
Rafael saat ini sedang mencari sendiri bahan bakar minyak untuk kapal speed boat. Sementara itu, Hugo dan Araya ditinggalkan sendiri di sana. Lagipula Hugo memiliki kekuatan Human-Z untuk membela diri.
Rafael saat ini sedang berada di salah satu pom bensin daerah dekat dengan dermaga kapal. Mungkin jika diukur jaraknya sekitar 500 meter. Cukup dekat.
"Hmm ... disini masih ada persediaan kah?" gumam Rafael.
Dia mengendarai sepeda motor yang dibiarkan begitu saja dipinggiran jalan. Bahan bakarnya pun tersisa sangat sedikit sehingga hanya cukup sampai di pom bensin dan motor tersebut langsung mogok kehabisan bahan bakar.
Rafael berjalan lebih dalam mendekati salah satu mesin pom bensin. Sayangnya sudah tidak bekerja karena pasokan listrik tidak memadai.
"Hadeh ... harus cari pasokan listrik kah? Kalau dapat, apakah mungkin ada isinya?" Sekali lagi Rafael berpikir dengan cermat.
Disaat Rafael terdiam untuk memikirkan dimana dia mendapatkan pasokan listrik selain generator, terdengar suara deru mobil dari kejauhan dan semakin mendekat.
Tentu saja Rafael bersembunyi di dalam kamar mandi umum pom bensin sambil melihat situasi. Sayangnya sepeda motornya masih di depan pom bensin dan akan menambah kecurigaan seseorang.
Deru mesin mobil semakin mendekat. Terlihat banyak saling beriring-iringan. Ada sekitar 3 kendaraan roda empat. Pemimpin jalannya adalah sebuah mobil Jeep berwarna hitam metalik.
"Mereka …."
"Kelompok Clara!"
Tebakan Rafael sepenuhnya benar. Dia juga terkejut karena jarak dari rumahnya Hendro kesini bisa diperkirakan sekitar 5 kilometer dan mereka bisa sampai disini.
Satu persatu mereka turun dari mobil dengan tatapan datar. Seorang wanita memimpin di depan dengan rambut hitam panjangnya sepinggang yang dikuncir kuda, memakai pakaian yang benar-benar menandai bahwa wanita itu seorang tomboy. Mata coklatnya berkeliling mencari sesuatu, kulitnya yang putih bersih seakan bersinar dibawah matahari.
"Laura?!"
Rafael sendiri kaget dengan perubahan cepat itu. Awalnya Laura memiliki rambut hitam panjang bergelombang yang dibiarkan begitu saja tanpa dikuncir. Apalagi dia sebelumnya memakai pakaian wanita pada umumnya, tetapi sekarang benar-benar 180° berubah.
Seorang wanita juga turun dari dalam mobil Jeep dengan membawa sebuah sniper di tangannya. Rambut hitam pekatnya diatur ala-ala Wavy Bob Hair, jaket jeans ketat dengan dalaman kaus polos dan celana panjang menempel ditubuhnya, mata hitamnya berkeliling juga.
"Wah, kalau Clara sih wajar."
Beberapa orang turun dari mobil lagi. Kali ini seorang pemuda dengan rambut hitamnya yang poninya menutupi kedua matanya. Pandangan matanya dari balik rambut memiliki aura kesuraman di sana. Kulitnya yang sawo matang menambah kesan suramnya. Dia memegang sebuah senjata Ak-47 di kedua tangannya.
Ada juga seorang wanita dengan rambut hitam yang dipotong sebahu dengan model bagian atas lebih pendek dibandingkan bagian bawah. Dia memakai pakaian satu set blus wanita berwarna coklat muda bagian atas dan bagian celana berwarna coklat yang lebih tua. Kulitnya yang sawo matang menambah keanggunannya.
"Revi dan Eva yaa?"
Rafael benar-benar melihat banyak perubahan dari semua orang. Revi yang awalnya terlihat santai tapi cukup berisik juga, sekarang dia terlihat suram dan diam seribu bahasa. Apalagi disaat Rafael melihat Laura yang benar-benar berubah 180°.
Seorang wanita keluar lagi yang Rafael sangat kenal. Rambut hitam kecoklatannya panjang sepinggang dan dibiarkan begitu saja diterpa angin lembut, memakai pakaian yang cukup ketat sehingga membentuk lekukan tubuhnya. Dominan memiliki warna merah disetiap baju dan celananya. Ada juga pedang yang disanggulkan dipinggangnya. Pedang dengan pegangan berwarna emas.
Sekarang dia harus segera pergi dari sana. Telah banyak kawan-kawannya di sana berkumpul dan persentase tatap muka itu sangat besar. Namun, baru mau keluar dari kamar mandi umum. Dia melihat Laura yang menuju ke kamar mandi tempatnya berada.
Rafael dengan cepat menutup pintu dengan keras. Itu membuat Laura terkejut dan langsung berlari ke kamar mandi dengan pistol di tangannya disiagakannya.
"Siapa disana?!" pekik Laura sambil menodongkan pistolnya.
Melihat perangainya Laura, Clara dan Revi mendekatinya.
"Ada apa, Laura?" tanya Clara.
"Ada orang," singkat Laura.
Revi dengan kesuramannya mendekat ke kamar mandi. Dia menodongkan Ak-47 nya dengan intimidasi menakutkan. Aura ini benar-benar dirasakan oleh Rafael yang sedang berkeringat dingin di dalam kamar mandi.
"Keluar saja, tak perlu takut."
Suara itu membuat jantung Rafael berdetak cepat. Suara yang berat dan terdengar mengintimidasi siapa saja.
Sementara itu, Revi sekarang benar-benar mengurung Rafael di dalam kamar mandi. Dia sedang berada di depan pintu kamar mandi dan mengetuk 3 kali dengan moncong senjatanya.
Revi mendorong pintu perlahan. Tidak terkunci.
"Ini tidak terkunci," ucap Revi datar.
Laura dan Clara langsung menyergah ke dalam. Mereka sama sekali tidak mendapati siapapun, hanya bau busuk yang menyeruak dari dalam kloset duduk disana.
...
Rafael saat ini sedang menempel di langit-langit kamar mandi bagai seorang manusia laba-laba. Tentakelnya dia manfaatkan untuk mencengkram plafon kamar mandi. Dia menusuknya dengan pelan sehingga dia saat ini terlihat sedang berbaring di plafon kamar mandi.
"Tch! Tidak ada apa-apa ternyata," keluh Laura kesal.
Laura dan Clara pun keluar dengan kesal dan meninggalkan Revi yang hanya terdiam sebelum menyusul mereka berdua.
Rafael yang menyadari telah aman pun turun ke bawah dengan perlahan. Dia mengintip dari balik pintu kamar mandi yang dibiarkan terbuka, dia mendapati kelompok Clara sedang bersiap-siap kembali pergi.
"Mungkin ini yang terakhir kali aku melihat kalian sebelum kita bertemu kelak nanti saat keadaanku sedang sekarat? Siapa yang tau," gumam Rafael.
Dia langsung segera melesat dan berlari menuju generator darurat pom bensin. Dia telah mendapatkannya dan menyalakannya. Setelah itu dia mengambil 2 jerigen yang dibiarkan disana dan mengisinya dengan bensin sampai penuh.
***