
"Ternyata rumor kita sudah tersebar luas yaa, sungguh lucu. Rahasia 20 tahun dari sekolah itu mulai terbongkar juga yaa sekarang." Ujar Rafael sambil berjalan ke ujung dermaga.
...----------------...
"Ngomong-ngomong, kami juga membohongi beberapa orang dan mungkin banyak orang lain tentang senjata kami. Sebenarnya itu adalah senjata yang disediakan para agen di beberapa kantor polisi, jadi kami tidak menyebut itu menjarah." Ujar Eva dengan antusias.
Selama ini para murid SMK Misu telah membohongi beberapa orang dan entitas asing diluar sana bahkan Si Pencipta mereka. Sungguh ironis, bukan?
"Jadi rencana kalian apa ?" Tanya Anindira.
"Memusnahkan penyebab dari ini semua." Singkat Clara.
"Ja... Jadi kalian akan memakai rudal itu untuk menghancurkan China?! Itu tidak mungkin. Rudal kalian saja ledakannya hanya sebesar Provinsi Sulawesi Tengah. Apalagi itu sebesar China, tidak akan mencakup seluruhnya !!"
"Kita cari pusatnya dan hancurkan langsung." Balas Clara.
"Kau egois, Clara !!" Bentak Rafael kembali memandang ke sahabat-sahabatnya dan Anindira.
"Di zaman seperti ini wajib egois, Rafa!!" Balas Clara dengan keras.
Entah mengapa Clara menjadi egois. Mungkin hanya itu yang ada dipikiran Rafael. Dia tidak menyangka sosok yang dia sukai sebagai sahabat itu sungguh egois.
"Sudahlah kalian. Itu semua memperburuk suasana !!" Teriak Laura yang dari tadi diam seribu bahasa.
"Apakah dengan dihancurkannya pusat dari bencana ini, maka semua berakhir ?!"
Sebuah perkataan dari Rafael dan Laura membungkam Clara. Ini sebenarnya sebuah pilihan yang sangat berat, apakah harus menggunakan metode itu atau metode yang lebih aman saja. Notabenenya menghancurkan pusatnya tidak serta-merta menghancurkan semuanya. Negara penghancur tidak semudah itu dihancurkan.
Sebuah kesialan berkepanjangan yang ada malah menanti. Apalagi ketika China tahu bahwa Indonesia sedang merencanakan sesuatu. Indonesia yang sedang dilanda kehancuran ini bagaikan anak ayam dengan elang sebagai China. China yang membuat senjata biologis itu harusnya menjaga kedaulatan negara mereka sendiri, jangan sampai diserang oleh negara lain akibat senjata biologis pemusnah mereka.
"Haaa~... Kau memang benar, Rafael. Aku tidak memikirkan kedepannya. Itu sungguh fatal untuk aku sebagai sandi ke-3 untuk peluncuran roket rudal itu." Ujar Clara mulai tenang.
"Makanya, kita hanya bisa menunggu dan menunggu. Entah kapan kita bisa menggunakan itu. Jujur saja, aku juga berencana memakai itu hanya saja aku urungkan." Balas Rafael sambil menggelengkan kepalanya.
"Wah.. wah.. wah.. Ternyata kalian disini!"
Seruan itu membuat semua orang yang berada diatas dermaga menoleh seketika ke arah suara. Disana menampakkan dokter Lee bersama beberapa orang bersenjata. Tampang mereka sungguh serius dan nampak sombong.
"Dok ?" Sapa Anindira sambil memiringkan kepalanya.
"Kenapa? Bingung? Hahaha!! Aku harus mendapatkan anak itu dan kamu !!" Tunjuk dokter Lee pada Rafael dan Anindira.
"Haisshh! Masalah apalagi ini!" Keluh Rafael sembari maju menuju dokter Lee.
Seketika beberapa orang bersenjata langsung menodong Rafael dengan senapan milik mereka.
"Ada apa ?" Tanya Rafael dengan menaikkan dagunya dengan sombong.
Dia sangat mencurigai dokter Lee sekarang. Mengapa membawa orang-orang bersenjata hanya untuk menemui dia dan bahkan menodongkan senjata itu padanya? Sungguh aneh tapi nyata.
"Aku membutuhkan darahmu, nak. Aku butuh untuk membuat penawar virus ini dan memperjual belikan dan aku akan kaya di zaman kehancuran ini dan akan menjadi penguasa, hahaha!!" Dokter Lee sangat terlihat gila dengan gelagatnya.
"Plan D !!!" Teriak Rafael dengan cepat dan kelima sahabatnya serta dia pun langsung terjun bebas ke laut.
