
Whuushh!
Rafael dalam kecepatan tinggi membelah udara. Dia dengan cepat berada di lantai dasar, tepatnya di parkiran. Rafael dikelilingi oleh ribuan Zombie saat itu.
"Rocket launcher masih ada pak?!!" Teriak Rafael menoleh kepada seorang polisi yang berada di balkon teras tingkat 2.
"Masih ada nak! Siap meluncur!" Teriak balik polisi tersebut.
"Entah darimana mereka dapatkan rocket launcher. Padahal seharusnya kepolisian tidak memilikinya, mungkin mereka jarah di Yonif 712 Mahesa. Itu kan salah satu batalyon infanteri terdekat dengan kantor polisi sektor Palu Selatan." ~ Batin Rafael.
Duak !! Cratss !! Syuung !!
Pedang Rafael melesat menebas beberapa kepala Zombie. Rafael mengikat sebuah perban putih di pedangnya serta di kedua tangannya. Sehingga jika kedua pedangnya dia lempar, maka akan kembali dengan cara menarik perban putih tersebut.
"Sekarang pak..!!" Teriak Rafael melirik cepat pada polisi yang berada di balkon teras tersebut.
Rocket launcher melesat dengan sangat cepat melewati samping Rafael dengan jarak 3 meter.
Duarr !! Duar !!
Rocket launcher tersebut meledak tepat mengenai sebuah mobil rusak. Mobil tersebut meledak juga. 2 Ledakan itu membuat dua ledakan ganda yang besar sehingga diameter para Zombie dihabisi rocket tersebut besar. Mungkin diameter ledakannya berkisar antara 7 meter hingga 15 meter.
"Nice shoot..!!" Seru Rafael.
disisi lain, teman-teman Rafael berada di halaman belakang hotel. Para polisi membagi tim mereka. 2 polisi di sisi kiri hotel dengan senjata berat, 2 polisi di sisi kanan hotel dengan senjata berat juga. Sementara masing-masing 1 polisi berada di sisi belakang hotel serta sisi depan hotel.
"Hahaha! Ratakan mereka!!" Seru Revi menembakkan Ak-47 modifikasinya dengan brutal, namun tepat sasaran, kepala Zombie.
"Rasakan piercing shoot milikku! Hahaha!!" Teriak Clara menembakkan berkali-kali peluru snipernya dan me-reloadnya lagi.
"Tenang sajalah aku." Ujar Bryan tenang, namun tetap menembaki para Zombie menggunakan pistol silencer miliknya.
"Lumayan mah Desert Eagle!" Ujar Eva fokus menembak satu persatu Zombie.
"Batu aja deh, yang lain mah berat!" Sahut Laura sambil melemparkan beberapa batu kecil.
"Ugh! Mereka ini gila, kecuali yang satu ini." ~ Batin polisi yang berada bersama kelima teman Rafael dengan gemetaran.
Bryan memerhatikan polisi tersebut. Dengan kejahilan Bryan, dia menembakkan pistol silencernya ke M-16 milik polisi tersebut.
Psyuut !! Tak !!
M-16 milik polisi tersebut terjatuh dari genggamannya.
"Hehe! Ada lalat pak di senjatanya." Ujar Bryan dengan nada mengejek.
"Kamu ini..!!" Bentak polisi tersebut dengan kesal mengarahkan senapan miliknya ke Bryan.
Dor !!
Tiba-tiba melesat sebuah peluru didekat kaki polisi tersebut, jaraknya hanya beberapa sentimeter saja.
"Jangan sekali-kali melukai sahabatku pak! Meski hanya tergores, bapak akan tau akibatnya!!" Seru Clara dengan kilatan mata tajam.
"Ya, ya, ya. Sudahlah, masih banyak Zombienya!" Ujar polisi tersebut cuek sambil terus menembakkan senjata miliknya.
Mereka semua pun terus menerus menembak.
...
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Namun aktivitas para Zombie masih terus saja aktif, seharusnya indra mereka akan seutuhnya melemah dan itu kesempatan para manusia melenyapkan mereka. Tetapi, nampaknya aktivitas Zombie yang sangat aktif ini diperbuat oleh seseorang. Orang ini dari kejauhan hanya menyeringai, setelah itu raut wajahnya kembali datar.
"Hosh... hosh... semakin banyak saja para Zombie ini!" Keluh Rafael sambil melompat ke balkon teras tingkat 1 kemudian meraih seutas kawat dan langsung menaiki balkon teras dimana seorang polisi terduduk lelah.
"Haa... haaa.. ba-bapak sudah tidak mampu, rasanya tubuh ba-bapak kaku. Sulit digerakkan!" Polisi tersebut bahkan sulit untuk berbicara.
"Bapak disini istirahat saja. Sepertinya pak Setyo akan menggunakan kemampuannya lagi setelah dia memulihkan tenaganya di ruangannya." Sahut Rafael mulai tenang.
Disisi lain, di balkon atap. Pak Setyo telah siap menunjukkan kembali kemampuan terbaiknya.
"Saya ada ide sepertinya." Gumam pak Setyo sambil melirik pria bernama Noel yang terduduk lemas tak sadarkan diri.
Pemulihan tubuh pria tersebut sangat lambat. Luka tebasan dari Rafael di kedua tangannya belum tertutup sempurna, sehingga darahnya terus menerus mengucur secara perlahan. Walaupun regenerasi makhluk bernama Zombie ini adalah salah satu kemampuan terbaiknya, namun kelemahannya bila bagian tubuhnya terpisah dari tubuh utama. Maka tubuh utama hanya menyembuhkan luka yang terpisah itu, bukan menumbuhkannya kembali. Jadi singkatnya, hanya menutup luka tersebut.
