
Whuush !!
Rafael melesat dan meraih Bryan yang terdekat dengannya. Rafael leluasa melakukan seperti ini karena para Zombie seakan berhenti terdiam di tempat mereka.
Rafael meraih kepala Bryan dan berniat membenturkannya di body mobil bus.
"JANGAN !!!" Teriak semua orang yang berada diluar dan bahkan Eva dan Laura membuka kaca bus untuk berteriak.
Brak !!
...----------------...
Tanpa sadar, Rafael membenturkan kepalanya sendiri ke body mobil bus. Bryan dilempar jauh oleh Rafael hingga terhempas kearah Revi dan Clara. Anindira yang melihat itu hanya terdiam kaku tak tau apa yang terjadi sebenarnya.
"A... Aku... Jauhi aku, aku tidak mau melukai kalian." Dengan suara yang hampir hilang, Rafael berusaha bersuara.
Seketika Rafael tersungkur dengan kepala yang penuh darah, dia pingsan ditempat. Kelima teman Rafael tentu panik, apalagi sekarang zombie yang terdiam saat Rafael menggila sekarang mereka dengan agresifnya mulai bergerak kearah bus.
"Bantu aku, masih banyak amunisi kalian ?" Anindira menebas dengan cepat para zombie yang mengarah padanya.
Clara melihat kotak kayu berukuran sedang berada di dekat pintu bus. "Kelihatannya masih banyak, hanya saja kita harus hemat."
Anindira menoleh sebentar kemudian berkata, "Yaudah, terserah kalian mau bagaimana. Aku harus habiskan sisa zombie ini dulu."
Anindira terus menerus menebas satu-persatu zombie yang berdatangan, namun dia terdesak akibat banyaknya zombie yang mendekat kearahnya.
Dor !!
Sebuah peluru melesat dan menembus tengkorak zombie dengan keras. Anindira melihat arah penembak tersebut, dia tersenyum. Kelima teman Rafael membantunya dengan mengorbankan beberapa amunisi lagi, karena mereka berlima tidak terlalu ahli soal melee.
Pesta pun mereka mulai, Rafael hanya asyik pingsan di samping body bus.
...
Disebuah ruangan yang serba putih, terlihat sesosok lelaki berambut putih sedang terkapar. Jarinya mulai bergerak, nampaknya lelaki ini akan sadar dengan segera.
"Ugh! Di... Dimana ini ?" Suara yang parau keluar dari mulut lelaki tersebut. Ya, siapa lagi kalau bukan Rafael.
Rafael melihat sekelilingnya, hanya warna putih yang terlihat sepanjang mata memandang. Rafael mencoba berdiri namun nampak kesusahan, dengan susah payah akhirnya Rafael mampu berdiri dengan benar.
Rafael memegang kepalanya yang sedikit pusing, "A... Apa yang terjadi sebenarnya ?"
Tiba-tiba ruangan putih itu berubah menjadi pemandangan padang rumput yang menyejukkan hati. Langit biru yang indah, hamparan rumput yang subur, dengan bermacam-macam bunga ada juga. Rafael jelas kebingungan.
Di depan Rafael yang kebingungan, lewatlah seekor kuda berwarna putih. Kuda itu memiliki pelana berwarna keemasan. Dengan perasaan yang seperti diperintah, Rafael menaiki kuda itu tanpa sadar.
"Aku seperti pernah melihat pemandangan ini..." Gumam Rafael.
Seketika serpihan ingatan Rafael muncul. Dia mengingat bahwa saat dia berumur 6 tahun dia pernah berada di padang rumput dimana tempatnya berada sekarang bersama kelima sahabatnya, Bryan, Revi, Clara, Eva, dan Laura yang seumuran juga. Disana mereka bermain-main dengan bahagia, orang tua mereka hanya duduk bercanda ria di atas karpet piknik.
Sebuah ingatan yang membuat Rafael mengenang kembali kebahagiaannya selama ini saat bersama kelima sahabatnya. Diingatannya pula, Rafael belajar menunggangi kuda bersama ayahnya.
Rafael terlihat sangat bahagia sekarang, dia menunggangi kuda dengan nyaman mengelilingi padang rumput itu. "Aah... sebuah kenangan bahagia."
Rafael memacu kudanya dengan cepat, semakin cepat pula angin menerpa wajahnya yang tampan itu. Dia tersenyum bahagia dan melupakan kejadian yang baru saja dia alami. Bahkan Rafael tidak memikirkan apa-apa lagi, hanya kebahagiaan itu yang dia pikirkan.
