Human-Z

Human-Z
Chapter 74 : Ayo Kita Mengarungi Lautan!



Keesokan harinya.


Ombak laut yang tenang seakan menunggu kelompok Rafael mengarungi lautan. Langit biru yang cerah dengan beberapa awan putih menggumpal dibeberapa titik.


Rafael, Hugo, dan Araya telah benar-benar bersiap. Seharian kemarin Rafael pulang balik untuk mengisi tangki bahan bakar yang sebenarnya 2 mesin itu memiliki masing-masing kapasitas bahan bakar sekitar 200 liter, benar-benar isi tangki bahan bakar yang banyak. Mereka semua memakai pakaian yang cukup tebal. Karena dipastikan ditengah lautan akan berubah cuacanya. Bagaimanapun seharusnya bulan ini adalah musim penghujan.


"Baiklah, Kak Rafael keluar sebentar dulu, kalian bersiap-siap saja," ucap Rafael dan langsung pergi begitu saja.


Hugo dan Araya tidak mempermasalahkannya. Malah mereka tentu mengizinkan apapun yang mau dilakukan Rafael.


Rafael pergi menaiki motornya dan menuju tempat yang paling dia kenang.


Sekitar setengah jam dia menuju tempat tujuannya. Matanya terbelalak ketika sampai sekitar 50 meter dari tempat tujuannya.


Dia melihat rumah Hendro yang benar-benar berbeda. Sekeliling rumah itu dipagari oleh kawat besi dan beberapa baja ringan dengan di setiap sudutnya ada menara kayu setinggi beberapa meter.


"Apakah mereka tidak berencana pergi? Seharusnya menetap di tempat begitu lama maka akan terus mengundang zombie," gumam Rafael.


Terbukalah gerbang untuk keluar masuk. Rafael melihat mobil Jeep berwarna hitam metalik keluar dengan beberapa personil tentara di dalamnya.


Ah, sudahlah. Mereka akan memilih jalan sendiri, pokoknya ini yang terakhir kali aku melihat kalian. Mungkin kita akan bertemu lagi, tetapi aku telah menjadi suatu yang berbahaya? Batin Rafael kemudian kembali menaiki motornya dan tancap gas menjauhi rumah Hendro.


Tak terasa bulir air mata mengalir keluar dari matanya. Diperjalanan menuju tempat Hugo dan Araya, Rafael mengingat seluruh perjalanan mereka dari awal sekolah mereka diserang zombie hingga harus menulis surat perpisahan tersebut.


Rafael telah sampai di dermaga dan di sana telah menunggu Hugo dan Araya. Mereka berdua sedang memandang lautan luas di sana. Rafael datang dan langsung menyalakan mesin speed boat.


"Yo! Kalian sudah siap?!" seru Rafael.


Hugo dan Araya saling pandang dan langsung berlari menuju Rafael dengan mata berbinar.


"Kami sudah siap!" Serentak mereka berdua.


"Ayo kita mengarungi lautan!" pekik Rafael bersemangat.


Beruntungnya Rafael dimasa pelatihannya sebagai agen Garuda-45, dia telah banyak mempelajari beberapa kendaraan yang harus digunakan jika dalam misi. Salah satunya kapal speed boat.


Kapal speed boat dipaksa mengarungi lautan atau paling tidak melewati selat Makassar yang cukup dikenal dengan beberapa ombak besarnya. Kapal speed boat ini beberapa kali harus terombang-ambing melawan ganasnya selat Makassar.


Kalian pernah dengar, speed boat menyeberangi suatu selat atau lautan untuk menuju pulau seberang yang jaraknya menembus 1000 kilometer atau sekitar 530 mil laut.


Speed boat yang dibilang kapal kecil ini sebenarnya mampu, tetapi diharuskan memaksanya untuk ke tenaga akhirnya.


Kecepatan pelayaran speed boat dikecepatan normal paling tidak 28 knots dan dikecepatan maksimalnya tembus 40 knots.


3 jam sudah setelah speed boat meninggalkan dermaga kecil di Makassar. Sejauh mata memandang hanya ada lautan yang begitu luasnya. Ini cukup membosankan. Namun, sebagai nahkoda untuk pertama kalinya, dia harus kuat dan membuang rasa kebosanannya dengan cepat. Jika tidak, maka speed boat akan mengalami goyah ketika Rafael tidak sedang memegang stir.


"Radar sejauh 1 kilometer ada sebuah titik merah!" seru Rafael ketika melihat radar digital yang terus berputar untuk melakukan pemindaian.


Tepat diarah jam 2 jauh ke depan sana, ada sebuah titik merah. Titik merah itu juga bergerak, tetapi dalam kecepatan yang rendah.


"Kapal?" gumam Rafael sambil berpikir.


"Sepertinya itu kapal, Kak!" sahut Hugo ketika dia melihat jelas radar itu.


Jaraknya tersisa 500 meter lagi, tetapi belum ada tanda-tanda keberadaan benda laut.


Rafael pun mengambil teropong untuk melihat ke arah jam 2 dari kapal speed boatnya. Seketika matanya terbelalak ketika lensa teropong yang dalam memperbesar jarak penglihatan jauh di sana menampakkan sebuah kapal besar dengan dominan memiliki warna abu-abu namun, terlihat garang. Kapal ini terlihat kokoh dengan bendera Indonesia tepat dipuncak kapal, lambung bagian depannya ada sebuah deretan angka tertulis, yaitu 0512.


"Kapal perang Republik Indonesia?!" sentak Rafael.


Hugo merampas teropong yang sedang dipakai Rafael. Dia juga melihat dengan jelas sebuah kapal besar jauh di sana.


"Iya, Kak. Itu kapal perang yang aku tau, kalau tidak salah kapal berjenis fregat!" seru Hugo sedikit senang.


"Baiklah, aku akan mengirim pesan radar kesana!"


****