Human-Z

Human-Z
Chapter 31 : Malam Berdarah, bagian 2



"Garuda-45 tim 7 segera laksanakan!" Seru Rafael.


Mereka semua bergerak secara perlahan agar tidak diketahui oleh kelompok dokter Lee, sebelumnya mereka belum tahu bahwa dokter Lee bukanlah yang asli melainkan kembarannya.


Sebuah auman anjing menyertai pergerakan mereka, dikesunyian malam yang hanya diiringi suara jangkrik dan deburan ombak. Kelompok Reynal dan kelompok 7 yang dipimpin oleh Rafael mulai bergerak dan mencari keberadaan masing-masing.


...----------------...


Tim Rafael mengendap-endap untuk menuju tenda mereka. Disana mereka meletakkan senjata mereka masing-masing. Hanya Bryan yang memegang senjata pistol silencer kecilnya.


"Ssst!" Rafael menghentikan langkah kaki kelima sahabatnya.


Disana terlihat didepan tenda mereka berjaga 2 orang yang bersenjata lengkap, senjata kelas berat berjenis Ak-47. Reynal benar-benar tidak memberi kekosongan untuk para murid SMK Misu.


"Mau mulai sekarang kah?" Tanya Rafael meminta pendapat.


"Jangan, biar aku selesaikan." Ujar Bryan kemudian maju satu langkah.


2 silencernya dia arahkan ke masing-masing kepala penjaga itu. Dengan akurasi yang tinggi, Bryan mulai menembakkan 2 kali peluru silencernya.


Psyut !! Psyut !!


2 penjaga itu terkapar tewas ditembak oleh Bryan. Pandangannya hanya kosong. Sungguh ketenangan yang sangat gila. Mereka benar-benar sangat terlatih, penerus dari keagenan Garuda-45 telah muncul.


"Ayo!"


Rafael dan kelima sahabatnya pun bersiap-siap di dalam tenda mereka. Disana mereka mulai mempersiapkan persenjataannya. Gerakan mereka sangat cepat dalam mempersiapkan semuanya yang dipimpin oleh Rafael.


"Jangan sampai membunuh lagi, kita hanya harus membuat mereka pingsan." Ujar Rafael dengan tatapan serius.


"Laura dan Eva pergi ke bus, kalau ada penjaga, coba untuk membuat penjaga itu pingsan. Tapi kalau terdesak, bunuh mereka." Lanjut Rafael.


Mereka pun bergerak sesuai perintah Rafael. Mereka bergerak dengan berpencar agar lebih cepat dalam membuat lumpuh lawan.


Disisi Rafael, dia sedang mengendap-endap dan melompati kontainer-kontainer bekas. Dia mengawasi sekitar, dia menghitung penjaga dengan indra pendengar dan matanya. Total 7 orang yang sedang berjaga dan sangat waspada, bahkan kerikil kecil yang dilempar oleh Rafael langsung ditembak begitu saja oleh para penjaga itu.


"Hemm... Kesempatanku melumpuhkan musuh hanya 1 menit."


Rafael mulai bergerak ketika 7 orang itu tidak saling melihat, dia bergerak seperti ninja. Diam-diam menghanyutkan, sungguh berbahaya.


Dug !!


"Satu." Rafael memukul leher satu orang penjaga, hampir saja penjaga itu ambruk dan berbunyi dengan keras beruntung Rafael cepat menangkapnya.


Srek !!


Rafael menyeret penjaga itu masuk di dalam kontainer bekas. Setelah itu Rafael mulai bergerak sedikit demi sedikit.


"Eh!" Salah satu penjaga melihat Rafael namun Rafael langsung melesat kemudian memukul lehernya.


"Ra..." Kemungkinan penjaga itu mau berucap nama Rafael, namun sudah pingsan ditempat.


"Fwuuuh... Hampir saja."


Rafael bergerak secara perlahan dan menjatuhkan satu persatu total 7 penjaga di bagian Barat pelabuhan itu. Dia selesai melumpuhkan kekuatan sisi Barat.


....


