
Di bandara, orang-orang sedang gemetaran di dalam tenda-tenda mereka.
"Ba-bagaimana ini..."
"Kita akan mati!"
"Aaarghh!"
Semua orang seperti itu karena para pemimpin kelompok bandara membuat peraturan yang sangat mengekang kebebasan.
Di ruangan yang tampak modern, duduk beberapa orang di meja panjang yang saling berhadap-hadapan. Wajah mereka menandakan keseriusan.
"Pak Agus, bagaimana dengan The Red? Apa yang kita perbuat kepada mereka?" tanya seorang berseragam serba hitam.
"Saya mempunyai sebuah rencana," ucap Agus. "Ya! Rencana yang memanfaatkan The Red untuk memancing Setyo dan anak-anak SMA itu!" lanjutnya dengan mata yang menyiratkan kebencian.
"Bagaimana dengan peraturan sehari hanya makan satu kali serta jika pada pukul 4 sore sudah tidak boleh keluar tenda? Apakah akan terus dilanjutkan?"
Agus terlihat sedang berpikir. Beberapa orang disana sedang menunggu Agus. Wajah mereka sangat tegang, keringat mulai mengucur dari pelipis.
Agus yang sebelumnya menunduk, dia mulai meluruskan pandangannya kepada semua orang disana. "Iya, teruskan lah! Kita harus berhemat dan juga kita harus terus membuat mereka jangan sampai membelot!"
Wajah pria berpakaian serba hitam seketika membeku. "Ta-tapi... itu malah membuat mereka akan membelot, Pak!"
Agus langsung memukul meja dengan keras hingga meja panjang itu terbelah dua. Tenaga Komisaris Jendral Polisi benar-benar menakutkan. Orang-orang yang duduk di kedua sisi meja itupun harus berdiri dari duduknya dengan panik.
"Tetap teruskan! Jangan sampai lengah!" teriak Agus penuh kemarahan.
Seorang mengangkat tangan dengan ragu, dia nampak ketakutan. "P-Pak! Anu... saya mendapatkan informasi bahwa seseorang meninggal akibat kelaparan," Pria berbadan tegap itu nampak menjadi seperti kerupuk mengenai air. Melempem.
"Tidak peduli, cepat perintahkan The Red untuk pergi ke rumah Hendro! Saya tak peduli juga nyawa 4 orang yang pergi lebih dahulu ke rumah Hendro. Saya rasa Setyo dan anak-anak SMA itu ada di rumah Hendro! Dia harus membayar ini semua!!"
Tak ada lagi yang berani menimpali perkataan itu, akhirnya pertemuan usai dengan kemarahan yang sangat jelas dari Agus. Dia menjadi tidak sabaran untuk segera melakukan eksperimennya.
Semua orang bubar menyebar kemanapun. Khususnya pria berpakaian serba hitam dia langsung menuju pintu luar dari area bandara. Disana dia dikawal langsung oleh polisi bersenjata yang cukup loyal dengan Agus.
"Ayo, kita temui The Red!" seru pria berpakaian serba hitam sambil duduk di kursi kemudi. Dia mengeratkan genggamannya di roda kemudi.
"Heh! Sepertinya Agus akan ketakutan setelah ini," gumam pria itu sambil mulai melajukan mobilnya.
...
Kembali ke tenda-tenda orang yang bertahan hidup. Mereka mengerang kesakitan, perut mereka cukup sakit akibat keroncongan.
"Mama... aku lapar," ucap seorang anak kecil kepada ibunya.
Ibunya hanya memandang anaknya itu dengan pasrah. Ibunya tidak tau harus berbuat apa lagi, semuanya telah dia perbuat untuk memperjuangkan hak asasi manusia.
"Sabar yaa, Nak," ucap ibunya dengan lirih.
Semua orang yang melihat itu hanya memalingkan wajah dengan pasrah. Mereka juga tak bisa apa-apa. Pemimpin kelompok bandara adalah tirani sesungguhnya.
***
Di sebuah bangunan yang terbengkalai tak jauh dari bandara. Pria berpakaian serba hitam sedang berkomunikasi dengan The Red. Rani, Eka, Alamsyah, dan Nanda. Mereka ditangkap di rumah sakit Sehat.
"Sebagai yang tertua dikelompok kalian, apakah kalian mau mengikuti kami?" tanya pria berpakaian serba hitam.
Rani memandang ketiga saudaranya. Dia membutuhkan pendapat juga. Ketiga saudaranya hanya mengangguk pelan.
"Iya, kami mau mengikuti kalian," ucap Rani tersenyum.
"Datang ke rumah Hendro, ini alamatnya. Disana kami memastikan ada kelompok Setyo dan anak-anak SMA itu, tangkap mereka hidup-hidup!!" ucap pria itu sambil menunjukkan peta online yang masih cukup berfungsi.
Rani tersentak kaget kemudian dia hanya tersenyum tipis. Ketiga sahabatnya pun begitu.
"Tapi... katakan datang secara damai, saya muak dengan Agus dan saya juga mau ikut," ucap pelan pria berpakaian serba hitam itu sambil memandang sayu kearah Rani.
Rani dan lainnya hanya kembali terkejut bukan main.
***
Di kediaman Hendro, saat ini mereka sedang asyik dengan kegiatan masing-masing. Lagipula apa yang dikerjakan dizaman seperti ini selain membasmi zombie?
