Human-Z

Human-Z
Chaptee 6 : Pelatihan!



Fajar menyingsing membangunkan seluruh orang di hotel Matahari. Banyak yang sudah beraktivitas, ada yang memasak, ada yang menyiram sayur-sayuran dan buah-buahan di balkon atap, ada yang bermain beberapa permainan tradisional.


"Hoaamm! Pagi semua!" Sapa Rafael masih setengah kesadarannya.


Ndus! Ndus! ... Tiba-tiba Rafael merasakan hasrat 'makan' nya.


"Sial! Jangan sekarang dulu! Teman-temanku masih molor!" ~Batin Rafael.


Rafael dengan langkah berat langsung menuju ke tempat tidur Revi.


Brak!


Pintu terbuka dengan kasar menampakkan pak Setyo dan beberapa rekan polisinya.


"No no no! Jangan bergerak Rafael!" Bentak pak Setyo.


"Bangun semua!!" Teriak tekan pak Setyo.


Teriakkannya membuat teman-teman Rafael terbangun. Saat sadar Rafael sedang tak terkendali, mereka semua berlarian ke luar ruangan.


"Duh! Duh! Pelan-pelan astaga!" Keluh pak Setyo ketika didesak oleh teman-teman Rafael.


"Nih!" Pak Setyo memberikan secangkir darah.


"Huuumm!" Rafael langsung meminumnya dengan rakus.


"Itu darah siapa?" Tanya Revi.


"Emm .. darah rekan bapak. Yakan!" Jawab pak Setyo kemudian melirik pada rekan polisinya.


"Hehe, pak komandan masih butuh gak?" Tanya rekannya.


"Tidak butuh, saya mau latihan pengendalian diri. Sudah seminggu loh tak ada asupan darah ataupun daging manusia walaupun secuil. Berarti saya sudah lumayan mengendalikannya." Jawab pak Setyo.


"Haa ... haa .. haa .." Rafael Terengah-engah.


"Oh ini yaa, sarapan istimewa yang bapak maksud semalam." Gumam Clara.


"Nak Rafael, gimana perasaannya?" Tanya pak Setyo sambil membantu Rafael yang terduduk berdiri.


"Ah .. nikmat! Ehh hehe, duh kok gak terkendali yaa. Padahal saat perjalanan kesini pas paginya gak ada tuh hasrat ingin 'makan'." Jawab Rafael sedikit kikuk.


"Itu karena masih dalam tahap pengembangan virus Zombie didalam tubuhmu. Bapak cium aromamu pagi ini benar-benar berbeda dengan semalam. Sekarang kau lebih kuat aroma merahnya. Bahkan dalam semalam kau semakin pucat tuh!" Sahut pak Setyo.


"Loh eh, iya ya. Kayaknya kekurangan darah nih, hahaha!" Lakar Rafael.


"Dah, kamu harus rutin setiap pukul 6 pagi lakukan 'makan', jika tidak, akan terjadi seperti ini lagi. Nah kalau kau tidak ingin 'makan' lagi, ayo lakukan latihan bersamaku!" Ujar pak Setyo.


"Emm .. aku gak mau setiap hari harus 'makan', jadinya aku seperti bukan manusia normal lagi." Jawab Lirih Rafael.


...


Istilah makan bagi mereka yang terpilih adalah memuaskan hasrat mereka untuk memakan daging manusia ataupun darah segar.


....


"Loh, kan kamu emang bukan manusia normal lagi." Timpal pak Setyo.


"Tapi aku ingin kembali ke diriku yang sebelumnya!" Seru Rafael.


"Mudah kok, Life Corporation akan membantumu!" Ujar pak Setyo antusias.


"Life Corporation itu apa?" Tanya Laura.


"Emm ... nanti aja bapak kasih tau, sekarang kita latihan dulu. Tingkatkan kemampuan kalian dalam pengaplikasian senjata. Bapak lihat si Bryan dan Clara itu cermat juga. Terus persoalan Revi, benar-benar diluar dugaan. Dia yang memodifikasi persenjataan kalian." Ujar pak Setyo.


