
Gideon beserta yang lainnya berangkat dengan perasaan yang campur aduk. Tak ada satupun yang hendak berbicara selain permasalahan ini.
Kelompok The Red sendiri dibawa oleh kelompok Agus untuk membantunya, itu kata Gideon. Mobil Jeep berada di barisan depan diikuti iringan mobil bak terbuka yang besar dan disamping baknya tertulis TNI. Ada 2 mobil yang mengikuti mobil Jeep.
Semuanya dalam kecepatan maksimal yang bisa dilakukan. Mereka meliukkan kendaraan ke penjuru jalanan tanpa memperdulikan kendaraan dan para zombie yang menutupi jalan. Mereka libas habis semuanya.
"Tunggu Ayah, Jaka!!"
"Nak Rafael, tunggu kami!"
...
Di sisi lain, di rumahnya Hendro. Saat ini terjadi pertempuran yang cukup hebat antara Rafael dan kelompok Agus.
Rafael yang sekarang mampu mengendalikan 4 buah tentakelnya semakin brutal dalam menyerang. Kawan-kawan Rafael tentu juga mengambil tempat sesuai kenyamanan mereka.
"Aarghh! Kalian ini!" pekik Rafael kesal.
Matanya merah menyala. Rambutnya yang putih semakin putih pucat. Tentakelnya berubah warna menjadi merah kehitaman.
"Kawanku, Rafael. Aku akan membantumu." Terdengar suara di kepala Rafael.
Dia hanya mengangguk paham.
Tak berapa lama, dengan total 6 buah tentakel keluar dari punggungnya. Kecepatannya bahkan bertambah. Hal yang sebenarnya mustahil terjadi disini. Manusia berkecepatan suara? Itu mustahil!
Rafael benar-benar dalam kecepatan suara. Rafael melesat nyaris menyentuh kecepatan sebuah jet sipil XB-1 disaat maksimalnya yaitu 1608 kilometer per jam. 1,3 mach, Bung!
"Kecepatanmu sekarang menyentuh 1500 kilometer per jam."
Rumah Hendro benar-benar porak-poranda akibat dentuman sonik milik Rafael. Semua orang terhempas jauh, kaca-kaca rumah pecah. Benar-benar hancur. Beberapa orang bahkan telinga mereka mengeluarkan darah.
Benar-benar diluar nalar manusia apa yang ada pada Rafael. Beruntungnya, teman-teman Rafael, Jaka dan ibunya telah berada di dalam rumah dan bersembunyi di balik tembok yang kokoh.
"Rafael menggila!" seru Bryan kesenangan.
Angin terus menerus menerpa sekitaran rumah Hendro. Helikopter yang terus terbang diatas rumah Hendro terhempas jatuh akibat dentuman sonik milik Rafael.
"Oh iya, aku cuma memberitahu. Kekuatan maksimalmu hanya bisa dipakai sekali setiap waktu yang cukup lama. Aku tak mengetahuinya kapan lagi."
Penjelasan dari kawan virusnya membuat Rafael menggigit bibir bawahnya. "Aargh! Lupakan lah!"
Benar-benar pertarungan yang berat sebelah. Pertarungan diluar nalar manusia. Umumnya laju peluru dibawa 1000 kilometer per jam, melawan 1 kali bahkan lebih kecepatan suara.
"Woaaa!"
"Herkkh!"
"Tolooong!"
"Mati kau!!"
"Dasar brengsek!"
"Hurgh!"
Ragam macam umpatan atau perkataan keluar dari mulut pasukan gabungan yang dipimpin oleh Agus.
Dentuman sonik perlahan menghilang. Abu-abu yang beterbangan juga perlahan hilang. Ketika kekacauan itu hilang, terlihatlah sesosok lelaki terkapar di tanah.
"Herkh! Efek sampingnya ... membuatku ... mau ... ma–"
Rafael benar-benar pingsan. Dia yang awalnya sangat kuat, sekarang menjadi rentan dalam bahaya. Semua moncong senjata api mulai membidik kearahnya.
"Mati kau, monster!!" pekik Agus sambil menembakkan pistolnya ke langit sebagai tanda aba-aba.
Suara rentetan peluru terdengar pada saat itu. Semua pihak rumah Hendro pun hanya tertegun melihat satu-satunya orang yang cukup kuat diberondong oleh peluru.
...
Di sisi lain, kelompok Setyo dan lainnya sudah sangat dekat dengan rumahnya Hendro. Dari jauh sudah terdengar suara tembakan. Beberapa meter kemudian, mereka benar-benar sampai kemudian dengan memberondong tembakan.
"Apa yang kalian lakukan, brengsek!!" teriak Setyo lantang dan terdengar diseluruh penjuru perumahan.
Agus yang mendengar itu dengan sombong berjalan kearah kelompok Setyo yang benar-benar sedang menembak satu persatu pasukannya Agus.
"Tenanglah!" teriak Agus sambil mengangkat kedua tangannya.
Semua tembakan berhenti. Ketegangan melanda semua orang. Tak ada yang berani berucap sebelum Agus membuka suara.
"Human-Z itu sudah musnah!" ucap Agus dengan sombong.
Semua orang yang berada di kubu Gideon hanya tersentak kaget. Pandangan mereka benar-benar menjadi kosong. Terlebih Setyo dan Hendro. Mata mereka membulat sempurna. Deru napas menjadi tidak teratur.
Di tengah kesunyian itu, tiba-tiba terdengar ledakan yang sangat besar dengan asap membumbung tinggi. Setelah itu terdengar suara rintihan dimana-mana. Tak sampai disitu, sebuah dentuman sonik kembali terjadi. Semua orang terhempas bahkan kendaraan terbalik.
