Human-Z

Human-Z
Chapter 41 : Penyesalan Terdalam



Deg!!


Semuanya seketika merinding saat Rafael melihat mereka seperti hewan buas yang akan memangsa korbannya.


"Dia..." Ujar Komisaris Jendral Polisi, Agus. Dia merasa sedikit sedih.


Whuush !!


"TEMBAK!!" Teriaknya.


Dar !!


...----------------...


Tank menembakkan pelurunya dan melesat menuju tempat Rafael berdiri. Bukan Rafael namanya kalau tidak menghindar, dia menghindar dengan mudahnya dan menyisahkan ledakan tepat di belakangnya.


"La.. Lari !!" Teriak Rafael.


Entah dari lubuk hatinya sedang bertarung menghadapi entitas berbahaya yang ada di dalam dirinya, atau berniat agar tidak membahayakan semua orang.


Seluruh orang yang berada di sana terkejut ketika mendengar teriakkan dari Rafael. Tentu saja itu menjadi kesempatan emas untuk melarikan diri dan berlindung dari keberingasan Rafael.


"Si.. Sialan! Kenapa aku?!" ~ Batin Rafael dengan perasaan campur aduk.


Kau telah memiliki tujuan utama. Hadapilah itu!!


Deg!!


Sebuah suara yang nyaring terdengar oleh telinga Rafael. Dia celingukan mencari asal suara itu. Semua orang sudah berlindung ke tempat masing-masing.


Aku disini, Rafael. Aku ada di dalam kepalamu, hihihi~


"AAARGHH!! Keluarlah kau!"


Beberapa orang yang memperhatikan Rafael merasa heran. Mereka kebingungan kenapa Rafael berbicara sendiri, apa dia sudah gila? Dia memang sudah tidak terkendali tapi dia sempat melindungi semuanya dengan berkata lari. Itu cukup.


"Ra.. Rafael... hiks.. hiks.. huhuhu!" Laura menangis sejadi-jadinya dipelukan Eva.


Dia tidak menyangka terjadi hal yang mengerikan ini setelah pergi dari Palu. Dia berpikir, jika pergi dari Palu maka semua akan berakhir dengan damai. Tetapi, semua hal itu hanyalah omong kosong belaka.


Semua orang menunjukkan raut wajah waspada dan sedikit ketakutan. Mereka seperti itu karena sudah jelas, para Human-Z lainnya malah kabur ketakutan melihat perubahan dari Rafael.


Hahaha! Kau sangat naif, Rafael. Kau tidak bisa menanggung tujuan itu!


"Akkhh!! Sialan kau!" Rafael meninju sendiri kepalanya.


Tentakelnya perlahan masuk kembali ke dalam punggungnya. Rafael mulai merasakan sakit kepala yang sangat luar biasa. Rafael ambruk ke tanah dengan lunglainya.


"I.. inikah akhirnya..." Rafael mencoba meraih semua orang yang mendekat padanya memakai tangan kanannya.


Namun apa daya, dia telah tak sadarkan diri.


***


Blam!!


Rafael kembali masuk ke dalam dunia kegelapan. Yang dia bisa lihat hanya sosok yang sedang menyeringai jahat padanya. Itu adalah tubuhku!


"Ah.. lagi-lagi ini. Apa sebenarnya ini, apa orang yang memiliki virus Human-Z akan seperti ini? Aku jelas bukan hanya zombie, aku MONSTER!!!"


Dengan penuh emosional, Rafael mencoba meninju sosok yang sedang menyeringai lebar di hadapannya. Namun dengan cekatan, sosok itu menghindar dan melayangkan tinjuan ke dagu Rafael.


Buk!!


Rafael jatuh tersungkur. Dia mencoba berdiri tapi kesusahan.


"Hei, kau lupa pelajaran di sekolahmu. Orang yang ditinju dibagian dagu otaknya tergoyang dan akan membuat saraf-sarafmu sedikit terganggu hingga kau akan kesulitan berdiri. Dasar!"


Rafael keheranan sendiri dengan sifat dari sosok di depannya. Yang katanya sosok itu adalah virus Human-Z, tapi mengapa dia bisa berbicara dan melakukan aktifitas seperti manusia pada umumnya.


