Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 95



Hari ini Suly sangat cerah dari biasanya. Senyum ramah dan ceria tidak pernah lepas dari wajahnya. Berbanding terbalik dengan Jongya yang memiliki wajah bak layangan putus.


Wilson dan Suly tampak semakin mesra. Kemesraan itu membuat Jongya ingin memisahkan mereka.


Sarapan pagi itu terasa sangat lama bagi Jongya meski Nazyela duduk di sampingnya. Raja Theora , Argen, dan juga isterinya Meena juga ikut sarapan bersama mereka.


Wilson yang menikahi Suly sepupu dari Jongya kini berstatus anggota keluarga kekaisaran. Namun terlepas dari itu, Wilson tetap bertugas sebagai kesatria pangeran Jongya.


Setelah sarapan pagi, mereka kembali pada rutinitas mereka masing-masing.


Jongya, Nazyela, Wilson dan Suly masih menikmati masa bulan madu mereka.


Mereka berempat duduk santai di taman istana.


"Kau akan tinggal dimana setelah ini?"


Tanya Jongya pada Wilson.


"Bisakah kau menghadiahkan sebuah mension untuk kami seperti Nakuna dan Yukil?"


Tanya Suly pada Jongya.


"Kau ini blak-blakan sekali"


"Kau mau beri atau tidak?!"


Suly menatap tajam Jongya.


"Ck... Wil bagaimana caramu menjinakkannya?"


Jongya beralih menatap Wilson.


Wilson hanya tersenyum menganggapi pertanyaan sang pangeran.


"Berikan saja sayang, bukan kah selama ini dia juga banyak membantu mu?"


Ucap Nazyela menengahi sambil memegang lembut tangan Jongya.


"Baiklah.. jika itu keinginanmu sayang"


Ucap Jongya menatap Nazyela dengan lembut.


"Sepertinya kau kurang jatah ya semalam?"


Celetuk Suly sambil mengambil camilan.


"Uhuuk..uhukk..uhuk.."


Ucapan Suly membuat Nazyela terbatuk-batuk.


"Dia sedang itu... ah..sudahlah jangan membahas kami"


Jongya tampak enggan membahas hal itu.


"Hahaha... pantas saja kau sangat murung. Jadi Nazyela sedang datang bulan rupanya"


Jongya terlihat sangat kesal dengan Suly yang seperti mengejek dirinya.


Pemuda itu semakin ingin mencekik sepupunya yang satu itu.


Dari bawah meja Nazyela menggenggam lembut tangan suaminya sambil tersenyum.


Kontan hati Jongya langsung tenang dan membalas senyum lembut isterinya.


"Bertahanlah beberapa hari lagi sayang..."


Bisik Nazyela menyemangati Jongya.


"Ayo cintaku...?!"


Wilson yang tengah menyeruput teh nya langsung meletakkan gelasnya ketika Suly mendadak berdiri dan menarik tangannya.


"Kemana?"


Tanya Wilson bingung kepada isterinya.


"Tentu saja bercinta, emangnya mau apa lagi"


Suly sengaja berbicara blak-blakan di depan Jongya untuk mengerjai pemuda itu. Dan tentu saja apa yang Suly katakan adalah keinginan hatinya juga.


Setelah kepergian Suly dan Wilson, Jongya menjatuhkan kepalanya di bahu isterinya.


"Haaah... aku juga ingin seperti mereka"


Jongya menatap kepergian Suly dan Wilson yang berjalan sambil berpegangan tangan.


"Sabar sayang, kau juga nanti bisa seperti mereka"


"Aku sudah tidak sabar..."


Pemuda itu hanya bisa tertunduk lemah.


"Aku tidak kemana-mana dan akan selalu berada di sisimu"


Nazyela berusaha memberikan semangat kepada sang suami.


Jongya menatap lembut sang isteri.


Benar juga, sekarang dia sudah menjadi milikku dan akan selalu berada di sampingku.


*****


Lewat beberapa malam berlalu. Kesunyian malam bertabur bintang yang di sempurna oleh cahaya bulan mewarnai indahnya malam ini. Nazyela sudah mandi dan memakai gaun tidur berwarna hitam. Ia merebahkan dirinya di tempat tidur menunggu kedatangan suaminya Jongya.


Suara pintu dibuka.


Jongya langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia pun masuk kedalam selimut yang sama dengan isterinya.


Merasa ada seseorang di belakangnya, Nazyela membalikkan tubuhnya.


"Mau langsung tidur?"


"Iya..."


Jongya mencium pucuk kepala Nazyela tanpa bersemangat dan berusaha memejamkan matanya.


