Human-Z

Human-Z
Arc 1.5 - Colonel The Traitor - Chapter 59 : Pengkhianatan Gideon kepada Agus



Memasuki Arc Extra, Colonel the Traitor.


--


Pukul 2 siang, Gideon dan keempat orang dari kelompok The Red telah pulang kembali ke bandara.


"Kapan yaa... dunia ini akan kembali nyaman dan tentram?" ucap pelan Rafael.


Bryan mendengar ucapannya dan kemudian berkata. "Tergantung, yaa... kita hanya bisa menunggu dan menunggu!"


Karena pembicaraan yang melelahkan selama beberapa jam, sebagian orang tertidur untuk istirahat siang. Mereka masih bisa tidur siang juga karena telah konfirmasi kepada yang masih bangun untuk berjaga. Bryan, Revi, dan Rafael lah yang masih bangun.


"Hei, kenapa mereka bisa-bisanya tidur siang?!" seru Revi.


Rafael menoleh kepada Revi kemudian berkata. "Bisa saja. Mungkin mereka benar-benar lelah, apalagi pak Setyo dan pak Hendro yang berbuat sesuatu kepada 4 orang sebelumnya. Kalau untuk para perempuan, gak tau gimana lagi dah," jelas Rafael sambil menggigit beberapa potong kue kering. "Hmm... enak juga yaa!" lanjutnya.


***


Di bandara, siang hari yang terik seperti ini hanya bisa untuk digunakan tidur siang dengan senyaman-nyamannya. Jika tidak tidur siang, mereka bisa merasakan dehidrasi yang berlebih. Maka dari itu sebagian besar dari kelompok bandara hanya tertidur dengan terpaksa, tetapi cukup nyaman juga.


Di ruangan pribadi Agus. Dia sedang duduk bersandar di kursi kantorannya. Dia sangat terlihat santai. Di hadapannya ada Gideon dan keempat orang kelompok The Red sedang menunduk tak berani melihat tatapan mata tajam dari Agus.


Agus berdehem kemudian berkata. "Jadi... kenapa kalian tidak membawa mereka semua?" tanyanya dengan aura intimidasi.


Gideon yang awalnya cukup ketakutan menjadi tidak ketakutan akibat dia telah merasa kekuatan dari kelompok Setyo sendiri meskipun terpaut jauh dari satu kompi mereka. Yaa, Gideon sendiri terpaut 17 tahun dibawah umur Agus yang 45 tahun. Gideon masih terbilang cukup muda yaitu berumur 28 tahun.


Gideon maju satu langkah dan menegakkan kepalanya ke depan kemudian berkata. "Mereka tidak mau. Kami kekurangan orang, mereka berjumlah 11 orang dan masing-masing memegang alat sendiri," jelas Gideon dengan cepat.


"Haaa... padahal saya mengirim kalian berlima karena saya anggap sudah cukup, Kolonel Gideon! Ckckck... lupakanlah!" ucap kesal Agus sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya.


Gideon hanya menunduk. Menurutnya, pangkatnya sudah tidak lebih dari nama. Dizaman seperti ini pangkat sudah tidak dianggap. Hendro saja tidak menganggapnya seperti itu dan malah berpura-pura tidak mengetahuinya yang padahal Gideon menghormati Hendro sebagai senior walaupun Hendro sendiri masih Letnan Kolonel di angkatan Darat, sama seperti satuannya.


Lama Agus terdiam. Semuanya pun juga tidak berani membuka suara. Lagipula mereka tidak diberikan izin berbicara selagi Agus terdiam. Aneh juga.


Beberapa menit mengetuk-ngetuk jarinya di meja, Agus mulai memperbaiki posisi duduknya kemudian berkata. "Saya sangat tidak sabar terhadap eksperimen rumah sakit Sehat. Mereka juga sekarang telah hancur, sehingga saya lebih leluasa. Tim ilmuwan kepolisian juga telah bersiap sedia, hanya saja barangnya ini yang belum ada!"


Gideon menyimaknya. Dia sendiri tidak akan pernah mengatakan bahwa Jaka anak dari Hendro adalah Human-Z. Dia akan menyembunyikannya rapat-rapat sampai memang terbongkar oleh Agus sendiri.


