
Di hotel Matahari, entah bagaimana mereka tahu bahwa murid SMK Misu akan datang. Orang-orang di hotel menyambut mereka dengan senang di malam hari itu. Hotel Matahari sedikit mengalami peningkatan pertahanan.
Mereka membuat barikade dengan menggunakan mobil. Itu agar menghambat jalannya para zombie, cukup bekerja juga.
"Selamat datang kembali !!" Seru pak Setyo sambil merekahkan senyuman.
"Kalian sudah memiliki mobil baru yaa!" Ujar rekan pak Setyo yang berada di sampingnya.
"Bagaimana petualangan kalian?" Tanya pak Setyo.
Keenam murid SMK Misu hanya terdiam lelah, Anindira saja menunggu perkataan tentangnya dari Rafael pada pak Setyo. Dia takut, malah dia akan dianggap musuh atau apapun yang merugikan kelompok hotel jika belum dijelaskan apa-apa.
"Berdarah." Singkat Rafael dengan suara parau.
Dia kedinginan, pakaiannya yang basah bahkan kering diperjalanan menuju hotel. Laura sangat menggigil hebat, hingga rekan pak Setyo sadar, dia segera membopong Laura yang lemah ke dalam hotel agar merasakan kehangatan.
"P... Pak, Ka... Kami kedinginan, jangan dulu tanya-tanya." Ujar Clara dengan gemetaran.
Akhirnya mereka semua istirahat di kamar mereka sebelumnya, dan Anindira berada di sebelah kamar dari SMA Misu. Cukup tahu dan cukup dimengerti, dia pasti sangat terpukul akibat orang-orang pelabuhan habis tak tersisa bahkan orang yang dia sangat percaya harus berkhianat disaat-saat yang tak tepat. Dia pingsan saat perjalanan menuju lantai 6 kamar nomor 235, dia diangkat oleh Revi dan Bryan. Ibu resepsionis hotel merawatnya untuk sementara.
Dikamar murid SMK misu. Disana mereka berbaring di tempat tidur mereka masing-masing dengan perasaan mulai tenang. Sebelumnya mereka telah berganti pakaian dengan pakaian yang mereka telah jarah beberapa minggu sebelumnya. Ya, mall terkenal di Palu mungkin mereka borong.
Rafael, memakai hoodie berwarna hitam, celana kain panjang, di dalam hoodie dia memakai kaus biasa berwarna merah. Cukup kasual untuk seorang Rafael.
Bryan, memakai blus pria berwarna kecoklatan dengan celana kain berwarna coklat juga. Bryan sangat suka model seperti itu, sebelum kehancuran manusia di wabah virus zombie atau CytraZ-24 ini, di kamar milik Bryan satu almari penuh dengan blus pria bermacam warna dan celana kain panjang bermacam warna juga.
Revi, memakai celana jeans dan baju kaus biasa berwarna putih. Cukup kasual juga seperti Rafael.
Laura, memakai blus wanita berwarna putih dengan paduan celana kain panjang agar mudah bergerak daripada memakai rok. Begitupun dengan Clara dan Eva, mereka memakai pakaian yang sama dan bedanya hanya bagian warnanya. Clara blus berwarna coklat dan Eva blus berwarna hitam.
***
Rafael terbangun dari baringnya, dia berjalan menuju teras balkon. Disana dia memandangi gelapnya malam di perumahan-perumahan yang ditinggali pemiliknya, gedung perkantoran yang sepi tak berpenghuni. Sudut mata Rafael seketika memandang salah satu lantai di gedung kantor IFB, kantor perkreditan. Di lantai itu tiba-tiba lampunya menyala mati.
"Clara !! Lihat sini !!" Seru Rafael membangunkan Clara.
Clara dengan malasnya berjalan ke Rafael. Saat matanya tertuju dimana lantai yang lampunya menyala mati, Clara seketika senang. Dengan cepat dia mengambil sniper miliknya untuk memakai scopenya.
"Hmm..." Gumam Clara sambil melihat scopenya.
"Itu seperti kode morse." Ujar Clara pada Rafael namun masih tetap fokus ke scopenya.
"Tolong..."
"...Kami."
Clara membacakan hasil kode morse itu. Mata Rafael menjadi berbinar setelah tahu akan ada lagi orang yang selamat di zaman kehancuran wabah virus zombie ini.
"A... Ada orang di jendelanya !!" Seru Clara.
Dengan cepat Rafael menyala dan mematikan lampu kamarnya dengan pola yang semestinya. Hasilnya ialah Hotel Matahari. Akibat mati dan menyala lampu itu, keempat sahabatnya yang tertidur pulas jelas terbangun.
