Human-Z

Human-Z
Chapter 35 : Serum Anti Virus



"Haaa~... Aku ditinggal sendiri, itupun aku juga tidak mau ikut mereka." Ujar Wahyu sambil melihat keluar balkon teras di kamar SMK Misu.


Tok !! Tok !! Tok !!


Terdengar suara ketukan pintu, Wahyu menoleh sebentar untuk menunggu apakah akan mengetuk lagi ataupun tidak. Beberapa saat kemudian, terdengar kembali ketukan pintu. Wahyu pun berjalan ke arah pintu dan segera membukanya.


Wahyu memegang kenop pintu, "Siapa yaa dan apakah penting ?" Gumamnya.


Ceklek... Pintu terbuka dan menampakkan beberapa orang dewasa yang tersenyum ramah. Wahyu menatap penuh pertanyaan kearah lima orang lelaki dihadapannya.


"Selamat datang." Sebuah senyuman seringai terpancar dari mereka semua.


"Eh!"


...***...


Di daerah elit Cendrawasih, keluarga Rai menyambut murid SMK Misu yang telah menyelamatkan anak mereka. Cukup disambut meriah, tapi sambutan itu tidak serta merta berbahagia. Mereka hanya menunduk dengan pandangan kosong, dizaman kehancuran ini tidak cocok untuk berbahagia lebih.


"Terima kasih telah menyelamatkan anak-anak kami, para pejuang!" Seru seorang pria paruh baya dengan wajah yang mulai kendur akibat usia tua.


"Pe.. Pejuang ?!" ~ Batin Bryan salah tingkah hingga wajahnya memerah malu.


"Reynal." Singkat Clara, dia mencoba mencari perilaku mereka ketika mendengar nama busuk itu.


Seketika semua orang yang berada disana terkejut. Pandangan mereka menjadi amarah yang meluap-luap tanpa henti. Aura mencekam memenuhi ruangan pertemuan itu. Bahkan sekelas agen Garuda-45 merasakan ancaman penuh bahaya pada mereka.


"Dia adalah sampah yang berani menghancurkan kelompok ini !!" Pekik seseorang diantara mereka dengan tatapan bagai elang.


"A.. Ada apa dengan dia ?" Tanya Bryan mencoba menenangkan suasana.


"Dia adalah kembaran dari dokter Lee, hasil penelitian terhadap virus CytraZ-24, dia dan dokter Lee sudah sangat maju. Tapi... Dia hampir saja membuat daerah ini hancur berantakan !!"


"Wow, ternyata begitu yaa. Memang Reynal ini kejam juga. Berarti nama virus dan beberapa hal lainnya dia beritau dengan tepat tanpa dilebihkan." ~Batin Rafael serius.


"Apakah dia pernah kesini ?" Tanya Rafael menoleh pada seorang pria paruh baya, Reno namanya. Dia adalah kepala keluarga dari keluarga Rai.


"Pernah, dan hanya dia seorang diri menginap beberapa hari disini. Hasil penelitiannya ditempatnya dan disini pun dia tinggalkan. Entah apa maksud dan tujuannya, malah dia hampir menghancurkan daerah ini dengan memanggil ratusan zombie untuk masuk ke daerah Cendrawasih ini dengan keributan tanpa henti di malam hari. Beruntung pasukan pengaman daerah Cendrawasih mampu mengatasi hal itu. Reynal sendiri pergi entah kemana." Jelas Reno masih dengan luapan emosi.


"Kami berenam pernah ke markas mereka. Pelabuhan Pantoloan, tapi baru semalam disana. Reynal dan anak buahnya sudah berencana menghancurkan kami, dan bahkan mereka tanpa ampun menghabisi orang-orang yang tersisa yang tak bersalah sedikit pun dalam permasalahan ini. Beruntung kami bisa kabur." Jelas Rafael dengan mengurangi beberapa kejadian.


Kelima sahabat Rafael pun memandang Rafael dengan heran. Kenapa tidak dijelaskan semua? Apakah Rafael mencurigai kelompok Cendrawasih? Ah, selalu saja dari dulu dia suka mencurigai siapa pun dan dimana pun. Sahabat-sahabatnya hampir berpikiran sama.


"Jadi bagaimana dengan kelompok disana ?"


"Mana kami tau, kami sudah kabur." Singkat Rafael datar.


"Sepertinya kamu mutasi virus dari CytraZ-24, Human-Z. Bagaimana bisa ?" Tanya Reno dengan penasaran, luapan emosi yang tadi juga telah reda.


"Ah... Lebih baik kita istirahat terlebih dahulu." Sahut Setyo dengan mengangkat tangan kanannya keatas. "Mereka bertanya banyak dengan murid-murid itu." ~ Batin Setyo Hermawan memandang curiga ke arah Reno.


"Serum Anti Virus." Singkat Reno tahu kemana arah pembicaraan Setyo. "Dia membutuhkan banyak informasi sebelum memberikan informasi yaa." ~ Batinnya sambil tersenyum ramah ke arah Setyo.


"Dia mengetahui alurku !!" ~ Batin Setyo membalas senyuman dari Reno.


"Ini cepat juga. Antivirus saat pandemi beberapa tahun lalu itu lumayan lama menelitinya." ~ Batin Rafael.


Beberapa orang datang dengan membawa koper berbentuk persegi, mereka meletakkannya diatas meja kemudian membukanya. Terlihat beberapa botol kecil berukuran 0,5 ml dan suntikan. Cairan di dalam botol itu berwarna kekuningan.


"Apakah tertarik hasil 80% dari Reynal itu dan 20% nya kami yang teliti. Bagaimana?" Ucap Reno tersenyum tipis dan matanya pun ikut tertutup.


"Ah... Senyuman itu. Sulit ditebak maksud dan tujuannya. Sorotan matanya tidak terlihat." ~ Batin Clara.


Tiba-tiba Rafael tersentak ke belakang saat melihat sekilas raut wajah dari Reno.


"Dia menyeringai ?" ~ Batin Rafael tak percaya.


"Kenapa Rafa ?" Tanya Revi penasaran.


"Kakiku kesemutan." Singkat Rafael.


Rafael mencoba melihat lagi raut wajah dari Reno, disana hanya terlihat raut wajah yang biasa saja. Tanpa sesuatu hal yang menarik. "Apa aku salah lihat?" Gumam Rafael penuh pertanyaan.


~