
"Sepertinya sementara kita menetap? Soalnya kita juga tidak ada tujuan, kan?" Cukup logis apa yang dikatakan pak Setyo dan nampaknya semua orang setuju.
Suara langkah kaki mendekat kepada mereka. Semua orang langsung terbangun dari ketenangannya. "Ayo! Kita makan siang!" kata Hendro sambil memeluk beberapa sayuran segar.
Setyo tersenyum lalu melihat kepada Rafael dan kawan-kawan. "Ayo, tak baik membuat tuan rumah menunggu!"
|
Mereka semua sedang sibuk dengan makanan di piring masing-masing. Kali ini, lauknya adalah sarden kalengan. Tentunya didapatkan dari menjarah minimarket ataupun kios-kios kecil yang sudah tidak berpenghuni.
"Tang!"
Jaka menjatuhkan dengan sengaja sendok makannya ke piring. Dia menatap tajam kearah Rafael dan kawan-kawan. "Setelah makan, ikutlah denganku."
Semua orang terkejut akibat suara nyaring itu, tetapi menghentikan keterkejutannya setelah Jaka berbicara.
"Nak, tak baik saat makan membunyikan sendok!" kata Hendro sedikit kesal sambil menatap tajam kearah Jaka.
Jaka hanya menghiraukannya dan kembali menyuapkan sendok demi sendok makanannya. Melihat itu, Hendro hanya menggelengkan kepalanya dengan pasrah.
"Entah mengapa kau berubah sejak hari itu, Nak." Mendengar kata itu, Rafael sedikit terpancing penasarannya.
Rafael menatap kepada Hendro penuh pertanyaan, sedangkan kawan-kawannya, Setyo, dan Anindira hanya fokus terhadap makanan dihadapan mereka. Mereka juga tentu tak mau ambil pusing terhadap urusan keluarga orang.
"Jika kamu ingin tau, temui saja dia."
Rafael hanya menghela nafas kecewa. Dia berpikir Hendro akan menjelaskannya, tetapi sama sekali tidak dan hanya mengikuti kemauan dari Jaka. Rafael kembali menyuapkan makanannya.
***
Di gubuk halaman belakang rumah Hendro, disana telah berkumpul Rafael dan kawan-kawan. Setyo sendiri sedang asyik meminum kopi bersama Hendro.
"Aku katakan, hanya kamu!" kata Jaka dengan penekanan diakhir kalimat.
Rafael nampak tak terima. "Tapi--"
Bryan memegang bahunya dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda persetujuan agar meninggalkan Rafael dan Jaka, berdua saja tanpa siapa saja disana. Rafael melihat semua orang dan tatapan terakhirnya kepada Anindira.
Anindira menganggukkan kepalanya. Bahkan dia lebih dahulu membalikkan badannya dan pergi dari sana menuju kebun sayuran. Dia sangat antusias dengan segala jenis sayuran yang ada disana. Perlahan satu persatu kawan-kawan Rafael mulai meninggalkan tempat. Mereka ada yang berkeliling di halaman rumah, ada yang duduk santai di bawah rindangnya pohon. Ya, halaman rumah Hendro ditumbuhi pepohonan yang rindang. Sehingga matahari sangat sulit untuk menembus hingga ke tanah. Cukup seperti hutan yaa?
Sekarang tertinggal Rafael yang keheranan. "Mengapa cuma aku?" gumamnya.
"Kamu spesial. Karena kamu seperti aku," kata Jaka dengan datar.
Poni rambutnya dia angkat menggunakan tangannya. Sesaat diangkat, terlihat sepasang mata bagai berlian. Matanya terlihat berkilauan seperti berlian, bahkan alur bentuk berlian sangat terlihat di pupil matanya. Lekukan berlian benar-benar terbentuk secara sempurna di pupil matanya.
"He-hei?! Bagaimana bisa?!" Rafael menjadi salah fokus.
"Aku terjangkiti virus Human-Z. Temanku sih, dia bernama Jack. Hahaha! Lucu yaa? Dia saat ini hampir merubahku sebesar 70%."
Rafael dengan kepintarannya sekarang hanya terbengong. "Hah?"
"Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu karena kamu juga memiliki teman virus."
Jaka mulai bercerita tentang pengalamannya dan pengalaman apa yang ayahnya temukan atau lakukan.
Cerita Jaka Dimulai
Awal penyebaran virus CytraZ-24, Jaka dan sekeluarga sedang bersantai di rumah. Mereka sedang menonton televisi di ruang keluarga, saat itu di seluruh frekuensi televisi menampilkan kekacauan yang terjadi di seluruh dunia. Kekacauan akibat virus yang baru-baru saja tersebar 12 jam sebelumnya.
Ibunya Jaka sedikit panik, tetapi langsung ditenangkan oleh Hendro. Hendro yang melihat itu, dia menelpon atasannya dan benar saja Kekacauan juga terjadi di seluruh daerah Makassar. Tanpa pikir panjang, Hendro yang saat ini mengambil cuti ketentaraan langsung melesat ke dalam kamar. Sesaat kemudian, Hendro keluar sambil membawa sepucuk pistol ditangannya.
