Human-Z

Human-Z
Chapter 39 : Perjalanan Menuju Makassar



Mentari pagi menyinari bumi. Burung-burung masih saja beterbangan sambil membunyikan kicauan mereka. Entah sampai kapan mereka tidak menyadari dunia yang telah luluh lantak akibat wabah virus ini.


Di hari yang cerah ini, diiringi senyuman ceria juga dari para penghuni hotel. Kenapa? Karena akhirnya mereka akan dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Salam perpisahan dari para zombie terjadi semalam, beruntung ada para tentara yang membantu. Keenam murid SMA Misu hanya menonton, cukup melelahkan, bukan? Mereka menyadari keberadaan tentara itu cukup banyak membantu.


"Oke! Semua perlengkapan sudah?" Tanya Rafael sambil menggendong tas punggungnya.


Rafael memakai celana abu-abu sekolahnya kemudian atasannya memakai kaus berwarna hitam dengan memakai rompi anti peluru.


"Yosh! Kita pergi!" Seru Bryan.


|


Di halaman parkir hotel, disana telah berkumpul orang-orang hotel bersama beberapa tentara. Sebelum masuk ke dalam helikopter, didata terlebih dahulu agar diketahui jumlahnya.


"Emm... baiklah. Apakah tidak ada yang tertinggal?" Tanya seorang tentara memegang papan data.


"Sudah semua. Total 21 orang penghuni hotel ini. 4 diantara mereka ada anak-anak." Sahut pak Setyo.


"Baik. Kita segera berangkat. Dan kalian anak-anak—"


Sebelum selesai berucap, Rafael memandang tajam tentara itu. Dia tidak mau identitas aslinya terbongkar pada pak Setyo yang tidak tahu-menahu dengan identitas murid SMA Misu. Hanya perwira tinggi dan beberapa orang tentara dan polisi saja yang mengetahui dari awal identitas para siswa-siswi SMA Misu.


"Kalian anak-anak SMA Misu, senjata kalian mau kami simpan atau kalian yang pegang saja?"


"Kami pegang pak. Jangan nanti terjadi sesuatu yang merugikan kami." Ujar Rafael cepat.


"Oke, kita akan pergi ke Makassar terlebih dahulu. Kita akan berkumpul di kamp darurat untuk pulau Sulawesi." Ujar pilot helikopter.


|


Helikopter pun berangkat dan saling berkoordinasi dengan 3 helikopter lainnya. Helikopter yang dinaiki orang-orang hotel bertemu dengan 3 helikopter lainnya di bandara Mutiara Palu. Setelah sempat mendarat beberapa saat, keempat helikopter itu langsung lepas landas. Karena kerumunan zombie berdatangan.


Helikopter yang mampu terbang dalam kecepatan 277 Km/H itu melesat menuju arah Selatan, tepatnya menuju Makassar.


...


"Haaa~ Aku nampaknya mabuk udara." Ujar Rafael dengan wajah pucat.


"Iisshh!! Norak tau. Orang kebanyakan memilih perjalanan udara, seperti pesawat untuk berpindah dari tempat yang jauh. Ini malah kau tidak suka dan mabuk." Timpal Clara kesal.


"Helikopter lebih banyak getarannya. Pesawat lumayan lembut, paling getar karena melewati awan." Balas Rafael tak mau kalah.


Terjadi pertengkaran mulut diantara mereka berdua hingga dilerai oleh Revi, Laura dan Eva. Pak Setyo langsung memberikan plastik berwarna hitam pada Rafael.


"Santai saja, tidak perlu tegang." Ujar seorang tentara melihat pertengkaran antara sahabat itu.


Beberapa orang-orang hotel hanya tertidur menikmati perjalanan udara dengan helikopter. Mungkin saja itu adalah trip pertama mereka memakai helikopter.


...----------------...


Waktu perjalanannya berkisar 1 jam 30 menit. Lumayan cepat untuk sekelas helikopter kargo dalam garis lurus sekitar 474 Km jaraknya. Jika perjalanan darat, maka akan menempuh jarak sekitar 800 Km lebih.


