Human-Z

Human-Z
Chapter 40 : Kekuatan Human-Z Rafael Yang Sebenarnya



Bandara seketika menjadi ramai. Orang-orang berlarian menuju tenda masing-masing untuk berlindung begitupun orang-orang dari hotel Matahari. Machine gun yang disediakan di atas menara kayu diambil dan diletakkan dari arah datangnya para Human-Z.


"Mereka datang." Singkat Agus sambil membidik menggunakan M4 nya.


"Mereka?! Sebanyak apa kah?" Tanya Rafael sedikit terkejut.


"Entah. Kami hanya bisa bertahan terus menerus, mereka tidak bisa diajak kompromi." Jelas Agus.


Dum !! Dum !! Dum !!


Terdengar suara langkah kaki seperti raksasa dari arah depan mereka. Semuanya langsung siaga, bahkan tank satu-satunya yang mereka miliki disiagakan.


"I.. Itu raksasa?!" Seru Clara terbelalak ketika dari ujung jalan telah terlihat sosok raksasa.


Human-Z itu mempunyai tinggi sekitar 5 meter. Badannya besar dan dipenuhi besi-besi yang keras. Human-Z disekelilingnya terlihat sangat kecil.


"Dia sang penghancur." Ujar seorang tentara.


"Apa tujuan mereka memusnahkan manusia normal kah, hadeh... Padahal waktu mereka tidak lama untuk hidup di dunia lagi." Keluh Bryan kesal.


"Siap...!" Teriak Agus.


Ceklek !!


Para tentara dan polisi langsung saja membidik gerombolan Human-Z.


"Apa kita harus saling membunuh... Sungguh ironis." Gumam Rafael merasa sedih.


Para gerombolan Human-Z semakin mendekat. Mereka perlahan mendekati pintu masuk dari lingkungan bandara. Perlahan tapi pasti, mereka meyakini akan segera bisa meluluhlantakkan bandara.


"TEMBAK...!!!" Teriak dengan keras Komisaris Jendral Polisi, Agus.


Dor !! Dor !! Ratatata!!


Klang !! Klang !!


Peluru memantul akibat bersentuhan dengan besi-besi yang ada ditubuh Human-Z raksasa. Mereka yang seukuran manusia biasa langsung berlari. Ada yang menggunakan tentakel dari punggungnya untuk berlari, ada yang menggunakan kekuatannya untuk memodifikasi tubuhnya membentuk baju zirah, ada pula yang secepat Rafael, serta ada pula yang tubuh normalnya sekeras logam terkeras di dunia, tungsten.


Whuush !!


"Herkkh!!" Tidak disangka, Rafael terkena tendangan dari Human-Z yang memiliki kecepatan tinggi.


"RAFAAA !!" Teriak teman-temannya.


Bruak !!


Rafael terlempar 8 meter ke belakang. Para tentara tidak peduli, mereka terus menembak. Amunisi demi amunisi terpakai. Para Human-Z seakan mendominasi segalanya!


...----------------...


"Aku... dimana?"


Rafael melihat disekitarnya menjadi hitam pekat. Bahkan dia tidak bisa melihat karena kegelapan menyelimutinya.


"Aku adalah kamu. Kamu adalah aku!" Tiba-tiba terdengar suara yang sangat berat.


"Si.. siapa kau?!" Rafael berdiri dengan cepat dan mengalihkan pandangan ke seluruh sudut.


"Aku sebenarnya adalah virus CytraZ-24 yang telah bermutasi menjadi Human-Z."


"Hah?! Hahaha, aku jadi gila. Bisa-bisanya virus berbicara bahasa manusia! Ha.. hahaha!" Rafael tergelak tawa.


"Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?"


Tep!!


Sesuatu menyentuh pundak Rafael, dengan cepat dia membalikkan badan dan terlihat sosok yang berbicara. Sosok itu dalam keadaan telanjang seluruhnya, namun wajahnya membuat Rafael merasa aneh. Wajahnya mirip dengannya!


"Eehh!!" Rafael mundur ke belakang menjauh sosok itu.


"Jangan takut, aku itu adalah dirimu dan dirimu itu adalah aku juga." Ujarnya kemudian muncul sebuah cahaya dari dada kiri sosok tersebut, tepat dijantungnya.


"Ini adalah kekuatan dari virus Human-Z yang sebenarnya. Kamu belum sampai ke titik ini, dan orang-orang yang menyerang kalian sudah sampai ke titik ini." Sosok itu mengambil cahaya dan memperlihatkan pada Rafael.


Cahaya itu berkedip-kedip. Seperti tidak sabar untuk segera menyeruak keluar.


"Hah? A.. aku sudah gila!! Dasar! Sedang apa aku ini kah? Hoi! Rafa bangunlah, bantu sahabat-sahabatmu sana!! Rafa sadarlah!" Rafael menampar sendiri pipinya.


"Tujuanmu untuk sadarkan diri apa?" Tanya sosok itu dengan wajah yang benar-benar datar tanpa ekspresi.


"Membantu sahabat-sahabatku, dan membantu para tentara serta polisi itu!" Seru Rafael.


"Sudah jelas. Tapi apa tujuanmu sebenarnya?"


"Tu.. tujuanku..."


"Tujuanku untuk menemukan keluargaku dan melindungi mereka!" Pekik Rafael sedikit kesal.


"Itu tujuan yang mulia. Hanya saja apa tujuanmu hidup menjadi dirimu yang sekarang?"


"Aaarrghh!! Kau membingungkan!"