"Yah? Jaka akan membantu, Ayah!" seru Jaka dengan semangat membara.
Hendro menatap ragu kepada Jaka. Namun, tatapan ragunya segera dia buang dan berkata. "Baiklah, karena kamu Ayah latih untuk turun ke lapangan. Anak-anak tentara lain juga demikian sih, jadi tidak masalah kamu ikut!"
Jaka yang masih periang langsung melesat ke kamarnya mengambil jaket kulitnya dan celana panjangnya. Ibunya menatapnya khawatir, entah mengapa ada insting keibuannya yang menyatakan agar anaknya ini jangan pergi.
"Jaka? Kamu yakin akan ikut Ayahmu?"
"Yakin, Bu. Yakin, 1 juta persen Jaka yakin!"
Singkat cerita, Jaka dan Hendro sedang berada di markas militer. Disana sudah banyak satuan gabungan yang sibuk kesana kemari. Bahkan anak-anak tentara dan polisi juga sibuknya minta ampun. Jaka berinisiatif untuk langsung ikut membantu dan tentu diizinkan ayahnya, Hendro.
Beberapa jam setelahnya, sirine menggelegar di markas militer. Sirine tanda bahaya telah datang. Semua jajaran sedang bersiaga dan benar saja, markas militer diserang puluhan ribu zombie yang ingin mencoba merangsang masuk ke dalam markas.
Penyebaran virus itu sangat cepat. Jaka dan Hendro langsung mengambil bagian di belakang, karena Hendro sendiri tentara infanteri. Tak butuh waktu lama, korban dari pihak satuan gabungan berjatuhan dan mereka berubah menjadi ganas. Bahkan mereka yang masih memegang senjata api, menembakkan secara asal-asalan sehingga membuat formasi satuan gabungan hancur lebur.
"Ti-tidak Ayah! Tidak bisa!" Jaka mencoba tetap tinggal. "Ah! Ayaaahh!!" Jaka langsung maju ke hadapan Hendro.
Disana dia diterkam oleh seorang zombie tentara. Tangan kanannya yang dipakai menahan beban digigit. Jaka mengerang kesakitan, membuat Hendro langsung menariknya dan menyeretnya sejauh mungkin dari kekacauan itu.
Hingga sampai pada suatu ruangan yang terlihat kokoh dan ada mobil berjenis off-road sedang terparkir dengan rapi disana.
"Nak? Nak? Kamu…"
"Yah… pergi saja. Aku akan menjadi ganas, maafkan aku, Yah." Jaka menitikkan air mata pasrahnya disana.
Hendro tidak berniat meninggalkan anak semata wayangnya. Dia menggendong Jaka dan meletakkannya ke kursi tengah mobil off-road disana. Dia mengikatnya menggunakan sabuk pengaman dan menyumpal mulutnya dengan kain yang ada disana.
"Baik-baik saja yaa, Nak. Ingat, jangan sampai kehilangan kesadaran. Ingat Ayah dan Ibumu. Ingat kehidupan yang menyenangkan, jangan sampai kemanusiaanmu diambil oleh virus asing itu!"
Jaka yang setengah sadar hanya mengangguk lemah. Perlahan kesadarannya benar-benar hilang. Hendro membawa mobil menerobos apa saja, dia langsung menuju ke rumahnya. Di rumahnya, istrinya sedang membuat pagar kawat besi setinggi 4 meter.
"Istriku sangat kuat. Tapi lupakan, anak kita membutuhkan bantuan!" kata Hendro sambil memarkirkan mobilnya dipinggiran jalan.
"Jakaaa!!" teriak ibunya khawatir.
Istrinya melihat anaknya sedang mengalami kejang-kejang hebat. Mereka berdua segera mengangkat Jaka dan meletakkannya di dalam kamar dan mengurungnya.
Hitung saja, 10 hari Jaka dikurung tanpa makan dan minum. Hendro dan istrinya bergantian berjaga setiap malamnya dan setiap 3 hari sekali, Hendro akan pergi untuk menyetok barang bertahan hidup. Dia tidak bisa langsung mengambil segalanya, kapasitas mobilnya tidak cukup. Hendro sendiri bertemu kelompok bandara dan rumah Sakit sehat di hari ke-7, mereka langsung menawarkan permintaan jika bertemu Human-Z harus langsung ditangkap. Hendro orang yang berpendidikan tentu paham, pasti anakku adalah Human-Z. Baru hari ke-7 langsung dimintai seperti itu? Memang yaa, zaman semakin maju. Semakin cepat menemukan obat permasalahan, tetapi malah akan menimbulkan penyakit masalah yang baru.
|
Di dalam kamar Jaka, saat ini dia sedang bergerak-gerak tanpa arah. Pandangannya kabur, tetapi indera penciumannya sangat tajam. Dia mencium sebuah aroma manusia yang segar, setiap hari mulutnya mengeluarkan busa.