"Kenapa nih?" Ujar Revi sambil mengucek-ucek matanya.
"Ada orang di bangunan seberang. Dia membuat kode morse agar kita membacanya." Ujar Rafael dengan perasaan senang.
"I... Iya kah ?!" Revi beranjak dari tempat tidurnya dan menggunakan teropong yang mereka miliki.
"Ah... Kau benar." Lanjut Revi sambil memandangi salah satu lantai di gedung itu.
"Kita jemput ?" Tanya Bryan masih dengan suara seperti baru bangun tidur.
"Boleh sih. Oke, aku dan Eva yang jemput ke sana. Kalian buatkan kode morse agar mereka menunggu terlebih dahulu." Ujar Rafael sambil mengambil linggis miliknya.
"Eva, kau bawa Glock-19 saja." Lanjut Rafael sambil melempar sebuah pistol pada Eva.
"Oh, aku tau. Jadi aku yang harus mengemudi hah ?!" Eva nampak tak terima dia diganggu dalam tidurnya.
"Yaa mau gimana lagi. Hanya kau yang paling ahli mengendarai mobil besar seperti itu. Aku bisa, tapi mobil yang memiliki bodi lebih kecil, seperti Aela."
Sebuah pernyataan itu membungkam Eva, dia hanya menunjukkan raut wajah cemberut dan kesal. Mau tidak mau dia harus melakukannya.
...
Rafael terlebih dahulu meminta izin pada Setyo Hermawan dan menjelaskan tentang lampu yang menyala mati yang memiliki arti dari kode morse ialah Tolong Kami.
|
Diperjalanan menuju kantor IFB. Jarak dari hotel ke kantor itu jika ditarik garis lurus sangat dekat. Hanya berjarak 150 meter saja, namun ini mereka harus menggunakan jalan yang semestinya. Jarak yang mereka tempuh lumayan jauh sekitar 500 meter, karena beberapa jalan ditutupi gerombolan zombie. Itu membuat lelah untuk berurusan terus menerus dengan zombie.
"Yosh... Kita sampai." Ujar Eva sambil menarik rem tangan.
"Kau disini saja, aku ke dalam." Ujar Rafael sambil turun dari mobil.
Dia melihat-lihat sekitar dengan waspada, takutnya ada zombie yang menyergah ataupun orang jahat.
...
Lantai 6, disana Rafael dihadang barang-barang perkantoran saat menginjakkan kaki di lantai 6. Itu sudah pasti mereka membarikade jalan agar tidak ada yang bisa naik.
"Yuhu... Hello Everybody ??!" Teriak Rafael.
Rafael melihat ke arah jendela, benar saja. Disana telah terlihat lampu yang menyala mati dari hotel Matahari. Itu mengisyaratkan sesuai apa yang Rafael katakan tadi.
"Ha... Halo ?" Tiba-tiba terdengar suara wanita yang lembut.
Rafael menyinari arah suara itu, dan terlihat seorang wanita yang memakai pakaian kantor, itu sangat lusuh dan kotor. Rambut wanita itu berwarna kecoklatan, matanya sendu. Menurut pengamatan Rafael, wanita ini berumur 20 tahunan.
"Hanya anda ?" Tanya Rafael.
"Oh, ada teman-teman saya. Ayo ikuti saya. Mereka lumayan takut." Ajak wanita itu.
Rafael mengikuti ajakannya dengan tetap waspada. Dia takut, bahwa dia dijebak. Namun perasaan buruk sangkanya seketika menghilang ketika melihat 1 orang wanita berpakaian kantoran lusuh dan kotor yang terduduk lemah dan 2 orang laki-laki yang terduduk dengan raut wajah depresi, pakaian mereka juga lusuh dan kotor.. Ruangan ini terbilang luas dengan penerangan yang cukup.
"Me... Mereka teman kantoran saya. Saya disini terbilang junior lah." Ujar wanita yang ditemui oleh Rafael pertama kali.
"Siapa yang membuat kode itu ?" Tanya Rafael dengan keras agar didengar oleh mereka semua.
"It's me." Datang seorang pemuda sambil menyentuh bahu Rafael.
Rafael langsung berbalik dan mendapati lelaki berwajah tegas memakai pakaian blazer pria lengkap berwarna dasar putih dan hitam. Seketika Rafael membeku.
"Hello, number 001." Sapa pemuda itu.
"No... Nomor 098 !!?" Seru Rafael dengan terkejut.
