Human-Z

Human-Z
Chapter 47 : Kegilaan Rafael



Pak Setyo, Laura, Eva dan Revi mengangkat Wahyu ke atas sofa yang berada di ruangan dokter tersebut. Wahyu dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar. Tubuhnya dipenuhi darah segar.


Wahyu tersenyum kepada semua orang yang menatapnya kasihan. "Tak apa… aku… akan tenang disana… katakan salamku… pada… Kak… Rafa—" Sebelum menyelesaikan perkataannya, Wahyu menghembuskan nafas terakhirnya.


"Ja-jangan! Jangan pergi, Wahyu!!" seru Revi dengan frustasi.


Bagaimanapun, Wahyu dia anggap seperti adiknya sejak pertama kali bertemu saat memasuki sekolah SMA Misu. Wahyu yang periang, cerdas, tampan sangat dikagumi oleh sebagian orang di sekolah.


"Rafael sudah aman—" Clara jatuh berlutut setelah melihat semua sahabatnya dalam kesedihan.


"Jangan bilang?!" Clara menyergah dan melihat Wahyu yang telah tertutup matanya dalam keadaan senyuman hangat.


Clara meronta-ronta, dia ditahan dan ditenangkan oleh pak Setyo. Sama seperti Revi, Clara menganggap demikian. Laura dan Eva hanya bisa terdiam tanpa bersuara, bagaimanapun dizaman kehancuran ini mereka dapat memahami perasaan kehilangan.


"Terima kasih, Wahyu!" ucap semua orang yang berada di sana.


Tanpa mereka sadari, Rafael telah sadarkan diri dan menatap dengan kosong ke arah Wahyu yang terbaring di sofa. Beberapa saat kemudian, Bryan sadar segera mendekati Rafael. Namun seketika Rafael berperilaku seakan bukan Rafael yang seperti biasanya.


"Rafa?" tanya Bryan mencoba menanyai kondisi Rafael.


Deru nafas Rafael terdengar berat, matanya berubah merah menyala. Perlahan 6 buah tentakel muncul dari balik punggungnya. Semua orang yang berada di sana langsung tersadar dan meninggalkan dengan segera ruangan itu. Mereka membawa Wahyu keluar juga. Clara langsung menutup pintu kaca itu dan menguncinya kembali.


Terlihat Rafael yang mengobrak-abrik ruangan kaca itu, segala sesuatu dia hancurkan. Bahkan dia mencabik-cabik kedua tubuh dokter tersebut dengan brutal dan tanpa rasa kemanusiaan. Mereka yang melihat itu merasa ngeri jika berada di sana.


"Rafael sedang tidak terkendali, bagaimana ini?" tanya Bryan seraya mondar-mandir dengan perasaan khawatir.


"Sabar. Kita bisa menunggunya untuk tenang, kita yang masih manusia seutuhnya sudah bukan tandingannya!" kata Clara dengan raut wajah serius.


Namun kelima murid SMA Misu dan Anindira langsung menatap penuh arti kepada pak Setyo. Pak Setyo yang sadar dia ditatap oleh 6 pasang mata pun mulai risih.


"Saya bukan tandingan teman kalian," ucap pak Setyo kesal.


Laura menangis sesenggukan setelah saat di ruangan tadi tangisannya tertahan. Dia tidak menyangka juniornya akan pergi dengan cepat untuk selama-lamanya meninggalkan para senior ini.


"Terima kasih, Wahyu! Te-terima kasih! Pengorbananmu tidak sia-sia! Rencanamu sangat licik namun itu sangat berarti! Terima kasih!" ucap Laura.


Mereka yang melihat Laura menjadi tambah sedih. Apalagi selama beberapa hari ini mereka melewati masa-masa menegangkan bersama-sama.


Rafael sendiri, dia masih sangat ribut dengan kegilaannya. Dia tanpa henti mengamuk. Tentakelnya dia ayunkan kesana kemari. Sehingga membuat goresan sedikit demi sedikit pada dinding kaca ruangan. Melihat itu, Bryan tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sudah melihat peluru Ak-47 Revi yang memantul liar dan bom dinamit yang berdaya ledak tinggi tidak mampu menggores sedikit pun dinding kaca tersebut.


Mereka duduk dengan termenung menatap ruangan kaca di hadapan mereka. Sudah berapa lama mereka menunggu mengamuknya Rafael, namun tak kunjung berhenti. Bryan dan Revi sendiri juga sudah memberikan tempat terakhir untuk Wahyu. Mereka menguburkannya secara darurat dipemakaman rumah sakit sambil terus diganggu oleh para zombie. Revi menembakkan peluru ke langit sebagai penghormatan terakhirnya kepada Wahyu.


4 jam lamanya Rafael terus mengobrak-abrik isi ruangan kaca. Bahkan mayat kedua dokter sudah benar-benar tidak berbentuk. Bentukannya sudah seperti bubur, hancur lebur, tulang-belulang berhamburan yang sebagian hancur. Mungkin siapa saja yang melihatnya akan merasakan mual, namun tidak dengan murid SMA Misu, Anindira serta pak Setyo yang sudah terus-menerus melihat zombie yang kepalanya hancur atau tubuhnya hancur akibat tembakan.


