
Di detik Rafael sebelum menutup mata untuk pingsan, dia menghafal jelas situasi di sana. 3 orang asing yang mendekatinya ditambah seorang anak kecil yang menyeringai jahat.
"Apa yang kita lakukan dengan dia?"
"Buang ke laut?"
"Oh, ayolah, Dua. Pikiranmu selalu seperti itu."
"Manfaatkan dia. Aku merasakan entitas yang lebih berbahaya dari punyaku di dalam tubuhnya!"
"Benarkah itu, Empat?"
...
Percakapan itu adalah yang terakhir kali didengar oleh Rafael sebelum benar-benar tak sadarkan diri. Dia sekarang hanya pasrah terhadap hidupnya. Dia mengutuk dirinya sendiri tidak mampu bertahan hanya dengan seperti ini.
Dulu, dia sempat bertahan saat di hotel Matahari. Namun, dia sekarang seperti menjadi lemah.
Sudut Pandang Orang Pertama, Empat, seorang anak kecil, AKTIF.
Aku adalah anak kecil yang terjangkiti CytraZ-24. Namun, dengan bantuan kakak-kakak angkatku, aku menjadi seorang Human-Z dalam waktu singkat.
Saat ini, aku sedang berada di dalam ruangan dan menjaga orang yang sepertiku juga. Dia memiliki rambut putih keperakan dan jika aku membuka matanya, terlihat berwarna putih. Aku tidak tau mengapa kakak asing ini menjadi Human-Z.
Aku hanya membalas budi kepada 3 kakak angkatku. Aku menjadi penyintas jahat sekarang. Aku yang terlihat polos ini, tetapi pikiranku sangat liar dan beringas. Aku bahkan bisa menyeringai jahat kepada kakak asing ini.
"Apa yang kakak lindungi di kapal itu?" tanyaku.
Yap, tak ada jawaban. Kakak ini hanya terbaring lemah di atas lantai yang dingin. Aku berdiri dan mendekatinya serta jongkok di hadapannya. Setelah itu aku menyentuh pipinya dengan jari telunjukku.
"Kakak ... kakak ..." panggilku.
Aku penasaran dengannya, dan jika bisa aku ingin meminta maaf kepadanya yang sangat kasar tadi. Sekarang, 3 kakak angkatku sedang berada di kapal kecil itu. Entah apa yang mereka lakukan. 3 lelaki itu seperti seumuran dengan kakak asing ini, tetapi nyatanya 3 kakak angkatku lebih tua 5 tahun sampai 7 tahun.
"Kakak ..."
Perlahan tapi pasti, mataku mendapatkan gerakan kecil dan bertahap. Mulai dari jari-jarinya yang bergerak kemudian menjadi keseluruhan badan. Dia perlahan membuka kelopak matanya. Aku tetap menunggu dengan setia.
"Kakak, kamu tidak apa-apa?"
Aku, seorang penyintas jahat malah bertanya dengan ramah kepada tahanan kakak-kakak angkatku. Perlahan kakak asing di depanku beranjak dari tidurnya dan mulai duduk.
Dia nampak kebingungan. Matanya tertuju pada diriku. Aku berdiri dan mundur beberapa langkah.
"Anak kecil yang tadi?" ucap kakak asing ini dengan lemah.
Aku mengangguk. Mataku langsung saja tertuju pada perutnya. Gila! Aku benar-benar bisa gila di masa kecilku yang masih berumur 7 tahun ini. Perutnya yang aku tusuk dengan tentakelku benar-benar kembali seperti semula.
"Aarrghh!" Gerakan kecil dari kakak asing ini langsung membuatnya merintih.
Aku berpikiran bahwa perutnya memang kembali, hanya saja organ-organ di dalamnya belum sepenuhnya kembali. Aku membayangkannya dengan runtut. Itu benar-benar mengerikan jika ini bukan dizaman kiamat zombie.
Aku memang masih memiliki umur 7 tahun, tetapi pikiranku seperti orang dewasa pada umumnya. Tau beberapa hal yang anak kecil seumuranku tidak tau. Organ tubuh? Itu kebanyakan tidak diketahui anak seumuranku!
"Kakak ... kakak tidak apa-apa?" tanyaku pelan.
