Human-Z

Human-Z
Chapter 55 : Kedatangan Kelompok Bandara



Matahari terbit dengan indah, pesonanya membuat siapa saja yang melihatnya akan terpukau. Saat ini, semua orang sedang menikmati matahari terbit di halaman belakang, yang kebetulan halaman belakangnya menghadap ke Timur langsung.


"Matahari terbit ke berapa sudah yaa sejak virus ini ada?" gumam Hendro sambil memegang dagunya.


Mereka semua yang berada disana hanya saling menoleh. Mereka juga tidak terlalu menghitung hari, mereka peduli keberlangsungan hidup daripada membuang waktu untuk menghitung hari.


"Yang pasti 30 kali lebih…" sahut Rafael sambil melihat ke langit.


Disaat mereka semua sedang menikmati keindahan matahari terbit, terdengar suara deru mesin mobil dari halaman depan. Semua orang langsung memasang wajah kewaspadaan.


"Kalian semua disini saja. Saya akan melihat siapa itu!" ucap Hendro sambil mengambil senjata api miliknya.


Dia berjalan memasuki rumah, setelah itu dia berhenti tepat di jendela samping pintu keluar. Dia memperhatikan siapa yang telah mengganggu ketenangan mereka.


"Hmm… untungnya semalam aku menyuruh Setyo untuk meletakkan bus mereka di rumah sebelah yang ada garasi tertutupnya, jika masih didepan rumah ini, maka itu sangat mencurigakan bagi mereka!" gumam Hendro dengan pandangan tajam.


Saat ini Hendro dapat memastikan bahwa yang mengganggu ketenangan dipagi hari adalah kelompok bandara. Mereka memakai mobil berjenis off-road, ada 4 orang yang sedang melihat-lihat ke dalam halaman rumah Hendro.


"Jika mereka mendekat atau memaksa masuk, harus dilumpuhkan!" Tiba-tiba Hendro terkesiap ketika mendengar suara dari belakangnya.


Hendro menoleh dan menampakkan Setyo sambil memegang Ak-47 milik Revi. Dia memasang wajah serius, keseriusannya tak bisa dipungkiri. Pandangannya hanya fokus tertuju kepada 4 orang yang terlihat seperti sedang berbincang.


"Kamu membuatku terkejut," ucap pelan Hendro.


Setyo menoleh kearah Hendro dengan pandangan tajamnya. "Maaf, hanya saja saya cukup kesal dengan mereka, jadi saya akan membantumu juga!"


Hendro mengangguk dengan antusias. Dia sempat mengernyitkan dahinya karena tiba-tiba saja Setyo berada disana, tetapi setelah tau alasannya, Hendro hanya bisa terdiam. Dia sangat paham, apalagi Setyo sendiri lah yang merasakan kelicikan kelompok bandara.


"Sudah berapa kali mereka ini datang?" tanya Setyo sambil tetap fokus melihat kedepan.


Hendro menjawabnya dengan pelan. "Mereka berempat dengan ciri-ciri yang sama telah datang 5 kali selama ini."


"Woe, Hendro! Kami tau kamu didalam! Jadi keluarlah, kami akan menawarkan untuk kelima kalinya. Jika kamu tidak berniat membantu kami, maka konsekuensinya kamu tanggung sendiri!"


Akhirnya salah seorang diantara mereka membuka suara dengan berteriak keras.


Hendro yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Mereka ini membuatku geram. Saya masih memiliki kemanusiaan, jadi jika mereka tidak bertindak kelewatan maka saya masih bisa santai. Tapi jika mereka bertindak kelewatan, senjata inilah yang berbicara!"


Baru saja Hendro berucap, salah seorang diantara mereka mengacungkan senjata api kearah gembok pagar kawat besi. Dia perlahan menarik pelatuknya dan menembakkan sebuah peluru ke gembok itu.


"Arrghh! Mereka cari mati!" ucap geram Hendro sambil memegang gagang pintu untuk membukanya.


Namun, Setyo menahannya dengan memegangi pundaknya. "Sabar, saya mempunyai rencana. Ajaklah mereka masuk, kita akan menahan mereka di dalam!"


Hendro merasa ragu dengan rencana tiba-tiba dari Setyo. Matanya dipenuhi keraguan, melihat itu maka Setyo berkata kembali. "Tenanglah, dijamin dapat diatasi. Rencana ini juga dibahas secara tiba-tiba oleh Rafael dan kawan-kawan, saya hanya menambahkan saran lainnya."


Hendro yang awalnya ragu menjadi cukup yakin untuk sekarang. Dia kemudian menarik nafas dalam-dalam dan berteriak keras dari balik pintu. "Kalian! Lemparkan senjata api kalian, saya menerima kalian untuk saat ini masuk dirumah saya!"


Beberapa saat kemudian, keempat orang itu melempar senjata api mereka dengan menyakinkan. Hendro membuka pintu rumah, dia berjalan sambil terus menodongkan senjata apinya kearah keempat orang itu. Setyo juga memberi cover dari balik jendela.