Disisi Clara, dia memantau dari ketinggian. Dia menemukan satu menara pemantau yang dibuat dengan kayu, seperti baru dibuat saat mewabahnya virus. Clara sempat melumpuhkan 2 orang penjaga disitu dengan menendang masa depan mereka dari belakang, sungguh ironis, bukan?


"Hihihi... Mereka pingsan padahal hanya ditendang sedikit masa depannya, tapi sepertinya aku terlalu kuat tadi."


Clara memantau menggunakan scope snipernya, dia melihat Rafael yang melompat-lompat diantara kontainer.


"Rafael masuk, didepanmu arah jam 2 ada 3 orang sedang berdiri waspada." Ujar Clara dialat komunikasi yang berada di telinganya.


'Okey, dimengerti.'


"Si... Sial !! Jangan disitu Bryan !!" Teriak Clara menghubungkan komunikasi ke Bryan.


'Woahah... Hampir saja, beruntung kau beritahu.'


Terlihat dari scope milik Clara, satu langkah lagi Bryan maju maka dia kemungkinan akan mati ditempat. Bagaimana tidak, disana terdapat 3 orang yang sedang berbincang-bincang dan tetap waspada dengan memegang pelatuk senjata M4 mereka sewaktu-waktu ada orang yang datang. Lokasi Bryan sendiri di sisi Timur dari Rafael.


"Hemm... kenapa mereka tidak mencari kita? Hanya berjaga saja yaa... Mencurigakan." ~Batin Clara bertanya-tanya.


....


Ditempat Revi, dia berjalan dengan santainya namun tetap waspada untuk mendengar sekecil apapun suara. Saat ini dia berada di dekat pintu gerbang utama. Disana dia mendapati 4 orang penjaga dengan persenjataan lengkap. Revi bersembunyi dibalik bangunan.


"Revi disini, apa diizinkan kontak senjata?" Tanya Revi dialat komunikasinya dengan menghubungkan seluruh sahabatnya.


"Eh!" Revi terkejut ketika pintu gerbang tiba-tiba terbuka.


Disana menampakkan puluhan zombie yang merangsang masuk. Namun anehnya pintu gerbang otomatis itu terbuka dan keempat penjaga itu pun sadar.


Mereka masuk ke salah satu bangunan kemudian menutup pintunya. Kemungkinan menurut Revi, mereka telah membukakan pintu gerbang dengan senang hati untuk para zombie.


'Kita buka kontak senjata dengan suara peluru keras dari sniper AWM milik Clara.' Rafael menjawab pertanyaan dari Revi.


'Hei !! Katanya Plan A !!' Bentak Clara.


'Kita gunakan Plan A rancangan B.' Ujar Rafael dengan datar.


Dor !!


Suara peluru menggelegar di malam itu dan di lokasi itu. Peluru dari sniper Clara yang membuat penjaga yang masih sadar langsung berlarian. Zombie-zombie yang baru masuk itu pun terpancing sehingga berlarian masuk ke dalam pelabuhan.


Dor !! Dor !! Dor !!


Revi menembaki beberapa zombie kemudian mengarahkan moncong Ak-47 nya ke pintu bangunan yang dimasuki 4 orang penjaga. Pintu itu baru saja terbuka dan peluru dari Revi langsung menghujani mereka.


**


Dia sekarang tidak lebih dari pembunuh berdarah dingin. Namun menurutnya para penjaga dan dokter Lee A.K.A Reynal lebih kejam, menghabisi survivor tanpa perasaan sedikit pun. Bagaimana pun, survivor dan Alexander memberikan tempat yang nyaman buatnya, namun dia malah berkhianat.


...


Bertempat di bus yang berada dibelakang hanggar kapal, Eva dan Laura menyayangkan karena bus mereka dibocorkan keempat bannya. Tapi isinya masih aman-aman saja tidak mengalami kerusakan yang berarti.


"Kita kesulitan kalau berjalan ini." Ujar Eva.


"Apa kita pindah mobil? Tuh ada mobil yang nganggur. Lagipula besar juga mobilnya, cocok tuh." Ujar Laura menunjuk sebuah mobil didalam hanggar.


