Human-Z

Human-Z
Chapter 37 : Kenapa Harus Diakhiri Dengan Kekacauan ?



"Kita... terdesak!" Gumam Clara.


...----------------...


"Kalian mau kami kasar atau lembut? Pilihlah." Ujar Reno datar.


Murid SMA Misu saling melirik, mereka berpikiran sama. Ya, mereka memilih lembut untuk mengikuti alur permainan dari para The Red. Cukup asyik, bukan? Mengikuti alur permainan kemudian segera melumpuhkan secara perlahan, rasa kenikmatannya sungguh ajaib.


"Baiklah, kami terdesak." Ujar Rafael sambil menjatuhkan linggis miliknya.


"Wow, kalian menyerah begitu saja? Tumben sekali anggota Garuda-45 mudah menyerah, apakah kalian memiliki rencana? Aku menantikannya, hihi." Ujar Alamsyah dengan nada sombongnya. "Tahan mereka semua." Lanjutnya.


Drap !! Drap !! Drap !!


Orang-orang bersenjata itu langsung menahan murid SMA Misu. Mereka diseret dengan kasar. Senjata mereka dilucuti satu persatu. Rafael tersenyum penuh arti ketika semua sahabatnya telah diambil senjatanya.


...***...


Dibawah tanah tepatnya dibawah daerah Cendrawasih terdapat sebuah ruangan bawah tanah. Disana terlihat jeruji besi saling berjejer, dindingnya menghitam dipenuhi lumut, lantainya tanah.


"Aku tidak pernah tau akan hal ini. Dan bau ini... Alkohol !" ~ Batin Rafael.


Bruk !!


Murid SMA Misu didorong begitu saja masuk ke dalam jeruji besi. Mereka dikumpulkan bersama.


"Kalian berlima akan membusuk disini dan kau bocah zombie. Kau akan dipakai untuk eksperimen kami, hahah!" Penjaga penjara sangat tak tahu istilah rahasia.


"Asyik ya? Seperti—"


Plak !!


Rafael baru saja mau berucap, dia langsung saja ditampar oleh Clara dengan keras dan tanpa ampun. Cukup membuat bekas tangan di pipi sebelah kiri Rafael dan bercak darah akibat lidahnya tergigit.


"Apa rencanamu?" Bisik Clara dengan nada ketus.


Penjaga penjara itu melihat sebentar kearah mereka kemudian langsung pergi begitu saja tanpa basa-basi.


"Loh eh? Kok dia pergi." Ujar Laura kebingungan.


"Rencanaku..."


Perkataan Rafael ditunggu dengan sungguh-sungguh. Raut wajah mereka semua tegang.


"Tidak ada." Singkat Rafael.


"Hmm..." Clara memandang tajam ke arah Rafael.


Dia berdiri dengan cepat kemudian diikuti oleh Rafael. Bryan langsung berdiri diantara Rafael dan Clara. Dia takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Ngomong-ngomong... Kenapa kita tidak pakai kapal yang ada di pelabuhan Pantoloan itu?" Laura mencoba menengahi antara Rafael dan Clara dengan cara mengalihkan pembicaraan.


"Kapal itu rusak. Lambung kanannya bocor." Jawab Bryan dengan datar.


"Tch!" Laura berdecak kesal.


Plak !! Plak !!


Kedua tangan kecilnya menempel dimasing-masing pipi dari Rafael dan Clara. Mereka yang ada disana benar-benar terkejut. Tidak biasanya Laura seperti itu. Pikiran mereka semua menjadi travelling.


Prok !! Prok !! Prok !!


Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari arah pintu masuk. Disana telah terlihat keempat saudara sedang berjalan menuju jeruji besi murid SMA Misu.


"Kalian lucu yaa. Bukannya membuat rencana pelarian malah bertengkar." Ucap Alamsyah dengan perasaan jijik menampakkan dirinya pada keenam murid SMA itu.


"Kalian tau? Si teman kalian itu sudah mengetahui rencana ini loh!" Timpal Nanda dengan sombongnya.


Murid SMA Misu seketika tertegun mendengar ucapan itu. Percaya tidak percaya, tapi jika benar. Mengapa? Pengkhianatan yang tidak bisa dimaafkan.


