
Mereka semua pun masuk kedalam hotel. Hotelnya dipenuhi oleh puluhan orang, nampaknya mereka sebagian yang selamat dari kiamat Zombie ini.
"Ternyata masih ada banyak yang hidup di dunia yang fana ini!" ~Batin Rafael.
"Hei .. hei .. mereka para Survivor yang selamat lagi kah?"
"Iya sepertinya!"
"Wah tambah banyak dong penghuninya nih hotel nanti."
"Mau diapa, hotel ini kan tempat satu-satunya yang terbaik sambil menunggu bala bantuan dari pemerintah Indonesia."
Terjadi hingar-bingar saling membicarakan kedatangan 6 Survivor baru ke hotel Matahari tersebut.
"Silahkan lewat sini!" Ujar individu yang masih lengkap dengan seragam polisi.
"Emm .. pak, bus kami aman kan? Soalnya itu salah satu fasilitas kami untuk bepergian. Terus peralatan kami gimana." Ujar Eva.
"Aman kok, tenang, kalian kok bisa sih punya persenjataan gitu." Balik bertanya individu polisi itu.
"Kami mendapatkan saat melakukan penjarahan di kantor polisi Palu Selatan. Sekolah kami di SMK Misu." Jawab cepat Rafael.
"Mereka terlatih sekali nampaknya." ~Batin polisi tersebut.
...
Akhirnya mereka sampai di satu ruangan yang lumayan besar. Polisi yang mempersilahkan masuk pun sudah pergi.
"Hebat! Kalian benar-benar hebat menggunakan senjata modifikasi ini!" Seru seseorang yang sedang membelakangi 6 orang murid SMK Misu.
Dia sedikit tinggi daripada Rafael, rambutnya berwarna putih, serta memakai pakaian kaus serta celana jeans panjang, di sudut mulutnya terdapat sebatang rokok.
"Dia mengetahui senjata modifikasiku?" ~Batin Revi bertanya-tanya.
"Perkenalkan, namaku Setyo Hermawan, seorang mantan Kapolsek Palu Selatan. Kalian nampaknya mencuri semua senjata ini dari sana yaa." Lanjut orang itu kemudian berbalik.
"Cepat katakan apa yang ingin kau mau!" Seru Rafael tak ingin berlama-lama.
"Nih!" Seorang yang bernama Setyo melemparkan sniper milik Clara padanya.
"Hap! Ma-mau buat apa nih pak?" Jawab gugup Clara.
"Tembak Zombie dari sini. Ini lantai 5." Sahut orang yang bernama Setyo dengan santai kemudian langsung duduk ke sofa.
"Oh siapa takut!" Seru Clara tanpa ragu kemudian membidikkan snipernya keluar jendela.
Dor!
Bunyi tembakan terdengar nyaring keluar dari sniper milik Clara. Pelurunya melesat puluhan meter ke bawah, kemudian tepat mengenai Zombie yang sedang terdiam di parkiran.
"Woahah! Hebat .. hebat!" Puji pak Setyo sambil bertepuk tangan.
"Nih!" Lanjut pak Setyo melempar 2 buah silencer milik Bryan.
"Oh saya yaa lagi. Tapi silencer modifikasi itu bukan dikhususkan untuk jarak jauh pak!" Jawab ragu Bryan.
"Saya tak mau denger alasan loh!" Sahut pak Setyo sambil meniupkan asap rokok yang membentuk lingkaran.
Dengan ragu, Bryan maju ke balkon teras. Kemudian dia mencoba membidik individu Zombie terdekat. Sekitar 127 meter kedepan, karena saat dia melihat kebawah, tidak terdapat Zombie. Saat dia melihat ke luar parkiran didepan jalan, dia melihat individu Zombie sedang terdiam.
Beberapa saat Bryan terdiam, dia kemudian langsung menembakkannya kedua silencer miliknya.
Psyuut! Psyuut!
