Human-Z

Human-Z
Chapter 58 : Pembicaraan Singkat



Pembahasan masih terus dilanjutkan sambil santai minum-minum teh dan kopi.


"Saya penasaran, sebenarnya kalian ini anak SMA atau gimana?" tanya Gideon sambil memiringkan kepalanya.


Rafael memandangnya tajam. "Anda tak perlu tau siapa kami, yang anda ingat hanya mengerjakan syarat-syarat dari kami!"


"Yaa! Saya juga penasaran sih," sahut Hendro sambil menatap sengit Rafael.


"Hei... apa-apaan ini! Kami jelas-jelas anak SMA biasa, tidak lebih," timpal Bryan sambil meminum tehnya.


Setyo hanya menghela nafas. "Mereka ini menurut saya memang anak SMA biasa, hanya saja... mereka cukup istimewa," ucapnya sembari menggelengkan kepala.


"Ada waktunya kami memberitau identitas asli kami," ucap pelan Clara dengan aura intimidasi.


"Ckckck! Kalian ini yaa!" ucap kesal Hendro.


Rani, Eka, Alamsyah, dan Nanda yang menyimak percakapan itu hanya terdiam seribu bahasa. Awalnya mereka akan membongkarnya, tetapi mereka telah dihadapkan tatapan pembunuh dari Revi.


Revi tersenyum ramah kepada Rani. "Jadi... syaratnya bagaimana? Apakah bisa diselesaikan? hmph?" tanya Revi sambil memberi peringatan dengan gumaman kecil.


Rani melihat kepada Gideon kemudian berkata. "I-iya... bisa kok."


"Kalau bisa kalian monopoli sumber daya bandara, tapi ingat! Sisakan khusus untuk korban kekejian tirani Agus! Dia harus segera membayar kekejian itu semua! Dalam waktu dekat mungkin mereka akan lenyap!" timpal Setyo dengan nada penuh kebencian.


"Ba-baiklah, ka-kami bisa lakukan itu," ucap Gideon dengan terbata-bata. "Apakah mereka berencana menyerang satu kompi yang berjumlah 200 pasukan gabungan itu?! Gila!" batin Gideon merasa merinding.


"Oh, satu lagi. Kalau aku tak salah ingat, jumlah pasukan gabungan kalian itu setara satu kompi, kan?" tanya Rafael menyelidik.


Gideon tersentak ke belakang. "Ba-bagaimana bisa? Kau membaca pikiranku?!!" serunya.


Semua orang yang berada di sana hanya menggeleng sambil menahan tawa. Rafael langsung memperbaiki kata-katanya. "Ah... bukan itu, aku pernah lihat pasukan gabungan sedang berkumpul, aku hitung-hitung sekitar 200 orang, apakah benar?"


"Kenapa pak Agus sangat ingin menangkap mereka sih? Mereka ini terlihat baik, hanya saja pak Agus pasti mengincar Human-Z yang notabenenya adalah si Rafael ini. Namun, yang buat aku curiga yaa anak-anak SMA ini. Mereka pasti bukan hanya anak SMA biasa, pak Agus saja seperti mengistimewakan anak-anak SMA ini," batin Gideon sambil memegang dagunya.


"Jadi, kapan sumber daya diberikan kepada kami sebagai penyelesaian syarat?" tanya Clara sambil menyeruput tehnya dengan anggun.


Gideon memandang Clara fokus. "Hmm... tergantung persiapannya, pasti dibutuhkan mobil yang memadai serta jangan sampai dicurigai kelompok Agus!"


"3 orang itu pasti bisa menyelesaikannya juga untuk membantu kalian," sahut Setyo sambil berdiri membelakangi semua orang.


"Apa syarat yang kalian berikan kepada mereka?" tanya Alamsyah penuh pertanyaan.


Semua orang menunggu jawaban dari Setyo ataupun Hendro. Mereka hanya terdiam, tak lama kemudian Hendro berkata. "Ada kok, kalau mereka berkhianat, kepala mereka akan saya pajang depan pagar, hahaha!" ucapnya sambil diakhiri tawaan.


"Ya, kalian semua tak perlu tau," sahut Setyo. Dia masih membelakangi semua orang, tetapi siapa sangka sudut bibirnya dinaikkan dan membentuk seringaian kejam.


Clara hanya menghela nafas. "Ah... sudahlah, lupakan dan tak perlu dibahas lagi tentang 3 orang itu!"


Akhirnya, percakapan berat itu untuk sementara berhenti. Semuanya yang awalnya tegang menjadi lebih lega. Mereka mulai bercanda ria dan melupakan untuk sementara pembahasan serius tadi.


"Oh, iya. Kalian tidak akan dicari pak Agus itu?" tanya Rafael.


Gideon menggeleng pelan. "Dia tidak akan mempedulikan nyawa orang-orangnya," ucap lirih Gideon.


"Aha... oke, oke."


Pembicaraan singkat itu ditutup oleh hujan deras yang mengguyur daerah mereka. Semuanya masuk ke dalam rumah untuk menghangatkan diri, kebetulan rumah Hendro memiliki pemanas ruangan.


~