
Rafael telah dibuka ikatannya oleh Revi, lumayan kencang ikatannya sehingga harus diputuskan oleh tembakan. Tali setebal 6 cm. Sebenarnya bisa menggunakan pedang milik Anindira, hanya saja dia enggan memberikan pedang miliknya. Ah, bukan miliknya, tepatnya hasil curiannya.
Anindira berucap sambil melihat keluar jendela, terlihat banyak zombie yang mulai kembali berdatangan. "Ayo kita ke markasku dulu."
Akhirnya dengan musyawarah yang lumayan memakan waktu, Rafael sebagai ketua di dalam kelompok SMK Misu menyetujui usulan dari Anindira. Bus berjalan dengan kecepatan sedang melewati bangunan-bangunan yang mulai ditumbuhi tanaman menjalar. Jalanan kota sangat sepi dari peradaban manusia, hanya ada zombie dimana-mana.
Lumayan lama perjalanan menuju markas yang dikatakan oleh Anindira, letaknya berada di pelabuhan Pantoloan. Entah bagaimana lingkungan di pelabuhan Pantoloan sangat bersih dan tidak ada tanda satu pun zombie. Melihat Rafael yang kebingungan melihat sekeliling dari jendela bus, Anindira merespon.
"Markas di Pantoloan ini sangat-sangat aman. Disini sudah dibersihkan oleh Cleaners."
"Terserah." Rafael hanya merespon dengan datar.
Akhirnya sampailah di sebuah gerbang untuk masuk ke dalam pelabuhan Pantoloan. Disana berjaga ketat 4 orang bersenjata lengkap. Senjata mereka jenis M-16, senjata yang cukup illegal jika dipegang oleh orang biasa.
Anindira turun dari bus dan menyapa kelima penjaga gerbang. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya bus diperbolehkan masuk ke dalam wilayah Safezone.
...
Disebuah tenda besar berwarna oranye, terdapat beberapa orang dewasa dengan tampang sangar sedang menatap tajam kearah murid SMK Misu.
Rafael yang tidak diterima dipandang seperti itu mulai bersuara dengan nada datar nan dingin. "Bisakah kita mulai perbincangannya ?"
Tiba-tiba datang seseorang lelaki paruh baya sekitar 40 tahunan memasuki tenda. "Jadi... kamulah Human-Z liar itu ?" Lelaki ini memakai pakaian kasual biasa.
Rafael tidak terima dikatakan liar. "Maaf, saya manusia. Saya bahkan tidak tau apa itu Human-Z yang kalian katakan."
"Aduh... Quenby, kenapa kamu tidak jelaskan ?" Tegur lelaki paruh baya itu pada wanita yang baru saja masuk tenda.
Anindira hanya memasang wajah cemberut, dia malas saja menceritakan seluruh kejadian yang baru saja ia alami selama perjalanan keluar mencari ransum dan yang utama adalah mencari makhluk bernama Human-Z.
Anindira duduk di kursi yang saling berhadapan dengan Rafael. "Baik sekarang juga saya jelaskan."
"Kelompok Pelabuhan Pantoloan adalah sebuah kelompok terbesar yang terbentuk setelah 1 minggu jalannya wabah virus zombie ini. Dengan bantuan dokter Lee yang datang ke Palu 1 hari sebelum wabah virus zombie mulai, kami menemukan sedikit jalan keluar..."
"...Darah seorang keturunan bangsawan Inggris dapat menjadi antivirus dari virus bernama Cyktry apalah itu, sulit disebutkan—"
Tiba-tiba perkataan Anindira terhenti ketika seseorang menyelaknya. "CytraZ-24, Anindira. Kok malah jadi Cyktry."
Lelaki berparas tampan yang tinggi dengan mata sipit kulit putih bersih memasuki tenda oranye tersebut. Bahasa Indonesianya sedikit terdengar aneh, namun masih dapat dipahami. Lelaki ini memakai seragam kedokteran.
"Do... Dokter Lee !" Seru Anindira dan langsung berdiri menghadap lelaki tersebut.
"Nah... ini nih, bener. Aku pernah lihat di televisi." Sahut Bryan sambil menunjuk-nunjuk dokter Lee.
Dokter Lee hanya tersenyum manis kemudian ikut duduk di kursi yang ada di samping Anindira. Para petinggi kelompok semua telah berkumpul, 5 orang dewasa dengan tampang garang, Anindira, lelaki paruh baya 40 tahunan dan dokter Lee sendiri.
"Haha... ternyata Anindira sudah menceritakan itu. Jelaskanlah Anindira, bahasa Indonesiaku belepotan."