Hendro telah mengamankan senjata api mereka.


"Kita akan membahasnya didalam. Kalau diluar akan diganggu oleh mereka," ucap Hendro sambil menunjuk sebentar kearah belakang keempat orang itu.


"Kalian jalanlah ke dalam, kalian bisa dibilang orang asing. Jadi, jangan protes saya terus menodong kalian!" ucap Hendro mengintimidasi.


***


Keempat orang itu hanya terkejut bukan main. Saat ini mereka sedang duduk di meja makan, tetapi mereka diambang kematian. Ya, mereka sedang ditodongkan berbagai macam alat senjata.


Rafael, memakai linggis kebanggaannya. Bryan, memakai pistol silencernya, Clara dengan snipernya walaupun sebenarnya sniper adalah senjata jarak jauh tapi masih bisa digunakan jarak dekat dengan sedikit lebih efisien. Revi dengan Ak-47, Setyo dengan senjata laras panjang berjenis M16, Hendro sendiri hanya berdiri melipat kedua tangannya didepan dada. Laura dan Eva hanya duduk santai di sofa yang berada di ruangan itu.


"Apa-apaan ini, katanya kami akan diterima sedikit baik? Tapi apa ini?!" seru salah satu diantara mereka.


"Ssshh… diam yaa. Kalian juga pasti mencari mereka dan mencoba menarikku kedalam aktivitas kalian!" ucap Hendro dengan datar, tetapi memiliki aura intimidasi yang kuat.


"Ya! Kami mencari Setyo dan anak-anak SMA itu, serahkan mereka dan kalian akan selamat!" seru orang yang berbadan besar dan rambutnya yang dia kuncir ke belakang.


"Jika kalian tidak selamat sekarang?" sahut Setyo sambil mengokang M16 miliknya.


Keempat orang itu merasakan hawa membunuh yang sangat jelas dari Setyo. Setyo sendiri dia sebenarnya sangat santai, tetapi entah mengapa dia juga merasakan memiliki dendam yang besar kepada kelompok bandara.


"Jika kami tidak selamat disini, maka kelompok bandara akan terus mencari kami ke tempat yang mereka tebak akan ada kami disitu. Salah satunya rumahmu, Hendro Wibowo!" seru seorang yang berbadan kurus dan bertato diseluruh tangannya.


Rafael melemaskan otot-otot tangannya. Dia berjalan santai sambil memikul linggisnya kearah pria yang berbadan kurus dan bertato. Disana Rafael memandang datar tanpa ekspresi.


"Sampai jumpa!" ucap datar Rafael.


Dia mengayunkan linggisnya dari kanan secara diagonal mengarah ke leher pria berbadan kurus tersebut. Pria itu gemetaran hebat, dia hanya bisa pasrah menutup matanya.


Namun, lama tak mengenai lehernya. Dia perlahan membuka matanya dan memperlihatkan Rafael yang menjulurkan lidahnya dengan jahil.


"Wleee! Hahaha! Dia sangat gemetaran, hahaha!" Orang yang mendengar tawaan Rafael merasa itu bukan tawaan jahil biasa. Itu seperti tawa seorang psycho.


Pria berbadan kurus itu semakin berkeringat dingin. Dia merasa nyawanya hampir melayang ditambah traumatisnya yang menambah. Trauma kepada Rafael.


"Sudahlah, kalian tidak memiliki informasi lagi," ucap Hendro. "Jadi pilihan kalian apa?" lanjutnya sambil bersandar di meja.


"Ka-kami… itu… kami akan membantu kalian. Ya! membantu kalian!" seru pria berbadan besar disana.


Yang selalu berucap hanya pria berbadan besar dan yang berbadan kurus. 2 sisanya yang sangat terlihat mirip hanya diam seribu bahasa. Mereka seperti kembar.


Hendro melirik kearah semua orang. Namun, Bryan maju kearah meja dengan santai. "Hei, bagaimana kalau mereka dijadikan makanan zombie?" ucap Bryan tersenyum jahil.


"Ja-jangan!! Jangan!!" teriak serentak 2 orang yang nampak mirip.


"Lawak kau yaa? Kita masak terus berikan ke para zombie! Itu lebih baik!" timpal Clara dengan seringaian jahatnya.


"Hahaha! Ini hiburan! Aku sangat terhibur, hahaha!" Kembali ada tawaan psycho di ruangan itu. Tawaan Bryan hampir sama seperti Rafael.


"Yaudah, kami serahkan kepada para orang tua. Anak-anak remaja ini tidak akan ikut campur yaa?" ucap Rafael disusul anggukan kepala semua orang kecuali keempat orang bandara.


Rafael dan kawan-kawan keluar dari dapur dan menuju halaman belakang. Sekarang tersisa Setyo, Hendro dan Nur Aini disana. Tentunya Rafael, Jaka, Anindira dan kawan-kawannya membiarkan para orang tua yang memutuskannya.