
Rafael mengisi bensin di motor yang dia temukan dan langsung melaju menuju dermaga. Ketika dalam perjalanan yang hanya tersisa 100 meter lagi.
Rafael melihat ada sepasang insan manusia sedang bertahan dengan zombie yang terus menerus datang ke dalam bangunan yang terlihat seperti sebuah ruko.
"Hmm ... bantu kah?"
Rafael terus mengamati dari jauh yang sebelumnya dia sudah menyimpan motornya di salah satu pekarangan rumah. Dia kemudian mengintip dari balik dinding pagar rumah. Dia melihat dengan jelas bahwa sepasang insan manusia itu hanya mengandalkan pemukul baseball dan belati. Lelaki memakai belati dan wanita memakai pemukul baseball. Sang lelaki yang rambutnya pendek acak-acakan berwarna hitam kecoklatan. Sang perempuan yang terlihat lebih pendek dari lelaki itu menguncir rambut hitam panjangnya. Mereka berdua hanya memakai pakaian sederhana.
Ini menjadi tontonan yang bagi Rafael cukup seru. Dia tidak mau ceroboh dengan membantu begitu saja seseorang dan dia memiliki persentase akan ditusuk atau dikhianati dari belakang. Itu menyakitkan.
.........
"Kyaa! Kak, disebelahmu!" teriak seorang perempuan.
"Iya, Amel. Tunggu saja, semua zombie ini akan musnah ditangan kakakmu yang pemberani," ucap seorang lelaki dengan menaikkan dagunya.
"Ihh! Kak Reno selalu saja gitu, cepat bantu aku disini!"
"Sabar atuh!"
Sebuah percakapan yang cukup intens diantara mereka berdua. Sepasang insan manusia ini adalah kakak beradik. Si lelaki bernama Reno dan adik perempuannya bernama Amel. Mereka berdua sedang berusaha bertahan dari gempuran zombie yang terus berdatangan.
"Heyyaa!" Reno mengayunkan belatinya dengan baik.
Disaat zombie mendekat, belati Reno langsung saja membuat sayatan besar di leher zombie tersebut. Namun, itu belum membuat zombie akan mengalami kematian.
"Sekali lagi!" Reno mengayunkan belatinya dengan berlawanan arah dari ayunan sebelumnya.
Leher zombie itu putus. Kepalanya terbang berputar di udara sebelum jatuh dan pecah di tanah.
"Hosh ... hosh ... ini melelahkan," gumam Reno sambil mengelap keringatnya yang mengucur dari dahinya. "Adikku, kau sudah selesai?" ucap Reno sambil memandang adiknya yang masih kerepotan.
"Kyaa! Kak! Toloong!"
Amel sedang ditarik-tarik pakaiannya oleh beberapa zombie. Pakaiannya tentu saja hampir tersobek dan memperlihatkan tubuhnya tanpa pakaian. Dengan cepat Reno berlari menuju Amel dan menangkap Amel sebelum dia menariknya mundur.
"Oi! Zombie mesum! Jangan macam-macam dengan adikku!"
Reno mengambil pemukul baseball adiknya dan dia memegang erat dengan kedua tangannya. Dia mengayunkannya secara vertikal dari atas ke bawah sehingga zombie yang paling dekat dengannya terkena hantaman kerasnya. Kepala zombie itu pecah.
"Groaarr!" Bagai seekor beruang, zombie yang fisiknya terlihat lebih besar berteriak keras dari belakang.
Teriakannya menggelegar di jalanan sana. Itu memekikkan telinga sehingga Reno dan Amel harus refleks menutup kedua telinganya. Gerombolan zombie tiba-tiba datang dari ujung persimpangan jalan. Satu, dua, tiga, ada puluhan zombie datang dengan kelaparan.
"Bahaya!" seru Reno.
Dia menarik tangan adiknya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam ruko. Di dalam, menurut Reno, mereka bisa aman walaupun seharusnya ruko inilah yang harus dipertahankan karena ruko ini memiliki banyak macam stok makanan dan barang bekas penyintas lainnya yang telah tewas. Mayat penyintas lainnya pun masih cukup segar, nampak baru satu atau dua hari tewas.
"Palang pintu dengan papan atau lemari yang bisa menahannya!" Usulan ini diberikan dari mulut Amel.
"Oke, Mel!"
.........
