
Brak!!
Tiba-tiba pintu ruangan kamar murid SMK Misu tersebut terbuka dengan kasar dan daun pintu tersebut terlepas hingga terlempar ke ranjang milik Revi.
...
Revi yang menyadari ranjang miliknya terbelah 2, ingin hendak memarahi siapa saja yang menendang pintu, namun niatnya dia urungkan setelah mengetahui siapa yang menendang pintu hingga rusak.
"Ra-Rafael ?!" Seru Revi.
"Yo!" Sapa Rafael dengan santainya.
"Ba-bagaimana bisa kau keluar dari ruang bawah tanah hah?!" Teriak Revi sambil membidikkan senapan Ak-47 miliknya kepada Rafael.
"Santailah, Rev! Aku jelaskan!" Rafael mulai menaikkan nada suaranya.
"Begini ceritanya ..."
Rafael mulai bercerita bagaimana dia bisa keluar dari lantai bawah tanah.
POV Rafael On - Beberapa menit yang lalu ~
Aku dengan cepat menendang pintu tersebut hingga membuat bunyi keras menggelegar di lantai bawah tanah tersebut.
"Iiih! Kuatnya! Dasar pak Setyo!" Seruku.
Aku berinisiatif untuk memukul dinding disebelah pintu besi tersebut. Aku berpikir bahwa dinding sebelumnya memang tidak mampu mengatasi kekuatanku, jadinya aku kembali memukul dinding disamping pintu besi itu.
"Hiyaaat!"
Bug! Kretek!
Dindingnya hancur, namun pergelangan tanganku patah.
"Ugh!" Rintihku ketika pergelangan tangan kananku patah.
"Yaaah ... palingan nanti sembuh sendiri." Gumamku santai.
Aku langsung berlari ke arah lift untuk cepat kembali ke atas. Sesaat didepan lift, tiba-tiba pintu lift terbuka dan menampakkan seorang berseragam lengkap dengan rompi polisi.
"Ah! Mau kabur yaa!" Polisi tersebut menodongkan senapan M-16 nya padaku.
Aku mengangkat kedua tanganku keatas dan berbalik dengan mengikuti perintah polisi tersebut.
"Hmm ... titik lengahnya sangat banyak. Aku bisa melumpuhkannya dalam 5 detik." ~Batinku.
"Halo pak. Nama bapak siapa nih?" Tanyaku tetap berjalan sambil digiring polisi tersebut.
"Saya Bima. Saya diperintahkan untuk berjaga di lantai bawah tanah. Nyatanya kamu hampir saja kabur toh!" Jawab pak Bima.
Krak! Cletek!
Aku dengan cepat menendang ke belakang dan tepat mengenai senapan miliknya, senapan miliknya terlempar jauh, polisi tersebut nampak terdiam beberapa saat. Aku dengan cepat memukul titik vital polisi tersebut yang berada di leher.
"Fwuuuh ... 6 detik. Lumayanlah!" Gumamku.
Aku langsung meninggalkan polisi tersebut dan menaiki lift. Beberapa saat kemudian aku sampai di lantai 6, ruang tempat teman-temanku.
POV Rafael Off - Kembali ke masa sekarang ~
Teman-teman Rafael menyimak cerita Rafael dan secara tidak sadar Rafael telah mengambil seluruh persenjataan teman-temannya.
"Eh!" Serentak kelima temannya terkejut.
"Hihihi ... aku pergi ke pak Setyo dulu yaa. Mau melapor nih bahwa aku telah kabur!" Ujar Rafael sambil menuju keluar.
"Woy!! Ranjangku perbaiki tuh!" Teriak Revi kesal.
"Pakai ajalah ranjangku!" Sahut Rafael telah berada di koridor.
Rafael pun pergi ke ruangan pak Setyo.
"Pak Set-"
Baru saja Rafael ingin memanggil nama pak Setyo, didepan pintu ruangan pak Setyo dia merasakan hawa yang aneh dari dalam ruangan pak Setyo.
"Ugh! Berat sekali perasaan ini!" Keluh Rafael memegang dada kirinya.
"Hahaha hahaha! Habiskan dia! Lenyapkan!!" Teriak seseorang dari balik pintu.
"Loh eh .. suara siapa tuh, berat sekali nadanya." ~Batin Rafael.
Tiba-tiba terdengar gemuruh yang sangat besar sehingga membuat bangunan hotel tersebut bergetar hebat.
"A-apa ini, getaran ... gemuruh .. apa-apaan ini!" Seru Rafael.
Rafael langsung berlari ke arah lift dan langsung menuju ke balkon atap. Disana orang-orang sudah berkumpul dan menyaksikan hal yang mengerikan.
