
"Mau bermain yaa. Sepertinya bapak salah orang!" Ujar Rafael sambil tersenyum smirk dihadapan pria bernama Noel tersebut.
"Oh kamu berani juga yaa!"
Terjadi pertempuran berkecepatan tinggi diantara mereka berdua diatas balkon atap tersebut. Orang biasa yang melihat pertempuran itu hanya mampu melihat bayangan yang bergerak sangat cepat.
"Bagaimana ini pak?" Tanya Laura pada pak Setyo.
"Tahan dulu. Saya ingin melihat kemampuan dari nak Rafael." Balas pak Setyo.
Klang! Syuung! Whuush!
Rafael mengayunkan kedua pedangnya dengan memutarkan badannya diudara menuju ke pria bernama Noel. Namun dengan mudahnya ditangkis oleh dua buah tameng miliknya.
"Nak Clara. Jika kamu melihat celah, kamu bisa membantu pertarungan ini." Ujar pak Setyo menoleh pada Clara.
"Celah... aku harus cari celah agar peluru sniper modifikasiku dapat membuat tamengnya terjatuh!" ~Batin Clara dan langsung membidikkan sniper miliknya ke pertarungan kecepatan tersebut.
"Hiyaaat!" Rafael mencoba menendang lutut pria bernama Noel tersebut.
Namun dengan kecepatan yang unggul dari Rafael, pria itu mampu menghindarinya dan malah membalas serangannya dengan memukul perut Rafael.
Buag!
Rafael terlempar ke arah teman-temannya dan pak Setyo hingga membuat teman-temannya serta pak Setyo juga ikut terlempar ke pinggiran balkon.
"Ah! Merepotkan!" Keluh pria tersebut
"Dapat!" Seru Clara.
Dor! Dor!
Dua peluru melesat dan menargetkan tameng yang berada di tangan kanan dan kiri pria bernama Noel tersebut. Karena pria itu sempat lengah, dia belum sempat menghindarinya. Alhasil tamengnya terlempar jatuh kebawah hotel akibat terkena ledakan kecil dari peluru modifikasi yang sedang aktif.
"Sekarang nak Rafael!!" Teriak pak Setyo.
Whusshh! Cratss!
Dengan cepat Rafael melesat bagai peluru menuju ke pria bernama Noel. Karena terdiam beberapa saat, pria tersebut akhirnya harus mengakui kalah setelah kedua lengannnya putus terkena kibasan pedang milik Rafael.
"Habiskan dia!!" Teriak rekan pak Setyo dan juga sahabat dari polisi yang menjadi korban tadi.
"Arrrghh!! Awas kalian!" Ancam pria tersebut.
Dengan cepat Rafael menodongkan pedangnya ke leher pria tersebut. Jaraknya hanya beberapa milimeter.
"500 meter/detik milikmu tidak berguna jika jarak pedangnya segini, bergerak sedikit saja maka arteri karotismu akan putus seketika." Ancam balik Rafael dengan tatapan dingin.
"Ugh! Ancamannya tidak main-main. Tatapannya saja membuatku merinding." ~Batin pria bernama Noel tersebut dengan gemetaran.
"Kita perlu interogasi dia mengenai serangan Zombie tadi. Jangan dulu dihabisi, sayang informasinya nanti tidak ada dan hanya dia simpan selamanya di dalam nyawanya." Ujar Rafael menoleh ke pak Setyo.
***
Pak Setyo pun menahan orang tersebut dengan memborgolnya di tangan dan kaki serta merantainya di tiang dinding hotel serta juga meletakkan pemicu bom di lengannya, jika dia bergerak sedikit pun maka dia akan seketika mati agar dia benar-benar tidak mempunyai kesempatan kabur. Daya ledak bomnya juga sudah dikurangi hingga hanya berjarak setengah meter.
"Mana Rafael?" Tanya pak Setyo sama Clara.
"Dia istirahat di kamar. Dia bilang staminanya terkuras habis." Jawab Clara.