"A-apa yang terjadi?!"
"Ini benar-benar mustahil!!"
"Negara tirai bambu benar-benar membuat virus yang mengerikan!!"
"Aarrghh!"
"Am-ampuni sa–"
"Ti—tidak!!"
Terjadi kekacauan kembali. Siluet hitam terus bergerak kesana kemari. Sosok itu benar-benar tak pandang bulu, bahkan beberapa orang dikubu Gideon dia hempaskan jauh-jauh. Sebelum bertambah banyak korban, kubu Gideon segera mengevakuasi diri mereka menjauh dari sosok mengerikan itu.
Sosok yang terbuat dari virus CytraZ-24 dan terus menerus bermutasi menjadi Human-Z. Sosok yang sangat mustahil di zaman sekarang? Oh tidak. Ini benar-benar terjadi! Sosok ini benar-benar ancaman manusia jika tidak dikendalikan.
...
Jauh dipikiran seseorang. Saat ini sesosok tubuh dalam keadaan luka parah sedang terkapar nyaris tewas. Sebuah visual pembantaian tertera di hadapan wajah sosok tubuh ini.
Sosok tubuh ini beranjak dengan perlahan. "Aku dimana lagi ini ..."
"Kamu berada di ruang kesadaran virus Human-Z. Tubuhmu sedang mengalami mutasi kedua dari Human-Z. Sosokmu akan benar-benar berbeda," ucap siluet bayangan hitam.
"Aku ... masih Rafael, kan?"
"Kemungkinan iya, kemungkinan tidak. Kamu harus bisa mengendalikan mutasi kedua Human-Z. Jika tidak, maka tubuhmu akan rusak dan membuat kau tidak terkendali dan menghancurkan apa saja."
"Aku ... masih Rafael, kan?"
"Visual di depanmu, itu bukan lah dirimu. Makanya kamu harus segera sadar! Sadarlah, Rafael!"
"Heaaarrghh!"
Teriakkan kesakitan yang sangat depresi. Tubuh terluka itu dirantai oleh sebuah bayangan hitam. Dengan usaha yang keras, akhirnya rantai bayangan hitam itu terputus.
"Terima kasih, kawan virusku! Aku harap kamu tetap menjadi kawan virusku!"
"Aku juga harap seperti itu, Rafael," ucap sosok bayangan hitam itu dengan lirih.
Perlahan sosok bayangan hitam itu seperti terbentuk menjadi sebuah tubuh. Hanya saja, Rafael tidak melihat itu dan terus berlari ke seberkas cahaya di ujung sana.
"Aku harap itu, Rafael."
Sosok tubuh itu menghilang seperti tak pernah ada. Namun, masih ada sepasang mata yang mengawasi tubuh milik Rafael. Sepasang mata yang sangat ingin tubuh manusia tersebut. Sepasang mata yang memiliki hasrat tinggi untuk mempunyai tubuh inang seperti Rafael.
...
Keadaan sekarang sangat kacau. Banyak mayat bertebaran dimana-mana. Banyak yang kehilangan anggota tubuh mereka. Bahkan ada yang menghilang? Ah, itu cukup mengerikan.
Rafael berhenti tepat sebelum dia menuju ke rumah Hendro dan akan menghancurkannya. Sekarang, tubuhnya menjadi lebih pucat, iris matanya berubah menjadi putih total, tubuhnya menjadi seperti lebih berotot. Pemikirannya seakan dirasuki jiwa orang jenius.
"Ini ... perubahannya sangat drastis!"
Rafael memalingkan wajahnya dari rumah Hendro dan melihat ke belakang. Matanya seketika terbelalak ketika halaman rumah porak-poranda seperti terkena angin topan. Bahkan mayat-mayat bertebaran. Mobil-mobil terguling hancur.
"Ugh ... mengerikan sekali apa yang aku buat," ucap Rafael merasa merinding.
Kelompok Gideon dan orang-orang yang ada dalam rumah mulai mendekati Rafael dengan waspada.
"Ra-Rafael? Kau kah itu?" tanya Bryan sambil menodongkan pistolnya.
"Nak Rafael?" ucap Setyo juga sambil menodongkan pistolnya.
Rafael bergerak sedikit dan membuat semua orang terkejut. Langsung saja Rafael melompat di tempat untuk mencairkan suasana.
"Aha ... maafkan aku. Ini aku, masih Rafael Smash seorang Human-Z mutasi 2," ucap Rafael. Eh?! Mutasi 2? Secara tak sadar aku berucap itu! Batin Rafael tersentak.
"Fyuuh ..."
Tarikan napas lega dari semua orang.
"Tak semudah itu!"
Dor!
Suara tembakan terdengar dan peluru melesat kearah Rafael. Peluru itu sangat cepat dan benar-benar mengancam nyawa Rafael. Meskipun Rafael sudah bukan manusia biasa, dia tetap masih bisa mati.
Semua orang masih tertegun. Namun, ada seorang yang sadar dan segera melompat ke depan Rafael. Dia benar-benar tak peduli apakah peluru itu akan mengenainya atau tetap melewatinya. Prinsipnya 'Ada usaha ada hasil, meskipun itu buruk, aku tetap menanggungnya, walaupun itu tidak buruk bagiku, aku sangat menyesal tidak bisa menyelamatkan kawanku'.
Sesosok tubuh ambruk ke tanah dengan bagian dada yang bersimbah darah segar. Semua orang terkejut akan gerak refleks sosok tubuh itu.
"Ti-tidak mungkin! Ini cuma mimpi, kan?!!" pekik Rafael menghamburkan diri ke sosok tubuh itu.
Sang penembak telah ambruk jatuh, disisa nyawanya dia juga mengambil nyawa orang lain.
***