Human-Z

Human-Z
Chapter 48 : Rasa Kehilangan



Setelah keributan yang ramai, perlahan keributan itu mulai hening. Pak Setyo yang sedang bersandar di dinding kaca membelakangi ruangan kaca pun berbalik dan matanya berbinar. Pak Setyo beranjak dari duduknya dan berseru. "Hei, semua! Kawan kalian sudah tenang!"


Semua orang yang sedang tertidur kelelahan pun terbangun. Mereka semua nampak antusias, Clara langsung membuka pintu ruangan kaca itu dan mendekati Rafael tanpa rasa takut berlebihan. Dia tidak peduli dengan kegilaan Rafael beberapa menit lalu, dia tidak peduli jika itu akan membahayakan nyawanya, yang penting dia dapat melihat keadaan sahabatnya itu.


"Rafa?!" pekik Clara menitikkan air mata. Clara mengangkat setengah badan Rafael bagian atas dan menaruhnya dipangkuannya. Pakaian pasien Rafael dipenuhi warna merah, tentu itu darah.


"Oh. Hai, Clara!" ucap Rafael dengan suara seraknya.


Sahabat-sahabat Rafael mendekat begitupun Anindira dan pak Setyo. Mereka menatap khawatir Rafael. Rafael saat ini terbaring lemah dipangkuan Clara. Entah mengapa menurut Bryan itu sedikit romantis. Oh tidak! Cerita ini tidak memiliki genre itu!


"Hai, kalian semua! Apa… kabar?" sapa Rafael yang suaranya hampir hilang. "Ah… iya. Dimana Wahyu?" lanjutnya dengan mata berbinar.


Mereka semua saling memandang dan takut kejadian beberapa jam lalu akan kembali terulang ketika Rafael yang melihat Wahyu sedang ditangisi semua orang dan dia mengamuk. Rafael memandang semua orang penuh pertanyaan, dia menunggu jawaban.


"Anu… Rafael. Wahyu telah mengorbankan dirinya untuk kamu!" ucap Anindira dengan perlahan. Dia merasa Bryan, Revi, Laura, Eva dan Clara tak mampu mengucapkan pernyataan itu.


Rafael tertegun mendengar ucapannya Anindira. Rafael menutup matanya perlahan dengan pasrah. Dia memiliki rasa kehilangan yang amat mendalam. Perasaannya seperti dihujam oleh ribuan pedang yang haus darah. Rafael sudah paham sepenuhnya.


Rafael membuka matanya. "Biarkan aku sendiri…" ucap Rafael pelan.


Semua orang paham akan rasa kehilangan yang dimiliki Rafael. Apalagi Bryan, Revi, Clara, Eva, dan Laura yang notabenenya mengetahui bahwa Wahyu adalah murid dari Rafael dalam menimba ilmu keagenan di sekolah SMA Misu. Wahyu secara pribadi berguru kepada Rafael, sedangkan Rafael menganggap Wahyu adalah anak muridnya dan adiknya. Tentu perasaan rasa kehilangan itu amat mendalam.


Semua orang meninggalkan Rafael sendiri terbaring di lantai. Matanya terpejam merenungi semua kenangannya bersama Wahyu. Dia sekarang merasa sangat putus asa, Hugo sang adik tersayangnya tak bisa dia selamatkan dan sekarang lagi orang yang dia anggap adalah adiknya sendiri yang bersanding bersama Hugo pun tak bisa dia selamatkan.


"Hahaha hahaha! Sialan! Brengsek! Aarrghh!!" Rafael tertawa dengan keras untuk mengeluarkan luapan emosinya. Tertawanya lebih kearah depresi.


...


Semua orang yang melihat Rafael sedang terbaring di lantai dalam keadaan seperti putus asa pun hanya bisa terdiam. Mereka juga tak bisa apa-apa untuk saat ini. Mereka tau dengan Rafael yang selalu berjuang namun berapa kali pun itu nampak sia-sia dikekacauan ini.


"Jam berapa sekarang?" tanya Clara datar menoleh pada Bryan.


Bryan mengambil handphonenya dan melihatnya. "5:20."


Clara hanya mengangguk sesaat kemudian pergi dari sana tanpa berkata-kata lebih. Dia berjalan sempoyongan seraya memegang pistol berjenis revolver.


Bryan mencoba meraihnya, tetapi ditahan oleh Revi sambil menggelengkan kepalanya. Revi tau bahwa Clara juga sedang memiliki rasa kehilangan yang amat mendalam saat ini. Semua orang kembali terduduk melamun disana. Mereka merenungi semua perjalanan mereka hingga sampai saat ini, akan tetapi mengapa selalu harus membahayakan sahabat mereka, apalagi Rafael yang saat itu disegani akibat kecerdasannya dan kebaikannya.


Bryan memandang kosong kearah depan. Dia tidak tau sekarang harus melakukan apa. Semua yang dilakukan serasa percuma dan membuang waktu. Setiap Rafael pergi kemanapun, dia selalu ditargetkan untuk dimanfaatkan.