"Hah! Bagaimana bisa ini orang tau ?!" ~Batin Revi bertanya-tanya.


Akhirnya mereka menuju ke balkon atap, ketika sampai diatas. Mereka disuguhkan pemandangan kota Palu yang sudah dipenuhi Zombie. Balkon atap terbilang di lantai 10. Di balkon lumayan luas, setengahnya terdapat kebun dan setengahnya tempat orang berolahraga kecil-kecilan.


"Ambil semua persenjataan kalian!" Seru pak Setyo.


Revi, Bryan, Clara mengambil masing-masing senjata milik mereka. Eva tidak ada karena ketapel peledaknya ketinggalan. Rencananya, rekan pak Setyo dan Rafael yang akan mengambil barang yang ketinggalan di sekolah namun itu nanti malam.


"Cepat tembak burung-burung yang beterbangan!" Titah pak Setyo.


Clara mempersiapkan sniper miliknya, Bryan mengokang silencer miliknya, Revi disibukkan dengan me-reload Ak-47 miliknya.


Clara telah siap, dia langsung membidik beberapa ekor burung yang beterbangan.


"Cih! Sulit juga!" Keluh Clara.


"Tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan, pikirkan bahwa burung tersebut sedang tidak bergerak." Ujar pak Setyo.


"Fwuuuh ...!" Clara menarik nafas dalam-dalam kemudian dia hembuskan.


Dor!


Clara menembakkan snipernya, peluru melesat melewati seekor burung yang terbang gesit.


"Huft!" Clara nampak kesal.


"Coba kamu Bryan!" Seru pak Setyo.


"Siap!"


Bryan langsung membidik kedua silencernya. Dia menargetkan seekor burung yang sedang terbang merendah.


Psyuut! Psyuut!


Peluru silencer milik Bryan melesat kencang, peluru pertama mengenai sayap burung tersebut dan peluru kedua hanya mengenai udara hampa.


"Yaaaah ..." Bryan nampak lesu.


"Coba kamu Rafael!" Tiba-tiba pak Setyo mengubah arahnya yang Revi menjadi Rafael.


"Hah?! Sa-saya ? Loh eh!" Rafael nampak kikuk.


"Saya tak mau menerima alasan loh!" Sahut pak Setyo sambil membersihkan senjata shotgun miliknya.


"Huft! Linggis dilempar kah?!" ~Batin Rafael bertanya-tanya.


"Ah bodo amat lah!"


Rafael langsung mengambil linggis miliknya kemudian membidikkannya pada seekor burung yang terbang kesana-kemari.


Syuuung!


Linggis melesat cepat kemudian dengan tepat langsung mengenai tubuh dari si burung. Linggisnya menembus tubuh si burung.


"Woahh! He-hebat!"


"Wah! Menakjubkan!"


"Linggis seberat itu dilempar dengan satu tangan?!"


Terdengar beberapa pujian dari orang-orang yang beraktivitas di balkon atap.


"Bagus! Itu yang ingin saya lihat!" Puji pak Setyo.


"TIDAAAAK! LINGGISKU!!" Teriak Rafael ketika melihat linggis miliknya jatuh kebawah dengan kecepatan tinggi.


"Tahan anak itu, jangan sampai orang-orang lihat siapa dia sebenarnya!" Bisik pak Setyo pada Revi.


Rafael yang ingin melompat langsung ditahan Revi atas perintah pak Setyo. Beruntung dapat ditahan.


"Kau! Bodoh juga yaa ingin melompat didepan banyak orang. Mereka mau berkata apa nanti jika kau kembali lagi kesini dari bawah dalam keadaan hidup bagaimana hah!?" Bisik Revi ditelinga Rafael


"Ah ... iya ya, duh aku jadi tak terkendali." Rafael mulai sadar perbuatannya.


Pak Setyo langsung beranjak dari kursinya kemudian menuju ke arah tangga untuk turun.


"Kemarilah!" Ajak pak Setyo.


Keenam murid SMK Misu pun mengikuti pak Setyo. Mereka terus mengikuti pak Setyo hingga sampai di parkiran, disana telah tertancap linggis hingga hampir tak terlihat wujudnya.


