
Masa kehamilan Nazyela membuat wanita itu menjadi sensitif dan lebih sering marah-marah.
Sang suami Jongya harus ekstra sabar menghadapi sang isteri dengan emosi turun naik. Sesaat Nazyela menjadi isteri yang sangat manja kepada dirinya. Namun, semenit kemudian ia bisa berubah menjadi isteri yang sangat galak.
Hari itu, Rudy berkunjung ke kediaman sepupunya Jongya. Jongya yang kebetulan sedang tidak berada di tempat akhirnya membuat Nazyela menyambut kedatangan sepupu suaminya itu.
Mereka tidak terlalu mengenal satu sama lain. Rudy yang hanya mengenal Nazyela dari cerita sang sepupu merasa canggung di hadapan wanita cantik yang sedang berdiri tepat di depannya.
"Apa tuan adalah Rudy?"
"Oh.. ya, aku Rudy. Apa sepupuku ada?"
"Sepupu?"
Nazyela tampak bingung, ia baru pertama kali bertemu Rudy bahkan belum pernah mendengar namanya di sebut oleh sang suami.
"Maksudku Jongya sang pangeran"
Mencoba tersenyum ramah, Rudy menampakkan deretan putih giginya.
"Masuklah..."
Rudy mengikuti langkah Nazyela dari belakang menuju ruang tamu di mension itu.
"Duduklah..., Naku siapkan minum untuknya?!"
"Baik nona"
"Jadi... ada hal penting apa yang membuat tuan datang kemari?"
"Oh.. maafkan aku. Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri. Aku Rudy anak dari adik sang raja"
Rudy mengulurkan tangannya untuk di jabat oleh Nazyela.
Nazyela lalu meraih tangan itu dan menjabatnya sesaat.
"Aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian bulan lalu karena kebetulan aku sedang berada di negara timur"
Negara timur? Apa itu negara dimana mantan isteri suamiku tinggal?
Nazyela hanya diam menatap Rudy. Lelaki itu semakin kikuk dengan sikap Nazyela yang hanya diam menatapnya.
"Mungkin nona berpikir negara itu tempat di mana Camila berada. Dan benar, beberapa waktu yang lalu aku mengunjungi negara itu"
Deg, jantung Nazyela mulai berdetak dengan cepat. Ia berusaha meredam emosinya agar tidak memarahi laki-laki yang sedang duduk di hadapannya itu.
"Lalu?"
"Ah... tidak ada yang special karena aku hanya mengunjungi temanku"
"Teman?"
"Ya teman, lady Camila adalah temanku"
"Lalu untuk apa tuan menceritakan hal ini kepadaku?"
"Oh.. jangan salah paham nona, aku hanya menjawab rasa penasaran anda saja. Aku kemari tulus ingin mengucap selamat atas pernikahan kalian"
Nakuna datang membawa nampan berisi minuman dan beberapa cemilan.
"Silahkan tuan"
"Terima kasih"
"Apa dia baik-baik saja?"
Nazyela menanyakan kabar Camilan.
Hal itu membuat Rudy menatap heran kepada wanita itu. Namun dalam hatinya ia terkesan dengan Nazyela yang tetap tenang dalam menyikapi keadaan.
"Dia baik-baik saja, walau pun yah... kau mungkin tahu, pasti sulit untuk melupakan apa yang sudah terjadi pada dirinya"
"Aku tidak menyalahkannya karena apa yang terjadi pada kami adalah desakan dari keadaan. Mungkin dia datang di saat yang salah. Dan harus pergi di saat dia tidak ingin. Tidak ada yang tidak terluka di antara kami, namun aku bersyukur bisa meraih kebahagiaan ku setelah melewati semua penderitaan yang menyakitkan. Aku harap dia juga disana bisa menemukan seseorang yang bisa menjaganya dan mencintai dia dengan tulus"
Nazyela terlihat tulus mengatakan semua apa yang ada di pikirannya.
Rudy tersenyum lalu ngambil gelas kopi yang telah disajikan oleh Nakuna dan meminumnya.
"Aku mengerti sekarang, kenapa sepupu ku sangat tergila-gila padamu"
"Jangan mencoba untuk merayunya?!"
Jongya yang datang entah dari mana langsung memotong percakapan Rudy.
"Wah... pangeran kita marah rupanya. Selamat atas pernikahanmu"
Rudy ngulurkan tangannya untuk di jabat.
