
Ckiiit !!
Bus berbelok dengan mengitari bundaran di perempatan jalan. Bus sedikit miring ke kanan akibat kecepatan bus saat berbelok ke kiri sangat cepat.
"Ke sisi kiri semua !!!" Teriak Eva.
....
Perintah Eva langsung diikuti oleh semua orang di dalam mobil bus. Bahkan Laura sampai melompat-lompat di sisi kiri bus.
Brak !!
Roda kiri bus kembali menyentuh aspal, namun akibat hentakan keras, bus kembali oleng dengan arah yang berlawanan.
"KANAN !!!" Teriak Eva dengan keras.
"Arrgh!!" Gerutu Rafael.
Mobil bus telah stabil dan tidak mendapatkan efek samping hentakan di aspal.
"MELAJU !!" Teriak semua orang yang berada di dalam bus.
Bus langsung melaju dengan kecepatan 80 Km/H, getaran di dalam bus sangat kuat akibat kecepatan tinggi bus.
"Masuk di tanah lapang di depan, kita selesaikan disana !!" Teriak Clara maju ke depan dekat Eva.
"Baik!" Jawab Eva.
Beberapa saat kemudian, terlihat tanah lapang yang luas di sisi kanan jalan. Banyak Zombie berkeliaran di tanah lapang itu, tapi mau bagaimana lagi, hanya disanalah mereka bisa leluasa bergerak daripada di tengah kota.
Srek !!
Bus mengerem seketika di rumput-rumput yang tumbuh tinggi menjalar. Sebelumnya, tanah lapang itu digunakan untuk masyarakat disana untuk beraktivitas.
"Turun semua !!" Perintah Eva. "Aku bersiap disini untuk hal yang tidak terduga nantinya." Lanjut Eva sambil memegang erat roda kemudi.
Anindira mempersiapkan pedangnya dan lagi-lagi dia lumuri menggunakan darah miliknya yang dia keluarkan dari bekas luka di telapak tangannya, bahkan dia perbesar lukanya.
"Ini anti body yang dapat merusak sel-sel para Zombie." Ujar Anindira saat dia sadar di pandang aneh oleh kelima teman Rafael.
Bryan, Revi dan Clara bersiap dengan masing-masing persenjataan mereka, Laura mensupport dengan memberikan amunisi nantinya dari dalam bus.
"Lihat. Para Zombie berlarian kesini." Ujar Clara.
"Mari kita bermain." Ujar Rafael tersenyum sambil mengacungkan linggis miliknya.
"Apa itu tidak berat ?" Tanya Anindira penasaran.
"Berat dulunya, tapi sekarang tidak." Singkat Rafael dan langsung melesat keluar bus.
"Huh! Itu bukan 100 meter per detik. Itu hanya 20 meter per detik. Dasar informan tak berharga!" Gerutu Anindira kesal.
"72 Km/H itu lumayan cepat juga sih." Sahut Clara.
"Siapa yang bilang dia 100 M/Detik ?!" Tanya Anindira.
Sementara itu, Rafael sedang bertarung dengan para Zombie dengan kesulitan akibat dikerumuni oleh Zombie yang hilang akal dan hanya menginginkan menggigit dan memakan manusia.
"Emm... orang yang bernama Noel itu." Jawab Clara.
"Cih! Jangan percaya dengan dia. Dia saja bahkan lebih lambat dari Rafael, aku sudah pernah bertarung dengannya 2 minggu lalu dan dia kalah tapi berhasil kabur." Ujar Anindira ketus.
"Ternyata itu hanya bualannya. Susah juga kalau Rafael secepat 360 Km/H." ~ Pikir Clara.
"WOEE !! Bantu aku sialan !!" Teriak Rafael saat sedang dikerumuni Zombie bahkan sulit untuk bergerak.
Dor !! Ratatata !! Dor !! Syuuung !!