"Ka.. kau sebenarnya siapa?" Tanya Rafael mengusap darah dari mulutnya.


Ternyata lidahnya tergigit akibat tolakan keras dari dagunya.


"Kamu sudah melakukan hal yang bisa dilakukan. Tetapi, semua itu tidak ada hasilnya. Kamu selalu dicari orang-orang untuk diambil sebagai bahan eksperimen pembuatan anti virus CytraZ-24. Aku tahu kok semua penderitaanmu."


"Tch! Ada-ada saja halusinasiku. Sungguh gila sudah aku!! Hahaha! Memang sih, aku agak gila sejak adikku sendiri aku dorong jatuh dari tangga karena melihatnya seperti monster. Itu bentuk pertahanan diri, hanya saja mentalku telah rapuh diterjang ombak yang begitu dahsyat."


"Ha.. hahaha bahahaha! Kamu memiliki penyesalan yang seperti itu yaa. Aduh... bagaimana yaa nasib manusia ke depannya. Apakah akan musnah akibat CytraZ-24 atau mereka bisa bertahan hidup?"


Rafael benar-benar kebingungan sekarang. Dia merasa menjadi sangat gila karena berbicara dengan hal yang belum tentu ada. Malah sosok di depannya sok berbicara tidak jelas.


"Lihatlah ini." Sosok itu menjentikkan jarinya.


Klap!!


Sebuah visualisasi terlihat di depan mata Rafael. Sebuah hamparan padang rumput, danau yang indah serta beberapa orang yang sedang bercanda ria. Itu adalah kelima sahabatnya dan keluarganya. Lucien, kuda berwarna putih bersih sedang dielus-elus oleh anak kecil. Dia adalah Rafael saat masih berumur 6 tahun.


"Itu.. aku?!" Pekik Rafael.


"Lihatlah sekali lagi." Sosok itu menjentikkan sekali lagi jarinya.


Klap!!


Warna dunia itu seketika berubah menjadi suram. Hamparan padang rumput hijau menjadi tandus dan kering. Kelima sahabatnya dan keluarganya musnah dari hadapannya. Lucien, kudanya menjadi tulang-belulang.


"Apa maksudnya ini?" Tanya Rafael.


"Itulah penyesalan terdalammu. Kamu menyesal tidak bisa melindungi mereka, malah membahayakannya dan bahkan menghabisi adikmu sendiri. Keluargamu dan keluarga sahabat-sahabatmu pun tak tahu keberadaannya dimana."


Tetapi tidak bisa, seakan telah dilindungi oleh sebuah kaca tembus pandang yang tebal. Tak bisa dihancurkan.


"Aku sebenarnya adalah penyesalan terdalammu yang dibentuk olehmu. Virus CytraZ-24 dan Human-Z hanya pemicu awalnya. Jaga baik-baik jiwa manusiamu sebelum digerogoti oleh dia!"


Sosok itu menunjuk sesuatu yang ada dibelakang Rafael. Ketika Rafael membalikkan badan, dia melihat sebuah makhluk mengerikan dengan tonjolan-tonjolan tajam berwarna merah. Seperti bulu babi hanya saja berwarna merah.


"Dia itu CytraZ-24 yang sedang tertidur karena adiknya atau bisa dibilang hasil mutasinya sedang bangun, lihat itu, itu adalah Human-Z."


Rafael melihat lagi apa yang ditunjukkan oleh sosok tersebut. Disana terlihat bentuk yang sama namun berwarna hitam pekat dengan ukuran yang lebih kecil.


"Ah.. ah.. sungguh gila yaa. Terus apa intinya cahaya yang menyakitkan itu?"


"Ah.. itu kekuatan dari Human-Z, aku hanya mengaktifkan untukmu agar kamu bisa terus hidup untuk menyelamatkan atau melindungi dunia. Itukan tujuan utamamu?"


"Seramah ini kah penyesalan terdalamku?"


"Aku bisa tidak ramah loh. Bisa-bisa mentalmu akan aku habiskan agar kau menjadi gila dan bunuh diri dengan segera juga!"


