
Fajar menyingsing muncul dari balik jajaran pegunungan Sulawesi Tengah, diiringi bunyi-bunyian burung yang berkicau saling memberi semangat untuk tetap bertahan.
Pagi itu, keempat dari para pegawai kantor IFB tidur dengan lelap dikamar yang disediakan oleh Setyo Hermawan dan orang-orang hotel. Rafael menjelaskan panjang lebar tentang mereka. Persoalan Wahyu atau 098, Rafael hanya mengatakan bahwa dia adalah temannya yang terjebak bersama para pegawai kantor IFB itu.
Dikamar murid SMK misu, terlihat murid-murid SMK Misu sudah beraktivitas dengan santai. Apalagi sekarang mereka telah menemukan salah seorang anggota agen Garuda-45. Cukup senang untuk pencapaian hari ini.
"Jadi... Kakak-kakak semua selama ini ngapain aja ?" Tanya Wahyu sambil mengelap rambut hitam gondrongnya memakai handuk kecil. Dia baru saja mandi.
"Hanya keliling kota Palu saja, mencari-cari orang yang masih selamat dan tujuan utama kita mencari keluarga kita." Ujar Bryan sambil memainkan handphonenya. Dia bermain salah satu game Moba di Android, hanya saja, tidak ada player.
"Haisshh... Tidak ada player dan jaringan internet sangat lemot." Keluh Bryan sambil membanting handphonenya diatas kasur.
Rafael datang dari dalam kamar mandi dengan terengah-engah dan berkeringat dingin tanpa menggunakan atasan satu pun, hanya celana pendek yang ia pakai. Tubuhnya gemetaran tak terkendali, matanya melihat kesana-kemari dengan panik, giginya saling bergetar, mulutnya seperti bergerak menggumamkan sesuatu.
"Kau kenapa Rafa?!" Pekik Revi panik.
"DINGIN !!! AKU SALAH PASANG AIR NYA !!!" Teriak Rafael dengan keras.
"Pffft ha.. hahaha !!" Teman-temannya hanya menahan ketawa namun tak dapat dibendung akhirnya terlepas juga.
Wahyu hanya tersenyum kecil ke arah Rafael. Tak ada yang mau dibicarakan lagi untuk sekarang, atau ada? Itu tergantung kemauan dari Wahyu. Di dalam hatinya dipenuhi pertanyaan.
Wahyu POV ON
Aku memiliki banyak pertanyaan yang harus aku tuturkan. Tapi, aku rasa untuk sekarang jangan dulu. Kakak-kakak semua telah menyelamatkan kami dari kelaparan, tentu saat itu stok makanan yang aku seorang diri jarah habis.
Meskipun berhemat, itu tidak bisa untuk mengisi perut total 5 orang. Aku tahu, keempat pegawai kantor itu sangat tertekan. Aku tahu juga mereka baru masuk kantor itu sebagai karyawan tidak tetap sekitar 3 bulan lalu. Mereka cukup mahir menurut dari database yang sempat aku dapatkan dari data pusat kantor itu.
Data pusat kantor IFB sudah tidak dikontrol lagi. Siapa saja yang mencoba masuk ke dalamnya dijamin akan mudah dan tidak harus melakukan sistem peretasan lagi. Cukup bagi aku yang tidak terlalu paham soal peretasan komputer ataupun data pribadi atau data pemerintahan.
"Wahyu.. Wahyu.. Oh Wahyu, apakah kau disana ?! Atau disini hanya tertinggal ragamu ? Dan rohmu sudah pergi ?!!"
Sebuah perkataan menghancurkan lamunanku. Aku melihat kearah suara, disana telah ada wajah Rafael yang sangat dekat dengan wajahku. Sekitar 10 cm saja jaraknya.
"Banyak pertanyaan kah ?"
Kak Rafael sangat pandai membaca raut wajah seseorang, dia mampu menebak apa yang dipikirkan seseorang hanya lewat raut wajahnya. Walaupun raut wajah itu hanya datar, dia tetap dapat menebaknya, tetapi tidak banyak.
"Ah... Sangat banyak !!" Aku keceplosan dalam berkata.
Habis sudah aku !
