Human-Z

Human-Z
Chapter 70 : Rencana Menuju Kalimantan



Hari ini, hari yang cukup berat bagi Rafael. Dia baru bertemu Devin hanya sekitar 2 jam, tetapi semuanya dihancurkan begitu saja oleh 3 orang kakak angkat dari anak kecil Human-Z, Empat atau kita panggil saja Hugo sebagai pemberian nama dari Rafael.


Devin telah dikebumikan dengan seadanya dipinggiran pantai. Sekarang matahari tepat diatas kepala. Semua orang sedang terduduk diam.


Tiba-tiba satu persatu perut mereka berbunyi. Dimulai dari Rafael, Hugo, kemudian Araya yang terakhir. Mereka hanya terdiam kemudian tertawa lepas. Tekanan kesedihan tadi dibuang jauh-jauh oleh Rafael. Percuma sedih untuk saat ini dizaman kiamat zombie. Semuanya telah terlambat.


"Araya, ada bahan makanan apa saja bersama kalian?" tanya Rafael.


"Kakak tadi datang terus datang 3 orang yang pernah datang kesini. Mereka membunuh kakak dan barang-barang yang kakak bawa ada disana," ucap Araya sambil menunjuk dek depan speed boat.


Rafael melihat ada tas besar disana yang penuh. Dia segera kesana dan mengambilnya. Rafael meletakkan tas itu di dek belakang speed boat dan mencari bahan makanan dari dalam tas. Satu persatu barang dikeluarkan, banyak kalengan sarden dan juga beberapa mie instan.


"Wow! Ada pistol Magnum disini?!" seru Rafael terkejut.


Dia mengambilnya dan melihat tempat peluru disana. Tempat peluru yang berputar terisi penuh oleh peluru.


"Ini cukup buruk juga sih, pertahanan diri yang bising, sekali tembakan mampu mengeluarkan suara yang merambat di udara dengan keras. Tapi Devin mendapatkannya ini dimana yaa?" gumam Rafael. "Ah, lupakan!" lanjut Rafael kemudian meletakkan pistol itu di saku celananya.


Pakaian Rafael yang hanya seadanya pun sudah bolong bagian belakangnya. Sehingga dia harus meminjam baju Devin yang dia cukup familiar. Pakaian kasual dengan gambar karakter animasi dari salah satu film animasi Jepang berjudul Detektif Anak Kecil.


"Baiklah, ada sarden kalengan dan mie instan. Sayangnya tidak ada beras, tapi tak apalah," ucap Rafael cukup senang.


Akhirnya dia memasak 2 kaleng sarden dan juga 3 bungkus mie instan. Satu kaleng sarden berisi 2 ikan seukuran 2 jari.


...


Semuanya telah makan dengan lahapnya. Araya sendiri telah tertidur dengan memeluk pakaian milik Devin. Cukup berat sebagai anak kecil dalam menerima hal yang sulit ini.


Sementara itu, Rafael dan Hugo sedang berada di dek belakang speed boat dan membicarakan hal yang cukup serius.


"Kakak yakin mau ke Kalimantan?"


"Ya, yakin. Dengan adanya kapal speed boat ini, kakak yakin menyeberang pulau."


"Tapi Kak, tidak ada bahan bakar speed boat ini," ucap Hugo sambil melihat 2 mesin pendorong speed boat yang pada tangki bahan bakarnya sangat kering.


"Mudah saja, kakak akan mencari bahan bakarnya."


"Aku sih terserah kakak mau bagaimana jadinya. Tapi aku akan terus mendukung kakak ke depannya."


"Oke, dengan begini kita berdua telah setuju. Tinggal tanya Araya lagi," ucap Rafael sambil melihat lurus masuk ke depan yang menampakkan Araya tidur dengan pulas di ruangan kamar tidur paling depan dari speed boat.


Kalimantan Timur sendiri adalah Provinsi yang dirancang oleh pemerintah untuk menjadi ibukota baru dari Indonesia. Namun, rancangan itu akan tertunda sampai waktu yang tidak ditentukan karena kiamat zombie ini.


Presiden Bagas Sentosa adalah presiden yang ke-8 setelah Joko Widodo. Rencana pemindahan ibukota sebenarnya sejak zaman pemimpin pertama Indonesia, hanya saja baru sekarang terealisasikan.


"Kita akan ke perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Aku rasa Kalimantan Timur yang sedang 5% berjalan pemindahan ibukota pasti memiliki tempat atau bunker bawah tanah yang didesain untuk bencana alam atau sesuatu insiden," ucap Rafael dengan pandangan mata penuh keseriusan.


"Tapi ... kata kakak-kakak angkatku itu di Jakarta sudah ada markas militer darurat, kenapa kita tidak kesana?" tanya Hugo dengan penasaran.


"Terlalu jauh, Hugo. Kita akan mencari kapal besar dari Kalimantan Timur atau Selatan. Dipastikan Kalimantan Timur yang sedang dalam persiapan pemindahan ibukota pasti memiliki kapal atau setidaknya ribuan orang yang bisa selamat dan bertahan di bunker bawah tanah. Mari kita lihat saja, rencana ini memiliki persentase keberhasilan menjalin hubungan dengan orang-orang Kalimantan Timur adalah 60%," jelas Rafael.


"Itu kecil, Kak Rafael," ucap Hugo datar.


"60% besar loh. Kita tidak tau sampai kapan kita bisa bertahan hidup disini. Lebih baik kita segera melakukan perjalanan."


Akhirnya diskusi mereka berhenti ketika Araya datang sambil menggosok matanya yang terlihat lelah dan juga sembab.


"Apa yang kakak Rafael dan kakak Hugo bicarakan?"


"Kita akan pergi ke sini," ucap Rafael sambil menunjukkan peta digital dari speed boat, itu adalah Kalimantan dan tepatnya diperbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.


"Wah ... kakak Devin waktu itu berencana kesana, tapi sekarang dia sudah tidak ada," ucap Araya lirih dan kembali hampir menangis.


"Oke, Araya pasti ingin kesana, kan?" tanya Rafael sambil mengelus rambut Araya.


"Iya, kata kakak Devin disana ada temannya yang sedang menunggu!"


Pernyataan itu membuat Rafael dan Hugo saling tatap. Dibenak mereka saat ini memikirkan suatu hal yang sama.


"Siapa teman kakakmu?" tanya Rafael cepat.


"Tunggu sebentar," ucap Araya sambil berlari ke dalam ruang kamar tidur.


Beberapa saat dia datang sambil membawa selembar foto di tangannya.


Rafael melihat foto itu dengan seksama dan teliti. Seorang pemuda seumurannya ada disana sambil bergaya mengangkat dua jarinya keatas, pemandangan di belakangnya adalah sebuah lautan luas. Matanya terlihat berwarna hitam pekat dengan rambut berbelah tengah yang menambah ketampanannya, hidungnya mancung, rahang yang tegas, serta kulit sawo matang. Foto ini memperlihatkan penuh tubuh pemuda itu. Dia terlihat tinggi. Pakaiannya khas disaat musim panas dengan baju berpola pemandangan pantai dan celana pendek selutut.


"Orang ini ... familiar diingatanku," gumam Rafael sambil memegang dagunya. "Oke, kita akan kesana!" lanjutnya dengan semangat.


***