"Bruk!"
Hari ke-11, terdengar suara jatuh yang keras dari dalam kamar Jaka. Hendro dan istrinya langsung membuka pintu dan menampakkan Jaka yang sedang berlutut terisak tangis, tetapi air matanya sama sekali tidak terlihat. Jaka menatap kedua orang tuanya dengan pandangan kosong yang pupil matanya hanya terlihat berwarna putih, orang tuanya menatapnya dengan penuh pengharapan.
"Aku… Jaka?" tanya Jaka dengan suara serak.
Hendro langsung memeluk anaknya. "Ya, kamu anakku Jaka dan akan tetap menjadi dirimu yang sebelumnya! Maafkan Ayah juga tidak bisa menjagamu sebelumnya!" Hendro terisak tangis.
Ibunya Jaka hanya menutup mulutnya sambil menangis tersedu-sedu. Dia sangat mengharapkan anaknya tidak kenapa-kenapa.
Perlahan pupil matanya Jaka berubah menjadi seperti tekstur sebuah berlian.
Cerita Jaka Selesai
Rafael yang menyimak cerita pengalaman Jaka serta cerita pengalaman ayahnya Hendro yang bertarung diawal penyebaran virus mematikan hanya terdiam tak bisa berkata-kata. Perjuangannya sangat ekstrim, Rafael dan sahabat-sahabatnya saja awal-awal penyebaran virus CytraZ-24 hanya bisa berdiam diri bersama puluhan teman sekolahnya. Namun, takdir berkata lain, teman sekolahnya harus mati di hari 7 keatas karena zombie terus saja masuk ke sekolah. Setelah itu, Rafael dan kelima sahabatnya membuat benteng sederhana menggunakan kendaraan yang ada disana dan itu bertahan hingga sebelum Rafael berubah.
"Oh iya! Kekuatanmu apa?" tanya Jaka antusias.
Rafael hanya tersenyum kecut. "Apa yaa… mungkin semacam tentakel terus kecepatanku yang meningkat pesat, begitu kah?"
"Wahh! Itu sangat keren! Kalau aku penglihatan penilaian serta penglihatan gerak lambat. Aku bisa menilai orang asing dengan hanya menatapnya 10 detik secara tajam, kalau aku merasakan sakit ditubuhku berarti orang itu jahat, seperti beberapa orang yang datang ke rumah selama ini. Setiap ada orang yang datang, ayah selalu mengajak mereka makan untuk aku nilai. Disaat mereka jahat, aku mengisyaratkan untuk ayahku bertindak… hmm, sampai sekarang orang itu telah ditelan bumi, hahaha!"
Jaka melihat ke rumahnya. Disana dari jendela terlihat Hendro dan Setyo sedang bercanda ria bagai sahabat karib yang sudah lama tidak bertemu.
"Kemudian kalau tubuhku merasakan kehangatan seperti tadi, maka biasa saja. Hasil kehangatan baru berhasil kepada ayah dan ibuku. Nah, hari inilah akhirnya aku menemukan kebaikan kalian. Hmm… kalau penglihatan gerak lambat, aku bisa memfokuskan penglihatanku sehingga benda secepat apapun aku bisa lihat dalam gerak lambat. Bahkan aku bisa menghindari peluru dengan mudah. Simpel sih."
Begitulah penjelasan yang panjang dari Jaka. Rafael hanya menyimaknya dengan santai. Rafael juga menyadari berarti saat pertama kali mereka datang, Jaka telah menilai mereka.
"Ah iya! Nama kawan virusmu siapa?!" tanya Jaka dengan antusiasnya. Benar saja, Jaka adalah anak yang periang
"Emm… itu. Bagaimana yaa, dia belum memiliki nama. Lagipula aku tidak menyukainya yang selalu saja mengambil kendali tubuh ini!" kata Rafael dengan kesal.
"Oh begitu yaa. Jack, kamu dapat merasakan kehadiran kawanmu ini, kan?" Jaka terlihat berbicara sendiri. Beberapa saat dia melompat kegirangan. "Yeah! Berarti aku mempunyai teman sejenis, hahaha!"
"Jack, nama yang bagus!" Sebuah kata tiba-tiba saja diucapkan oleh Rafael tanpa sadar.
"Oi! Jangan tiba-tiba bersuara dong!" keluh Rafael dengan mengernyitkan dahinya kesal.
"Hahaha! Memang yaa kawan virusmu atau kawan virusku selalu bersuara tiba-tiba, kan?"
"Namaku R. Salam kenal, jenisku!" Rafael berbicara seakan bukan dia.
"Sialan! Kau selalu saja!" Rafael mengetuk-ngetuk kepalanya keras.
Jaka yang memperhatikan itu tertawa terpingkal-pingkal bahkan beberapa kali nada suaranya berbeda. Itu seperti bukan dia.
Sungguh percakapan yang aneh. Dunia benar-benar telah berbeda sekarang, dunia telah dikuasai sosok virus yang cukup anti-mainstream.