"Gila! Sampai tertancap dalam gini!" Seru Rafael kemudian mencoba menariknya.


"HIYAAAAT!" Teriaknya.


"Sial! Sudah kayak menarik pedang yang tertancap dibatu!" Keluh Rafael.


Dengan segenap usahanya, akhirnya linggisnya pun dapat tercabut.


"Yaudah! Kita praktek lapangan!" Tiba-tiba pak Setyo sudah siap didalam mobil van didepan kursi kemudi.


"Woah! Van yang dimodifikasi. Bempernya diperkuat, suspensinya juga diperkuat, bodynya diganti menjadi baja!" Seru Revi sambil menyentuh seluruh body mobil Van.


Akhirnya mereka bepergian untuk mencari bahan-bahan survival serta praktek uji lapangan dari hasil latihan di balkon atap.


Beberapa saat mereka mengelilingi daerah Palu Selatan, akhirnya mereka mendapatkan sebuah toko besar, Alfemart. Mereka pun menjarah seluruh isi gudang dari Alfemart tersebut.


"Awas Zombie!" Seru Rafael ketika melihat dibelakang Laura sedang ada Zombie yang mengincar Laura.


Syuung! Crats!


Dengan cepat Rafael melempar linggisnya layaknya tombak, linggisnya melesat melewati samping kepala Laura kemudian tepat menancap kepala Zombie tersebut ke tiang listrik.


"Kiyaaa!" Teriak Laura.


"Hei! Waspadalah sedikit be-"


Baru saja mau berucap, tiba-tiba mulutnya langsung dibekap oleh Clara.


"Jangan coba-coba menyakiti sahabatku lagi!" Aura Clara berbeda sehingga membuat Rafael hanya menenggak ludahnya.


"Eh! Hehe iya iya ... maaf, soalnya Laura tadi kurang waspada!" Rafael masih sedikit mengelak.


"Wah cari masalah ini anak. Hei! Kau lihat dipunggungku apa?! Pelurunya akan bersarang di kepalamu nantinya!" Ancam Clara memperlihatkan sniper miliknya yang ditautkan ke punggungnya.


Rafael langsung berlari masuk kedalam gudang Alfemart berpura-pura mengangkat beberapa kardus sembako.


"Cih! Lupakan perkataan tuh anak, sejak kita berenam bersahabat sejak TK itu anak tidak pernah berubah!" Ujar Clara sama Laura, Laura hanya mengangguk paham.


Langkah kaki cepat dari arah gudang Alfemart tiba-tiba terdengar.


"Linggisku! Jangan tinggalkan aku!" Teriak Rafael sambil menarik linggisnya dari tiang listrik.


"Ini anak kenapa kah? Tidak ingin terlepas dari linggisnya!" ~Batin pak Setyo sambil menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba langkah kaki seribu terdengar dari persimpangan jalan. Semua yang sedang berada di dekat mobil van hanya saling menatap bingung.


"Serangan Zombie!" Teriak pak Setyo ketika dia mengendus aroma hitam kuat yang berjumlah banyak berdatangan.


"Tim Elang bergerak!" Seru Rafael langsung.


"T-tim elang? Emm .. aku ingin melihat kemampuan mereka langsung!" ~Batin pak Setyo.


Eva dan Laura langsung masuk kedalam van bersamaan dengan Clara, Revi, Bryan serta Rafael yang membuat formasi dibelakang van.


"Clara naik keatas atap van, Revi lakukan sesukamu, kemudian Bryan cepat cover aku." Dengan cepat Rafael berucap, namun ajaibnya perkataannya itu disimak baik-baik oleh teman-temannya.


Mereka semua langsung membuat formasi sesuai perintah Rafael. Itu membuat pak Setyo sedikit tercengang oleh kepemimpinan Rafael di lapangan.


"Gelombang satu datang! Terdapat 3 Zombie cerdas, waspada! Mereka dapat melakukan sesuatu!" Seru Rafael.


