
Adrian memijat kepalanya yang terasa berat. Ia baru sadar sepenuhnya apa yang terjadi tadi malam. Pemuda itu mengusap wajahnya dengan kasar. Merutuki kecerobohannya yang telah salah dalam berbuat.
Sesekali ia melihat ke arah seprai yang terdapat noda darah disana.
Astaga kenapa kau tak bisa bersabar hai Mr. J, kalau dia hamil bagaimana? Aku harus buat rencana secepatnya. Aku tidak bisa membiarkan Naila menanggung rasa malu karena perbuatanku
"Kau tahu yang terjadi tadi malam?"
Adrian tampak marah bertanya pada Sir. Yudan.
Pria itu menganggukan kepala. Namun tidak berkata sedikit pun. Lelaki itu tahu bahwa dia akan menjadi bahan amukan sang tuan.
"Arggh... kenapa tidak kau cegah!! Ini gilaa...?! Aku merusak seorang gadis tanpa ikatan sakral"
Sir. Yudan menghela napas.
"Nikahi saja secepatnya tuan"
"Semudah itu kau bicara! Apa kau lupa dia regina?? Aku bisa dipenggal oleh putra mahkota maupun raja"
Adrian tampak panik memikirkan yang terjadi kedepannya terhadap dirinya.
"Tidak lagi"
Dengan santainya Sir. Yudan menjawab.
"Apa?!"
Adrian menoleh Sri. Yudan dan terlihat bingung dengan ucapan lelaki itu.
"Lady Naila tidak lagi menjadi regina. Hal itu telah di umumkan beberapa hari yang lalu. Sebaliknya Lady Naila di angkat menjadi putri raja saat pengangkatan putra mahkota nanti"
Sir. Yudan mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"APA?!! Itu sama saja aku lari dari kadang singa namun masuk ke kandang harimau!! Hah.. aku bisa gila?!"
Adrian terlihat frustrasi, terlihat gelagatnya yang berjalan terus bolak-balik sambil berpikir mencari jalan keluar di depan asisten nya. Tak jarang ia juga sesekali meremas rambutnya.
Sir. Yudan menahan senyum di wajahnya. Baru kali ini ia melihat tuannya yang sangat gusar bagai anak ayam yang kehilangan induknya.
"Tuan.. maaf apa tuan tidak kedinginan hanya mengenakan itu"
Sir. Yudan menatap cel*ana da*la*m Adrian yang bergambar mikey mouse.
"Hah.. aku lupa, persiapkan segala sesuatunya aku mau mandi"
"Baik tuan"
Beberapa waktu kemudian Adrian telah bersiap untuk berangkat ke Britaraya. Sebelum meninggalkan resort milik keluarganya Adrian sengaja bertemu Naila terlebih dahulu. Lelaki itu mendatangi kamar wanita yang telah membuatnya kehilangan akal sehat.
Adrian memasuki kamar Naila dan melihat wanita itu duduk di atas tempat tidurnya sambil menikmati sarapan paginya.
"Pergi lah Nena"
Naila memberi perintah pada Nena saat Adrian duduk di tempat tidurnya.
"Baik nona"
Nena lalu meninggalkan kamar itu dan menutup pintu rapat-rapat.
Adrian mendesah melihat akibat perbuatannya kepada wanita yang dia cintai saat ini.
"Apa sangat sakit? Maafkan aku yang terlalu memaksa"
"Ah... aku baik-baik saja. Kau memang sedikit memaksa sampai aku tak dapat berjalan normal pagi ini"
Naila merona menjawab pertanyaan Adrian.
Terlihat Adrian merasa bersalah kepada Naila.
"Lalu.. kenapa kau memaksakan diri untuk kabur? Kau bisa membangunkan ku, dan aku bisa menggendongmu untuk kembali ke kamarmu"
Naila tersipu, wajah nya kembali merona mengingat kegiatan yang mereka lakukan semalam.
"Aku malu.. jika kau melihat sekali lagi tubuhku yang polos"
Naila menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Adrian tersenyum, pemuda itu semakin gemas melihat reaksi Naila seperti itu.
Ah... dia imut sekali
Pemuda itu lalu meraih tangan Naila dan mengecup kedua tangan itu.
Adrian berkata sambil mengusap lembut pipi Naila.
