
Suasana cerah berawan itu menghiasi pagi yang mulai menanjak menjelang siang. Nazyela sedang menikmati teh dan beberapa camilan.
" Aku tidak suka yang ini, apa ada yang model lainnya?"
Tanya Nazyela pada Nakuna yang menunjukkan beberapa model gaun yang akan ia pakai hari ini.
Sayangnya semua gaun-gaun itu tak menarik satu pun perhatiannya.
Nakuna dengan penuh sabar menunjukkan kembali beberapa helai gaun. Wanita itu tidak membenci perlakuan Nazyela yang sangat cerewet beberapa bulan terakhir ini. Ia sangat memaklumi karena nonanya yang sedang berbandan dua.
"Maafkan aku, entah kenapa aku juga bingung. Rasa cerewet ku ini makin menjadi saja"
Ujar Nazyela mengeluh pada diri sendiri.
"Sepertinya ini bawaan si bayi yang mulai menunjukkan sifat ayahnya yang mulia pangeran"
"Hehehe, sepertinya begitu. Setelah menikah dengannya aku baru tahu dia sangat cerewet. Padahal dulu dia sangat dingin".
Nazyela berkata sambil menatap jauh ke luar jendela. Ia terkekeh bila mengingat dulu sikap Jongya padanya.
"Sampai saat ini pun masih"
Ungkap Suly yang datang entah dari mana.
Nakuna menundukkan kepala kepada Suly.
"Anda ingin kopi nona Suly?"
Tanya Nakuna.
"Teh saja"
"Baiklah"
Nakuna lalu memerintahkan pelayan yang berada di dekat mereka untuk membawakan teh untuk Suly.
"Ada baiknya dia memiliki sifat seperti itu. Jika tidak mungkin saja saat ini kau sudah makan hati dengan selirmu?!"
"Selir?!"
"Kau lupa suamimu itu pangeran yang di dambakan para putri bangsawan di negara ini? Kau kemana saja? Apa kau tidak tahu suamimu sering di goda wanita lain?"
Apa karena itu dia melarangku nggak usah keluar rumah?!
"Maksud mu?"
"Bukankah negara ini memperbolehkan pria memiliki selir? Bukan tidak mungkin suami mu memiliki selir jika dia tergoda oleh rayuan para putri bangsawan-bangsawan itu"
"Lalu apa Jongya memiliki calon selir?"
"Tidak, atau belum. Mengingat sifatnya yang dingin itu, tentu susah bagi para putri itu mendekatinya"
"Fiuuuh... syukur lah"
Setelah percakapan yang sedikit membuat kesal dengan kabar yang Suly bawa, Nazyela bernapas lega karena sang suami masih setia padanya.
Nakuna yang mendengar percakapan mereka hanya menggelengkan kepala. Ia tahu jika Suly datang pasti ada saja hal yang membuat perbincangan antar mereka menjadi heboh karenanya.
"Apa kabar ponakanku dalam perut mu ini?"
Suly meletakkan tangannya di perut Nazyela lalu mengusapnya lembut. Saat Suly sedang mengelus perut buncit itu, bayi yang ada di dalam sana bergerak keras hingga wanita itu tersentak.
"Dia bergerak?! Hai ponakan ku, aku tahu kau menyukaiku. Nanti saat kau lahir aku akan mengajarimu menaklukkan wanita"
"Astaga... dia masih polos dan kecil sekali untuk kau ajari hal begitu?!"
"Aku hanya bercanda, hahaha..., akan sangat buruk jika anakmu seperti ayahnya yang lambat dalam bergerak. Maksudku bertindak..."
"Bagaimana jika bayi ku ini perempuan, apa kau akan mengajarinya hal itu juga?"
"Hmm... kau benar, karena aku tidak kepikiran sampai kesana".
Ya Allah, jangan sampai anakku seperti Suly..
Nazyela terlihat berpikir sambil meneguk tehnya.
"Jangan bilang kau mendoakan agar anakmu tidak mirip denganku"
"Hah?!"
Astaga.. kok bisa tahu?!
"Kenapa? Kau berpikir kenapa aku bisa tahu? Itu terlihat jelas di wajahmu"
Nazyela langsung berpaling dan meneguk tehnya lagi.
"Aku tidak bilang seperti itu"
"Kau dan Jongya sama ternyata, tidak pandai berbohong"
"Hah, lalu apa rencanamu se.... aaghh, aaaghh...?!"
Nazyela mendadak meringis kesakitan. Ia memegang perutnya dengan rintihan yang terus keluar dari mulutnya.