POV Rafael Aktif


Aku telah dikurung di dalam penjara kegelapan. Saat ini kawan kelamku, atau bisa dibilang kawan virusku sedang mengendalikan emosiku sendiri. Aku sebenarnya merasakan luapan emosi setelah melihat Wahyu sedang ditangisi oleh sahabat-sahabatku, namun luapan emosi ini tidak dapat terbendung sehingga harus dikeluarkan secara sepihak oleh kawan virusku.


Dia mengurung kesadaranku di dalam sebuah penjara yang tanpa secercah cahaya sedikitpun. Tubuhku mati rasa, kedua tangan dan kakiku dirantai. Aku merasa bodoh, aku merasa kesal dengan diriku. Aku tidak bisa mengendalikan kekuatan gila ini. Aku tidak bisa melindungi orang-orang terdekatku dari marabahaya.


"Brengsek!" umpatku dengan pandangan kosong kearah luar jeruji besi kegelapan.


Aku melihat visualisasi dari pengendalian kawan virusku. Dia benar-benar mengamuk. Entah sampai kapan, bahkan aku merasakan tubuhku mulai kelelahan. Aku benar-benar gila sekarang. Tak habis pikir, aku bisa dikendalikan dengan mudah oleh kawan virusku.


"Aku harus menjadi kuat!" Aku menatap visualisasi hitam putih di depanku dengan sungguh-sungguh. "Ya, aku harus menjadi lebih kuat agar dapat mengendalikanmu, kawan virusku!" lanjutku dengan mata tegas.


Beruntungnya aku berada di ruangan yang tak dapat mudah ditembus. Beberapa kali tentakel yang aku lihat dari visualisasi hitam putih tidak dapat merusak dinding transparan tersebut. Aku pun melihat berapa kali sahabat-sahabatku, Anindira dan pak Setyo yang sedang menunggu dengan setia mengamuknya kawan virusku akibat luapan emosiku tadinya.


Aku sudah muak. Aku ingin sekali menghajar kawan virusku, akan tetapi sekarang dia berada ditubuhku dan seakan sebuah bom waktu yang akan meledak kapan saja. Kawan virusku dapat langsung menghabisi kesadaran manusiaku tanpa aba-aba jika aku bertindak lebih. Saat ini aku melawan sesuatu yang berakal sehat dari dalam tubuhku. Dia tidak lebih dari sesuatu yang menghancurkan umat manusia. Meskipun yang menghancurkan umat manusia awalnya adalah kakaknya? CytraZ-24. Lucu ya, aku berimajinasi dengan liarnya.


Tiba-tiba perlahan tubuhku mulai menghilang dari penjara kegelapan itu. Aku merasa senang, apakah kawan virusku telah selesai dari mengamuknya? Sesaat kemudian aku malah berpindah ke tempat antah-berantah, sebuah padang rumput yang luas. Itu membuat aku mengingat perkumpulan keluarga sahabat. Disana aku kembali melihat kuda putih anggunku, Lucien.


"Bohh!!" Aku dikagetkan ketika seseorang memegang bahuku.


Aku berbalik dan menampakkan bentuk diriku dalam siluet putih. Dia sedang tersenyum menyeringai padaku. Aku yang tau siapa dia, mencoba menghajarnya. Namun apa daya, dia terlalu gesit. Dia adalah kawan virusku.


"Silahkan ambil kembali tubuhmu, luapan emosimu sangat luar biasa!"


Aku mengernyitkan dahi dengan heran. "Ini pujian atau hinaan? Itu seperti terdengar untuk memerintahkan aku selalu meluapkan emosi berlebih?" tanyaku sambil berjalan mendekatinya.


"Luapan emosimu mewakiliku juga. Aku dapat membalas dendam kepada orang yang membuat tubuh Rafael ditahan! Lain kali jangan ceroboh?!"


Astaga! Dia menasihatiku. Dia seperti seorang sahabat. Namun aku tidak akan pernah menganggapnya seperti itu. Lagipula aku juga kesal dengan kedua dokter itu. Mereka sangat gila untuk bereksperimen dan lagi sepertinya aku subjek kelima mereka. Sepertinya sebelum aku, ada 2 orang yang tidak terdata dalam arsip dokumen rumah sakit.


"Terima kasih sudah mewakiliku! Lain kali jangan seenak jidat mengambil hak tubuhku!"


Aku memperingatinya. Setelah itu aku langsung dilemparkan tinggi-tinggi ke langit. Kemudian aku tiba-tiba tersadar dalam keadaan terlentang di lantai. Ya, aku nampaknya telah sadar sepenuhnya.


"Berakhir juga kegilaannya…" gumamku lega seraya menutup sebelah mataku memakai telapak tanganku. Rasanya mau mati setelah merasakan kelelahan luar biasa pada tubuhku.


"Sial, berapa jam dia mengamuk?!"


POV Rafael Nonaktif