Wanita itu pun tersenyum dan mengangguk
"Bila kau sudah memulih segeralah kembali ke kastil. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu tanpa bisa aku melindungimu"
Hati Naila berbunga-bungan mendengar ucapan Adrian. Baginya Adrian kini bagai kesatria berkuda putih yang akan melindunginya.
"Baiklah.., apa kau akan segera berangkat?"
"Iya, aku berusaha menyelesaikan dengan cepat kerjaanku agar aku segera bisa kembali ke kastil dan membicarakan hubungan kita dengan keluarga ku"
Adrian terlihat bersungguh-sungguh.
"Aku akan menunggu kabar baik dari mu"
Adrian lalu mengecup kening Naila.
"Kalau begitu aku pamit untuk segera berangkat"
Naila mengangguk, ia pun melambaikan tangannya pada Adrian.
*****
Flash Back On
Tanpa suara Naila merintih kesakitan saat mencoba untuk duduk. Di lihatnya wajah Adrian yang masih terlelap tidur tanpa menyadari pergerakan Naila yang mencoba untuk bangun. Hari masih subuh, matahari masih belum menampakkan dirinya.
Wanita itu memungut pakaiannya yang berserakan di mana-mana. Memakai satu demi satu dengan perlahan.
Aahh.... sakit sekali. Ternyata setelahnya lebih sakit dari saat pertama dia memasukannya. Aku jadi susah berjalan..
Naila meringis dalam hatinya. Gaun telah dia pakai seutuhnya. Rambut telah di rapikan seadanya. Ia pun mencoba berjalan mendekati pintu.
Duh... sakit. Untung saja gaunku panjang hingga bisa menutupi jalanku yang ngangkang ini
"Krieeeett..."
Suara pintu dibuka perlahan.
Naila terkejut melihat Sir.Yudan yang berdiri di samping pintu. Kantung matanya yang menghitam menandakan lelaki itu tidak tidur semalaman.
Melihat mata pria itu seperti panda, Naila merasa yakin bahwa lelaki dihadapannya ini mendengar apa yang telah terjadi semalam. Seketika wajah Naila memerah, ia sangat malu menyadari akan hal itu.
Bergegas ia berjalan meninggalkan kamar Adrian menuju kamarnya. Ia sampai melupakan rasa sakit dibagian intimnya karena teramat malu terhadap Sir. Yudan.
"No.... na....?!"
Suara Sir. Yudan tertahan pelan memanggil Naila.
Padahal pemuda itu hendak mambantu Naila berjalan menuju kamarnya. Lelaki itu sedikit banyak tahu akan sakitnya pengalaman pertama. Namun niatnya itu ia urungkan kembali setelah mengingat sekilas wajah Naila yang memerah.
Ahh... bodohnya aku, nona Naila pasti merasa malu melihat aku disini. Hah... sudah lah..
Sesampai dikamar, Nena terkejut saat Naila tiba-tiba membuka pintu kamar dengan napas yang menderu. Nena tengah meletakkan nampan berisi sarapan untuk nona nya.
"Nona..! Anda baik-baik saja?"
Nena segera menghampiri Naila.
Naila memegang lengan Nena dan berjalan perlahan mendekati tempat tidurnya. Setelah berada dikamarnya barulah terasa lagi sakit yang tadi sempat hilang karena panik.
"Nena siapkan air hangat aku mau mandi"
"Baik nona"
Nena bergegas melaksanakan perintah Naila.
Air hangat pun telah siap. Nena membantu Naila untuk membersihkan diri nonanya. Melihat banyaknya kissmark yang menghiasi tubuh nona nya membuat gadis itu tersenyum-senyum sendiri sambil menggosok dengan lembut punggung nona mudanya.
Sepertinya nona menikmati malam panjangnya tadi malam. Ahh... aku tak bisa membayangkan betapa kuat dan perkasanya tuan Adrian sampai-sampai membuat nona menahan sakit saat berjalan. Hihihi...
Pikiran kotor Nena bermunculan di dalam kepalanya.
Sama halnya dengan nona nya, Naila juga masih membayangkan kejadian tadi malam. Wanita itu tersenyum sendiri tanpa bisa menutupi rasa bahagianya.
Beberapa waktu kemudian, Naila telah selesai mandi dan berganti pakaian. Wanita itu pun duduk di tempat tidur nya dan menikmati sarapan paginya.
Flash Back Off
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