"Mereka kakak dan adik yang harus bertahan dari kejamnya dunia, kalau tak salah nama Si lelaki adalah Reno dan perempuan itu Amel," gumam Rafael.
Rafael dengan tekadnya yang cukup kuat. Dia maju dan berhadapan dengan keroco-keroco yang cukup merepotkan.
"Aku akan menolong mereka, yaa walaupun aku tidak akan mau menunjukkan wajahku ini kepada mereka. Anggap ini keberuntungan kalian," ucap Rafael.
Dia langsung mengeluarkan sebuah tentakelnya. Dia melesat bagai kecepatan suara dan langsung sampai dengan cepat di depan ruko berlantai 2. Rafael menebaskan tentakelnya ke gerombolan zombie yang datang ke arahnya.
"Kalian salah dalam berkumpul disatu titik. Bagaimana jika sebuah senjata memiliki efek Area Of Effect? Kalian dalam bahaya!"
Hantaman tentakel Rafael membuat segerombolan zombie terbang beberapa meter jauh ke sana. Sebagian dari mereka ada yang kepalanya terbentur dan pecah, tetapi masih ada yang bertahan dan mencoba menyerang Rafael lagi.
"Tch! Merepotkan."
Intinya, Rafael sekarang melakukan pembantaian sepihak kepada para zombie. Kakak dan adik yang sedang berada di dalam ruko hanya melongo dari balik jendela melihat sosok yang bagi mereka adalah malaikat penyelamat, tetapi ada rasa ketakutan di mata mereka tentang Rafael yang seperti monster ini.
Rafael saat ini memakai topeng seadanya. Dia sendiri mendapatkan topeng setengah wajah berbentuk rubah ini disaat individual zombie sedang memakainya.
Hal yang sedikit lucu ini membuat Rafael juga hanya tercengang. Bagaimanapun hanya seorang cosplayer yang wajar memakai topeng rubah itu dikehidupannya dalam mencari uang. Berarti menurut Rafael, zombie yang memakai itu adalah seorang cosplayer.
Yaa ... mungkin ini akan jadi identitasku? Aku masih memiliki kemanusiaan, dan tidak mungkin aku membiarkan seorang manusia pun dalam bahaya dizaman zombie ini, batin Rafael masih terus berputar-putar layaknya seorang penari.
Dia seperti itu juga tidak lepas dari menghindari tipe zombie pelompat yang kapanpun dapat menerjang kita dengan lompatannya yang keakuratannya diatas rata-rata.
Beberapa menit kemudian, akhirnya para zombie telah habis disapu bersih oleh Rafael. Kakak dan adik itu keluar dari ruko untuk menemui Rafael yang hanya terdiam menatap langit.
Dari balik topengnya, sebuah cairan bening mengalir dari mata menuju pipinya. Dipenglihatan Reno dan Amel, maka sang penolong ini dalam keadaan terluka.
"Emm ... Kak? Kakak tidak apa-apa?" tanya Reno yang menurutnya dia masih lebih muda.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya terbawa suasana saja, yasudah, sampai jumpa dan jaga diri kalian," ucap Rafael dan memasang kuda-kudanya.
Dia lebih berniat berlari sekarang daripada menggunakan motor. Sebelum Rafael mulai menghentakkan kakinya dan berlari, bajunya ditahan oleh Amel.
"Kakak bertopeng rubah! Terima kasih atas bantuannya!" ucap Amel dengan mata berbinar.
"Reno dan Amel. Ya, itu nama kalian, kan? Aku harap kita akan bertemu ke depannya, sampai jumpa!"
Sebuah hempasan angin membuat debu bertebaran. Dari mata kedua kakak beradik ini hanya mata kagum dan juga ketakutan. Kagum atas hal yang tak bisa dikatakan, takut juga jika penolong mereka akan sewaktu-waktu menyerang mereka.
"Pokoknya terima kasih, kakak topeng rubah!" teriak Amel keras.
Disaat itu juga Reno menarik Amel dan mereka juga menyelesaikan pembersihan disekitaran ruko untuk mereka tempati sementara selagi mencari tempat yang sekiranya lebih layak ditempati.
***
Catatan kaki :
Cosplayer, cosplay sendiri merujuk pada hobi berkostum ala karakter animasi, komik maupun video games. Sedangkan cosplayer adalah orang yang melakukannya.