
Rafael masih terus merintih kesakitan namun masih tetap fokus melawan para Zombie.
Kembali ke bangunan yang berjarak 100 meter dari hotel.
"Ah! Dia memulainya!" Seru pria tersebut di ruangan gelap bangunan itu setelah merasakan sesuatu.
Dengan cepat orang tersebut melihat melalui tirai jendela.
Whuusss!
"Eh! Perasaan ini! Berat sekali! Benar-benar kuat, tapi bukan si bocah Zombie itu!!" Teriak pria tersebut dengan semangatnya.
....
Di balkon atap, terdapat seseorang berjalan dengan santainya sambil melihat kebawah.
"Aduh! Tidak ada yang bangunkan saya dari tidur apa?!" Gumamnya kesal, yang ternyata itu adalah pak Setyo.
"Sudah seburuk ini kondisinya. Fwuuuhh ... harus aku yang turun tangan!"
Pak Setyo mengambil nafas dalam-dalam kemudian dia mulai berteriak sangat kencang sehingga orang-orang di hotel dan yang ada dibawah dapat mendengarnya.
"AAAHHHH!!"
Dengan teriakkannya pak Setyo, tiba-tiba para Zombie yang berkerumun menyerang hotel terdiam seketika.
...----------------...
Disisi Rafael dan Clara, mereka merasa heran dengan Zombie yang sudah tidak bergerak.
"Emm ... inikah kemampuan pak Setyo?" Gumam Clara.
"Arrghh! Sa-sakit!" Rintih Rafael terduduk lemas.
"Ada apa Rafael?!" Seru Clara.
Whuusss! Syuung!
Tiba-tiba terdengar angin yang sangat kencang kemudian para Zombie yang berkerumun langsung terbelah beberapa bagian hingga tak tersisa untuk dibagian sisi kiri hotel. Mata Clara tak dapat menjangkau kecepatan tersebut.
"Eh! Apa itu?!" Sentak Clara yang terkejut.
Clara melihat tempat dimana Rafael terduduk lemas, namun sudah tidak ada.
"Di-dimana dia?" Gumam Clara.
"Dia tiba-tiba menghilang dan ada suara angin. Emm ..." ~Batin Clara.
Syuung!
Tiba-tiba Rafael telah berada di belakang Clara dengan menodongkan pedangnya pada Clara.
"Eh! Ra-Rafael? Ke-kenapa kau?" Clara sudah mulai ketakutan.
Clara dengan cepat membalikkan badan dan menodongkan snipernya pada Rafael juga. Rafael yang dilihat Clara berubah 180 derajat. Penampilan tubuhnya sangat berbeda. Rambut hitam Rafael memutih, pupil mata Rafael berwarna merah serta sklera bola mata berubah warna menjadi hitam.
"Ka-kau siapa?!" Seru Clara.
Bruk!
Rafael terjatuh tak sadarkan diri.
"Hah!?" Clara sedikit terkesiap
"Emm ... ada bagusnya lah."
...----------------...
Disisi lain, halaman belakang hotel, satu persatu Zombie yang terdiam langsung dihabisi. Mereka yang dihalaman belakang tanpa ragu dan memanfaatkan situasi tersebut.
"Aku rasa ini pak Setyo." Gumam Revi.
"Baguslah! Kita lebih mudah menghabisi mereka!!" Teriak polisi disampingnya.
Mereka semua menghabisi seluruh Zombie yang berada di halaman belakang hotel.
Di sisi lain, tempat Bryan di halaman depan hotel. Dia sudah mulai kelelahan untuk saat-saat terakhir tersebut sehingga yang membereskan sisa-sisa Zombie adalah kedua polisi.
"Istirahatlah nak Bryan!" Seru seorang polisi sambil membasmi sisa Zombie yang terdiam kaku.
"Baik pak. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu istirahat ini!" Sahut Bryan sambil menyengir memperlihatkan gigi putih bersihnya.
"Ah! Ba-baiklah!"
Disisi Eva dan 2 orang polisi, mereka telah menghabiskan sisa Zombie yang terdiam kaku. Terbilang, jumlah Zombie di sisi kanan hotel tersebut adalah yang paling sedikit.