"Oke, kalian tunggu saja kabar selanjutnya. Kemungkinan disaat saya memanggil, maka disitu kita akan menyerang Setyo, Hendro dan yang lainnya, terutama anak 001 itu!"


Gideon sedikit bingung. "Siapa 001 itu Pak kalau boleh tau?" tanyanya dengan rasa penasaran.


Agus menatapnya tajam kemudian tatapan mata itu perlahan menjadi normal. "Dia adalah Rafael, agen Garuda-45," ucapnya secara singkat yang membuat Gideon tersentak.


"Agen Garuda-45? Mereka benar-benar ada? Ternyata rumornya sejak dulu memang nyata yaa!" gumam Gideon sambil memegang dagunya.


Mata Gideon berbinar. Dia benar-benar telah bertemu orang-orang yang dirumorkan menjaga Indonesia dari balik layar dan sama sekali tidak dianggap ada oleh orang-orang awam. "aku semakin ingin bekerja sama dengan mereka!" batinnya dengan wajah yang tetap datar.


Keempat bersaudara The Red hanya menyimak percakapan itu. Mereka tidak berani menimpali perkataan dari mereka. Meskipun Gideon sendiri adalah kawan mereka, tetapi itu baru ditetapkan pagi tadi. Sehingga mereka masih cukup canggung juga.


Akhirnya pertemuan itu dihentikan sementara sampai waktu yang tidak ditentukan. Gideon bersama keempat bersaudara berjalan keluar area bandara dikawal oleh beberapa polisi bersenjata ke tempat dimana keempat bersaudara itu ditahan sementara.


"Kalian tetap disini yaa. Pak Agus akan curiga jika kalian berkeliaran di dalam area bandara!"


Rani hanya mengangguk pelan. "Sebentar malam kita jalankan yaa?"


Gideon tersenyum mengiyakan pertanyaan dari Rani. Dia keluar dari bangunan terbengkalai itu dengan berjalan penuh kewibawaan.


"Heh! Pak Agus akan merasakan dampaknya nanti," gumamnya sambil menyeringai.


Gideon berjalan hingga sampai di bangunan tempat penyimpanan stok makanan serta amunisi senjata api. Disana sangat banyak bertebaran stok makanan, tetapi yang dibagikan malah hanya 1 banding 10 kepada orang-orang bandara.


"Agus memang licik dan kejam, dia berubah semenjak kehancuran dunia,"


Gideon melihat-lihat barang-barang disana. Dia hanya tersenyum penuh misterius. Tak lama dari dia mendata barang-barang yang akan dibawanya, 3 orang masuk ke dalam bangunan dan mengejutkan Gideon.


"Kalian! Kalian yang mendatangi rumah Hendro pagi tadi?" tanya Gideon tetap waspada.


"Iya," jawab salah seorang diantara mereka yang berbadan besar.


"Saya dikirim oleh pak Agus ke sana. Saya akan mengkhianati dia," ucap pelan Gideon.


Ketiga orang itu tersentak ketika mendengar perkataan Gideon. Tak butuh berapa lama, senyuman dari wajah datar mereka terpancarkan.


"Sama," singkat pria berbadan besar.


"Oke, bantu aku sebentar malam. Kita akan bertemu disini pukul 12. Kelompok mereka memberi syarat untuk memonopoli sebagian barang-barang bandara," jelas Gideon sambil mendekati orang berbadan besar itu.


Karena ruangan penyimpanan yang gelap dan hanya ada lampu temaram berwarna oranye disudut ruangan, sehingga pandangan menjadi terbatas. Ketika Gideon mendekat, orang berbadan besar itu terkejut.


"Ka-kamu Kolonel Angkatan Darat Gideon?!" seru pria berbadan besar itu.


Gideon hanya tersenyum kemudian memegang pundak pria tersebut. "Oke, kita bertemu disini pukul 12 malam."


Pria berbadan besar itu mengangguk dengan semangat. Mereka tak peduli tentang apa tujuan Gideon mengumpulkan mereka disini pada tengah malam.


 


Mulai saat ini hingga beberapa Chapter ke depan akan lebih fokus kepada Gideon si Kolonel Angkatan Darat.