Menonton televisi juga hanya membuang-buang listrik. Seluruh frekuensi televisi hanya menampilkan tampilan gangguan yang umum pada televisi.
"Dimana yaa keempat orang itu?" gumam Rafael sambil duduk bersandar di sofa.
Jaka yang mendengar gumaman itu mulai fokus kepada Rafael. "Mereka antara dilenyapkan atau dimanfaatkan, tetapi melihat ayahku dan pak Setyo yang berlumuran darah, rasanya memanfaatkan orang-orang itu mustahil. Ayahku dan pak Setyo pun tidak bicara banyak," jelas Jaka sambil memandang lurus ke depan.
Rafael hanya mengangguk pelan.
Di tengah keheningan kediaman Hendro. Tiba-tiba suara deru kendaraan kembali ada sejak 3 jam lalu. Setyo dan Hendro datang dari halaman belakang dengan tergesa-gesa, sedangkan Nur Aini keluar dari kamarnya dengan sedikit panik. Anindira dan kawan-kawannya Rafael mengikuti dari belakang dengan raut wajah serius.
"Yak! Kita kedatangan tamu lagi," ucap Hendro menggelengkan kepalanya.
Semua berjalan pelan menuju ruangan tamu. Ruangan terdepan. Semua memandang fokus dari balik jendela. Terlihat seorang pria berpakaian serba hitam serta orang-orang yang sangat dikenal oleh kelompok Rafael.
"The Red?" gumam Rafael sambil memegang dagunya, dia sedang berpikir.
"The Red? Itu kan adalah kelompok pembunuh bayaran di Indonesia, bagaimana dia mengetahuinya?!" batin Hendro penuh pertanyaan ketika dia tak sengaja mendengar gumaman Rafael.
"Tch! Dunia ini benar-benar sempit yaa! Selalu saja bertemu mereka!" ucap Clara kesal.
...
Singkatnya, pria berpakaian serba hitam dan 4 orang dari kelompok The Red telah menghadap dengan jelas kepada Hendro dan lainnya. Mereka sedang berada di halaman belakang yang kebetulan ada pondok-pondok tempat santai.
"Ternyata prediksi pak Agus tidak salah," ucap pria berpakaian hitam. "Oh, iya. Perkenalkan saya Gideon."
"Hen--"
"Sudah, saya sudah tau semua nama kalian!" sela Gideon sebelum Hendro berbicara.
"Apa maksud kedatangan kalian? Bukan kah 4 orang itu sudah cukup?" tanya Hendro menyelidik.
"Dimana 4 orang itu?"
"Salah satu diantara mereka kami lenyapkan karena melawan saat kami mengajukan tawaran. 3 lainnya pergi memata-matai kelompok kalian," jelas Setyo dengan pandangan mata tajam.
Rafael, Anindira, Jaka dan kawan-kawan hanya terkejut. Ternyata pikiran mereka selama beberapa jam ini telah dibuang mentah-mentah. Nyatanya hanya 1 orang yang dilenyapkan. Yaa, meskipun itu secara terpaksa juga.
Gideon hanya mengangguk-angguk kemudian berkata. "Baguslah, terus mata-matai Agus. Saya sudah muak dengan dia," ucap Gideon menyiratkan pandangan mata kecewa berat. "Apalagi dia membuat peraturan yang mengekang orang-orang bandara, cukup keji!" lanjutnya.
Semuanya selain kelompok yang baru datang hanya ternganga lebar. Mereka sangat terkejut.
"Baiklah, kami memiliki tawaran untuk bekerja sama," ucap Rani sambil tersenyum ramah.
"Ya, jelaskan lah, Rani." Gideon nampaknya menyerahkan penjelasan selanjutnya kepada kelompok The Red.
Rani mengambil nafas kemudian berkata. "Intinya, kami mau menuruti apa semua yang kalian katakan. Kami muak dengan tiran Agus! Pak Agus sangat keji dalam membuat peraturan, orang-orang bandara sengsara! Mereka dikekang hingga harus menyerahkan nyawanya kepada yang di atas!"
"Haaa... hidup penuh kekangan," ucap Rafael menggelengkan kepala.
"Baiklah, itu tergantung Pak Setyo dan Pak Hendro!" ucap Bryan.
"Nah, kami sih setuju saja, asalkan syaratnya seperti simbiosis mutualisme. Sama-sama untung!" sahut Clara disusul anggukan kepala Eva.
"Kami juga butuh sumber daya. Seperti amunisi senjata api!" sahut Revi sambil mengelus Ak-47 nya disusul juga anggukan kepala dari Bryan.
"Pedangku butuh diasah juga nih!" sahut Anindira juga sambil memegang gagang pedangnya.
Gideon hanya tersenyum kaku. Dia benar-benar terkejut atas permintaan material yang cukup memberatkan pihaknya, tetapi mau bagaimana lagi. Itu adalah syarat yang harus dipenuhinya agar bisa bekerja sama dengan kelompok Setyo dan Rafael. Walaupun Clara mengatakan tentang simbiosis mutualisme, Gideon cukup tau kode dari Clara.
"Anak bernama Clara ini cukup licik. Katanya saling menguntungkan, tetapi nampaknya berat sebelah nih. Yaa, mau bagaimana lagi, ikuti aja lah. Aku juga muak dengan pak Agus!" batin Gideon sambil mencoba tersenyum ramah.
~