Rafael dengan cepat berlari ke arah sosok itu kemudian meninju perut wajahnya dengan kuat. Sosok itu jatuh tersungkur tanpa meringis sekalipun, wajahnya datar sedatar-datarnya.


Namun kali ini hati Rafael seketika bergetar akibat mendengar kata terakhir dari sosok itu. Dia merasakan sensasi menakutkan dari kata yang telah disebutkan terakhir kali.


"Tujuanku untuk menyelamatkan dunia!" Rafael dengan lantangnya menyerukan perkataan tersebut.


"Terimalah cahaya ini, konsekuensinya kamu akan benar-benar mati setelah 1 tahun masanya." Sosok itu memberikan cahayanya.


Deg!!


Rafael menyadari kata yang ambigu. Menurutnya, dengan tidak menerima cahaya itu, dia masih berkesempatan untuk hidup setelah 1 tahun masanya virus Human-Z yang berada di dalam tubuhnya. Jika dia menerimanya, maka dia tidak akan mampu hidup lagi setelah 1 tahun ini.


"Ti.. tidak mau!" Pekik Rafael menjauhi sosok tersebut.


"Kamu sudah menyebutkan tujuan utamamu, dan tidak bisa menolak, huplahh!" Sosok itu melemparkan cahaya terang pada Rafael dan masuk tepat dijantungnya.


"AAARRGHH!!" Teriak Rafael kesakitan.


Seberkas cahaya tepat di atas Rafael terlihat. Rafael mencoba menjangkaunya, dan dapat.


...


"Sadar Rafael!"


"Bangun! Kita terdesak!"


Ngiing !!


Dengungan ditelinga Rafael membuat Rafael langsung benar-benar sadarkan diri.


"Di.. dimana ini?" Tanyanya.


"Ini di bandara. Kita akan segera melarikan diri, kelompok mereka kata para tentara lebih banyak dari yang lalu." Ujar Clara cepat.


"Tidak bisa! Tidak bisa! Kita harus mempertahankan wilayah ini!" Rafael bangun dari tidurnya.


Dia langsung melesat dengan cepat hingga menyisahkan debu beterbangan. Para tentara hanya melongo kaget melihat Rafael secepat itu.


Rafael menabrak tubuh Human-Z raksasa. Dia sedikit terpental. Namun tiba-tiba Rafael seakan tertahan. Ketika dia melihat ke belakang, 6 buah tentakel berwarna hitam pekat sedang menahan dari jatuhnya Rafael.


Deg!!


Para Human-Z seketika menjadi berhamburan lari tunggang-langgang. Mereka menyadari bahaya mengintai dari 6 buah tentakel Rafael.


"A.. apa ini?" Rafael mencoba memegang tentakel hitam pekat itu yang muncul dari balik punggungnya.


"Coba aah!" Nafsunya menjadi tak terkendali.


Dia melesat dengan cepat kemudian menusukkan tentakel-tentakelnya pada beberapa Human-Z. Tentakelnya mengembang dan membuat cabang-cabang seperti ranting menusuk tubuh para Human-Z, setelah itu tubuh para Human-Z seakan perlahan menjadi abu.


Mata Rafael menjadi merah menyala, rambut putihnya tiba-tiba saja berubah menjadi warna hitam. Sungguh aneh!


Srak !! Ciprat !!


Rafael menjadi benar-benar tak terkendali. Dengan tentakelnya, dia mencabik-cabik tubuh para Human-Z. Matanya melihat Human-Z raksasa sedang melarikan diri, langsung saja dia melesat dan menusukkan 6 buah tentakel ke tubuh raksasa itu.


Plat besinya ditembus dengan mudah. Langsung saja tentakelnya mengembang kemudian mengeluarkan banyak ranting-ranting yang saling menyambung, terlihat yang seperti ranting itu rapuh namun sebenarnya sangat kuat. Rafael langsung mencabik-cabik tubuh raksasa itu kemudian meneteskan darahnya ke mulutnya.


"Da.. rah.. Ma.. ka.. nan!"


***


Disisi para tentara-polisi dan kelima sahabat Rafael serta Wahyu dan pak Setyo sedang melihat keberingasan dari Rafael. Mereka memiliki perasaan khawatir yang sama. Bukan Human-Z asing yang akan memusnahkan mereka namun Rafael sendirilah yang akan seperti itu. Melihat banyaknya sudah korban dari para Human-Z pemberontak.


"Kita berlindung terlebih dahulu, untuk tank bisa terus bidik dia. Dia adalah ancaman!" Perintah Agus.


"Ti.. tidak bisa begitu pak!" Timpal Clara tidak setuju.


"Kau lihat sendiri, Clara! Rafael sudah bukan Rafael yang dulu!" Pekik Bryan dengan perasaan tertohok.


"Ra.. Rafael!" Clara mulai terisak tangis.


"Kita harus segera berlindung!" Seru pak Setyo.


Laura diam seribu bahasa, namun di dalam hatinya sudah meneriakkan Rafael untuk segera berhenti melakukan itu.


Apa yang terjadi dengan Rafael? Hanya itu yang ada dipikiran semua orang. Awalnya Rafael hanya pingsan, setelah sadar dia malah tidak terkendali.


"Kak..." Lirih Wahyu.


Deg!!


Semuanya seketika merinding saat Rafael melihat mereka seperti hewan buas yang akan memangsa korbannya.


"Dia..." Ujar Komisaris Jendral Polisi, Agus. Dia merasa sedikit sedih.


Whuush !!


"TEMBAK!!" Teriaknya.


Dar !!