***
"Fwuuuhh... kemampuanku menguras 80% tenaga." Gumam pak Setyo terduduk sambil mengelap keringat yang mengucur di dahi.
"Ugh! Tekanan ini. Tak mungkin dia berada disini, benar-benar sangat berbahaya!" Seru pak Setyo seketika berdiri merasakan tekanan yang berat.
"Tekanan dari Rafael memudar. Nampaknya dia pingsan setelah tekanannya yang sangat besar tadi. Sepertinya dia mengeluarkan kemampuan sejatinya sebagai seorang Zombie tipe kecepatan. Huft! Sejak pertama kali dia datang, saya sudah merasa dia memiliki kemampuan Zombie tipe kecepatan."
"Saya harus memanggil murid-murid SMK Misu tersebut untuk membawa mereka keatas sini."
Akhirnya pak Setyo mengangkat teleponnya dan mengontak rekan polisinya yang berada bersama para murid SMK Misu untuk segera memerintahkan murid-murid SMK Misu menuju ke balkon atap.
Pak Setyo menunggu cukup lama sambil mengawasi sekitar dengan kemampuan Zombie miliknya yang dapat merasakan tekanan asing.
...
Tap! Tap!
Bunyi langkah kaki yang cukup banyak datang dari pintu yang menuju ke tangga.
"Ah! Sulit pak angkat sih Rafa dari tingkat dua. Walaupun make lift, tapi harus gunakan tangga dari tingkat 7 loh!" Keluh Clara.
"HEH! Aku membantumu juga loh!" Sentak Revi.
"Cuma dari tingkat 7, ingat!" Pungkas Clara kesal.
"Sudahlah. Bawa kemari kawanmu!"
Pak Setyo memeriksa keadaan Rafael. Dua kali pak Setyo menotok sisi kanan dada dan sisi kiri dada.
"Ugh! Ah ..." Rafael mulai sadar membuka mata perlahan.
"Yaaah... matamu menunjukkan benar-benar tipe kecepatan yaa." Gumam pak Setyo melihat mata Rafael yang berbeda warna dari sebelumnya.
"Maksudnya pak?" Tanya Revi.
"Begini, Rafael nampaknya digigit oleh Zombie tipe pelari atau kecepatan. Kalian pasti pernah lihat Zombie yang berlari sangat kencang. Rafael terinfeksi virus Zombie tersebut sehingga dia bermutasi menjadi seorang Zombie tipe kecepatan juga." Jelas pak Setyo dengan diikuti anggukan teman-teman Rafael dan rekan-rekan polisi pak Setyo.
"Ah! Tekanannya berat sekali!!" Tiba-tiba pak Setyo berteriak.
"Tekanan apa pak?" Tanya Laura.
"Diam!" Titah pak Setyo.
Tiba-tiba Rafael berdiri dan menjadi sedikit lebih agresif.
"Aduh! Ini anak sulit sekali mengendalikan tubuhnya!" Baru saja pak Setyo ingin membekap tubuh Rafael, Rafael langsung berlari kencang.
"Woahah!! Kencang sekali!" Seru Clara.
"Tekanannya berat sekali. Aku serasa ingin pingsan." Ujar Rafael sambil menggelengkan kepalanya ke kanan kiri.
"Kamu benar nak Rafael. Jika memang ada bahaya, nampaknya bapak belum mampu melawannya lagi. 80% tenaga bapak terkuras habis akibat teriakkan pelumpuh tadi." Pungkas pak Setyo.
"Eh pak! Maaf tidak sopan. Saya mau tanya, bapak terbilang tipe Zombie apa?" Tanya Clara.
"Oh! Saya emm... pusing atuh. Saya digigit 2 Zombie sekaligus sih. Teriakkan tadi itu bagian dari kemampuan Zombie pembangkit yang bapak modifikasi sedikit. Terus dapat mengendus aroma asing itu dari Zombie sniffed." Jelas pak, Setyo sambil memegang kepalanya dan tersenyum tipis.
"Ah dahlah pak. Malas dengar hal-hal gak logis seperti itu." Timpal Clara sambil membidik snipernya ke sembarang arah.
