
Malam yang penuh kesan membuat Nazyela merasa senang telah bertemu Daniel. Tidak butuh waktu lama untuk mereka saling mengakrabkan diri. Malam itu juga Daniel berpamitan dan menantukan pertemuan mereka di lain waktu.
Keesokan harinya, Adrian akhirnya berangkat menuju Jerman untuk mencari J. Robert sang penemu bom atom. Nazyela pun memutuskan untuk tetap tinggal beberapa hari di resort nya. Setelah 3 minggu lamanya akhirnya Nazyela memutuskan akan kembali ke kediaman Kley.
Namun keinginan nya untuk kembali harus tertunda karena seorang utusan dari Sir. Afik yang datang menyampaikan pesan. Kabarnya telah terjadi kebakaran di salah satu tokonya di kota Brigfresh. Nazyela pun mengajak Sir. Yukil dan Nakuna untuk melihat kondisi disana.
Dalam perjalanan hanya kesunyian yang ada. Baik itu Nakuna maupun Sir. Yukil tak satupun dari mereka yang berbicara. Nazyela menatap keduanya yang terlihat saling menghindar.
Kenapa mereka? Padahal sampai tadi malam semua baik-baik aja. Heran..
"Kalian bertengkar?"
Nakuna dan Sir.Yukil tersentak mendengar pertanyaan Nazyela.
Sir.Yukil menggeleng begitu juga Nakuna.
Nazyela lalu berpindah posisi dan duduk disamping Sir.Yukil. Sir. Yukil yang tidak terbiasa duduk disebelah nona nya akhirnya pindah duduk di sebelah Nakuna. Mereka pun akhirnya menjadi canggung satu sama lain.
Nazyela berpegangan erat pada pegangan yang ada di dalam ruang sempit itu.
"BERHENTI..!!!"
Seketika kusir menghentikan lajunya kereta.
Nakuna yang tidak berpegangan nyaris jatuh kalau saja Sir. Yukil tidak segera menangkap tubuh yang ramping itu. Rona merah terlihat di wajah Nakuna.
Dan Sir.Yukil pun berdehem menghilangkan rasa malunya.
Kena juga kan lu?! Berdua jaim amat, pura-pura nggak ada apa-apa lagi..
"Nona ada apa? Kenapa tiba-tiba menghentikan kereta?"
Sir.Yukil tampak bingung.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengetes seberapa cekatan nya kusir yang menjalankan kereta ini"
Nazyela menahan senyumnya dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela kereta.
"Lanjutkan perjalanan!!"
Perintah Sir. Yukil dari dalam kereta.
"Nona kita terlalu jahil, sebaiknya kamu berhati-hati agar tidak jatuh Naku, mendekatlah dudukmu biar aku bisa menjagamu"
Cih.. tadi aja saling ngindar sekarang sok mesra, ngeselin emang ni pria. Pake ngatain aku jahil pula..
2 Jam berlalu akhirnya mereka tiba di kota Brigfresh. Nazyela segera melihat puing-puing sisa kebakaran yang menghanguskan tokonya.
Sir.Afik yang lebih dulu tiba disana memberi salam ketika melihat Nazyela menghampirinya.
"Ini toko apa Sir?"
Tanya Nazyela mengamati sisa reruntuhan itu.
"Sebelumnya ini adalah toko pakaian. Sudah saya selidiki ini terjadi karena seseorang yang membakar sampah di belakang toko kita. Akibat angin kencang api itu sedikit demi sedikit melahap dinding toko lalu menghanguskan seluruhnya tanpa sisa. Karena jangkauan air yang jauh, api susah untuk dipadamkan"
Jelas Sir. Afik melaporkan hasil penyelidikannya.
"Berapa kerugian yang kita alami?"
"Ini nona.."
Sir. Afik memberikan catatanya kepada Nazyela.
"Hmm... setelah ini jangan lagi buka toko pakaian disini. Aku ingin kita membuka toko makanan disini"
Nazyela terlintas untuk membuka toko makanan karena melihat banyaknya rakyat biasa yang terlihat hidup susah di beberapa sudut jalan.
"Sepertinya toko seperti itu tidak dapat berkembang disini nona"
"Untuk detailnya kita akan bahas setelah aku kembali ke kastil. Hari ini aku ingin menginap semalam disini"
Sir. Afik dan beberapa orang asisten serta pengawalnya mencari penginapan yang aman bagi nona nya.
Nazyela memutuskan untuk kembali ke esokan harinya karena meresa tubuhnya yang sedikit lelah jika memaksa untuk kembali hari ini juga.
Sir. Afik akhirnya menemukan tempat untuk mereka menginap sementara. Mereka pun pergi ke penginapan itu dan beristirahat di sana.
Malam itu.
