Human-Z

Human-Z
Chapter 34 : Daerah Elit Cendrawasih



Rafael mendekati wanita yang pertama dia temui saat di gedung IFB. Matanya menyorot tajam kearah wanita itu. Entah apa yang dia pikirkan? Tapi, itu memang suatu keharusan memikirkan keluarga. Bahkan dia dan kelima sahabatnya pun memikirkan hal yang sama walaupun persentase bertemu kembali itu sangat kecil.


"Ma.. Maaf ?"


"Oh, Em..."


Suasana menjadi canggung dengan Rafael yang tersipu malu karena telah menatap tajam kearah orang yang lebih tua darinya. Dia diajarkan oleh orang tuanya dan para guru disekolahnya agar sopan terhadap orang yang lebih tua dan bahkan yang lebih muda daripada kita. Kesopanan sangat diperlukan.


"Jadi... Kakak-kakak semua ini berencana mencari keluarga kalian ?" Tanya Clara dari belakang Rafael sambil memegang pundaknya.


"Iya, soalnya kami khawatir terjadi apa-apa pada Ayah dan Ibu kita."


"Kita ?!" Clara menegaskan kata terakhir itu.


"Iya, kita ini saudara kandung. Tehe~" Wanita itu tersenyum merekah.


"Jangka waktunya tidak jauh, Ayah dan Ibu mereka melahirkan." ~Batin Clara dengan dipenuhi pertanyaan.


"Kalian khawatir setelah 1 bulan lebih." Sahut pak Setyo.


"Ayo masuk kedalam, tidak enak di depan pintu sini." Ajak Rafael untuk masuk ke dalam kamar.


Mereka semua pun memasuki kamar SMA Misu, pintu kamar dikunci rapat-rapat oleh Rafael. Suasana kembali canggung, Rafael hanya duduk di pinggiran tempat tidurnya dengan menunduk. Tak tahu apa yang harus diucapkan, seharusnya keempat pegawai kantor itulah yang mulai berucap, tapi ini mereka hanya menunduk jua.


"Rumah kalian dimana ?" Tanya Eva membuka percakapan.


"Di jalan Cendrawasih." Singkat salah seorang diantara mereka. Laki-laki, mereka mulai membuka suara dan tidak hanya diam saja mengandalkan adik mereka.


"Ah... Sebelumnya, perkenalkan saya Rani." Sahut Rani, wanita yang ditemui Rafael pertama kali.


"Saya Eka."


"Saya Alamsyah."


"Salam kenal, saya Nanda. Kakak tertua dari mereka bertiga."


Mereka semua memperkenalkan nama. Mulai dari adik termuda hingga kakak tertua. Benar-benar 4 bersaudara yang kompak juga.


"Oh iya, kalian sudah kelihatan 20 tahunan keatas. Berarti Ayah dan Ibu kalian itu sudah cukup berumur yaa?" Ujar Rafael.


"Iya. Makanya kami khawatir." Lirih Alamsyah.


"Kalian cinta dan sayang ayah ibu kalian sebagai orang tua ?" Tanya Bryan.


Keempat bersaudara itu saling pandang dengan tatapan bingung, entah apa yang membuat mereka bingung. Cukup lama mereka saling memberi kode dengan kedipan mata dan lain sebagainya. Laura dan Eva menahan tawa melihat kelakuan kakak-kakak bagi mereka.


"Tentu kami menyayanginya, tiada tara. Mereka telah melahirkan kami ke dunia ini dengan kesakitan. Kami masih mau berbakti kepada mereka." Ujar Nanda dengan suara yang terdengar parau seperti menahan tangis.


"Oke, kami paham. Hanya saja..." Rafael menggantung kalimatnya dan melihat ke arah Clara.


Clara yang diberi kode itu hanya memandang ke arah lain. "Katakan saja." Gumam Clara, gerakan bibir Clara dibaca oleh Rafael.


Rafael mulai menunduk sedih. "Jalan Cendrawasih sudah hancur."


Namun ketiga adiknya hanya sesenggukan menunduk kebawah, tak mampu memandang lurus lagi.


"Tidak ada salahnya mencoba. Ayo kita kesana !!" Ajak Rafael dengan antusias.


Tangisan Nanda dihentikan oleh ketiga adiknya, mereka berpikir demikian. Apa yang dikatakan oleh Rafael mengenai hancurnya daerah Cendrawasih akibat wabah ini tidak menutup kemungkinan masih ada yang selamat dan bersembunyi di balik tembok. Daerah Cendrawasih sendiri adalah pusat perumahan elit. Perumahan elit itu pun dibentengi oleh tembok setebal 1 meter dan setinggi 4 meter.