Sesaat sampai di bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Di sana terlihat tenda-tenda pengungsian darurat dengan dinding kawat berduri setinggi 5 meter yang mengelilingi mereka, disetiap sisi dijaga ketat oleh para tentara dan polisi. Di setiap sudut, terdapat menara yang terbuat dari kayu namun kokoh. Disana tempatnya machine gun berada. Di luar wilayah kawat berduri banyak zombie berkeliaran.


"Kita sudah jauh dari tanah kelahiran kita, tanah Kaili. Semoga dengan menginjaknya tanah Bugis-Makassar ini, kita dapat menjadi lebih baik." Ujar pak Setyo.


"Iya. Perbedaan budaya di Indonesia membuat Indonesia menjadi negara yang unik. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetap satu juga." Sahut Bryan sedikit lirih, karena baru habis bangun tidur setelah landing.


"Tujuan kita tidak jauh lagi, Jakarta!" Timpal Laura semangat.


"Ma.. Masih jauh Laura!" ~ Batin Rafael.


...


Di sana, tempat pengungsian darurat terdapat ribuan manusia. Sebagiannya telah menjadi bagian dari virus itu. Cukup banyak orang yang bertahan hidup, para tentara beserta polisi saling membantu untuk mempertahankan manusia yang tersisa.


Dari jutaan manusia yang menempati Makassar, hanya tersisa ribuan saja. Sangat sedih.


Orang-orang dari Palu dilepas ke tempat tenda pilihan mereka. Masih banyak tenda yang kosong. Di sana mereka sudah lumayan tenang dan tidak terlalu was-was. Keenam murid SMA Misu dan Wahyu diajak ke suatu bangunan. Pak Setyo tidak diperkenankan untuk mengikuti mereka. Anindira sendiri sudah bergaul dengan orang-orang di pengungsian darurat.


***


Bangunan dimana tempat SMA Misu dan Wahyu berada, disana telah banyak berkumpul tentara-tentara serta polisi dengan pangkat tinggi.


"Nomor kode 001, benarkah kau itu?" Tanya seorang polisi berpangkat Komisaris Jendral Polisi.


"Dia seorang Komisaris Jendral Polisi?!" ~ Batin Rafael terdiam.


"Iya, saya 001. Apa yang terjadi dengan bapak?" Tanya Rafael ketika melihat kaki sebelah kanan polisi itu tidak ada.


"Baiklah. Pertama-tama, kalian agen Garuda-45 adalah generasi bangsa. Apakah kalian pernah memikirkan untuk memakai Garuda The Missiles ?" Tanya sang Komjen pol mengalihkan pertanyaan Rafael.


"Tapi bukannya China tidak salah? Memang kami pernah berpikir demikian." Ujar Clara menimpali.


"Iya. Hanya saja, beberapa negara di dunia sudah mulai merencanakan hal gila yang mirip seperti kalian." Ujar Komjen pol. Di tag namanya terlihat nama Agus.


"Berarti negara itu tidak menerima alasan apapun dari China yaa?" Ujar Bryan membuka suara.


"Kami membutuhkan 505 dan 110." Singkat Rafael.


"Ahh! Itu lagi. Kami saja tidak tahu siapa 110, untuk 505 dia juga tidak diketahui keberadaannya." Ujar Agus.


Wiiiuu !! Wiiiuuu !!


Tiba-tiba terdengar sirine yang menggelegar di bandara itu. Orang-orang berlarian, tentara beserta polisi bersiaga seketika.


"Mau kah membantu kami? Kami selalu digempur oleh manusia Human-Z. Mereka berniat memusnahkan manusia normal!" Seru Agus.


Keenam murid SMA Misu dan Wahyu saling melirik kemudian mereka pun setuju atas ajakan Komisaris Jendral Polisi tersebut.


"Hadeehh! Baru juga sampai, harus gini lagi seperti yang lalu-lalu." Keluh Rafael.


~ Bersambung...