Rafael yang baru sampai sulit untuk pergi menuju ke pinggiran balkon atap, dia dengan susah payah berkerumun dengan orang-orang lainnya. Beberapa saat Rafael susah payah, akhirnya dia telah berada di pinggiran balkon atap.
"I-itu ...?!!" Gumam Rafael terbelalak.
Kerumunan Zombie berlarian menuju kearah hotel. Hotel telah dikepung dari segala arah oleh ratusan ribu Zombie. Zombie-zombie berlarian saling mendahului.
"Sial!"
"Fwuuuh ..." Rafael menarik napas dalam.
"Semuanya masuk kedalam hotel segera!! Cari tempat berlindung yang aman! Kami baris terdepan akan melindungi kalian!!" Teriak Rafael dengan lantangnya.
Seluruh orang mendengarnya dan langsung berhamburan kembali turun kebawah masuk kedalam hotel.
"Gemuruh ini .. apakah mereka yang membuat getaran hebat ini?" Tanya seseorang dari arah belakang Rafael, yang ternyata itu adalah Bryan.
"Kalian! Persiapkan persenjataan! Laura, panggil para polisi untuk bersiap. Arah halaman belakang letakkan 2 polisi dan Revi, halaman depan hotel letakkan 2 polisi dan Bryan. Halaman samping kanan hotel letakkan 2 polisi dan Eva, untuk Eva pakai Desert Eagle. Halaman samping kiri aku dan Clara." Jelas Rafael pada teman-temannya.
"Siap!"
...
Mereka semua bersiap-siap untuk menggagalkan seluruh gelombang dari para Zombie. Rafael dan clara telah berada di sisi kiri hotel, yang ternyata disitulah jumlah terbanyak Zombie yang mengepung.
"Ah! Kalian menargetkanku yaa!"
"Jangan lengah dibawah Rafael!" Teriak Clara dari balkon teras lantai 2.
Rafael langsung turun ketanah dan bertarung habis-habisan menggunakan linggis miliknya. Barisan terdepan para Zombie habis dibantai Rafael dengan gerakan yang terus diulang, gerakan putaran diudaranya.
Rafael memakai granat yang tersisa. Rafael dengan cepat menarik tuas granat tersebut dan melemparnya ke tengah kerumunan Zombie. Granat tersebut meledak dengan besar hingga jika dari udara, terbentuk pola melingkar diantara para Zombie.
"Haaa ... haaa .. haa .. Terlalu banyak!" Gumam Rafael Terengah-engah.
"Tenang Rafa! Aku cover!" Teriak Clara sambil fokus dengan scope snipernya dan terus menembak.
Dor! Dor!
Peluru sniper Clara melesat dan menembak Zombie satu persatu dengan cepat.
"Ya! Itu yang aku suka! Keluarkan kemampuan ibumu!" Teriak Rafael masih fokus memukuli para Zombie menggunakan linggisnya.
...----------------...
Disisi lain, sisi halaman depan hotel.
"Mereka punya persenjataan berat!" ~Batin Bryan.
"Iya! Kami tau kok!" Sahut seorang polisi di balkon teras lantai 2 sebelah Bryan.
"Hu! Tidak ada habisnya mereka!" Keluh rekan polisi disampingnya sambil menembaki para Zombie menggunakan senjata api M-16.
Psyuut! Psyuut!
Bryan terus menembak menggunakan silencernya, sesekali dia menggantinya dengan Desert Eagle.
"Cih! Kaliber berat sih enak, hanya saja sulit dikendalikan!" Keluh Bryan.
...----------------...
Disisi lainnya, sisi halaman belakang hotel.
Revi yang sedang memainkan Ak-47 modifikasinya dengan lihai menembak dan meledak di kerumunan Zombie.
Ratatata!
"Hiyaaa! Habislah kalian!" Teriak Revi.
"Rocket launcher!" Seru seorang polisi yang bersama Revi.
Kabooom! Duar! Duar!
Rocket launcher tersebut tepat sasaran menembak sebuah mobil sehingga menjadi efek domino oleh sekitarnya yang banyak juga mobil bertumpuk.
"Nice pak Satria!" Puji Revi.
"Rocketnya tersisa 5 buah!" Seru rekan pak Satria.
"Sikat! Habiskan!" Balas pak Satria.
"Ugh! Mereka ini apa? Amunisi tersisa gitu main suruh habiskan. Hemat woy!" ~Batin Revi.
...----------------...
Di halaman bagian kiri hotel, disana terdapat Eva dan 2 orang polisi. Mereka berada di balkon teras lantai 2.
Dor! Dor!
Peluru Desert Eagle Eva tepat sasaran.