Peluru silencer melesat kemudian tepat mengenai di pelipis Zombie tersebut, bagi sudut pandang Author.
"Woah! Nice!" Puji pak Setyo.
"Ba-bagaimana dia tau tepat sasaran?!" ~Batin Bryan bertanya-tanya.
"Nih!" Pak Setyo melemparkan sebuah linggis milik Rafael.
"Hap! Fwuuh hampir saja!" Gumam Rafael.
"Noh sana ada Zombie dibawah ... Saya mau lihat gimana kemampuan melee mu!" Seru pak Setyo.
"Siap!"
Secara tak terduga, Rafael langsung melompat ke luar balkon. Itu membuat pak Setyo sudut bibirnya terangkat, dia tersenyum kecil.
"Panggil ulang sana temanmu!" Sentak pak Setyo.
"Eh!?" Serentak teman-teman Rafael terkejut.
"Jadi ... kau seorang manusia yang memiliki virus Zombie ditubuhmu yaa." Pak Setyo langsung berucap ketika Rafael masuk.
"Bagaimana bisa bapak mengetahui siapa sebenarnya saya?" Tanya Rafael.
"Emm ... mau bagaimana lagi, tidak perlu dirahasiakan!" Ujar pak Setyo kemudian berdiri.
Dia menunjukkan sesuatu yang membuat tercengang. Yaa, sebuah bekas kecil gigitan di tangannya.
"Woah! Ja-jadi bapak juga seperti Rafael yaa?!" Sentak Revi.
"Ya, teman kalian bisa dibilang yang terpilih dapat bertahan dengan virus Zombie satu ini yang agresif. Melihat dari kekuatan virusnya yang bermutasi, sangat kuat fisiknya daripada virus ditubuh bapak." Ujar pak Setyo sambil mengendus-endus aroma dari Rafael.
"Sudah berapa lama bapak ada disini?" Tanya Eva.
"Oh itu ... sudah sekitar 3 minggu lalu, saat itu kami berusaha pergi dari kantor polisi Palu Selatan, disitu kami diserang segerombolan Zombie. Akhirnya rekan-rekan seperjuangan saya terus berkurang. Hingga total terdapat 10 rekan saya yang bisa selamat ..."
"Namun saya disitu tergigit di bagian tangan, saat itu teman saya ingin menembak saya. Tapi karena dia merasa iba, maka tak jadi. Akhirnya saya sempat berubah menjadi Zombie seutuhnya dan hampir melenyapkan kesadaran manusia saya, dan terus menerus saya dikurung di kamar ini. Saat itu kami sudah sampai di hotel, masih banyak Zombie nya sekitaran parkiran. Namun dihabisi oleh 10 orang rekan saya ..."
"Kemudian, selama seminggu saya kesadaran manusia saya terkurung oleh kesadaran Zombie ini. Namun rekan saya mengusulkan ide, yaitu melilitkan kalung ini ke leher saya." Jelas pak Setyo.
6 murid SMK Misu menyimak pengalaman dari pak Setyo.
"Bukannya virusnya sudah menyebar penuh ditubuh bapak? Saya waktu kemarin, saat tergigit langsung lilitkan ban pinggang ini. Disitu kesadaran saya tiba-tiba hilang kemudian terbangun beberapa saat kemudian. Teman-teman saya sedang berjuang menghabisi gelombang demi gelombang Zombie yang menyerang sekolah, akhirnya saya membantu mereka walaupun awalnya sulit mengendalikan tubuh ini." Ujar Rafael membuat pak Setyo sedikit terkejut.
"Entahlah, tapi lilitan kalung leher bapak ini berhasil. Disitu bapak mulai berangsur-angsur menguasai kesadaran tubuh. Akhirnya sampai seperti ini, kondisi bapak berubah 180 derajat. Yang awalnya tubuh bapak sedikit membungkuk, sekarang tegap berdiri. Kemudian rambut bapak nih, memutih dengan sendirinya." Jelas pak Setyo.