"Padahal aku sudah siap"


Sontak kedua mata Jongya terbuka lebar mendengar kata 'siap' dari mulut isterinya.


Perlahan tangannya merayap ke arah sensitif milik Nazyela. Dan benar saja, bahkan gadis itu tak memakai apapun selain gaun tidurnya.


Jongya lalu mengubah posisinya berada di atas Nazyela.


Jantung keduanya berdegub dengan kencang. Rona merah terlihat jelas di wajah Nazyela. Perlahan Jongya mendekati wajah isterinya dan mendaratkan ciuman di bibir sang isteri. Pangutan-pangutan saling berbalas di antara keduanya. Lidah mereka saling berbelit menukarkan saliva masing-masing. Hasrat mulai naik dan menciptakan gemuruh napas yang mulai tak beraturan.


Beralih dari bibir, perlahan Jongya mulai mencium telinga dan leher jenjang Nazyela. Lalu ke bahu hingga ke dada gadis itu. Tangan Jongya mulai bergerilya menjelajahi bukit kembar yang kenyal. Ia lalu meraup secara bergantian bukit kembar itu dan meninggalkan kiss mark disana.


"Oouuhh...."


Nazyela melenguh dan menggeliat merasakan sensasi yang menjalar di setiap peredaran darahnya.


Perlahan Jongya turun makin ke bawah menuju tujuan akhir pencariannya. Dan disanalah ia melabuhkan jarinya lalu mengganti dengan tongkat ajaib yang sedari tadi telah berdiri.


"Pelan.. pelan...sayang"


Pinta Nazyela sambil merasakan kenikmatan yang di ciptakan oleh suaminya.


"Aaww aahh...."


Nazyela meringis kesakitan, setelah sekali hentakan yang di lakukan Jongya dan menariknya dengan perlahan. Noda darah meninggalkan tanda sentuhan pertama mereka.


Jongya terkejut dan menghentikan aksinya.


"Apa kau belum selesai datang bulan sayang?"


"Kau ini bicara apa sayang, aku sudah selesai 2 hari yang lalu"


"Lalu kenapa kau berdarah lagi?"


Jongya sangat bingung.


"Kenapa kau bertanya seperti tidak tahu apa-apa? Tentu saja itu karena kau orang pertama yang menyentuhku dan merobek selaput keperawananku"


"Kau masih perawan?!"


Jongya seakan-akan tak percaya namun ada rasa senang dan bahagia dalam hatinya.


"Tentu saja, aku menjadi janda sebelum tuan Ji menyentuhku"


"Bukan itu maksudku. Peristiwa dulu saat kau di culik dan disekap, aku kira penjahat itu telah melakukan sesuatu padamu sayang. Tapi aku tetap bersedia menerimamu bahkan tak mengurangi rasa cintaku padamu"


Jelas Jongya panjang lebar.


"Dia memang menyekapku dan awalnya ingin berbuat jahat terhadapku. Namun lama kelamaan dia seperti terobsesi padaku. Dia menjagaku seperti kaca yang mudah pecah meski berulang kali aku mencoba kabur. Dia tidak pernah menyentuhku"


Jongya langsung memeluk erat tubuh sang isteri. Mendaratkan ciumannya di pipi sang isteri secara bertubi-tubi.


Jongya sangat bersyukur Nazyela masih utuh dan hanya dia orang yang pertama menyentuh sang isteri.


"Jadi bisa kita lanjut kan lagi?"


Bisik Nazyela menggoda, yang di balas dengan tatapan senyum lebar sang suami.


Pergulatan panas pun kembali terjadi, ranjang pengantin mulai bergoyang mengeluarkan derik-derik suara kayu yang menahan beban tubuh mereka hingga mereka berhasil melakukannya.


Napas keduanya terengah-engah, keringat membasahi tubuh di setiap incinya. Seprai telah basah oleh cairan kenikmatan bercampur peluh mereka.


"Terima kasih sayang. Malam ini adalah malam terindah seumur hidupku"


Ucap Jongya lalu mencium kening Nazyela.


"Aku juga sayang, terima kasih kau.. jago sekali"


Nazyela tersipu malu membuat pipinya merona. Keduanya lalu berpelukan erat seakan tidak ingin terpisahkan lagi.


"Sekali lagi ya..? Bersiaplah, aku akan memberikan waktu untuk mu beristirahat hanya sejam saja"


Ucap Jongya lalu mencium bibir sang isteri.


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.


~Jangan lupa favorit ❤️


~Rate⭐⭐⭐⭐⭐


~Hadiah


~Vote


Terima kasih 🤗


🌠Baca juga karna Othor berjudul Bukan Soulmate dan Dara dan Damar. Semoga suka😉