
Pukul 7 malam. Semua orang di bandara telah mengurung diri di dalam tenda. Makan malam mereka hanya angin. Namun, banyak orang yang menyimpan stok hari ini untuk di makan pada malam hari.
Gideon yang sedang duduk-duduk santai di gerbang masuk area bandara sambil menyeruput kopinya.
"5 jam lagi, ini sangat membosankan!" gumam Gideon sambil mendongakkan kepalanya ke langit. "Tak lama lagi anda akan sengsara tuan Agus!"
Malam dilewati dengan membosankan. Tanpa sepengetahuan Gideon, Agus telah mengirim pasukan bersenjata ke rumah Hendro.
***
Di rumah Hendro, disana sedang mencekam. Pasukan bersenjata telah mengepung dari segala sisi rumah. Semua orang hanya terdiam seribu bahasa. Tak berani berbicara sedikit pun.
"Pihak bandara benar-benar niat yaa," batin Rafael sambil bersandar di dinding.
Mereka dalam keadaan tegang. Awalnya mereka mengetahui bahwa telah dikepung saat Laura mengambil air dari halaman belakang. Dia menyadari bahwa di rumah tetangga di samping kanan, kiri, dan belakang telah ditempati orang.
Jaka yang penasaran akan hal itu, dia pun melihat ke rumah tetangga yang ada di sebelah kanan. Disana telah banyak pasukan bersenjata yang bersiap-siap mengepung rumah mereka. Jaka menyimpulkan juga bahwa itu adalah pasukan kiriman dari kelompok bandara.
Kembali lagi ke dalam rumah.
"Kita terdesak, entah kapan mereka akan menyergap kita," bisik Clara yang hampir tidak terdengar.
"Bagaimana ini, Pak?" tanya Bryan dalam keadaan berbisik dan menoleh bergantian kepada Setyo dan Hendro.
Setyo menunduk kemudian berkata. "Paling tidak kita akan kembali membuat nyawa orang menghilang," ucapnya lirih.
"Ah... seperti itu lagi yaa," sahut Rafael sambil bersandar frustasi di dinding.
Semua dalam keadaan dilema. Disaat keheningan itu, Laura berkata dengan pelan. "Bagaimana yaa... apakah kalian mau mengikuti rencanaku?"
Semua orang menoleh padanya dengan mata berbinar. Lampu temaram yang dinyalakan cukup untuk menyinari mata mereka yang berbinar.
Laura maju ke depan dan berbalik menghadap ke semua orang. "Oke, pertama-tama saya mengucapkan identitas kami."
Rafael, Bryan, Revi, Clara, dan Eva tersentak dan menatap tajam kearah Laura.
"Kenapa? Itu sudah tidak perlu dirahasiakan!!" pekik Laura sambil memajukan badannya.
"O-oke... terserah," ucap Rafael pelan. "Dia kembali kepada dirinya yang asli. Tegas, sedikit kejam, dan licik. Laura si tangan kanan ketua," batin Rafael merasakan merinding.
Laura menarik nafasnya dalam-dalam kemudian berkata dengan tatapan mata tajam. "Kita adalah agen Garuda-45 dari sekolah SMA Misu. Ketuanya di sekolah itu adalah Rafael. Oke, sudah dulu penjelasannya dan terkejutnya nanti saja!"
Tentu Setyo, Hendro, Jaka dan Nur Aini tidak bisa untuk tidak terkejut. Mereka hanya bisa ternganga lebar.
"Oke, bagaimana ketua? Apakah bisa menggunakan strategi 13?" tanya Laura menatap tajam Rafael.
Rafael terkejut kemudian berkata. "I-itu... oke. Kita lakukan itu!" seru Rafael dengan menyiratkan keseriusan.
"Strategi 13. Strategi yang mengharuskan untuk setidaknya mengorbankan seorang diantara orang yang melakukan itu sebagai umpan. Sisanya akan melumpuhkan satu-persatu targetnya!" jelas Clara.