Disaat mereka semua sibuk dengan lamunan masing-masing, tiba-tiba Rafael membuka pintu ruangan dan berjalan tertatih-tatih kearah semua orang.


Semua orang yang berada disana terkejut dan dengan cepat meraih Rafael untuk diberikan pelukan hangat. Tak peduli darah yang memenuhi pakaian pasien Rafael, untuk saat ini mereka hanya ingin mencoba tenang dengan saling berpelukan. Penelitian mengatakan bahwa berpelukan akan menghilangkan rasa kecemasan, tekanan berlebih serta dapat mengurangi stres berat dari orang yang sedang dipeluk. Itu benar adanya.


"Kau tidak salah, Rafa! Sesuatu yang ada di dalam dirimu lah yang salah!" seru Bryan sembari menepuk-nepuk pelan punggung Rafael.


Benar-benar hari yang melelahkan. Hari yang penuh tekanan fisik dan mental. Rasa kehilangan ada, rasa kekesalan pun tentu juga ada. Semua bersatu-padu membangun perasaan yang tak dapat diartikan.


"Semuanya… sekali lagi, maafkan aku!" ucap Rafael dengan nada yang serak-serak basah.


Rafael menyadari sesuatu, dia menyadari bahwa ada seorang yang menghilang. Perlahan Rafael mendorong pelan semuanya, dia celingukan mencari sesuatu. Eva yang menyadari itu, dia menepuk pelan bahu Rafael. "Clara pergi, entah kemana. Tapi sepertinya dia ingin menyendiri!"


Rafael langsung berdiri. Dia melihat semua orang disana sebelum berkata. "Aku akan menyusulnya, terima kasih telah memperhatikanku sampai saat ini meski aku berbahaya…" Mata Rafael memandang sayu semua orang.


Semua orang yang berada disana merasakan ketenangan dari tatapan mata tersebut. Tatapan mata yang seperti tidak akan pernah ada lagi untuk kedua kalinya.


"Terima kasih sekali lagi dan maafkan aku!" Rafael berlari pelan mencari jalan keluar.


...


Beberapa saat Rafael mengelilingi rumah sakit, akhirnya dia menemui Clara sedang berada dipinggiran rooftop sedang memandang kearah Timur menunggu matahari terbit. Angin sejuk pagi menyelimuti seluruh tubuh. Rafael berjalan perlahan menuju pinggiran rooftop yang memiliki pagar besi. Disana lah Clara menyandarkan tubuhnya kedepan dengan kedua tangan sebagai tumpuan.


Rafael mengambil tempat tepat disamping kanan Clara. "Ingin menikmati sunrise?" tanya Rafael.


"Begitulah," singkat Clara tanpa menoleh kepada Rafael. Dia lebih setia kepada langit yang mulai menunjukkan rona merah dan oranye.


"Aku tau," gumam Rafael.


"Kau tau apa?! Kau tau bahwa kau berbahaya? Kau itu selalu membawa sial sejak kau terjangkiti virus itu dan malah menjadi seperti ini!" seru Clara dengan luapan emosi luar biasa. Air matanya tak tertahan dan lagi dia masih menatap langit Timur.


"Ya, aku tau. Aku tau bahwa aku berbahaya dan aku tau kalau aku tidak berguna. Aku sama sekali tidak bisa mengendalikan kekuatan asing ini, kekuatan virus gila ini sangat kuat! Ini terlalu fantasi untuk dinalar akal sehat." Rafael memandang Clara dengan kesungguhan, matanya menyorot akan pengakuan kesalahan.


Clara memandang Rafael tajam. "Wahyu, adik kelas kita sudah mengorbankan dirinya untukmu dan ingat kau harus memanfaatkan dan menghormati pengorbanannya! Jangan kau sia-siakan, hah?!" Clara menunjuk-nunjuk wajah Rafael dengan tatapan tajam.


"I-iya, aku tau itu. Rasa kehilangan terhadap Wahyu pasti kamu rasakan. Aku tidak ingin persahabatan kita retak, Clara!" ucap Rafael maju selangkah. Rafael memposisikan jari telunjuk Clara kearah dadanya. "Jika aku mengamuk nanti dan membahayakan kalian, tembak aku tepat disini…" kata Rafael kemudian dia memposisikan jari telunjuk Clara ke kepalanya, "dan disini."


Perlahan Clara memposisikan kembali posisinya seperti semula. Dia menatap kagum kearah rona merah dan oranye yang semakin meningkat. Perlahan pula matahari memunculkan wujudnya, sungguh ciptaan Tuhan yang amat menakjubkan. Sunrise pagi itu amat menenangkan hati.


"Terima kasih dan maafkan juga aku, Clara!" ucap Rafael seraya meninggalkan Clara sendirian di rooftop.


Rafael berhenti dipintu menuju tangga keluar dari rooftop. Dia memandang Clara dengan fokus. "Semoga kau bisa menembakku tepat di kedua target ini nanti…" gumam Rafael kemudian melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.