"Kenapa marah? Sana marah sama teman kalian itu! Ha.. haha.. hahaha!!" Pekik Eka dengan diakhiri tawa jahatnya


Tidak disangka, orang-orang yang awalnya ketakutan menjadi gila sendiri. Mereka semua benar-benar tidak waras.


"Halo." Singkat Nanda dengan pandangan jijik ke arah Rafael.


Emosi murid SMA Misu sudah memuncak dan ingin keluar dari tempatnya. Bahkan Rafael mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya menancap ke telapak tangannya. Tidak ada kata perih, yang ada kata kesal, kesal dan kesal.


"Yaha, kau dinerf sepertinya sama yang diatas!" Seru Eka dengan menjulurkan lidahnya ke Rafael.


"Kalian..."


Aura mencekam memenuhi ruangan penjara. Auranya berwarna hitam pekat penuh kemarahan. Keempat bersaudara itu merasakannya, rasa yang sangat tidak biasa.


"Eh.. Perasaan ini seperti..." Bisik Eka ke Alamsyah.


"Kepala keluarga Rai, Ayah kita Reno." Balas Alamsyah datar.


Kaboom !!


Tiba-tiba terdengar ledakan dari arah atas. Keempat saudara itu langsung naik kembali ke permukaan tanah. Ruangan penjara itu bergetar hebat setelah ledakan yang baru saja terjadi.


"Aaarrrghhh!!" Teriak Rafael dengan kesal.


Rafael menendang dinding bagian kiri penjara itu. Dinding itu seketika berlubang. Kelima sahabatnya hanya melihat Rafael yang bukanlah Rafael lagi di depan mereka. Rafael terasa berbeda.


"Ayo." Singkat padat dan jelas. Nada berat Rafael mengiringi ajakannya.


...***...


Di permukaan tanah, terlihat keributan. Beberapa ada yang telah tergeletak tewas dengan luka tembakan di bagian kepala.


Kaboom !!


Ledakan kembali terjadi, dan itu mengundang para zombie berdatangan. Orang-orang daerah Cendrawasih berlarian tunggang langgang sambil terus menembak.


"Ada apa ini?!" Pekik Alamsyah.


"Hotel Matahari menyerang, Mereka meluncurkan rocket launcher!!" Seru seorang bersenjata lengkap namun dia lari lebih dalam ke daerah Cendrawasih.


"Tch! Tidak bisa diharap." Nanda yang terlihat polos baik juga, seketika menjadi sangat marah dan tatapannya jahat.


Rambut hitam panjangnya beterbangan ketika angin kencang datang menerpanya. Rafael muncul di hadapannya dalam sekejap. Kecepatannya telah meningkat akibat amarah yang memuncak.


"Uaaahh!!" Nanda terkejut dan terjungkal ke belakang.


Tanpa basa-basi, Rafael meninju perut Alamsyah dan Eka dengan kedua tangannya. Mereka berdua yang tertegun sesaat terlempar beberapa meter ke belakang. Nanda dan Rani yang melihatnya hanya gemetaran terduduk di tanah.


Aura dari Rafael sangat mencekam dan mendekati aura ingin membunuh, menurut mereka.


Datang Wahyu bersama Setyo pada Rafael.


"Apa aku terlambat?" Tanya Wahyu sedikit takut.


"Jelaskan semuanya nanti, sialan!" Rafael langsung pergi begitu saja.


Kelima sahabatnya datang pada Rani dan Nanda. Tatapan mereka sangat buas, dan seperti ingin menerkam dua orang di hadapannya.


"Dan kau... jelaskan di hotel nanti!" Pekik Clara mendorong pelan tubuh Wahyu.


Wahyu hanya merasa bersalah sekarang. Dia tidak ingin berbicara lebih pada seniornya yang sedang memuncak amarahnya.


"Dimana senjata kami ?!!" Tanya Bryan dengan keras pada Nanda.


"Di.. Di ruang pertemuan!" Ucap cepat Nanda.


Kelima sahabat Rafael pun pergi begitu saja tanpa berbasa-basi kepada Wahyu ataupun Setyo Hermawan.