Setyo terbelalak kemudian berkata. "Tidak! Tidak! Tidak bisa begitu! Kami orang tua disini ada untuk menjaga kalian!" teriak Setyo.
Beberapa saat setelah teriakkannya, tembakan terdengar dan memecahkan beberapa jendela di rumah itu. Semua orang langsung berjongkok sambil menutup telinga.
"Jangan ribut dong!" keluh Eva.
"Aku sebagai umpan!" seru Laura sambil berdiri dan menatap lurus ke depan. Tatapan matanya menyiratkan kesungguhan.
Semua terbelalak ditempat. Rafael langsung meraih Laura untuk kembali berjongkok. "Jangan coba-coba! Strategi itu aku tidak akan pernah gunakan untuk kedua kali! Sudah cukup aku berusaha menyelamatkan pengumpan 1 tahun lalu, tetapi tidak bisa! Jangan ada lagi yang meregang nyawa dengan strategi itu!" pekik Rafael dengan mata melotot.
Aura intimidasinya sangat kuat. Bahkan 2 buah tentakelnya keluar perlahan-lahan. Matanya berubah menjadi merah darah. Rafael menitikkan air mata ketika mengingat kejadian yang dia ucapkan, tetapi air matanya bukanlah cairan bening melainkan cairan berwarna merah.
"Aku akan nge-rush!" ucap datar Rafael.
"Rush? Gerakan yang buru-buru gitu? Asal terobos?" tanya Jaka dengan polos.
Rafael hanya mengangguk pelan. "Tentakelku bisa aku buat menjadi tameng."
"Hei! Aku lebih cocok seperti itu! Kekuatanku lebih menguntungkan!"
Rafael dan Jaka saling tatap kemudian mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Kami berdua akan melakukan itu," ucap Rafael disusul anggukan Jaka.
|
Akhirnya Rafael dan Jaka melakukan rencana yang tiba-tiba itu. Rafael menuju sisi sebelah kanan rumah, Jaka sendiri menuju sisi kiri rumah. Untuk sisanya bertanggung jawab sisi belakang dan depan rumah.
Di sisi Rafael, dia sedang berjalan pelan-pelan menuju pagar sisi kanan. Disana dia mengintip dari balik kawat besi. Rumah yang sederhana sedang ditempati beberapa orang bersenjata lengkap.
"Mereka benar-benar berniat ingin melenyapkan kami?"
Rafael hanya sedikit bingung. Orang-orang itu sama sekali tidak bergerak sedikit pun untuk menyergap. Mereka hanya berdiri santai sambil jari telunjuk tetap di pelatuk senjata api.
"Tentakelku secepat apa sih?"
"Dalam kecepatan maksimal, tentakelmu akan melesat secepat setengah mach atau 617,4 km." Sebuah suara tiba-tiba terdengar oleh Rafael.
Rafael yang tidak siap hampir saja terjungkal ke belakang dan membuat suara yang berisik.
"Cukup sialan juga kau, R!"
Perlahan sebuah tentakel keluar dari punggungnya. Tentakel itu berayun-ayun dengan cepat. "Oke, semoga kalian tenang disana," ucap pelan Rafael.
Tentakelnya langsung melesat memanjang ke depan melewati celah pagar kawat besi hingga membuat sonic boom disana. Daun-daun beterbangan, debu pun demikian, bahkan pagar kawat besi hampir tercabut dari tanah. Orang-orang bersenjata itu belum sempat bereaksi.
Tentakel itu melesat dan menghantam 5 orang yang ada disana hingga hampir tidak bernyawa. Mereka hanya pingsan dalam keadaan terbelalak. Rafael yang menyadari itu sedikit bersyukur, dia tidak harus menghabisi nyawa manusia lagi kali ini.
"Fyuuh... untung mereka telah pingsan."
Rafael melompati pagar kawat besi dengan bantuan tentakelnya. Disana mendapati 5 orang yang telah terkapar di tanah, dinding rumah disana juga ada yang retak.
