
# Jangan lupa arahin jempol kamu untuk favorit❤️ kan novel aku karena favorit itu ga bayar ya guys 😉. Terus kalau udah selesai baca, like dan komen yang seru-seru oke... 😘
*****
Di dalam sebuah ruangan, pergulatan panas sedang terjadi berakhir dengan napas keduanya yang terengah-engah dan tergeletak kelelahan.
"Tok... tok..tok..Tuan?!"
Mata yang terpejam sesaat karena lelah berkelana pun terbuka. Sang pria berdecak karena merasa terganggu waktu liburannya.
"Ck!! Ada apa?" (Sahutan dari dalam ruangan)
"Tu.. tuan besar Shaden menunggu tuan di ruang kerja anda"
"Ayahku?!!" (Pekik sang wanita tertahan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan)
Terperanjat keduanya bangkit dari tempat tidur dan segera mengenakan pakaian mereka.
"Katakan aku akan segera menghadapnya?!"
"Baik tuan"
Suara langkah terdengar semakin menjauh.
Wajah keduanya terlihat tegang. Terlebih sang wanita yang sedari tadi menggigit ujung kuku jari tangannya. Sang pria pun mencoba menenangkan sang wanita.
"Ayahmu tidak akan tahu kau disini. Aku sudah menyuruh mereka yang tahu untuk menutup mulut mereka. Kau istirahatlah disini, ketika aku kembali kita lanjutkan permainan kita"
Senyum menggoda sang pria diperliharkannya untuk merayu wanita itu. Sesaat sebelum membuka pintu, ia meraih dagu wanita itu dan mengecupnya perlahan. Namun kecupan itu lama-kelamaan menjadi pangutan yang semakin liar dan menggebu dengan saliva yang saling bertukar dan lidah yang saling bertemu.
Sedang panas-panasnya, sang pria,tiba-tiba menghentikan aksi itu dan menahan tubuh sang wanita untuk sedikit menjauh darinya.
"Hehehe...kau sengaja membangunkan juniorku lagi rupanya. Nanti saja.. aku akan segera kembali menemui ayahmu"
Wanita itu terkekeh lalu mengangguk tanda setuju atas perkataan sang pria. Lelaki itu lalu meninggalkan dirinya sendirian dikamar.
Didepan pintu ruang kerjanya, ia membenarkan tampilannya sesaat sebelum masuk keruangan itu.
"Tok... tok.. tok.., tuan sudah lamakan menunggu? Sepertinya ada hal yang sangat penting hingga membawa tuan besar langsung kesini"
Tatapan tajam yang diperlihatkan tuan Shaden menandakan hatinya sedang tidak senang.
Ia mengambil cerutu dari balik jubahnya dan membakar cerutu itu. Asap mulai mengepul didalam ruang yang sempit itu.
"Apa kau tidak tahu apa pura-pura bodoh!! Bawahanmu Red Dragon telah binasa hanya oleh seorang gadis kecil,.. cuiihh!!"
Pria itu menarik napas dalam-dalam dan menggertakkan giginya. Sebenarnya dia sendiri pun malu Dragon yang terkenal di seluruh kekaisaran ini sebagai pembunuh yang keji harus menderita rasa malu oleh kematian dari Red Dragon.
Sebagai pemimpin tertinggi Serikat Dragon tentu saja hal ini ikut menjatuhkan pamor dirinya. Kini lelaki itu hanya bisa menundukan kepala mendengar amarah tuannya.
"Aku ingin kau selidiki langsung gadis itu!!
Hah.. harimau melawan tikus kecil saja bisa sampai kehilangan taringnya"
Sindiran tuan Shaden sangat memanaskan telinga yang mendengarnya. Tangannya terkepal geram namun tak dapat melawan perkataan dari tuannya.
Dragon dulu adalah para preman jalanan yang di latih dan dikembangkan bakat di diri mereka hingga menjadi orang-orang yang berkeahlian khusus untuk membunuh. Bangsawan Shaden menjadikan mereka kaki tangannya untuk memperkuat dan memperluas kekuasaannya.
Lelaki yang sedang ia caci adalah Dion pemimpin dari serikat Dragon yang dibesarkan oleh bangsawan Shaden. Dion adalah pria yang paling berbakat dari semua anggota Serikat Dragon hingga ia dijadikan pemimpin atas serikat itu. Dion memiliki wajah dingin yang tampan, namun sifatnya yang suka bermain wanita menjadikan laki-laki itu dikenal sebagai playboy tampan.
"Saya akan melaksanakan perintah tuanku.."
Dion berkata lalu menunduk hormat tuannya
"Kali ini aku tidak ingin mendengar kata gagal?!!"
"Hamba mengerti tuanku"
Dengan masih tertunduk Dion menjawab perintah tuannya.
