak ada yang berani mencoba mengambil perkataan selanjutnya. Beberapa saat hening, Laura maju ke depan dan mendekati Andi.


Laura memegang dagunya dan mendongakkan kepalanya. "Ingat yaa, jika kalian berkhianat dari kami. Kalian akan hilang dari dunia ini," ucapnya sambil tersenyum seringai dan tatapan mata tajam.


"Oke, mari kita tunggu Gideon dan para anggota The Red serta 3 orang sebelumnya menyelesaikan tugas mereka," ucap Hendro tiba-tiba untuk mencairkan suasana yang tegang dari Laura.


Anindira yang biasa melihat Laura sebagai anak yang polos dan cukup membebani. Sekarang dia telah melihat Laura yang seperti Rafael. Seorang yang tegas, cukup kejam dan licik. Jelas Anindira terkejut disana sambil menganga. Setyo hanya terdiam. Dia sudah cukup mendapatkan kejutan dari anak-anak SMA ini, dia tidak ingin terkejut dengan berlebihan kali ini.


"Oke. Kalian harus membuat diri kalian sebagai anggota kami dengan tidur diluar semalaman ini!" lanjut Hendro sambil memandang gelapnya halaman belakang.


...


Pukul 11:56 malam. Di bandara telah menjadi sangat sunyi. Hanya ada bunyi jangkrik dan hewan malam lainnya disana. Gideon mulai berjalan kearah gudang penyimpanan. Dia berniat untuk lebih dahulu menunggu disana.


Setelah sampai disana, dia malah bertemu 2 orang penjaga yang hanya memegang senjata laras panjang tanpa memakai rompi anti peluru.


"Hei! Ngapain tuan Kolonel Angkatan Darat ada disini?!" seru salah seorang diantara mereka yang berbadan gempal tanpa sopan santun.


"Saya hanya melihat-lihat. Tidak lebih. Yang harus saya pertanyakan, kalian ngapain disini?" balas Gideon sambil membuat tangan kanannya ke belakang. Di belakangnya, tepatnya dipengait ban pinggang telah ada pistol disana, pistol yang telah dipasangkan silencer.


"Kami ditugaskan pak Agus untuk berjaga disini, jujur saja kami malas!" jawab seorang lagi yang berbadan kurus.


"Loyalitas kalian dipertanyakan, loh! Kalian secara terang-terangan menyatakan malas dalam menyelesaikan tugas darinya!" Gideon melangkah mendekati mereka dan masih tetap tangan kanannya di belakang badan. "Saya sih juga malas! Tapi loyalitasku terhadap dia juga telah hancur!


"Agus sang tirani telah membuat kami harus seperti ini, jika tidak kami tidak dapat makanan dan tempat tidur yang layak!" seru yang berbadan gempal sambil bergeleng ringan.


"Astaga! Kalian benar-benar tidak loyal yaa, apalagi kalian menyatakan ini kepada orang yang notabenenya adalah penanggung jawab segala urusan disini!"


"Tidak peduli, kami bisa membunuhmu dan memalsukan kematianmu yang sebenarnya!" tantang pria berbadan kurus sambil menodongkan senjata laras panjang berjenis SS2-V1.


"Woahah! Senjata itu cukup menakutkan juga!" Gideon mencoba mengikuti alurnya.


Gideon dengan cepat menarik tangan kanannya yang telah memegang nyaman pistol silencer. Jari telunjuknya telah bersarang di depan pelatuk dan hanya tinggal menariknya.


"Kita sama-sama malas yaa kalau bertugas!" pekik Gideon cepat.


Pria berbadan kurus yang hampir menekan pelatuk karena terkejut dengan gerakan cepat Gideon, tidak bisa untuk tidak kembali terkejut oleh ucapan Gideon.


"Seberapa banyak sih personil yang berkhianat dari Agus sang tirani?" ucap Gideon pelan.


Kedua orang itu hanya terdiam seribu bahasa. Mereka sangat ingin disebut pengkhianat kepada Agus. Mereka muak oleh tindakan keji Komisaris Jendral Polisi tersebut. Beberapa saat kedua orang itu saling melirik akhirnya ada yang membuka suara.


"Kami sangat ingin menyandang gelar pengkhianat Agus!" seru pria berbadan gempal.


"Hahaha! Kalian ini lucu yaa! Yang boleh secara khusus menyandang gelar itu adalah saya!" ucap Gideon sambil menembakkan 2 peluru tepat di jantung kedua orang itu.


"Karena kalian, aku memiliki alasan untuk mengeluarkan peluruku yang kedinginan ini, hihi!"


Gideon meninggalkan mayat kedua orang itu. Rencananya untuk mengambil dan memonopoli stok persediaan bandara telah gagal. Disaat dia pergi dari sana, dia berpapasan dengan 3 orang yang berjanjian dengannya. Dia memerintahkan untuk kembali dan rencana ini diundur beberapa hari dengan mengonfirmasi kepada Setyo dan Hendro.


***


Paginya, pasukan gabungan bandara menjadi kacau akibat ditemukan 2 mayat yang tertembak mati. Mereka sama sekali tidak menemukan petunjuk satupun terhadap peluru yang bersarang di jantung kedua mayat itu.


Di ruangan Agus, dia sedang berpangku tangan disana dengan tatapan serius.


"Jelas ada pengkhianat di dalam kawasan bandara," gumamnya sambil menutup mata.