"Oya! Mereka menyebut Clever-Z itu sebagai Zombie cerdas yaa, kreatif juga!" ~Batin pak Setyo.


Dengan cepat Rafael berlari kearah gerombolan Zombie. Dia langsung melompat dan kembali berputar diudara serta mengayunkan linggis miliknya. Satu persatu Zombie tumbang dengan putaran maut dari Rafael.


"Benar-benar terlatih yaa. Dalam sebulan mereka mampu membuat kerja sama ini, dan bahkan ekspetasiku dengan Rafael itu terlalu rendah. Realitanya benar-benar tak terduga!" Gumam pak Setyo.


Dor! Psyuu! Dor! Ratatat!


Peluru dari sniper Clara satu persatu melesat dan tepat ke kepala Zombie. Bryan lihai dalam menembakkan satu persatu pelurunya dan tidak sembrono ketika pandangannya dihalangi oleh Rafael. Revi membabi buta tembakannya.


"Eittss! Hampir!" Seru Rafael.


Rafael melakukan tendangan nuklir sehingga ketika satu Zombie yang terkena tendangannya akan berdampak pada beberapa Zombie dibelakangnya.


"Ya! Kita lihat! Kalian berapa gelombang!" Teriak Clara.


Dor!


Peluru sniper Clara melesat kemudian menembus 3 kepala Zombie.


"Triple kill!" Seru Clara.


"Oh tak semudah itu mengalahkanku!!" Sahut Rafael.


Rafael langsung melakukan lagi trik lompatan terbangnya kemudian berputar di udara. Namun linggisnya dia lempar dan langsung mengambil dua bilah pedang dipunggungnya kemudian mengayunkan secara memutar mengikuti gerakan tubuhnya diudara.


"Woah! Bergaya! Menyabut pedang dari punggung saat diudara itu tak banyak orang yang bisa melakukannya." Seru pak Setyo.


"Yeah! Savage!" Teriak Rafael pada Clara sambil mendarat ditanah.


Rafael menghabisi 5 Zombie dalam sekejap dengan teknik putaran mautnya.


"Duh! Ini bukan kompetisi astaga! Kalian ini tidak ada habis-habisnya melakukan itu!" Bentak Revi masih sibuk menembak.


"Hahaha! Kita harus santai dong, gak perlu terlalu serius. Kalau terlalu serius nanti membawamu kepada kelengahan loh, kayak tuh!" Rafael langsung mengambil linggisnya kemudian melemparkannya kearah Revi.


Linggisnya melesat melewati hadapan mata Revi dan langsung menembus kepala Zombie yang sedang berada di samping kanan depannya yang ingin menerjang Revi.


"Ahay! Dia lengah!" Sahut Bryan.


"Cih! Kayak kau tidak lengah juga!" Revi langsung menembak Zombie yang akan menerjang Bryan.


"Mereka bercanda disituasi seperti ini yaa, menarik." ~Batin pak Setyo sambil tersenyum kecil.


Beberapa saat mereka membantai para Zombie, akhirnya gelombang ke 5 menurut Rafael telah selesai.


"Hebat .. hebat!" Puji pak Setyo sambil bertepuk tangan.


"Ayo kita pulang! Mau mandi neh! Bau badan, lengket!" Seru Rafael sambil masuk kedalam van.


"Fwuuhh .. biarkan tuh anak pak, memang kelakuannya agak gimana gitu, ngeselin. Tapi dia itu sebenarnya cerdas, entah kenapa dia melakukan hal ngeselin gitu. Tapi sih menurutku itu untuk menutupi kecerdasannya." Ujar Clara sambil mengelap keringat.


"Yaah .. anak muda begitu sudah. Harap dimaklumi!" Jawab pak Setyo.


Akhirnya mereka semua kembali pulang ke hotel Matahari kemudian melakukan aktivitas masing-masing mereka.


"Robert ... aku akan membawa satu penghalang besar bagi kamu, dan Life Corporation ... aku akan membawa yang terpilih untuk dijadikan 'New Normal' !!" Seru pak Setyo diruangannya.


~


Instagram : alif_ardra