Tuan Shaden lalu meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apa-apa pergi begitu saja.
*****
Rosi nama pelayan yang dulu bekerja sebagai mata-mata keluarga Bolafra terlihat begitu tegang dan pucat. Tangannya sedari tadi tak henti saling menarik jari jemari satu sama lain.
"Kau terlihat pucat Rosi tenang lah. Aku hanya sekedar ingin bertanya padamu"
"Jawab lah apa saja yang kau ketahui. Dan tenanglah.. kau akan baik-baik saja"
Rosi menelan ludahnya.
"A.. apa yang i.. ingin nona ketahui dari saya?"
"Hmm... baiklah aku langsung saja. Apa kau tahu alasanmu dikirim kesini?"
"Saya tidak akan dibunuh kan nona??"
Rosi mencoba mencari tahu akan nasibnya.
"Tergantung kesetianmu kini padaku"
"Umm...i..itu nona Naila Bolafra yang mengirim saya kesini. Dia tidak suka yang mulia pangeran ke 1 dekat dengan nona. Nona Naila merasa nona akan merebut yang mulia pangeran darinya"
Hah... sejak kapan aku kenal pangeran ke 1. kalau ke 2 kami memang lagi tahap pendekatan. Ehem.. elah bicara apa aku ini.
Tapi tunggu... ahh.. ingatan Nazyela asli...
Ingatan Nazyela asli terlintas sesaat mengingat kedekatannya dengan pangeran ke 1. Dalam bayangan-bayangan ingat itu hubungan mereka tidaklah seperti yang diperkirakan Naila Bolafra. Mereka hanya sekedar saling kenal dan saling menghormati satu sama lain.
Nazyela mengagumi sosok pangeran yang saat itu masih remaja. Namun di usia yang masih muda itu, ia bisa bijak dalam menyikapi perihal kematian ibunya yang mengenaskan. Hanya sebatas itu, namun karena rumor yang berlebih-lebihan akhirnya pangeran mengira bahwa Nazyela menaruh hati padanya. Dan pangeran pernah mengatakan bahwa ia juga mengagumi Nazyela yang suka membaca buku dari kebanyakan gadis kecil di usianya.
Yah.. rumor, segala sesuatu bisa berbeda dari jalurnya karena rumor. Rumor bisa menguntungkan namun bisa juga merugikan orang-orang yang terkena dampak dari rumor itu.
"Baiklah.. kau boleh pergi"
"Be.. benarkah nona?! Te... terima kasih nona"
Rosi segera meninggalkan Nazyela dengan raut wajah yang terlihat lega.
Jadi hanya karena salah paham nyawaku terancam.. Apa aku harus menjelaskan atau aku hanya perlu diam saja dan melupakan semua yang terjadi? Hah... sudahlah. Lihat saja nanti.
"Jadi bagaimana?"
Adrian tiba-tiba muncul dari balik dinding. Sedari tadi ternyata ia menyimak introgasi yang dilakukan oleh Nazyela terhadap pelayan yang bernama Rosi.
"Kakak sudah mendengar semuanya?"
"Hmm... jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?"
Adrian mencoba mencari tahu isi hati adiknya.
"Entahlah kak.. akan kupikirkan nanti"
"Lalu aku dengar kau sedang dekat dengan pangeran ke 2. Apa kau sudah memikirkan tanggapan ayah nanti padamu?"
Nazyela terkejut Adrian mengatakan apa yang selama ini ia rahasiakan. Sebenarnya gadis itu ingin mengatakan tentang hubungannya dengan pangeran ke 2 dan meminta pendapat ayah dan kakaknya. Namun ternyata Adrian telah mengetahuinya lebih dulu.
Nazyela menatap kakaknya, ada rasa permohonan disana. Adrian yang melihat tatapan itu hanya bisa menghela napas. Ia tak mungkin membiarkan adiknya bersedih.
"Aku tahu dia bukan bangsawan rendahan seperti yang kau katakan pada orang-orang. Aku juga tahu kau menutupi keberadaannya karena seharusnya pangeran sedang berada di negara timur untuk berperang. Namun pangeran pasti punya alasan kenapa ia tak ingin memenangkan pertarungan perebutan posisi putra mahkota"
Memikirkan apa perkataan kakaknya, Nazyela berpikir kakaknya mungkin sepemikiran dengannya. Dan sepertinya ia telah memiliki orang yang berada dipihaknya.
Beri dukungan untuk aku dong😘
* Like 👍
* Komen
* favorit ❤️
*Rate⭐⭐⭐⭐⭐
*Hadiah
*Vote, Terima kasih 🤗
Baca juga Cintai Aku Seikhlasmu , bagi yang suka kisah yang menyesakkan dada 😂.
Terima kasih 🙏