Memenjarakan orang disana? Tidak, malah penghuni di jalan Cendrawasih 1 sampai 7 menyetujui pembangunan tembok besar itu agar mereka aman dari apa pun. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menggunakan mobil Hummer H1 dan mobil milik pak Setyo. Pak Setyo sendiri ikut bersama seorang rekannya.


Apapun yang terjadi, terjadilah. Begitulah konsep keadaan sekarang. Tak ada yang harus dikhawatirkan untuk sekarang.


...***...


30 menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di daerah Cendrawasih. Daerah elit yang dikhususkan bagi keluarga terkemuka dan para pejabat negara. Terlihat tembok 4 meter di hadapan mereka semua, saat ini mereka berada di gerbang utama. Gerbang utama ini tertutup rapat dan bahkan dihalangi beberapa mobil dari dalam.


"Mereka aman !! Ternyata hanya daerah Cendrawasih luar yang hancur. Cendrawasih dalam masih aman !!" Seru Rafael ketika menyimpulkan keadaan.


Begini saja, diluar tembok setinggi 4 meter disana itu sangat kacau. Rumah-rumah hancur akibat penjarahan habis-habisan oleh orang-orang yang memanfaatkan situasi, zombie berkeliaran dengan agresif. Beruntung masih pagi hari. Jadi mereka tidak terlalu khawatir dengan serangan zombie. Tiba-tiba terdengar suara yang keras dari sebuah pengeras suara.


[Siapa disana ?!]


Mereka semua pun hanya saling pandang dan mencari asal suara itu. Sesaat kemudian keempat bersaudara maju ke depan lebih mendekati pintu gerbang setinggi 4 meter. Mereka berempat menuju ke sebuah layar monitor kecil, disana mereka menempelkan telapak tangannya. Seketika pintu terbuka lebar dengan suara yang berdecit keras.


"Sial !! Suaranya mengundang zombie !" Pekik Rafael dan langsung menarik semuanya ke dalam tembok.


Mobil mereka tinggalkan diluar untuk sementara saat mereka membersihkan zombie dari dalam pintu gerbang. Pintu gerbang ini memiliki pola meliuk-liuk seperti batik sehingga menjadi tempat lewatnya peluru dari senjata-senjata api milik murid SMA Misu. Suara rentetan peluru terdengar dari arah belakang mereka.


"AWAS !!!" Teriak seseorang memakai pengeras suara.


Ratatatat !!! Ratatatata !!!


Rafael melihat ke belakang dan seketika dia terbelalak. M134 Minigun namanya, senapan mesin enam laras 7,62 mm, dengan tingkat tinggi tembakan. Sebuah senjata mematikan yang menembakkan peluru dengan kecepatan 853 m/s dengan 2.000 sampai 6.000 putaran permenit.


"Gila !!" Teriak Rafael dengan bahagia.


Pintu gerbang dibuka lebar namun baru selangkah para zombie masuk, mereka semua langsung dihujani oleh peluru berkaliber 7.62 mm. Zombie pun tak ada yang tersisa, tak ada lagi yang mencoba merangsang masuk. Pintu gerbang langsung ditutup rapat-rapat.


"Selamat datang keluarga Rai." Sapa si penembak tadi.


Rafael terbelalak karena selama ini yang dia tahu dari daerah Cendrawasih hanya perumahan elit biasa, nyatanya memiliki keamanan tingkat tinggi. "Inikah keamanan tingkat tinggi daerah Cendrawasih dalam ?!!"


"A.. Ayah, Ibu bagaimana ?!" Teriak Eka dengan khawatir.


"Keluarga kalian aman dan... terima kasih sudah melindungi mereka." Ujar si penembak sambil melihat Rafael dan kelima sahabatnya serta pak Setyo dan rekannya.


Pak Setyo hanya tertegun ketika melihat sosok yang sangat dia kagumi berada di hadapannya sekarang berada disamping penembak tadi. "Pak guru Said ?!"


"Halo anak didikku." Sapanya.


Kelompok daerah Cendrawasih sangat aman sekarang. Kemungkinan tidak aman itu adalah perbuatan orang dalam. Saat ini orang luar tidak akan mungkin bebas masuk, perlu pemeriksaan ketat.