"Baik dokter Lee."
Anindira mulai menunjukkan wajah seriusnya, para lelaki dewasa pun mulai mengokang senjata yang mereka pegang, bahkan dokter Lee juga memegang sebuah senjata berjenis M500.
"A... Apa? Kenapa kalian seperti itu?" Bryan terkejut dan juga ikut menarik senjatanya dari saku celananya.
"Noel dan wanita tentakel itu adalah inti dari semua permasalahan ini. Mereka memiliki organisasi yang akan segera memusnahkan manusia. Informasi ini didapat dari Kepala Polisi Republik Indonesia sebelum kematiannya, dia dapat informasi itu dari hasil penyelidikan anggotanya..."
"...Jauh di negeri tirai bambu, China. Disana telah dibuat senjata pemusnah umat manusia yang bernama Armageddon. Apa yang mereka lakukan jelas melenceng dari Hak Asasi Manusia. Pemimpin negara di seluruh dunia menentang itu, namun terlambat. Senjata itu sudah diluncurkan sebulan lalu dan menyebarkan sebuah asap kematian, beberapa negara besar memang mampu menahannya, namun tak lama mereka pun jatuh juga."
Anindira menjelaskan apa yang dia ketahui, pernyataan itu membuat kelima sahabat Rafael dan Rafael sendiri terkejut bukan main. Mereka tak menyangka akan ada yang tega memusnahkan manusia semudah itu, dunia sudah diambang kehancuran nampaknya sekarang.
"Itu belum terlambat. Katanya negara Jepang telah mengisolasi seluruh wilayahnya kemudian memperketat penjagaan udara, darat dan laut. Saat ini Jepang adalah negara teraman di dunia." Tiba-tiba lelaki paruh baya menyelak pembicaraan.
"Ya kamu benar Alex, Jepang adalah negara teraman sekarang. Namun bertambahnya waktu membuat kemungkinan negara itu juga akan jatuh menuju kehancuran, melihat China lumayan dekat ke Jepang." Sahut dokter Lee dengan serius.
Laura hanya memandang bingung kemana arah pembicaraan ini. Menurutnya, dunia menjadi sangat fantasi. Dia tidak menyangka akan terjadi seperti itu di bumi tempat dia tinggal dan dibesarkan. Rafael terlihat berpikir, dia memejamkan matanya dan menyerap semua informasi yang telah dia dapatkan.
"Human-Z, apa itu ?" Tanya Rafael karena belum mendapat sama sekali informasi yang lebih penting dari penjelasan Anindira.
Dokter Lee dan lelaki paruh baya bernama Alex hanya saling memandang, Anindira menundukkan kepalanya dengan sedih, kelima pria dengan tampang garang pun menunduk lesu. Entah mengapa mereka terlihat sedih.
"Human-Z adalah virus mutasi baru yang merubah tubuh manusia menjadi setengah makhluk bernama zombie. Virus ini terbentuk akibat virus CytraZ-24 yang tertahan disuatu tempat didalam darah kita seperti benda yang kamu pakai dileher sekarang itu menahannya, virus utama itu tidak sampai ke otak. Namun yang membuat kami sedih, virus ini hanya bertahan maksimal 1 tahun setelah muncul..."
"...Saat virus ini mati, maka inangnya pun ikut mati. Cukup ironis juga, namun selama 1 tahun itu manusia yang mempunyai virus Human-Z memiliki kemampuan fisik berkali-kali lipat dari manusia biasa."
Dokter Lee menjelaskan dengan suara yang lemah, dia sebenarnya tidak ingin menjelaskan hal yang mengejutkan itu pada Rafael yang seorang Human-Z. Meski dizaman manusia yang hampir musnah ini, Human-Z adalah penyelamat sebenarnya jika menggunakan kekuatan itu dengan benar dan tepat sebelum waktu kematiannya.
"Waktuku sudah berkurang beberapa hari dari total 1 tahun yaa..." Rafael menunduk lesu.
Sebuah kesedihan terpancar dari kelima wajah sahabat Rafael, mereka tidak menyangka seorang Human-Z akan mendapatkan ajalnya setelah 1 tahun mendapatkan virus mutasi dari CytraZ-24.
"Setyo Hermawan ?" Sebuah nada pertanyaan keluar dari mulut Bryan.
Seketika lelaki bernama Alex terkejut hingga hampir terjungkal ke belakang bersama kursinya, beruntung pria garang dengan sigap menahan kursinya.
"Dia yang kami cari !!" Seru dokter Lee.
~