"Ugh... itu menyakitkan tau!"


"Terus, apa yang terjadi di luar sana?" Tanya Rafael mencoba mencari-cari jalan keluar.


"Mereka mengamankanmu agar tidak mengamuk lagi. Hahah! Maaf yaa, sepertinya aku terlalu mengaktifkan jati diri Human-Z hingga penyesalan terdalammu ini menjadi bergabung juga dengan virus itu. Padahal bentuknya agak besar tadi, tapi sekarang mengecil. Sepertinya tenaganya terkuras habis."


"Begitu yaa... Lebih baik aku mati."


"Kamu tidak boleh seperti itu. Penyesalan terdalammu masih ingin menolongmu!"


"Buat apa? Aku sudah menjadi monster yang kapan pun bisa saja membahayakan orang lain dan bahkan sahabatku sendiri!!"


"Dasar kamu tidak dewasa, begini saja. Akibat penyesalan terdalammu, kau mengaktifkan jiwa baru. Seperti berkepribadian ganda kan? Nah kalau kamu tidak terkendali, aku akan mencoba mengambil alih tubuhmu!"


Rafael terdiam sesaat. Dia menimbang semua penyataan dari sosok yang menyebut dirinya penyesalan terdalam darinya. Rafael melihat keseriusan sosok itu dari wajah datar yang sedatar-datarnya lagi. Senyuman seringai itu menjadi datar.


"Hadeh... apa bisa? Sosok yang menyebut dirinya penyesalan terdalam akan menjadi kepribadian gandaku? Aneh, itu sungguh aneh. Itu hanya ada di dunia komik dan pernovelan yang bisa membuat apa saja menjadi nyata tau!"


"Hei! Bukannya ini dunia novel?"


"..."


"Ah... lupakan."


"Jika benar, tolong bantu aku yaa?" Ujar Rafael mulai percaya pada sosok di depannya.


"Baiklah, segera sadar sana. Aku akan memantaumu dari dalam kepalamu, dan ingat jika ada suara maka itu aku dari kepalamu."


"Ah iya, iya. Bawel ah! Seperti ibu-ibu kompleks saja!" Keluh Rafael.


"Dadah~" Sosok itu melambaikan tangan.


Perlahan kesadaran Rafael di dunia itu mulai menghilang.


***


"Ugh..."


"Hei! Dia sudah sadar!"


Ceklek!


"Siapa kamu?!"


"Duh, pak dia baru saja sadarkan diri loh, langsung ditodong begitu saja!"


"Tidak bisa begitu juga, nak Clara. Disini saya dan pak Agus akan bekerja sama!"


"Hadeh... pak Setyo ikut-ikutan ah!"


"Sudahlah, Clara. Biarkan mereka menyelesaikan masalah ini!"


"Iya, Bryan bawel!"


"Aahh!! ribut tau!" Teriak Rafael keras.


Semua orang yang berada di sana terkejut bukan main. Namun kembali tenang karena tahu Rafael telah menjadi dirinya yang menyebalkan.


Plak!


"Kau membuatku khawatir, Rafa!" Laura menampar pipi kanan Rafael dengan menangis tersedu-sedu.


Saat ini Rafael terduduk di lantai dengan tangan dirantai keduanya serta kakinya juga. Dia dilakukan seperti itu karena takutnya akan terjadi hal yang mengerikan lagi.


"Ma.. maaf!" Seru Rafael merasa bersalah.


"Baiklah, kamu menenangkan dirilah terlebih dahulu. Kita akan menanyaimu 1 jam lagi." Ujar pak Setyo.


Semua orang keluar dari ruangan 4×4 meter itu meninggalkan seorang diri Rafael.


Hahaha! Kamu ditahan nih


"Diamlah, ini agar aku tidak mengamuk lagi."


Huft! Baiklah


Rafael melihat sekelilingnya. Dia melihat beberapa layar monitor serta sebuah seragam yang tergantung di belakang pintu. Seragam itu seperti seragam penjaga bandara.


"Jadi... Ini diruangan penjaga bandara yaa?"