Seketika Bryan, Revi, dan Clara langsung menembak secara brutal namun keakuratan benar-benar tepat pada targetnya. Anindira langsung maju ke depan dan menebas para Zombie dengan pedang miliknya.
"Hihihi~ hahaha~ ini.. ini menyenangkan!! Hahaha !!" Rafael tertawa terbahak-bahak.
Saat ini posisi Anindira dan Rafael berjarak sekitar 10 meter.
"Haa... haa... kekuatan seperti mengalir dengan deras di seluruh badanku." Jawab Rafael terengah-engah.
"Apa mungkin ikatan lehernya terlepas ?!" ~ Pikir Anindira menebak.
Dia menoleh sebentar ke arah Rafael dan memfokuskan tatapan ke leher Rafael. Benar dugaannya, ikatan tali pinggang dilehernya sudah tidak terlihat dan hanya bekas merah yang terlihat.
"Dia... dia akan mengamuk !!" Seru Anindira.
"Si-siapa mengamuk ?!" Sahut Clara datang ngos-ngosan ke dekat Anindira.
"Dia." Tunjuk Anindira pada Rafael yang sedang terkekeh-kekeh tanpa sebab.
"Apa maksudmu ?!" Masih fokus menembak, Clara pun tetap penasaran.
"Nanti kita lihat." Jawab Anindira memasukkan pedangnya ke sarungnya yang tersanggul di pinggangnya.
"Kenapa kau masukkan ?!" Sentak Clara.
"Woi !! Jangan hanya bicara, cepat habiskan !!" Teriak Revi.
"Aku harus menahan teman kalian. Darahku bisa menetralisir mengamuknya dia." Jawab Anindira.
"Hmm... bukannya darahnya membuat sel-sel Zombie dan Human-Z mati yaa ?" Pikir Clara.
Anindira langsung berlari ke arah Rafael yang sedang terkekeh-kekeh kegilaan.
"Ugh... Auranya menakutkan!" Keluh Anindira.
Syuung !!
Lemparan linggis Rafael ke Anindira. Hanya seinci jaraknya dari sudut mata Anindira. Linggis itu melesat dan menancap di body mobil bus.
Whuush !!
Rafael melesat dan menabrak Anindira yang sedang berlari kearahnya. Anindira terhempas ke belakang akibat tabrakan itu.
"Jangan mendekatiku." Ujar Rafael dengan suara berat sambil menoleh sebentar ke arah Anindira yang sedang tersungkur.
Anindira hanya tertegun mendengar perkataan yang keluar dari mulut Rafael begitu pun Clara, Revi dan Bryan. Mereka merasa, yang sedang mengendalikan tubuh Rafael bukanlah Rafael asli melainkan hasrat Zombienya.
JLEB !!
Rafael mengambil linggis yang tertancap di bus dan dia tusukkan linggis tersebut ke perutnya sendiri.
"Hihihi... ternyata sakit, hahaha!!" Rafael kembali tergelak tawa.
SLURRP... Rafael menjilat darahnya sendiri dari linggis yang dia cabut dari perutnya. "Hmm... enak. Bagaimana dengan darah manusia asli ?" Ujar Rafael lirih.
Rafael menoleh kesemua orang yang berada disana. Tatapannya dingin dan datar namun membuat siapa saja yang ditatapnya merasa dalam bahaya.
Perlahan raut wajah Rafael berubah, yang dari datar menjadi tersenyum ramah. Namun, senyuman itu bagi 4 orang yang berada diluar itu adalah tanda bahaya untuk mereka.
Whuush !!
Rafael melesat dan meraih Bryan yang terdekat dengannya. Rafael leluasa melakukan seperti ini karena para Zombie seakan berhenti terdiam di tempat mereka.
Rafael meraih kepala Bryan dan berniat membenturkannya di body mobil bus.
"JANGAN !!!" Teriak semua orang yang berada diluar dan bahkan Eva dan Laura membuka kaca bus untuk berteriak.
Brak !!
~
Instagram : alif_Ardra
Facebook : Alif Ardra