Ketika Eva melihatnya, dia terkejut bukan main. Bagaimana tidak, mobil yang sangat dia sukai telah ada di depan matanya, bukan lagi di majalah otomotif dan televisi. Hummer H1, sebut saja seperti itu. Mobil yang berbodi besar, kokoh dan tangguh. Bahkan edisi spesialnya, menurut Eva telah dipasangi baja anti peluru 20 mm dan sekarang edisi spesial itu ada didepannya dengan warna mobil hitam elegan.


"I... Itu mobil terbaik untuk sekarang kita pakai !!" Seru Eva dengan girangnya.


Di atas kap mobil itu terlihat kunci mobilnya, tentu itu membuat Eva sangat sangat senang. Semua rezeki nomplok datang padanya. Dia segera mengendarai mobil itu dengan memindahkan sekotak amunisi berukuran 50 cm × 50 cm dari bus ke dalam bagasi mobil Hummer H1 tersebut.


"Yuhuu..." Eva menancap gas dan menabrak sebuah pos kecil disana, sudah ditentukan, pos itu hancur.


"Kami berdua menunggu di gerbang utama!" Seru Eva dialat komunikasi dengan dihubungkan ke semua sahabatnya.


'Jangan ke gerbang utama, disini kacau. Banyak zombie berdatangan. Ke gerbang cadangan saja di Barat Laut dari gerbang utama.' Terdengar suara Revi bergema dengan suara senjata miliknya.


***


Rafael sampai disuatu bangunan yang dipenuhi Machine gun terpasang di sisi kanan dan sisi kiri bangunan itu. Sebuah pertahanan yang sangat kuat dari gempuran zombie. Bangunan ini memiliki arsitektur Eropa, sungguh aneh berada di dalam lingkup pelabuhan.


Pintu bangunan itu tiba-tiba terbuka dengan kasar menampakkan dokter Lee sedang memegang Rocket Launcher. Senjata itu dia arahkan ke Rafael.


"Menyerah saja, aku membutuhkan darahmu lebih banyak untuk menyembuhkan anakku di tabung itu !!"


Sebuah perkataan yang membuat Rafael terbelalak. "Oh... Aku Reynal, saudara kembar dokter Lee yang terpisah jauh dariku. Aku dibesarkan oleh keluarga pembunuh di Indonesia, dia sendiri jadi dokter terkenal. Sungguh tidak adil, bukan?" Lanjut Reynal sambil melangkah maju menuju Rafael.


"Anak? Reynal? Hemm... Jadi itu adalah hasil eksperimen vaksin dari dokter Lee itu sendiri yaa dan kau melanjutkannya dengan niat buruk. Ternyata kau hanya peniru. Nyatanya kau mau menghancurkan Indonesia yang adalah negara tempatmu dibesarkan." Ujar Rafael menjatuhkan linggisnya.


"Hahaha hahaha hahaha !! Aku suka perangaimu. Kau akan jadi aset berharga untukku. Kau akan membantuku menguasai dunia sekarang." Reynal nampak gila dengan tertawa keras nan kejam.


"Anakmu sebenarnya bukanlah yang pertama kan? Kau hanya mengarang cerita itu." Ujar Rafael.


"Kalau iya kenapa? Kau mau menghabisiku? Ckckck, kau seharusnya tunduk dihadapanku. Aku memiliki banyak anak buah !!"


Seketika puluhan orang bersenjata lengkap datang dari berbagai arah. Mereka menodongkan masing-masing senjata mereka pada Rafael.


"Bisa?" Bisik Rafael dialat komunikasinya yang terhubung pada Clara.


'Serahkan padaku.'


Dor !! Dor !! Dor !! Dor !!


Puluhan peluru dengan cepat dalam 1 menit menghabisi 21 orang yang datang. Awalnya mereka tidak panik dan mencoba mencari arah peluru itu datang tanpa memperdulikan Rafael, namun menjadi panik dan berhamburan karena teman-teman mereka terus berjatuhan akibat tembakan dari Clara.