"Eh! Perempuan ini pandai menyetir dan lagi pandai menembak! Idaman banget!" ~Batin seorang polisi sambil menunjukkan raut wajah memerah.
"Aduh pak! Jangan melamun seperti itu! Lihat di bawah balkon, Zombie sudah mulai membangun dinding Zombie untuk memanjat!" Seru Eva ketika menyadari dia sedang ditatap.
"Kira aku tidak tau bapak itu orangnya seperti apa? Ugh! Membayangkannya saja sudah merinding! Dasar me*um!" ~Batin Eva.
Ratatata!
Machine gun sampai panas karena terus menerus menembak sehingga harus menunggu delay terlebih dahulu.
"Akh! Merepotkan!" Keluh seorang polisi.
"Nih pak pakai!" Sahut Eva sambil melempar sebuah pistol polisi biasa, jenis MAG 4.
"Ah! Dapat darimana nih?" Tanya polisi tersebut.
"Dari kantor bapak dong, heheh!" Jawab Eva sambil melirik sebentar polisi tersebut dengan tersenyum tipis.
Polisi tersebut menunjukkan raut wajah kesal. Eva dengan santainya bergaya mengangkat jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan sehingga seperti membentuk huruf V sambil tersenyum pepsodent kepada polisi itu.
"Hu! Anak ini berani sekali! Apa karena kiamat Zombie ini, dia menjadi tak sopan!" ~Batin polisi tersebut.
...----------------...
Di satu ruangan yang gelap disalah satu bangunan tinggi lainnya yang berjarak 100 meter dari hotel, sesosok bayangan menyeringai melihat kerumunan Zombie dari balik tirai jendela yang terus berdatangan menyerang hotel. Dia seorang pria yang terbilang muda.
"I like it, maafkan aku bocah Zombie. Tapi ini jalan satu-satunya untuk membuatmu sadar keberadaan kita." Gumam pria tersebut.
"Tidur saja sebentar, paling gak lama lagi mereka akan jatuh. Dengan garda terdepan yang hanya bisa dihitung dengan jari itu tak cukup mengatasi 348.828 Zombie milikku." Gumamnya sambil berbaring dan mengambil sebuah buku kemudian membuka halaman bagian tengah setelah itu meletakkannya diatas wajah.
Brak!
Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka dengan keras.
"Bos! Bocah Zombie itu kelelahan! Dia akan segera melakukan 'itu' !!" Seru seseorang yang baru saja masuk.
"Hei! Apa yang aku katakan jika aku sedang berbaring di sofa. Pertama, jangan membuka pintu dengan kasar. Kedua, jangan membangunkan serigala yang sedang tidur. Ketiga, pelakunya akan segera menemui ajalnya!"
Tiba-tiba dengan cepat muncul sesosok bayangan berada di belakang pembuka pintu tadi.
Cratss! Bruk!
Pembuka pintu itu seketika mati akibat lehernya dipenggal sehingga kepalanya terlempar ke lantai.
"Cih! Membuat tangan bersihku menjadi kotor!" Keluh pria tersebut dengan kesalnya sambil memercikkan sisa darah yang berada ditangan kanannya.
"Hoaamm! Ngantuk! Aku mau tidur dulu ah!" Pria tersebut membanting dirinya diatas sofa dan seketika tertidur.
...----------------...
Rafael yang sedang terengah-engah dihadapan ribuan Zombie.
"Jangan lengah!" Teriak Clara.
"A-aku lelah ... aku ... badanku mati rasa!" Teriak Rafael.
"Tetap bergerak! Kau akan melewati titik mati! Kau belum pernah menghadapi titik mati tersebut yaa!" Teriak balik Clara.
"Yaa .. aku tau Clara. Aku harus melewati batas tubuhku sekarang!"
"Aarrrghhh!!" Teriak Rafael kesakitan.
"Ah! Ra-Rafael?! Ada apa?!" Seru Clara sambil terus menembak.
"Ti-tidak tau! Aku merasakan aliran darah deras menuju ke otakku! Padahal terdapat penahan leher ini!" Sahut Rafael.
"Aaarrghhh!!"
Rafael masih terus merintih kesakitan namun masih tetap fokus melawan para Zombie.
...----------------...
Kembali ke bangunan yang berjarak 100 meter dari hotel.
"Ah! Dia memulainya!" Seru pria tersebut di ruangan gelap bangunan itu setelah merasakan sesuatu.
Dengan cepat orang tersebut melihat melalui tirai jendela.
Whuusss!
"Eh! Perasaan ini! Berat sekali! Benar-benar kuat, tapi bukan si bocah Zombie itu!!" Teriak pria tersebut dengan semangatnya.
~
Instagram : alif_ardra