Hal itu sama saja dengan para manusia yang jiwanya setengah Zombie. Mereka memiliki kemampuan tersebut sehingga mampu menyembuhkan diri sendiri secara perlahan.
"Haha! Dasar nak Rafael terlalu kuat ikatannya." Pak Setyo tergelak tawa akibat ikatan rantai Rafael lumayan kuat.
Beberapa saat kemudian, pak Setyo telah selesai membuka ikatan rantai tersebut. Dia mengangkat tubuh pria tersebut dan berjalan ke pinggir balkon atap. Pak Setyo melihat suasana dibawah yang sangat kacau, dengan segenap tenaga, pak Setyo melempar jatuh pria bernama Noel tersebut.
....
Kembali ke Rafael, dia melihat sekilas sebuah bayangan di tanah, karena bulan saat itu menunjukkan bulan purnama sehingga seluruh kota Palu diterangi cahaya bulan yang indah. Rafael mendongakkan kepalanya keatas, dia melihat sesosok tubuh jatuh.
"Wah nampaknya pak Setyo yang melemparnya." Gumam Rafael sambil tersenyum smirk.
"Nak..!! Zombie-zombienya membuat formasi dalam sekejap, mereka seperti ingin menahan sesuatu jatuh dari atas!" Seru polisi disamping Rafael dengan semangat.
"Tuh pak ada yang mau jatuh!" Ujar Rafael menunjuk keatas.
Whuushh! Bruk!
Pria bernama Noel tersebut jatuh diatas tumpukan para Zombie. Para Zombie seperti bergerak sendiri membuat formasi bertumpuk agar dijadikan matras tempat jatuhnya pria tersebut.
"AAAHHHH!!!" Terdengar suara teriakkan yang sangat keras dari balkon atap.
Rafael tersenyum puas.
Para Zombie pun langsung diam seketika setelah sesaat teriakkan keras tersebut selesai.
"CLARA KE BALKON !!" Tiba-tiba terdengar kembali suara pak Setyo.
Disisi lain, Clara yang sedang menghabisi sisa-sisa Zombie yang terdiam kaku bersama keempat temannya dan seorang polisi hanya tertegun sesaat. Dia merasa bimbang, mengikuti kemauan pak Setyo atau membantu menghabisi sisa Zombie yang telah dibuat terdiam oleh pak Setyo.
Dengan perasaan campur aduk, akhirnya Clara memutuskan untuk mengikuti perintah pak Setyo. Dia segera pergi ke balkon atap.
"Di kiamat Zombie begini muncul mayat berjalan, setelah Rafael tergigit, muncul para manusia Zombie! Huh! Zaman sangat berubah sekarang." Gumam Clara kesal.
Beberapa saat kemudian, Clara telah sampai di balkon atap. Disana, dia melihat pak Setyo yang terduduk lesu tak berdaya setelah menggunakan kemampuannya 2 kalj secara berturut-turut.
"Eh! P-pak Setyo!" Seru Clara berlari kearah pak Setyo.
"Haa? I-iya... kamu.. bidikkan sniper milikmu kearah Timur, arahkan kebawah sekitar 20 derajat. Tepat di rumah nomor 20 di jendela bagian depannya, disana terdapat dalang dibalik serangan semua ini." Ujar lirih pak Setyo.
"Hah?! Ba-bagaimana bapak bisa tau!?" Balas Clara merasa tidak percaya.
"Tembakkan segera, nanti bapak jelaskan!!" Seru pak Setyo.
Clara pun mengikuti perintah pak Setyo. Dia secara perlahan mendekat kearah balkon di sisi Timur. Clara mengangkat sniper miliknya dan membidikkan 20 derajat kebawah, tepat pada sebuah rumah yang memiliki nomor 20 di pagarnya. Clara mencari jendela sisi depan, dia menemukannya langsung.
"Eh!" Clara sedikit tersentak ketika terdapat bayangan yang sedang berdiri dibalik jendela.
Dor!
Clara langsung menembakkan sniper miliknya. Pelurunya melesat dengan kecepatan tinggi membelah angin.
"Bagaimana pak?" Tanya Clara menoleh ke belakang.
"Tepat sasaran. Aura keberadaannya menghilang seketika. Nampaknya tepat mengenai kepalanya." Jawab pak Setyo.
"Oooh.. jadi gitu, bapak merasakan auranya toh. Haaa... di kiamat Zombie seperti ini, bermunculan para manusia berkemampuan tidak logis." Ujar Clara menarik nafas panjang.
"Begitulah dunia nak. Dunia benar-benar berubah di kiamat Zombie ini. Kamu harus introspeksi diri lebih di dunia baru ini, kamu harus mengerti keadaan sekarang. Banyak bermunculan manusia berkemampuan khusus yang tidak dapat diterima oleh akal sehat." Jelas pak Setyo.
"Uhum!! Kita harus mempertahankan kebudayaan Indonesia kita yang beragam, jangan sampai ada campur tangan para Zombie!" Pungkas Clara dengan mantap dan semangat.
"Hahaha!!" Pak Setyo tergelak tawa dan diikuti tertawaan dari Clara juga.
"Gila, memang gila keadaan dunia ini!" ~ Batin Clara tersenyum tipis.
"Yaudah pak. Saya mau bantu teman-temanku dibawah!" Ujar Clara langsung pergi dengan berlari.
"Haaa.. zaman sudah berubah." Gumam pak Setyo dan tak terasa air matanya menetes.
~
Instagram : alif_ardra