
Rafael telah sampai di dermaga dan benar-benar melupakan sesuatu yang seharusnya dia bawa. Ya, dua buah jerigen dia tinggalkan bersama dengan motor yang dia gunakan tadi.
"Haha! Kak Rafael ceroboh sekali," celetuk Hugo sambil duduk dan menggoyang-goyangkan kedua kakinya di pinggiran speed boat.
Saat ini Hugo atau anak kecil Human-Z itu sedang duduk di pinggiran speed boat dengan santainya dan ditemani oleh Araya yang duduk di belakang atau lebih tepatnya di tempat duduk dek belakang. Hugo sendiri menatap sinis Rafael.
"Hei, tak sopan!" bentak Rafael.
"Ceroboh," gumam Hugo kembali dan dapat didengarkan oleh Rafael.
"Tch! Sial," umpat Rafael sembari meninggalkan Hugo dan Araya yang tertawa lepas.
"Hahaha!"
.........
7 menit kemudian, Rafael telah datang sambil menenteng dua buah jerigen di kedua tangannya. Raut wajahnya masih menunjukkan kekesalan.
"Ini masih lah kurang, Kak Rafael!" ucap Hugo ketika satu jerigen telah dituangkan ke dalam tangki bahan bakar mesin speed boat.
"Ya, kau benar. Masih harus 1 jerigen lagi untuk tangki ini penuh. Berarti pemakaian bahan bakar minyak untuk speed boat ini total 4 jerigen, belum lagi butuh stok," jelas Rafael sambil menuangkan jerigen yang kedua ke tangki mesin pertama.
"Aku dan Araya mau ikut untuk mengambil minyak itu," ucap Hugo dengan mata penuh pengharapan kepada Rafael.
Tentu Rafael tak bisa tolak, apalagi Araya juga membuat mata penuh pengharapan juga. 2 anak kecil yang imut, siapa yang tidak tahan coba? Mungkin ada, hanya saja pasti seseorang ini juga mencoba menahan diri semaksimal mungkin.
Baiklah, dengan ini Rafael membawa 2 anak kecil yang terus mengekornya dari belakang bagai anak ayam dengan induknya. Hugo dan Araya saling pegangan tangan dan tangan Hugo satunya dia memegangi baju Rafael.
Sampai di tepi jalan, di sana ada motor yang Rafael tinggalkan saat dia mengambil kembali jerigen bahan bakar. Dia membawa kembali motor itu dengan firasat bahwa akan dibutuhkan, dan ternyata memang lah benar.
"Naik dan pelukan!" titah Rafael sambil duduk di jok depan.
Hugo dan Araya duduk di jok belakang saling peluk. Hugo dibagian paling belakang dan Araya di tengah-tengah.
Motor melaju dengan kecepatan normal. Awalnya aman-aman saja, tetapi satu persatu zombie terus berdatangan. Untungnya masih ada anak kecil Human-Z pengendali tentakel sama seperti Rafael. Jadi, dia yang sebagai pertahanan sekarang dan Rafael tetap fokus mengendarai.
Beberapa menit kemudian, sampai lah mereka di pom bensin yang sebelumnya Rafael hampir bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Motor diparkirkan disamping mesin pom bensin. Rafael mengisi dua jerigen yang kosong di sana.
Memang terlihat nampak damai. Namun, ada sepasang mata penuh waspada, tetapi sepasang mata ini juga penuh pengharapan pada tiga orang yang sedang berbincang-bincang ini.
Disaat menunggu mesin pom bensin mengisi jerigen berukuran 5 liter yang cukup lama. Mungkin saja stok bahan bakarnya yang menipis atau daya generator darurat yang tidak mampu.
Ada sebuah suara kecil yang dapat didengar oleh 3 pasang telinga. Rafael, Hugo dan Araya saling menoleh dan mulai dibenak mereka memikirkan suara apakah itu.
"Ehem! Oke, Hugo. Jagalah Araya dan jaga juga motor beserta jerige– ah! Pokoknya jaga kita punya barang semua ini!"