"Tok.. tok.. tok...?! Nona mari kita makan malam semua telah siap"
Ajak Nakuna yang berbicara dari luar pintu kamar.
"Turun lah lebih dulu aku akan segera kesana"
"Baik nona"
Nakuna segera meninggalkan kamar nona nya.
Setelah kepergian Nakuna beberapa menit kemudian Nazyela keluar dari kamarnya dan hendak menuju kafe untuk makan malam bersama para asistennya.
Saat gadis itu mengunci kamarnya dari belakang seseorang menyekap mulutnya dan membawa tubuh gadis itu masuk ke kamar yang berada di ujung deretan kamarnya.
Nazyela begitu panik dan mencoba untuk meronta.
Wajahnya mulai pucat, tangannya terasa dingin karena ketakutan. Ia mencoba untuk teriak sekuat-kuatnya namun teriakan itu hanya terdengar bagai gumaman saat mulutnya di sekap.
"Tenanglah.. ini aku, maafkan aku harus berbuat seperti ini"
Bisik lelaki yang menyekapnya dari belakang. Ia melepaskan sekapannya dan membalikkan tubuh Nazyela untuk menghadapnya.
"Jongya?!"
Nazyela terkejut saat mengetahui Jongya yang telah berbuat begitu padanya. Namun seketika amarahnya mereda, rasa takutnya sirna begitu saja. Emosi nya kini berubah menjadi rasa sedih dan khawatir setelah melihat pemuda yang sangat dicintainya terlihat begitu menyedihkan. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya terlihat sangat sedih dan terluka. Tatapan matanya sayu bagai bendungan air yang siap tumpah kapan saja.
"Yang mulia.. kenapa jadi seperti ini?"
Nazyela nyaris tak dapat menahan air matanya.
"Nazyela maafkan aku...tolong untuk sesaat saja"
Jongya tiba-tiba memeluk tubuh mungil Nazyela. Gadis itu sempat terkejut dan hendak menolak melepaskan pelukan itu. Namun entah kenapa tubuhnya enggan melaksanakan apa yang ada dipikirannya. Hati nya yang sangat merindukan lelaki itu lebih mendominasi semua tubuhnnya.
"Aku merindukanmu.. sangat merindukanmu. Aku tahu aku tidak pantas, tapi aku sungguh tak sanggup. Rasanya aku tak kuat lagi menahan semua ini"
Nazyela tak mampu berkata apa-apa, air matanya mengalir mendengar ucapan Jongya. Sama seperti yang pemuda itu rasanya, hatinya juga sangat berat dan sakit harus menahan semua itu. ia tahu bahwa yang dilakukannya adalah salah. Seharusnya ia tak boleh memeluk suami orang lain, seharusnya ia tak boleh merindukan dan bahkan mencintai lelaki yang telah menjadi milik orang lain. Tetapi ia tak sanggup menahan rindu yang kian membuncah. Hanya kali ini saja pikirnya. Rasa rindu yang ia tahan selama ini pun pecah, perlahan gadis itu membalas rangkuhan Jongya.
"Hiks... aku tahu ini salah, tapi bagiku ini juga berat. Aku sungguh tersiksa..."
"Maafkan aku Nazyela... aku sungguh tidak berguna. Aku menyakitimu terlalu banyak. Aku...membuat menjadi seperti ini"
Nazyela melepaskan rangkuhannya. Ditatap nya bola mata yang sendu dan memerah itu. Sentuhan lembut tangan Nazyela di kedua pipi Jongya membuat air mata lelaki itu akhirnya tumpah.
"Kita tidak mungkin bersama Jongya..., kembali lah... aku akan merelakanmu dengannya"
"Tapi aku tidak rela... biarkan aku memilikimu, wanita yang ada dihatiku cuma kamu, tak bisakah kau menungguku untuk menyelesaikan semua? Aku sangat mencintaimu Nazyela kumohon..."
"Kau akan menyakitinya Jongya?!"
keduanya saling menatap dalam.
"Lalu bagaimana denganmu dan aku? Apa kita tidak terluka? Apa kita baik-baik saja?"
Nazyela tak bergeming, hanya isak tangis pilu yang terdengar begitu menyayat hati. Jongya menggenggam kedua tangan gadis itu.
"Aku tidak bahagia bersamanya. Hati ku sangat sakit memaksa diri untuk belajar mencintainya. Aku sungguh tidak sanggup. Jangan paksakan aku.. Nazyela kumohon tunggulah aku.."
Nazyela menangis tersedu-sedu. Ini salah pikirmya. Ia tak boleh mencintai lelaki yang ada di hadapannya kini. Namun berat untuk ia mencoba melupakan perasaan itu. Ia sendiri pun tahu pernikahan itu bukanlah keinginan Jongya. Namun kini Jongya berstatuskan suami orang lain. Gadis itu merasa tidak mampu mengatasi perasaannya sendiri.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