"Murid-murid SMA itu sangat agresif. Tapi mereka hebat, aku perlu mencurigai sesuatu dari mereka juga." ~ Batin Setyo Hermawan penasaran siapa sebenarnya keenam murid SMA Misu.


Sekarang, di daerah Cendrawasih telah terjadi kekacauan. Kenapa para manusia yang hampir punah menjadi jahat? Mereka termakan keegoisan sendiri. Seharusnya mereka bekerja sama dan membuat generasi manusia tidak punah dizaman wabah virus mematikan ini.


Mayat-mayat bergelimpangan. Namun, orang-orang dari hotel memilih menembak orang yang memegang senjata. Dan orang-orang yang ketakutan gemetaran mereka biarkan.


Cukup sederhana namun sebenarnya kelompok hotel sangat ingin menghancurkan total daerah Cendrawasih karena dari awal Setyo Hermawan merasakan aura negatif dari daerah ini. Aura membunuh.


"A.. Awas!" Pekik Rani menunjuk arah belakang dari Wahyu.


Sesaat Wahyu berbalik, menampakkan zombie yang ingin menerkam Wahyu. Beruntung refleksnya sangat tinggi hingga belati kecil yang dia selalu simpan di sakunya segera dia ambil dan ayunkan ke arah zombie.


"Fuuuh~..." Wahyu menarik nafas lega kemudian melirik Rani. "Dia menyelamatkanku?" ~ Batinnya.


"Anak ini refleksnya cepat. Dia juga teman dari keenam murid SMA itu. Dan lagi... anak bernama Rani ini menyelamatkannya?" ~ Batin Setyo Hermawan sedikit bingung.


...***...


Di ruang pertemuan, disana menampakkan persenjataan para murid SMA Misu tergeletak diatas meja. Tanpa penjaga, tanpa ada tanda-tanda kehidupan di ruangan itu.


"Ambil saja, tidak perlu curiga. Sekarang kita bantuan mereka." Ujar Clara dengan cepat.


Mereka semua pergi untuk membantu mengamankan lokasi daerah Cendrawasih. Karena tempat ini sangat strategis untuk dijadikan base dengan generasi baru, generasi yang tidak membuat manusia menjadi cepat punah. Pemikiran ini Clara masih simpan baik-baik diotaknya.


Suara tembakan terdengar jelas di daerah Cendrawasih. Sesaat sampai di halaman bagian depan, dekat dengan gerbang utama. Disana sudah tidak ada orang lagi, melainkan hanya mayat yang bergelimpangan.


"Dasar, yang diatas sukanya pembantaian gak jelas." Keluh Bryan kesal.


Whuush !!


Tiba-tiba Rafael datang dengan kecepatannya. Dia memegang Alamsyah di tangan kanan dan Eka di tangan kiri. Rafael membaringkan mereka berdua di atas tanah. Bersamaan Setyo dan Wahyu datang juga bersama Nanda dan Rani.


"Daerah bersih. Tersisa orang yang tidak tahu-menahu dengan hal ini, mereka berada di daerah Cendrawasih jalan nomor 7. Cukup jauh dari jalan nomor 1 di sini, sekitar 500 meter ke arah Barat." Ujar Wahyu sedikit menjauh dari Rafael.


"Kita jadikan base sementara saja ini." Sahut pak Setyo.


Sebenarnya, dua ledakan itu hanya diledakkan di perumahan daerah Cendrawasih luar yang telah hancur. Sedangkan gerbang utama sedikit dibuka paksa namun tidak begitu rusak. Sehingga daerah ini masih terbilang cukup aman untuk ditinggali.


"Baguslah, kita bermalam satu dua hari disini sambil..." Ujar Clara melirik keempat saudara yang tergeletak tak berdaya di atas tanah.


Nanda dan Rani sendiri hanya ketakutan, sedangkan Alamsyah dan Eka penuh luka ringan. Siapa dalangnya? Jelas Rafael yang sangat kesal dengan mereka berdua.


"Kenapa harus diakhiri dengan kekacauan?" Gumam Rafael sedikit pasrah dengan keadaan.


"Kita tanyai mereka, ha.. hahaha!" Lanjut Clara diakhiri tawa jahat.


Tidak begitu jahat menurut semua yang berada di sana.