Jongya lalu meraih tangan itu.
"Kenapa kau tidak datang?"
"Aku sedang mengejar impian ku"
"Impian?"
"Sudah lah jangan bertanya lagi"
*****
"Kau wanita ja*ang!! Kau bahagia di atas penderitaan ku?!!"
"Hentikan!! Kau bisa membunuh bayi ku?!"
"Bahkan kalian memiliki anak dari kesedihan ku?!!"
"Aaagghh... sakit tolong hentikan?!!"
"Hahaha... sakit?! Kau tahu artinya sakit?!
Camila tidak mendengar apa yang di ucapkan Nazyela. Wanita itu terus menjambak rambut dan menyeret tubuh Nazyela dengan paksa melalui rambut itu.
Jerit tangisan kesakitan keluar tanpa henti dari mulut Nazyela. Ia mencoba menahan tangan Camila yang menarik rambutnya dengan kasar.
"Hentikan!! Aku tidak akan memaafkan mu bila terjadi sesuatu terhadap janinku!!"
"Aku tidak butuh itu, lebih bagus jika kau kehilangan bayi dalam perut mu!!"
Nazyela terus berusaha melepaskan diri dari Camila. Ia mencoba memukul tangan dan tubuh wanita itu.
"Kau wanita gila!! Lepaskan aku, ini sakit?!!"
"Sakit?! Bagaimana dengan aku, apa aku tidak sakit?!! Hatiku lebih sakit dari kepalamu ini dasar ja*ang!!"
"Maafkan aku, tapi kau harus menerima kenyataan Jongya tidak mencintai mu. Dan aku sekarang adalah isteri sah nya. Aku lebih dulu mengenalnya dari mu. Lepaskan... lepaskan aku?!!"
"Ja*ang mu**han!! MATI SAJA KAU!!!"
"TIDAK, JANGAN?!!"
"Hah... hah... hah.. hah..."
Napas Nazyela tersengal-sengal. Peluh keringat membasahi tubuh dan pakaian yang ia kenakan. Jantungnya berdegub dengan kencang seakan-akan mimpi yang baru saja ia alami terasa begitu nyata.
Kerongkongan Nazyela terasa kering setelah lelah berteriak-teriak dalam mimpinya. Ia lalu mencoba bangun untuk mencari air minum. Namun tubuhnya tertahan oleh suami yang baru ia sadari tertidur lelap di samping dengan tangan yang menimpa rambut panjangnya.
Jadi karena tangannya aku sampai bermimpi di jambak oleh Camila?!
"Sayang bangun lah, aku haus, aku ingin minum"
Nazyela berusaha membangunkan Jongya dengan mengusap lembut pipi pemuda itu.
"Em...."
Jongya menggerakkan tubuhnya dan mencoba membuka matanya dengan perlahan.
"Tangan mu menyakiti kepala ku"
"Oh.. maaf sayang, aku terlelap begitu saja di samping mu"
Ucap Jongya lalu mengalihkan tangannya memeluk sang isteri.
"Ini jam berapa?"
"Ini mungkin sudah tengah malam. Kau sudah tertidur lama"
"Aku lapar..."
Dengan memasang wajah memelas Nazyela mengatakan dirinya lapar.
"Lapar? Kau mau makan? Sekarang?"
Nazyela menganggukan kepala.
"Ayo kedapur, kita lihat makanan apa yang ada disana"
"Tapi aku ingin makan bakwan"
"Bakwan??"
"Sudahlah.. aku jelaskan saja nanti. Ayo temani aku kedapur dan bantu aku membuat bakwan"
Jongya cukup bingung mendengar nama makanan yang di sebut Nazyela. Namun karena cintanya begitu besar terhadap sang isteri, ia pun menuruti apa kata sang isteri.
Mereka lalu membuat bakwan di tengah malam di saat mata yang lain sedang tidur dengan lelapnya.
Tidak butuh waktu lama, makanan itu pun telah siap karena Nazyela hanya membuatnya sedikit.
Kedua nya lalu memakan bakwan tanpa sambal yang tidak dibuat karena tidak ada bahannya. Awalnya Jongya ragu, namun setelah memakannya sekali lidahnya terasa ingin mengulang lagi. Dan akhirnya lebih banyak dia yang memakannya dari Nazyela.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.
~Jangan lupa favorit ❤️
~Rate⭐⭐⭐⭐⭐
~Hadiah
~Vote
Terima kasih 🤗