Kapan lagi bisa bahagia di zaman kehancuran umat manusia? Baginya, kebahagiaan ini tiada tandingannya selama dia mampu mewujudkan impiannya untuk tetap dan harus bahagia selamanya.
"Ini kuda kesayanganku, Lucien." Rafael mengelus-elus rambut kuda putihnya sambil mulai memberhentikan laju kuda tersebut.
Rafael turun dari pelana kemudian berjalan menuju danau ditempat itu, danau terindah yang pertama kali dia lihat. Rafael mengambil airnya kemudian membasuh wajahnya.
"Rasanya seperti hidup kembali, sangat segar !!" Seru Rafael. Suaranya melengking tinggi di udara.
"Ti... Tidak !! Apa yang terjadi !!" Rafael melihat ke kudanya.
Namun, kudanya berubah menjadi tulang belulang yang berhamburan di tanah. Bahkan tulang belulang itu membentuk sebuah pola tulisan yaitu Death.
Dunia yang dilihat Rafael seketika runtuh, Rafael pun pingsan ditempat dan terjatuh ke danau. Rafael tenggelam di danau berwarna merah tersebut. Kebahagiaan sesaat yang dirasakan Rafael pun sirna dari hadapannya, seakan tidak pernah ada.
...
"UWAAAHH !!" Sebuah teriakkan melengking di dalam sebuah kendaraan, bus.
Keenam orang yang ada di dalam bus itu sontak terkejut. Rafael yang kini badannya diikat di kursi penumpang bus bagian belakang. Tangan dan kakinya diikat dengan erat menggunakan tali tambang.
Anindira langsung menghunuskan pedangnya yang dibaluri darah miliknya pada leher Rafael, "Siapa kau ?!"
Rafael yang baru setengah sadar sedikit mengigau, akhirnya dia langsung ditampar oleh Anindira yang membuatnya sadar sepenuhnya. Rafael memandang bingung kearah kelima sahabatnya dan Anindira.
"Hei ! Jawab aku, siapa kau ?!" Ujung pedang Anindira menyentuh leher Rafael sehingga mengeluarkan sedikit darah.
"A... Aku Rafael Smash murid SMA Misu !!" Seru Rafael dengan cepat dan berusaha melepaskan diri dari ikatan tali.
Kelima sahabat Rafael menghela nafas lega, mereka semua nampak lebih santai daripada sebelum Rafael berbicara.
"Lehermu sudah aku ikat dengan alat khusus. Aku dapatkan dari organisasi." Ujar Anindira dengan ketus.
Rafael merasakan sesuatu dilehernya. Sebuah lingkaran yang melingkari lehernya, menurutnya sedikit berat dan keras jika menggerakkan leher.
"Ah... apakah ini besi ? Jika besi sih bagus juga." Rafael tersenyum seringai kearah Anindira kemudian berkata kembali, "Jelaskan kau dari mana sebenarnya dan asal usulmu serta apakah benar ada vaksinnya ?"
Seketika Anindira tersentak ke belakang dengan wajah terkejut dan panik. Anindira berusaha balik badan untuk segera pergi, namun langsung dihalang oleh Clara dan Bryan. Mereka berdua lengkap memegang senjatanya masing-masing.
"Mari kita selesaikan dengan ini kalau kamu tidak berikan informasi." Ujar Clara dengan datar sambil mengokang sniper miliknya.
"Haaa... Baiklah." Anindira pasrah dan langsung duduk di kursi penumpang.
"Baiklah, mari kita mulai..."
"Woe !! Lepasin dulu ikatannya dah !!" Rafael memberontak dan berteriak sekencang-kencangnya.
~
.......
.......
.......
.......
.......
.......
Catatan : Yo Assalamualaikum dan selamat pagi siang sore dan malam... hai para readers semua, apa kabar ? Sudah lama nih aku tak ada kabar, aku kembali yuhu... Sudah 1 bulan lebih yaak dari Chapter 24, hehe. Sebelumnya ada 1 informasi tuh di awal bulan Oktober.
Human-Z kembali dengan jadwal upload yang tetap, 3 hari dalam seminggu. Senin, Rabu dan Jum'at !! Dicatat yaa agar tidak ketinggalan.
Aku ingin novel ini ada kepastian tamat, jadinya aku berniat untuk kembali menggarap novel ini dengan semestinya. Semoga kalian menyukai cara penulisan terbaruku, hehe. Emm... emang ada perubahan kah ? Aku pun tak tau.
Oke sekian dari aku, semoga kalian masih setia untuk membaca Novel dari nama pena Alif Ardra. Dadah~