"Terus kita apakan dia?" Tanya Laura.
Brug!
Laura seketika pingsan juga.
"Loh, kan bapak bercanda, hahah!" Pak Setyo menggaruk-garuk kepalanya padahal tidak gatal sambil tertawa renyah.
"Hahaha! Maklum pak. Anak manja mah gitu. Sudah lama nih gak dimanjain orang tuanya, entah keluarga kita semua pergi kemana." Sahut Bryan lirih.
"Memangnya keluarga kalian saat kiamat Zombie terjadi pada dimana?" Tanya pak Setyo.
"Yang kami tau pak. Sebelum kami berangkat sekolah, keluarga utama kami itu lagi anteng-antengnya berkumpul bersama. Keluarga kami itu sudah bersahabat sejak dulu, nah anak-anaknya pun bersahabat juga." Jawab Bryan.
Pak Setyo hanya mengangguk pelan memahami kondisi keluarga murid-murid SMK Misu tersebut.
...
Rafael yang sedang tertidur dikamar dengan nyamannya mendengkur juga.
"Grrrr..!"
Tiba-tiba Rafael seperti merasa jatuh kedalam lubang yang sangat dalam dan gelap.
"UWAAA!! Toloooong!" Teriak Rafael.
Namun sudah terlambat, Rafael sudah berada di dasar terdalam ruang hampa. Ruangannya hanya berlatarkan putih dan tidak ada apa-apa satupun.
"Di-dimana aku?" Gumam Rafael.
"Halo nak! Lama tidak berjumpa."
Tiba-tiba dari arah belakang Rafael terdengar suara yang membuat Rafael tertegun sesaat. Rafael berbalik dan terbelalak siapa yang muncul dihadapannya.
"A-ayah?!" Seru Rafael.
Seorang pria berbadan kekar, memakai kacamata, memakai hoodie serta celana panjang olahraga, rambut hitamnya tertata rapi menyisir kebelakang dengan belahan disisi kanan, wajahnya terlihat jelas dengan beberapa kerutan-kerutan yang membuat kesan bahwa pria tersebut sudah memasuki usia paruh baya, wajah terkesan tegas, berkulit sawo matang.
"Ayah ada disini nak. Menunggumu dari sebulan yang lalu, ayah ada di Barat Daya dari hotel itu nak. Berjalanlah menuju terbenamnya matahari, pasti kamu akan mendapatkan ayahmu ini. Disini ayah sudah sangat senang dan bahagia dapat kembali bertemu sahabat-sahabat ayah, namun rasanya kurang jika anak ayah dan sahabat-sahabatnya tidak ada." Jelas pria tersebut.
"Ayah... Rafa kangen yah. Sudah sebulan lebih Rafa dan sahabat Rafa terjebak di sekolah itu. Tapi sekarang Rafa sedikit tenang karena ada seseorang yang dapat Rafa percaya kembali. Ayah... Rafa sepertinya sudah bukan manusia seutuhnya yah." Ujar Rafael lirih.
"Berhati-hatilah dengan orang asing itu nak. Cukup nak, Ayah tidak mampu lagi. Ayah akan menunggumu di tempat aman ini nak!" Sahut ayah Rafael kemudian perlahan menghilang.
"Tidak Ayah!! Jangan tinggalkan Rafa...!!" Ronta Rafael mencoba meraih ayahnya yang sudah menghilang separuh badannya.
"Ingatlah perintah ayah. Pergilah ke Barat Daya bersama kelima sahabatmu. Maka kamu akan kembali bertemu dengan ayah dan ibumu serta keluarga kelima sahabatmu itu." Titah ayah Rafael kemudian menghilang seutuhnya dari hadapan Rafael.
Whuuush!
Tiba-tiba angin kencang menerjang Rafael hingga membangunkan Rafael dari mimpi panjangnya.
"Uwaaa!" Rafael langsung terduduk dari baringnya.
"Ayah! Aku harus pergi ke ayah!" Seru Rafael dengan semangat.
~
Instagram : alif_ardra