"Terus para orang-orang yang banyak-banyak itu darimana semua?" Tanya Clara.
"Ah itu ... mereka pemesan hotel ini, jadi saat kiamat Zombie, mereka terus menerus bertahan. Beruntung hotel ini hotel bintang 5, jadi semua kebutuhan tersedia. Seperti bahan makanan, ada tuh di balkon atas. Tempat menanam sayur-sayuran." Jelas pak Setyo.
"Siapa pemimpin para survivor disini? Tanya Rafael.
"Emm .. bisa dibilang bapak dengan persetujuan orang-orang yang selamat itu, karena pemimpin Survivor sebelumnya mati karena jatuh dari balkon atap. Kayaknya dia bunuh diri, depresi dengan kondisi sekarang." Jawab pak Setyo lirih.
"Nih bawa persenjataan kalian ke kamar nomor 234 lantai 6. Dan kamu harus setiap pagi ke ruangan saya ini. Kamu harus selalu tepat waktu untuk sarapan istimewa." Lanjut pak Setyo sambil memberikan persenjataan mereka kemudian berbicara pada Rafael.
"Apa tuh pak sarapan istimewa?" Tanya Rafael.
"Nanti kamu tau sendiri juga." Jawab enteng pak Setyo kemudian pergi duduk ke sofanya dan menyalakan sebatang rokoknya lagi.
6 murid SMK Misu pun pergi ke kamar yang dikatakan oleh pak Setyo. Mereka mendapatkan kamar VVIP ++. Sungguh suatu kenikmatan tersendiri.
Kamarnya sangat luas, dan terdapat 6 buah tempat tidur berukuran nomor 2 yang memiliki panjang 2 meter dan lebar 1,6 meter.
"Wah!! kasur Queen size di kamar VVIP itu sudah sangat luar biasa!!" Teriak Clara antusias.
"Eh barang-barang kita lengkap semua loh!" Ujar Bryan mengecek seluruh barang-barang bawaan mereka yang terletak disudut ruangan.
"Memangnya kau berpikiran kalau mereka akan mengambilnya?" Tanya Eva.
"Hehe ya gitu sih." Jawab kaku Bryan.
"Hei! Besok aku siapkan alarm ayam berkokok lagi yaa!" Seru Rafael.
"TIDAK BOLEH!!" Jawab serentak teman-temannya.
"Yaaah .. sayang ayam berkokoknya mubazir tersisa 2 kali berkokok." Ujar Rafael lirih.
"Kau mau kita dikeluarkan dari hotel ini hah?!" Bentak Revi.
"Hehe! Yaa maap!"
Ayam berkokok yang Rafael maksud adalah granat. Tersisa 2 buah granat di barang-barang mereka.
"Dah sana tidur. Sudah jam 8 malam nih, besok pagi kita akan kembali mencari peralatan. Sepertinya amunisi kita tinggal sedikit. Belum lagi pasti pak Setyo mana mau berikan amunisi mereka." Ujar Revi.
"Yokai!" Serentak teman-temannya.
Akhirnya mereka berisirahat di kamar VVIP ++ tersebut.
Disisi lain, pak Setyo yang sedang mengintip dari lubang kunci pintu tersenyum kecil.
"Kiamat Zombie ini membuat para generasi muda harus bermain dengan senjata api, aku harus menjaga generasi muda ini dan melatih mereka agar lebih kuat. Aku lihat-lihat si anak setengah Zombie itu adalah pemimpin mereka, melompat dari lantai 5. Wah, aku saja tidak bisa setinggi itu. Pasti patah kakiku, terus regenerasinya bakalan lama." Gumam pak Setyo.
Pak Setyo pergi dari depan kamar keenam murid SMK Misu tersebut menuju kembali ke ruangannya.
"Robert, aku akan membuat keenam generasi muda itu menjadi penghalangmu dimasa yang akan datang!" Seru pak Setyo sambil melihat selembar foto.
~
Instagram : alif_ardra