"1 menit anak buahmu tak bisa apa-apa." Ujar Rafael santai sambil mengambil sebuah senjata yang dimiliki anak buah Reynal, berjenis M4.


"Aku sih tidak terbiasa memakai senjata api." Ujar Rafael santai.


Terlihat Reynal nampak terduduk gemetaran ketika anak buahnya dihabisi dalam sekejap oleh sniper Clara. Hanya satu kata yang terbesit pada semua orang jika melihat Clara beraksi, menyeramkan.


"Cepat katakan dimana Anindira." Ujar Rafael berjongkok dihadapan Reynal yang terduduk gemetaran.


"A... Em.. Di... Dia ada didalam !!" Reynal terbata-bata.


Tap !! Tap !! Tap !!


Revi dan Bryan datang di tempat yang diberikan oleh Clara. Mereka hanya melihat mayat bergelimpangan dan Rafael yang berjongkok menghadap pada Reynal.


"Dokter Lee !!" Seru Bryan.


"Dia bukan dokter Lee, dia adalah sang iblis yang menyerupainya." Ujar Rafael dengan emosi yang tinggi.


Kalian bertanya, kenapa emosi tinggi? Karena dia melihat kekejaman orang ini memerintahkan membunuh orang tak bersalah sewaktu dia berenang menjauh dari dermaga. Dia sangat menyimpan dendam sebenarnya pada Reynal ini, namun dia buang jauh-jauh agar tetap sadar pada keadilan untuk menghukum seseorang.


"Laura dan Eva menunggu di gerbang cadangan, kalian ayo cepat kita pergi dari sini. Tempat ini sudah jatuh karena tangan satu orang ini." Ucap Revi memandang jijik ke arah Reynal.


"Rafael !!" Anindira datang tergesa-gesa dari dalam bangunan.


Dia nampak panik, Rafael pun juga ikut sedikit panik. "A... Ada apa ?!!"


"Dia telah memasang bom waktu yang akan menghancurkan pelabuhan ini dalam 1 menit lagi !!"


"Hihi... Kalian akan mati bersamaku!!" Seru Reynal.


"Ayo !!" Tanpa sepatah kata pun selain ayo, Rafael berlari disusul oleh kedua sahabatnya dan Anindira.


Waktu hanya tersisa 30 detik, tapi gerbang cadangan masih lumayan jauh dengan beberapa belokan. Mereka berempat bertemu Clara diperjalanan menuju gerbang cadangan, Clara pun juga panik karena mendengar semua yang dikatakan Anindira pada Rafael lewat alat komunikasi Rafael.


|


Sudah terlihat mobil Hummer H1 yang Eva bawa, Eva dan Laura tentu terlihat panik juga karena sama dengan Clara. Mereka semua naik secara tergesa-gesa.


5... 4... 3... 2... 1...


Kaboom !!!


Hanya berjarak 10 meter dari gerbang cadangan di luar, pelabuhan meledak dengan dahsyat dan bahkan membuat gelombang ledakan menghempaskan sedikit mobil Hummer H1 itu hingga membuatnya oleng. Beruntung Eva mampu mengendalikannya dengan baik lagi.


Disana mereka nampak bernafas lega di malam hari ini. Pelabuhan runtuh ke lautan akibat terjadi longsoran kecil dibawah pelabuhan. Sempat terjadi gelombang naik ke daratan, beruntung tidak tinggi.


Hummer H1 pun melesat cepat membelah malam yang berdarah ini. Eva berencana menuju kembali ke hotel Setyo Hermawan. Petualangan mereka masing sangat jauh, tujuan mereka pun belum terpenuhi. Semua informasi yang diberikan Reynal hanya memiliki kesempatan 50% untuk dipercayai sekarang, tergantung pendapat masing-masing. Entah informasi yang beredar di dalam pelabuhan yang diberikan Reynal benar atau tidak, sekarang mereka hanya bernafas lega dan melewati malam berdarah itu.


~


Edisi spesial, sedikit lebih banyak dari Chapter biasa.