"Kau kenapa?"
"Nona...?!"
Suly dan Nakuna menghampiri Nazyela dan memegang tubuh wanita itu.
"Cepat suruh dokter kemari, sepertinya dia akan segera melahirkan?!"
"Baik nona?!"
Nakuna segera melaksanakan perintah Suly. Wanita itu menyuruh seorang pengawal memanggil dokter, lalu 2 seorang lagi pergi menemui pangeran Jongya dan pergi ke kediaman Kley.
"Sebaiknya kita bawa nona ke ranjangnya"
Ujar Nakuna pada Suly. Mereka perlahan memapah Nazyela, membawa wanita itu ke ranjangnya dan merebahkannya disana.
"Aagghh,, huh... huh.. sakit?!"
Nazyela terus mengerang kesakitan. Hingga beberapa lama kemudian dokter datang bersamaan dengan Jongya dan Wilson.
Mereka bergegas menuju kamar dimana Nazyela direbahkan.
"Tangani isteriku dengan baik"
Perintah Jongya pada sang dokter.
"Baik yang mulia"
Dokter itu mendekati Nazyela dan mulai memeriksa keadaannya.
"Aaghh, jangan dia?! Aku tidak mau dia?!"
Teriak Nazyela menghentikan aksi dokter yang hendak menanganinya.
"Sayang, dia dokter"
"Tapi dia laki-laki, aku tak mau?!"
"Sepertinya dia malu, dokter anda bisa mengarahkan ke saya saja. Dokter bisa berada di dekatnya akan saya beritahu apa saja prosesnya. Tidak ada waktu lagi jika harus mencari dokter perempuan. Dan kau ini cerewet sekali?!"
Jelas Suly pajang lebar dan sempat memarahi Nazyela.
"Baiklah, tolong lakukan sesuai arahan saya nona"
Saran dokter pada Suly yang di respon dengan anggukkan oleh Suly.
Dengan bantuan Suly yang berada di bawah, dokter mulai mengarahkan tidakkan yang harus Suly lakukan.
"Dokter kepala bayinya mulai terlihat"
"Nona, tarik napas dari hidung keluarkan dari mulut sambil dorong keluar?!"
"Huh... huh.. huh... aaaagh..."
"Terus nona, tarik napas dalam-dalam dan dorong.."
"Aaggh..."
"Kepalanya sudah mulai keluar?!"
"Sekali lagi nona.. tarik napas dan dorong sekuat-kuatnya...?!"
"Huh... huh.. huh... Hiyaaa... aaaagh"
"Oeek... oeek...oeek..."
"Sudah lahir?! Tapi masih ada rambut lagi yang terlihat dokter?!"
"Kembar?! Nona lakukan seperti tadi, ayo mulai?!"
"Huh... huh.. huh... Hiyaaa... aaaagh"
"Oeek... oeek, oeek...?!"
"Sudah lahir keduanya normal?! Hei, Jongya kau hebat sekali sekarang kau memiliki 2 orang putra sekaligus?! Sayang... kau harus banyak belajar dari sepupuku. Aku juga ingin anak kembar?!"
Oceh Suly tiada henti sambil membersihkan sang bayi yang masih berlumuran darah. Setelah berhasil mengeluarkan sang bayi, barulah dokter mengambil alih kembali tugasnya.
"Sayang, azankan kedua putra kita. Kau sudah belajar kan?"
Pinta Nazyela pada suaminya dengan suara lemah. Jongya yang terlihat sangat bahagia itu tak dapat berkata-kata. Air mata haru hampir lolos dari pelupuk matanya. Ia mendekati Nazyela lalu mencium kening wanita itu. Kemudian mendekati kedua putranya dan mulai mengazaninya satu persatu.
Keluarga besar Kley berdatangan di saat yang tepat. Mereka pun bahagia menyambut anggota keluarga baru mereka dengan penuh suka cita.
"Dia tampan sekali, perpaduan wajah ayah dan ibunya"
Ucap Adrian pada sang Adik.
"Kau melengkapi kebahagian keluarga kita sayang, ayah sangat bahagia"
Tuan Histon mengambil sapu tangannya dan mengelap air mata bahagia yang tertampung penuh di kelopak matanya.
Kedua bayi tertidur beserta sang ibu setelah semua dalam keadaan bersih. Mereka pun membiarkan ibu dan anak-anak itu tidur, lalu berkumpul di ruang keluarga.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.
~Jangan lupa favorit ❤️
~Rate⭐⭐⭐⭐⭐
~Hadiah
~Vote
Terima kasih 🤗