Wahyu POV OFF
Rafael memandangi bingung kearah Wahyu. Tapi isi hatinya sudah mengetahui niat dari Wahyu itu sendiri. Dia hanya bingung, kenapa harus disimpan pertanyaan itu. Kan seharusnya dia dapat limpahkan agar tidak terbebani nantinya mentalnya.
"Katakanlah." Ujar Rafael dengan santai.
Rafael saat ini telah memakai pakaian. Ya, walaupun hanya kaus polos biasa berwarna merah dan celana pendek berwarna putih. Cukup melambangkan bendera Indonesia, merah bagian atas dan putih bagian bawah. Merah melambangkan keberanian serta raga manusia; putih melambangkan kesucian dan juga jiwa dari manusia.
"Iya katakan saja, kami mungkin bisa jawab." Timpal Eva dengan antusias.
Wahyu duduk dipinggiran tempat tidur dari Rafael. "Baiklah. Tenang juga pagi hari ini." Ujarnya.
"Tidak usah bertele-tele. To The Point." Ujar Bryan mulai kesal.
"Aduh... 098 memang dari generasi ke generasi banyak omongnya sebelum ke intinya." Balas Rafael yang juga mulai kesal.
"Kenapa mata dan rambutmu, kak Rafael?" Lanjutnya dengan tatapan elang.
"Woahah !! Nomor 098 memang tidak jauh-jauh dari mata elang." Seru Bryan.
"Entahlah, apakah ini informasi yang benar atau tidak."
Rafael mulai menceritakan penjelasan dari Anindira. Wahyu yang menyimak itu hanya tertegun ketika tahu orang disampingnya sewaktu-waktu dapat menjadi beringas. Wahyu segera menggeser posisi duduknya agak jauh dari Rafael.
Rafael mengibas pelan kedua tangannya didepannya. "Tak apa, aku aman, untuk saat ini." Dia menegaskan kalimat terakhirnya.
Tatapan dari Wahyu seketika membulat sempurna ketika melihat sesuatu di jendela.
"Zo.. Zombie bisa merayap di dinding..." Gumam Wahyu.
Gumamannya itu didengar oleh Rafael. Rafael pun langsung memandang tajam kearah jendela di kamar itu. Disana telah terlihat zombie mengerikan yang sedang menempel di dinding bagai cicak.
"Mengganggu pagi tenang saja kau !!" Seru Bryan kemudian menembakkan pistol silencernya kearah zombie itu.
Zombie itu pun terjatuh tertarik gravitasi bumi. Bunyinya saat jatuh saja membuat siapa saja merasa ngilu.
"O.. Oke kita lanjut, apa kakak berencana menggunakan Garuda The Missiles untuk menghancurkan pusat dari bencana ini ?" Tanya Wahyu sambil memandangi awan di langit dari jendela.
"Awalnya iya." Singkar Rafael.
"Garuda tidak dapat digunakan tanpa nomor 505." Ujar Wahyu datar.
"Iya, kami tau. Garuda harus memiliki 8 sandi yang dimasukkan. Sandi dari 001 hingga 006 dan 505 serta..."
Rafael menggantung kalimatnya, dia sangat sulit mengucap kalimat selanjutnya yang lumayan fatal bagi anggotanya.
"110." Ujar Clara datar.
"110 itu nyatanya tidak ada yang tau keberadaannya dan siapa dia. Hanya 3 orang terpilih yang tau keberadaannya dan tau siapa dia." Ujar Rafael.
"Itu pun kalau dihancurkan pusatnya, tidak semestinya mereka akan jatuh juga." Sahut Bryan.
Tok !! Tok !! Tok !!
"Masuk !!" Seru Rafael ketika mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya.
Ceklek !!
Pintu terbuka dan menampakkan pak Setyo Hermawan, keempat pegawai kantor, dan Anindira.
"Ka.. Kalian sedang sibuk ?" Anindira mundur satu langkah ketika dia mendapati dirinya ditatap oleh 7 pasang mata yang menyala tajam, bahkan ditambah tatapan mata elang milik Wahyu.
"Belum." Ujar Clara dengan ketus sambil membuang muka kearah lain.
"Kami mau pulang kerumah kami. Mau bertemu keluarga kami." Ujar salah seorang pegawai kantor; wanita yang pertama Rafael temukan di gedung IFB.
Rafael yang penasaran dengan asal dari niat mereka beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan kearah wanita itu.
"Hmm..."
~