"Ha? Eh... Eh..." Wanita yang pertama kali ditemui Rafael hanya celingukan melihat wajah serius dari Rafael dan pemuda yang ada dihadapan Rafael.
"Lama tidak berjumpa. Saya rasa kamu sudah berpengalaman diluar sana dalam menghadapi wabah mematikan ini." Ujar pemuda itu.
"Ya, sudah lama kita tidak berjumpa. Saya rasa ini reunian yang ironis." Balas Rafael dengan suara datar.
"Apakah kita harus seformal itu ?" Tanya pemuda itu sambil berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Garuda-45 sudah hampir hancur, 098. Sekarang, aku mau tanya. Apa kita dapat informasi tentang wabah ini ? Sekolah... Ah, tidak. Markas sudah aku tinggalkan, hanya aku, 002, 003, 004, 005, dan 006 yang terakhir kali berada disana."
"Jangan terlalu seriuslah. Memang benar yaa, generasi 001 sampai 006 itu selalu serius dari aku pertama kali menjadi bagian kalian." Ujar pemuda itu atau yang memiliki nama kode 098 sambil duduk di salah satu kursi disana.
"Ah... Juniorku kelas 10 ini memang harus diberi pelajaran, haha!" Rafael terkekeh kecil mendengar perkataan dari 098.
Percakapan yang tak bisa dimengerti oleh keempat pekerja kantoran. Mereka yang awalnya lemah lesu, ini malah berbinar dan menyimak percakapan aneh bagi mereka. Tapi, percakapan ini sudah menjadi kebiasaan dari para agen Garuda-45.
"Oke. Apakah kita bisa saling memanggil nama?" Tanya 098.
"Boleh, karena kita tidak dalam misi. Itupun kelas 10 belum melakukan misi, hanya kelas kelulusan yang bisa." Ujar Rafael dengan santai.
"Oke, kak Rafael. Aku terjebak di kantor ini dari sebulan lalu. Aku tidak sekolah saat sekolah diserang para zombie. Aku lagi menemani ibuku melakukan kredit motor disini." Jelas 098.
"Oh... Tapi kenapa kau tidak pergi keluar, Wahyu ?"
"Awalnya beberapa hari setelah aku dapat kabar bahwa sekolah telah jatuh, aku sebenarnya mau pergi. Tapi keempat orang ini ketakutannya bukan main, padahal pegawai lain sudah melarikan diri. Sempat pemerintah memberikan sms darurat nasional, tapi keempat pegawai kantor ini tidak mau meninggalkan kantor mereka. Katanya tempat ini paling aman..."
"...Padahal mereka akan mati kelaparan disini. Dari awal-awal serangan zombie sebulan lalu, aku pakai kode morse itu. Tapi tak ada yang respon, akhirnya dari hotel Matahari ada yang respon sekarang. Beruntung bertemu kak Rafael."
Jelas Wahyu panjang lebar. Menurut ingatan Rafael, anak 098 atau Wahyu ini lumayan aktif orangnya. Tapi disaat serius, dia tidak akan menghiraukan pengganggu agar keseriusannya dapat terus berjalan.
"Oke, nanti lagi jelaskannya. Kakak-kakak pegawai ini sudah kebingungan, ayo ikut ke hotel Matahari." Ujar Rafael sambil memandangi keempat pegawai kantor itu.
Rafael memanggil mereka kakak karena menurut dia, mereka ini masih terbilang muda. Kemungkinan 20 tahunan keatas, pegawai yang tidak tetap.
Keempat pegawai ini nampak senang karena akan menemukan tempat yang lebih nyaman dari pada di kantor mereka sendiri.
...
Mereka semua turun kebawah dan mendapati Eva yang sedang kesulitan menghabisi para zombie, dia bahkan sampai harus menaiki atap mobil agar menembaknya mudah.
"Ck!" Decak kesal terpancar dari Rafael.
Dia langsung berlari dan mengayunkan linggis miliknya pada zombie-zombie yang mendekat ke arah mobil. Wahyu membantunya dengan menembaki para zombie menggunakan senjata api berjenis shotgun M1887. Cukup hebat dalam akurasi jarak dekat.
"Woy !! Awas menyebar pelurunya padaku !!" Teriak Rafael.
"Eh! Ma.. Maaf !!"
Keempat pegawai itu hanya tertegun melihat keganasan anak SMA dalam menggunakan senjata api. Mereka sangat tidak percaya akan hal itu sehingga mereka saling mencubit. Orang yang baru lulus universitas seperti mereka saja tidak akan bisa menggunakan senjata api.
Beberapa menit terjebak disana, akhirnya mereka semua pulang menuju hotel Matahari.