"Apakah aku menghantam mereka terlalu keras hingga membuat dinding itu kena imbasnya?"
Rafael yang baru mau mengangkat mereka satu persatu dengan bantuan tentakel, tiba-tiba suara kontak senjata terdengar nyaring dikesunyian malam itu. Suara kontak senjata yang membuat zombie-zombie datang karena terpancing.
"Terlalu bising."
...
Di sisi lain, Jaka sedang berusaha menghindari peluru-peluru dari senjata yang ditembakkan. Dia cukup kewalahan.
"Beruntung aku bisa bergerak lebih leluasa. Tetangga sebelah kiri ini memiliki halaman rumah yang luas!" gumam Jaka masih terus menghindari peluru yang mendekat kepadanya.
"Hei! Kalau tak salah itu SS1, kan? Buatan PT. Pindad Bandung?!" seru Jaka nampak antusias.
Orang-orang itu tak peduli, mereka tetap mencoba menembaki Jaka dengan brutal. Jaka hanya menggelengkan kepalanya kecewa. "Peluru kalian akan terbuang percuma. Kalau tak salah kecepatan peluru SS1 itu 710 meter perdetik."
Jaka yang mempunyai kemampuan penglihatan lambat serta refleks yang tinggi hanya menganggap peluru-peluru itu angin lalu yang melewatinya dengan santai. Sementara itu, Jaka terus mendekati mereka hingga mereka terpojok di dinding rumah yang ada di sana.
"Kalian terpojok!"
Jaka berlari dengan cepat sambil membuat pola zig-zag sehingga orang-orang itu akan kesulitan menembakinya.
"Syat!"
Karena Jaka yang cukup kelelahan seharian ini, dia sempat lengah sehingga peluru menyerempetnya. Kakinya merasakan perih yang menyiksa.
"Ugh... timah panas itu menyebalkan," ucapnya yang hampir kehilangan keseimbangan.
Jaka tetap berlari dengan cepat. Disaat orang-orang itu sedang mengganti magazine, Jaka langsung melempar belati kecil miliknya ke salah seorang disana. Dia mengerang kesakitan akibat belati itu benar-benar tertancap di tangan yang mencoba melepas magazine kosong.
Formasi mereka terbongkar. Jaka memanfaatkan itu dengan baik. Dia melesat dengan kecepatan rata-rata manusia dan merampas senjata orang itu kemudian mencoba memasang magazine yang terisi penuh dengan cepat.
"A-aku tidak tau pakai senjata!!" teriaknya frustasi.
Setelah magazine itu terpasang. Dia menarik penguncinya kemudian menarik pelatuknya dengan keras. Rentetan peluru keluar dari moncong senjata itu.
"Arrrghh!"
"Herrkh!"
"Si-sialan kau Agus!!"
"Brengsek kau Agus!!"
Dipihak Jaka harus ada korban. 4 orang mati ditempat akibat dihujani peluru oleh Jaka yang kurang paham tentang mekanik senjata api.
"Beruntung aku sempat melihat mereka mengaplikasikannya!" gumam Jaka sambil mengelap darah yang terpancar ke pipinya.
...
Disaat Jaka beraksi, kelompok Setyo serta Hendro juga telah menyelesaikan pekerjaannya. Setyo yang memimpin Clara dan Eva menyerang 3 orang yang berada di seberang jalan depan rumah Hendro dengan teknik diam-diam mematikan. Hendro sendiri bersama Laura dan Anindira menyerang rumah yang berada di belakang halaman mereka, disana ada 3 orang bersenjata lengkap dengan teknik yang sama seperti Setyo. Mereka hanya cukup untuk membuat orang-orang bandara pingsan.
***
Orang-orang bandara hanya bisa pasrah ditangkap oleh orang-orang yang notabenenya lebih sedikit dari mereka. 5 orang dari Rafael, serta masing-masing 3 orang dari kelompok Setyo dan Hendro. Sedangkan Jaka diharuskan menghabisi mereka karena dia juga dalam bahaya.