Human-Z

Human-Z
Chapter 54 : Hari Tanpa Tekanan



Rafael dan kawan-kawan serta semua anggota keluarga Hendro sedang bersantai di halaman belakang rumah. Mereka masing-masing merenungi nasib mereka kedepannya. Rafael sendiri hanya memandang awan-awan yang mulai menghitam.


"Sepertinya akan hujan," ucap Rafael sambil duduk santai di atas rumput.


"Ya, ini adalah hujan untuk pertama kali sejak virus menyebar!" sahut Laura lirih sambil menghela nafas.


Semua orang sedang asyik dengan imajinasi liar mereka. Masing-masing hanya berdiam diri menunggu waktu malam. Sekarang pukul 4 sore. Masih cukup lama untuk terbenamnya matahari.


Hendro dan istrinya berdiri, mereka berjalan kearah kebun sayuran yang terlihat sangat segar. Hendro melihat kearah Rafael dan kawan-kawan. "Bagaimana kalau kalian membantu kami panen?" tanya Hendro sembari menunjukkan senyum merekah.


Rafael berdiri tanpa basa-basi, lagipula dia tidak ada kerjaan untuk saat ini, apalagi dizaman kehancuran seperti ini. Seseorang beraktivitas paling tidak hanya untuk membasmi para zombie, menjarah minimarket, membunuh siapa saja yang menghalangi atau mengganggu mereka dan mencari tempat tinggal yang cukup layak. Tidak lebih.


Rafael berjalan mendekati Hendro sambil menggerak-gerakkan pinggulnya. "Hyaaa! Sepertinya boleh juga, lagi butuh hal yang bermanfaat sedikit nih! Lelah bertarung dengan Jaka tadi…."


Hendro tersenyum senang. "Siapa lagi?"


Semua orang langsung berdiri dengan semangat. Lagipula mereka sama sekali tidak memiliki aktivitas yang bermanfaat.


Akhirnya, semua orang masing-masing memiliki tugasnya. Anindira, Clara, Eva dan Laura bertugas untuk kembali menanam beberapa sayuran agar stoknya menjadi bertambah banyak. Rafael dan lainnya bertugas untuk memanen sayuran yang sudah terjadwal untuk dipanen.


Agar efisien, Rafael bertanya kepada Hendro. "Emm… Pak, boleh saya menggunakan tentakel saya?"


Hendro menatapnya dingin. "Jangan, itu kotor. Lebih baik senatural mungkin agar rasa senangnya terasa!"


Rafael hanya mengangguk paham. Dia menuju barisan sayuran bayam, disana dia memanen beberapa dan meletakkannya di dalam keranjang. Rafael sendiri merasakan hal yang dikatakan oleh Hendro.


"Hmm… setelah Apocalypse ini aku akan bercocok tanam aahh…" ucap Rafael dengan semangat membara.


Dia sudah memiliki rencana yang matang. Tentunya dia juga harus merasakan lagi kedamaian dunia. Dia tidak mau meninggalkan dunia tanpa merasakan kedamaian dunia selepas bencana virus ini. Tapi itu tergantung takdir Tuhan. Jika Tuhan berkehendak, siapa yang bisa melawannya? Tidak ada!


Jaka mendekati Rafael. "Nanti kita bertarung lagi yaa!" ucapnya dengan mata berbinar.


Saat ini dia menjadi lebih yakin untuk menyisir poni rambutnya ke kanan sehingga mata indahnya sangat terlihat jelas. Mungkin jika mata ini ada di dunia yang masih damai, Jaka akan dikejar banyak wanita akibat matanya yang indah dan apalagi wajahnya yang terbilang tampan juga.


"Hei, kalian berdua. Jika bertarung, jangan coba-coba di halamanku atau kalian akan mendapatkan sesuatu yang lebih menakutkan dari kekuatan kalian!" ucap Hendro memberikan peringatan dengan menatap tajam kearah Rafael dan Jaka.


Tatapannya bagai elang yang menargetkan seekor anak ayam yang tak bisa apa-apa dan menunggu dia dimangsa elang. Aura ketentaraan Hendro keluar jelas, bahkan semua orang disana merasakannya. Ini tentara biasa? pikir mereka bersamaan.


"Yeaaah!! Aku mendapatkan bawang merah yang besar!" teriak Eva bahagia sambil berjingkrak kesenangan mengangkat tinggi-tinggi hasil panenannya.


"Bukannya pembagian tugas ada?" tanya datar Rafael.


Jaka melihat Rafael dengan aneh. "Hahaha! Kau terlalu kaku, Rafael!" ucap Jaka sambil memukul pelan pundak Rafael. "Itu menyenangkan, loh!" lanjutnya seraya mencoba mencabut sebuah wortel yang masih utuh di tanah.


Jaka mencabutnya dengan mudah, tetapi setelah dia mengangkatnya, Jaka langsung bahagia bukan main. Bagaimana tidak? Wortel itu sangat subur, cukup besar dari ukuran normalnya. Walaupun hanya menambah beberapa milimeter diameternya, tetapi itu akan menambah stok makanan juga.


"Hayoloh! Bagaimana dengan kamu?" tanya Jaka menggoda Rafael.


Rafael yang kesal dia langsung mencabut sebuah wortel disana. Setelah mencabutnya, Rafael merasa senang karena yang dia cabut sedikit berat. Setelah mengangkatnya sejajar wajah. Matanya membelalak setelah terlihat seekor tikus tanah sedang menggigit erat wortel yang sudah dibeberapa bagiannya rusak.


"Hahaha! Kamu sedang sial!" ejek Jaka.


Semua orang yang berada disana tertawa lepas seakan tidak ada beban. Rafael merasa malu, tetapi dia buang jauh-jauh dan ikut tertawa lepas. Sungguh, perasaan yang tertekan terasa menghilang.


...


Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam, semua orang kecuali ibunya Jaka, Hendro dan Setyo sedang duduk di kursi makan. Setyo, Hendro dan ibunya Jaka sendiri sedang menyiapkan makanan yang cukup besar. Jadinya, agar spesial, mereka bertiga sama sekali tidak mau dibantu oleh orang lain.


Dapur dan ruang makan sendiri itu terpisah dinding sekat pembatas. Sehingga apa yang dilakukan di dapur tidak terlihat dan hanya terdengar suara memasak.


Beberapa saat Rafael dan kawan-kawan serta Jaka yang menunggu di ruang makan, akhirnya makanan datang dengan aroma yang sangat menggiurkan. Bahkan zombie sekalipun akan tergiur. Ya, itu tergantung juga sih.


"Masakan spesial datang! Ini kami bertiga buat dengan cinta kepada para remaja ini!" ucap ibunya Jaka. Dia bernama Nur Aini.


Setyo, Hendro dan Nur Aini duduk di kursi masing-masing. Masakan malam kali ini cukup spesial, karena ini adalah hasil panen semua orang. Hasil usaha semua orang.


Semuanya menikmati bersama makan malam itu tanpa tekanan. Semua saling berbincang-bincang disela-sela kesibukan mengunyah makanan. Canda tawa terdengar beberapa kali.


Benar-benar seharian ini mereka merasakan tanpa tekanan sekalipun. Walaupun kelompok Rafael sempat merasakan tekanan dipagi harinya, tetapi saat siang hingga malam mereka merasa tekanan berat itu telah terbuang jauh-jauh dari hidup mereka.


"Haa… semoga canda tawa ini masih bisa esok hari," ucap Rafael diikuti anggukan kepala semua orang di meja makan.