"Herkh! Y-ya ... aku tidak apa-apa," ucapnya sambil bernapas terengah-engah.
"Hah!? Dimana speed boat itu? Dimana ini?" pekik kakak asing itu sambil berdiri.
Aku merasa ngilu terhadapnya, yang tadi merintih kesakitan, sekarang seperti sedia kala.
"3 kakak angkatku sedang berada di sana. Kakak ini sedang berada di bangunan dekat pantai sini."
Kakak asing ini hanya mengangguk paham. Kemudian dia mendekatiku dengan aura ramahnya. Benar-benar berbeda ketika aku menusuknya dari belakang. Ya, walaupun itu cara yang curang, tetapi aku terpaksa juga melakukannya karena kakak-kakakku sedang terdesak dengan kakak asing ini.
Aku yang terbawa suasana ramah olehnya pun mengucapkan sesuatu yang cukup rahasia.
"Disuruh kakak-kakak angkatku. Awalnya aku terjangkiti CytraZ-24 dan menjadi bukan diriku. Kemudian kakak-kakak itu melakukan sesuatu padaku dan membuat kesadaranku kembali pada tubuhku. Itu kata mereka sih," ucapku sambil cengengesan.
Kakak asing ini mengangguk kemudian mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, namaku Rafael, Rafael Smash."
Mataku berbinar. Kakak asing, ah tidak. Kakak Rafael ini sangat baik dan ramah.
"Na–namaku ... Empat?" ucapku ragu.
Nama sesuai dengan nomor ini dicetuskan oleh kakak Satu. Perlahan aku sendiri bahkan melupakan nama asliku. Jadinya aku hanya bisa menerima nama angka empat.
"Empat? Ya, aku dengar saat di dermaga kalian memanggil dengan nomor. Baiklah, agar lebih akrab aku memanggilmu ..."
Kakak ini menggantung kalimatnya dan membuatku penasaran.
"Hugo," lanjutnya sambil memalingkan wajahnya.
Perlahan aku melihat air mulai muncul dari matanya. Dia menangis!
"Kakak kenapa?!" seruku panik.
"Ah tidak. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku hanya teringat sesuatu," ucapnya sambil mengelap air matanya pelan dan menatapku penuh hangat.
Aku merasakan tatapan kehangatan darinya, bahkan melebihi tatapan dari kakak-kakakku.
Kakak ini mempunyai sesuatu di dalam tubuhnya yang lebih berbahaya dariku, tapi dia terlihat baik-baik saja. Aku yang memiliki efek samping sakit kepala akibat kekuatan ini cukup menyakitkan. Kakak ini? Dia tidak memiliki efek samping kah?
"Jadi, apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya kakak Rafael.
Aku memiringkan kepalaku sebagai tanda bingung.
"Ah, itu. Maksudku, apa yang akan kalian lakukan denganku? Terus apa yang akan kalian lakukan dengan kapal itu?"
"Itu ... kakak-kakakku mau menyeberang ke Kalimantan dan mencari keluarga mereka di sana."
"Tapi apa yang kau dan kakak-kakakmu lakukan itu tidak baik," ucap kakak Rafael sambil mengelus kepalaku.
"Ya, kami penyintas jahat," ucapku sambil memalingkan wajah ke tempat lain.
"Penyintas jahat yaa ..." gumam kakak Rafael yang masih dapat aku dengarkan.
"Empat! Kami pulang!"
Sret!
Kakak Rafael langsung mengambil tempat di tempatnya tadi. Dia meringkuk sama persis seperti tadi. Dia berperilaku bagai seseorang yang masih tak sadarkan diri.
"Empat ... bagaimana? Dia sudah sadar?"
Satu datang kepadaku sambil mengelus rambut hitamku. Dia bahkan mengacak-acaknya.
"Belum, Kak!" jawabku lantang.
Aku, seorang penyintas jahat berbohong kepada kelompokku sendiri? Maafkan aku kakak-kakakku, aku sepertinya akan berpihak kepada kakak Rafael. Dia memiliki keramahan yang beda dari kalian.
Sudut Pandang Orang Pertama, Empat, seorang anak kecil, NONAKTIF.
Sudut Pandang Orang Pertama, Rafael, AKTIF.
***