Namun, dia tidak mau melepas kewaspadaannya begitu saja. Sekarang zombie-zombie seperti memiliki daya intelektual yang cukup tinggi. Zombie cerdas contohnya, dia mampu memanfaatkan beberapa barang sebagai alat bantunya. Zombie cerdas juga kadang tidak ceroboh dalam menyerang manusia yang terlihat kuat.
Satu langkah, dua langkah. Terlihat sosok hewan berkaki empat, memiliki bulu putih bak salju, tetapi sedikit kotor akibat debu, dibagian mata kanan hewan ini terdapat bulu hitam yang mengelilinginya, ekornya yang pendek dan bergerak kesana-kemari, lidah yang menjulur keluar dengan semangat suka cita.
"Ini ..."
Sebuah hempasan angin melesat disamping Rafael. Ketika sudut matanya melihat gerakan itu, dia hanya tercengang. Araya dan Hugo berlari menuju hewan lucu yang seperti sedang mencari induknya. Hewan ini adalah anak anjing yang lucu.
"Anak anjing yang malang, mari kita pelihara!" seru Hugo sambil memeluk dan mengangkat tubuh anak anjing itu ke udara.
"Namanya Shiro, karena seluruh tubuhnya putih bagai salju. Dengan pola hitam diarea sekitaran matamu itu yang membuatmu lucu juga!" lanjut Hugo dengan anggukan semangat Araya.
Ah, benar saja! Dizaman kiamat zombie ini mau memelihara hewan? Itu merepotkan! Batin Rafael sambil memijat keningnya yang tiba-tiba pusing.
"Yeah! Kak Rafael setuju!" seru serentak Araya dan Hugo.
Ini benar-benar membuat tamparan keras diwajah Rafael.
Keputusan sepihak!
Hanya itu yang bisa dipikirkan Rafael. Benar-benar hal yang tak terduga tiba-tiba ada di depannya dan disaksikan oleh angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah tercengangnya.
"Sudah, sudah. Ayo kita pulang," ucap Rafael memecahkan kesenangan dari Hugo dan Araya.
Mata mereka berbinar-binar pertanda ini adalah hari yang benar-benar terbaik dizaman kiamat zombie saat ini.
|
Hari yang panas. Hanya 3 kata itu untuk mendeskripsikan tempat tinggal atau speed boat milik Devin dan Araya. Rafael belum berencana untuk langsung pergi. Setidaknya satu atau dua hari lagi mereka di sini sambil mempersiapkan segalanya dalam mengarungi lautan.
Siang hari ini hanya dehidrasi yang mulai melanda mereka. Stok air mineral mulai menipis. Itu membuat Rafael juga sedikit panik. Tanpa air mineral atau air bersih, maka dehidrasi bisa melanda mereka dan mengancam nyawa. Dengan itu, Rafael keluar sekali lagi dari speed boat untuk mencari stok air mineral dan makanan juga.
Sementara itu, Hugo dan Araya menjadi tidak kesepian karena ada seekor anak anjing yang hiperaktif. Anak anjing itu tidak ada lelahnya. Dia terus melompat-lompat kegirangan dan terus bermain dengan Hugo dan Araya. Sedangkan Hugo dan Araya sendiri juga mulai kelelahan.
Ketika mereka sedang bermain-main dan juga istirahat sejenak. Datang Rafael sambil membawa dua kardus air mineral gelas. Itu cukup untuk beberapa hari mungkin? Memakai tangan itu sulit, jadi Rafael menggunakan tentakelnya sebagai alatnya sehingga akomodasinya tidak terhalang, apalagi di tangan Rafael juga membawa sekantung plastik besar makanan instan serta kalengan sarden. Untuk beras dia tidak menemukannya sama sekali.
"Kita akan pergi besok pagi," ucap Rafael sambil meletakkan barang-barang tersebut.
"Ya, kami berdua juga sedang berunding kapan akan pergi, Araya setuju besok pagi sesuai apa yang aku bilang. Nyatanya, Kak Rafael juga sama, hahah!" sahut Hugo sambil mengelus-elus anak anjing bernama Shiro itu.
****