Plan D adalah sebuah rencana yang dibuat oleh pelajaran khusus di SMK Misu. Sebuah jalur pelarian jika terjebak di dermaga. D yang kepanjangannya dermaga.
Dor !! Dor !! Dor !! Dor !!
Rentetan suara senjata terdengar keras dan lebih keras daripada suara deburan ombak. Suara tembakan menggema di zona aman itu.
Anindira hanya terduduk lemas di atas dermaga. Dia memberikan raut wajah ketakutan dicampur kekecewaan terhadap dokter Lee. Dokter Lee yang dia kenal selama ini seharusnya sangat sangat baik, tidak seperti ini. Entah apa yang merasukinya untuk berbuat nekat seperti ini.
Gerombolan orang berdatangan, namun seketika dokter Lee memerintahkan pada orang bersenjatanya untuk menodongkan senjata mereka pada gerombolan orang yang terpancing dengan suara tembakan itu. Bahkan Alexander pun ditodong secara pribadi oleh dokter Lee menggunakan M500 miliknya.
"A... Ada apa ini Lee ?!" Seru Alexander sambil mengangkat tangannya keatas.
"Kalian semua baik, tapi tidak sebaik saudara kembarku, Lee."
"Aku Reynal, saudara kembar dari Lee Min yang terpisah saat dilahirkan. Aku terpisah dengannya hingga sampai di Indonesia dan dibesarkan oleh keluarga pembunuh. Menarik bukan? Saudara kembarku sendiri sudah mati akibat eksperimennya terhadap vaksin ini sehari setelah mewabahnya virus CytraZ-24 !!" Teriak dokter Lee yang sebenarnya adalah Reynal, saudara kembar dari Lee Min.
Raut wajah tak percaya terpancarkan dari Alexander dan seluruh orang yang berada di sana bahkan Anindira. Sangat tidak disangka, selama ini yang bersama mereka adalah serigala berbulu domba.
"TEMBAK MEREKA SEMUA !!" Teriak Reynal dengan kejamnya.
Dor !! Dor !! Dor !! Dor !!
Rentetan peluru menembus tubuh orang-orang, mereka semua terkapar bersimbah darah. Alexander sendiri ditembak secara pribadi oleh Reynal di bagian kepalanya. Peluru senjata berkaliber besar berjenis Smith & Wesson 500 Magnum bersarang dan menghancurkan tengkorak dari Alexander.
...----------------...
Disisi lain, kelima sahabat Rafael dan Rafael itu sendiri telah sampai kembali di daratan dan mengambil dermaga sisi Selatan, yang awalnya mereka melompat dari dermaga sisi Utara. Disana mereka nampak kedinginan. Suara tembakan pun terdengar hingga pada mereka dan tembakan terakhir yang sangat keras, itulah peluru dari senjata milik Reynal.
"Malam berdarah, sungguh miris." Ujar Clara.
"Kelompok dokter Lee sangat berbahaya sekarang, bahkan mereka tidak segan-segan membabi buta orang-orang tak bersalah itu. Aku sempat lihat orang-orang berdatangan dan diberondong tembakan." Balas Rafael dengan suara yang parau, bagaimana tidak, 2 kali terjun ke laut yang dingin.
"Kita ambil persenjataan kita, kalau bisa kita habiskan mereka. Karena mereka sangat berbahaya, lebih berbahaya dari zombie diluar sana." Ujar Clara dengan raut wajah serius.
"Lakukan Plan A. Assassin." Perintah Rafael dengan tampang meyakinkan.
Sekarang mereka mulai berkomunikasi dengan ragam bahasa, menurut mereka sekarang tidak perlu disembunyikan lagi jati diri mereka pada khalayak ramai. Cukup sudah selama 20 tahun bersembunyi dan keluar hanya untuk ujian keagenan dan misi dari pemerintah. Bagi mereka sekarang harus membasmi siapa saja yang berpotensi menggoyahkan kedaulatan negara Indonesia.
"Kita pindah haluan terlebih dahulu, dari pembasmian zombie menjadi pembasmian manusia yang sangat berpotensi menggoyahkan NKRI." Ujar Bryan tersenyum menyeringai.
"Garuda-45 tim 7 segera laksanakan!" Seru Rafael.
Mereka semua bergerak secara perlahan agar tidak diketahui oleh kelompok dokter Lee, sebelumnya mereka belum tahu bahwa dokter Lee bukanlah yang asli melainkan kembarannya.
Sebuah auman anjing menyertai pergerakan mereka, dikesunyian malam yang hanya diiringi suara jangkrik dan deburan ombak. Kelompok Reynal dan kelompok 7 yang dipimpin oleh Rafael mulai bergerak dan mencari keberadaan masing-masing.