
Rafael pergi ke tenda dimana kelima temannya berada. Disana mereka tidak terlihat. Rafael menanyai salah seorang survivor disana, survivor itu menjelaskan bahwa kelima teman Rafael berada di dermaga.
...----------------...
Sesaat Rafael sampai di dermaga, dia melihat kelima sahabatnya sedang berbincang-bincang sambil memandangi sunset yang menurut Rafael sangat indah untuk di zaman kehancuran ini. Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati.
"Kalian ngapain?"
Kelima sahabat Rafael menoleh secara bersamaan. Mereka menunjukkan raut wajah serius dengan pandangan tajam. Apa yang mereka bicarakan? Mungkin hanya itu yang dipikirkan Rafael.
"Ayo dengarkan sini." Ajak Clara sambil mengayunkan tangannya.
"Apa?"
"Makanya sini astaga !!" Bentak Clara dengan tatapan nyalang bagaikan elang.
"Wow... wow... wow... Tenanglah !!" Rafael mundur satu langkah ke belakang dengan waspada.
"Sudahlah, dengarkan rencana gila dari Clara ini." Ujar Bryan sambil mendatangi Rafael dan merangkul bahunya.
Mereka semua duduk santai di tiang setinggi lutut yang menyanggah dermaga tersebut, beragam macam raut wajah mereka lemparkan. Ada yang serius nan tegang, ada yang melempar raut wajah khawatir dan ada yang menatap kosong saja seperti Revi.
"Aku mempunyai rencana. Entah kalian setuju atau tidak, tapi aku akan tetap lakukan." Ujar Clara penuh keseriusan.
"Iya, makanya apa rencanamu?" Tanya Rafael.
Saat ini di dermaga mulai gelap, hanya diterangi oleh beberapa lampu temaram. Beruntung virus CytraZ-24 belum bermutasi menjadi lebih beragam seperti membuat mayat berjalan yang pandai berenang.
"Aku ingin kembali ke sekolah untuk mengambil apa yang mendiang kepala sekolah perintahkan pada kita saat hari kematiannya."
"Ja... Jadi kau mau menggunakan itu ?!" Rafael berdiri dengan panik.
"Tidak ada cara lain, kita harus menggunakan itu."
Keempat sahabat Rafael hanya menyimak perdebatan antara Rafael dan Clara, mereka tidak mau menimpali orang yang meledak-ledak dengan emosi lebih.
"Bodoh!! Asli kau bodoh. Kita tidak bisa menggunakan itu dengan mudah, Clara!!" Bentak Rafael dengan lantang.
"Diam!! Kau mau didengar oleh orang-orang disini hah ?!" Clara mendesak Rafael ke pinggiran dermaga hingga hampir terjatuh ke laut.
"Tidak, jelas aku tidak mau. Mereka tidak bisa memakai itu. Karena itu hanya bisa digunakan oleh warga sekolah kita yang sangat loyal. Fasilitas itu sangat turun temurun, Clara. Kau tidak bisa menggunakannya secara sepihak."
"Sepihak apa?! Kita membutuhkan itu. Lagipula sudah disetujui kepala sekolah saat detik-detik kematiannya yang menjadi bulan-bulanan zombie itu hah?!"
Byur !!
"Aku katakan lagi, jangan memakai rudal itu!!" Rafael menekankan dengan keras dan bahkan menyebut nama benda yang mereka bicarakan.
Seketika semuanya terdiam sejenak hingga suara deburan ombak terdengar jelas diiringi dengan beberapa suara jangkrik. Zona aman terbilang sangat sepi dimalam karena orang-orangnya lebih memilih berdiam diri didalam tempat istirahat mereka masing-masing hanya beberapa orang kuat berada di titik tertentu untuk berjaga.
Klotang !!
Tiba-tiba terdengar suara kaleng yang bersentuhan dengan semen. Rafael dan kelima sahabat Rafael menoleh secara bersamaan ke arah suara.
"Haaa~... Sialan, ada yang nguping." Keluh Rafael menghela nafas.
Dengan cepat dia berlari dengan kecepatannya menuju ke arah suara, disana dia mendapati Anindira sedang terdiam berkeringat dingin menjatuhkan minuman kalengnya dibawah lampu temaram berwarna putih cerah disamping kontainer yang terbengkalai.
"Ckckck... Dasar, sini ikut aku !!" Rafael menarik tangan Anindira dengan kasar sangking kesalnya.
Sesaat sampai kembali di dermaga, kelima sahabat Rafael memandang tajam ke arah Anindira yang menunduk malu.
"Seberapa banyak kau dengar hah ?!" Rafael mendorong kasar Anindira ke depan. "Maaf jika aku kasar, aku sangat terbawa emosi !" Lanjut Rafael memandang sembarang arah.
"A... Aku hanya mendengar..."
"Mendengar apa hah ?!" Timpal Clara dengan nada tinggi.
"Mendengar semuanya !!" Dengan cepat Anindira berkata.
"Arrghh!! Coba kalau kau laki-laki, sudah aku buang ke laut, sumpah dah !!" Teriak Rafael dengan kesalnya sambil menendang pelan tiang penyanggah dermaga.
"Haaa~... Pasti kau penasaran kan Dira ?" Bryan menenangkan keadaan.
Anindira hanya mengangguk pelan. "Iya. Rudal? Turun temurun? Apa semua itu..."
Bryan mulai menjelaskan dengan raut wajah sedikit serius sambil memandang lautan yang gelap.
"Kepala sekolah kita turun temurun adalah seorang agen rahasia negara, itu memang sangat aneh. Tapi itu kenyataan. Rudal itu tidak pernah digunakan dari kepala sekolah pertama hingga ke-7 ini. Rudal itu disediakan pemerintah untuk para kepala sekolah dalam menjaga kedaulatan sekolah dan negara Indonesia..."
"...Rudal itu terletak di gunung Matantimali. Satu rudal dapat menghancurkan satu Provinsi yang seukuran Provinsi Sulawesi Tengah. Haaa~... Berasa mustahil yaa itu semua tentang kepala sekolah SMK Misu itu adalah agen rahasia negara Indonesia dan lain sebagainya. Tapi nyatanya sekolah kita memiliki mata pelajaran tentang keagenan negara di waktu-waktu tertentu yang tidak diketahui oleh semua orang kecuali murid sekolah itu."
Bryan menjelaskan karena Clara dan Rafael nampak enggan menjelaskan itu semua, mereka dikuasai emosi sekarang. Sebuah penjelasan itu mampu membuat Anindira terbelalak dan bahkan hampir jatuh ke laut.
"Apa jangan-jangan rumor agen rahasia Garuda-45 itu memang ada ?!" Tegas Anindira.
"Ternyata rumor kita sudah tersebar luas yaa, sungguh lucu. Rahasia 20 tahun dari sekolah itu mulai terbongkar juga yaa sekarang." Ujar Rafael sambil berjalan ke ujung dermaga.
Anindira hanya celingukan melihat raut wajah menyesal dari Rafael dan kelima sahabat Rafael. Benar-benar tidak dipercaya, sekolah yang dikenal hanya meluluskan murid yang pandai namun juga menyimpan rahasia besar selama ini. Sungguh mengagetkan.