"HAH!" Clara tersentak ke belakang hingga terjatuh, namun dengan kecepatan Rafael, dia memegang Clara sebelum terjatuh.
Mereka berdua saling bertemu mata beberapa saat sehingga Clara secara tidak sadar kedua pipinya merah merona.
"Ehem!" Pak Setyo merusak suasana mereka berdua.
"Eh!" Secara tak sadar Rafael langsung melepas pegangannya dari Clara sehingga Clara terjatuh.
"Adawww!"
"Ada apa kamu nak Clara?" Tanya pak Setyo.
"Tadi aku melihat bangunan tinggi itu di kayak ada orang gitu mengintip dari balik jendela." Jelas Clara sambil mengelus-elus bok*ngnya yang sakit serta menunjuk bangunan yang dia maksud.
"Sekitar 100 meter. Coba kamu lihat lagi!" Seru pak Setyo.
Clara kembali membidikkan scope snipernya kearah bangunan yang hampir setara tingginya dengan hotel Matahari. Clara tidak melihat apa-apa di satu jendela tersebut hanya saja dia merasa aneh.
"Kacanya pecah. Perasaan tadi tidak!" Sentak Clara menoleh ke pak Setyo.
Whuuush!
"TIARAP...!!!" Teriak pak Setyo.
Semua yang berada di balkon atap pun mengikuti perintah pak Setyo kecuali seorang polisi yang lambat responnya. Tidak lama setelah mereka tiarap, terdapat seseorang berucap.
"Ah! Ini yaa markasmu, Setyo breng*ek!" Seru seorang pria dengan pakaian formal. Memakai jas serta kemeja, berkacamata, rambut putihnya menutupi mata sebelah kanannya.
"Sial*n kamu Noel!!" Timpal pak Setyo dengan geramnya sambil berdiri melihat rekan polisinya yang tidak sempat tiarap telah mati akibat baru saja dipenggal kepalanya.
"Ba-bagaimana bisa?" Gumam Clara tak percaya tiba-tiba ada seseorang diatas balkon atap.
"Melompat dengan kecepatan tinggi itu menyenangkan yaa, hahahaha!!" Pria tersebut tertawa terbahak-bahak.
"Me-melompat?!" ~Batin Clara.
"Aku harus menyerangnya. Dia berbahaya, tekanan batinnya benar-benar mengerikan!" ~Batin Rafael.
Syuung!
Tiba-tiba Rafael dengan kecepatannya menyerang pria tersebut menggunakan kedua bilah pedangnya menargetkan kepala. Namun dengan mudahnya pria tersebut memiringkan badannya ke kanan.
"Ah! Nampaknya bocah Zombie ini mempunyai kemampuan sepertiku yaa. Tapi sayangnya kecepatan 100 meter/detik itu sangat lambat daripada 500 meter/detik milikku." Ejek pria tersebut.
"Arrrghh! Kau Noel! Beraninya kau memunculkan wajahmu dihadapanku!" Seru pak Setyo kesal.
"Tenang dulu lah rekanku!" Sahut pria yang bernama Noel tersebut dengan santainya.
Rafael berniat untuk menyerang kembali dengan mengayunkan kedua pedangnya yang berada di tangan kanan dan kiri. Tangan kanannya mengayun ke kiri, begitu pun sebaliknya sehingga kedua pedang itu akan saling bertemu tepat ke kepala pria tersebut.
Syuung! Prang!
"Ups... terlalu cepat 1000 tahun untuk melampauiku." Dengan cepat pria tersebut menangkis ayunan pedang Rafael menggunakan dua buah tameng yang dipegangnya di tangan kanan dan kiri.
"HEH! Dia mengambilnya dari tempatnya!" ~Batin Clara mengetahui apa yang dilakukan pria tersebut.
"Ah! Dia ingin bermain yaa. Aku akan ikuti kemauanmu Noel!" ~Batin pak Setyo.
"Mau bermain yaa. Sepertinya bapak salah orang!" Ujar Rafael sambil tersenyum smirk dihadapan pria bernama Noel tersebut.
~
Instagram : alif_ardra